Kamis, 04 November 2010

Stadion Maguwoharjo Dipadati Ribuan Pengungsi Merapi

Sleman (ANTARA News) - Belasan ribu pengungsi dari Kecamatan Pakem, Turi, dan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat, memadati Stadion Maguwoharjo Sleman setelah Gunung Merapi mengeluarkan suara gemuruh yang disusul hujan kerikil.

Tampak ribuan sepeda motor memadati halaman stadion, sedangkan ratusan mobil, truk, dan pikap yang mengangkut para pengungsi parkir di stadion itu. Pemeritah kabupaten setempat membagi para pengungsi berdasarkan daerahnya masing-masing agar mudah terpantau.

Para pengungsi beristirahat sambil tiduran di tikar yang memang sudah disiapkan di stadion. Pengungsi yang terdiri atas orang tua, lansia, dan anak-anak tampak kelelahan setelah melakukan pengungsian dari daerahnya masing-masing dengan menggunakan sepeda motor, truk, dan pikap.

Anggota Polri, TNI, dan relawan hingga kini masih terus mengatur arus pengungsi letusan Gunung Merapi yang terus berdatangan ke Stadion Maguwoharjo Sleman.

Sebelumnya belasan ribu warga yang tinggal di Kecamatan Pakem, Turi, dan Cangkringan diungsikan ke tempat lebih aman setelah Gunung Merapi mengeluarkan suara gemuruh yang disusul hujan kerikil.

Aktivitas Gunung Merapi seperti itu membuat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral menetapkan wilayah aman dari ancaman bahaya Gunung Merapi menjadi lebih dari 20 kilometer dari puncak gunung dari sebelumnya 15 kilometer.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMG) Badan Geologi Surono mengatakan sejak pukul 00.55 WIB wilayah aman dari ancaman bahaya Merapi menjadi lebih dari 20 kilometer.

Ribuan warga tersebut kini sedang menuruni lereng Merapi yang hujan abu serta jalan dipenuhi abu dan kerikil. Mereka mengenakan mobil, motor, dan kendaraan TNI. Relawan, TNI, polisi, dan petugas pemerintah setempat membantu mengevakuasi para pengungsi.

Para pengungsi ini akan dipindahkan ke Stadion Maguwoharjo di Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman. Kondisi jalan turunan menuju lokasi relokasi pengungsian padat sehingga terpaksa berjalan pelan-pelan karena jarak pandang terbatas karena abu vulkanik.

Mobil yang membawa kalangan pengungsi harus bersabar karena pengungsi yang menggunakan kendaraan bermotor terburu-buru untuk menuju ke tempat aman. Pengungsi ada yang mengarah ke Uiversitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dan Solo, Jawa Tengah.(*)
(L.B015*V001/H010/R009)

Korban Luka Bakar Merapi Bertambah Menjadi 30 Orang

Yogyakarta (ANTARA News) - Korban luka bakar akibat terkena awan panas Merapi yang dirawat di Rumah Sakit Sardjito Yogyakarta bertambah menjadi 30 orang, lima di antaranya anak-anak, kata salah seorang dokter rumah sakit setempat, Sigit Priyo Hutomo, Jumat.

Korban meninggal akibat terkena awan panas Merapi hingga pukul 04.30 WIB tercatat satu orang balita.(*)
(U.M008/B015/R009)

20-an Pengungsi Merapi Alami Luka Bakar, Dirawat di RS Sardjito

Jakarta - Puluhan pengungsi letusan Gunung Merapi di kawasan Sleman, Yogyakarta, mengalami luka bakar setelah Gunung Merapi bergemuruh cukup besar. Saat ini para korban dirawat di Rumah Sakit Sardjito, Yogyakarta.

"Ada 20-an warga mengalami luka bakar," ujar Petugas UGD RS  Sardjito Sariningsih saat dihubungi detikcom, Jumat (5/11/2010).

Menurut Siti, di rumah sakit korban terus berdatangan. Namun dia belum dapat memastiakan apakah ada korban jiwa dalam kejadian ini. "Kita belum mendata," katanya.

Setelah bergemuruh cukup keras Kamis 4 November pukul 23.40 WIB ribuan warga di Kecamatan Pakem, Turi dan Cangkringan diungsikan ke daerah aman dengan radius 20 km dari puncak merapi. Mereka berbondong-bondong menyelamatkan diri dalam keadaan panik.

Saat ini puluhan ribu pengungsi letusan Gunung Merapi memadati Stadion Maguwoharjo di Sleman, Yogyakarta yang berjarak 30 km dari puncak Merapi. Sementara itu ratusan mobil dan truk menunggu parkir di halaman stadion yang cukup besar tersebut.

Pemerintah setempat membagi para pengungsi berdasar asal daerahnya. Namun demikian karena kurangnya persediaan tikar untuk tidur akhirnya pengungsi memadati sisi kiri stadion yang memang sudah ditata rapih tikar untuk istirahat para pengungsi.

Tak hanya menyerbu tikar, para pengungsi juga menyerbu toilet stadion. 60 toilet yang tersedia di stadion penuh antrean.
Sementara ini Dinkes setempat telah membuat posko untuk merawat warga yang sakit. Saat ini PMI tengah membuat dapur umum.

Kondisi di lokasi pengungsian belum nyaman. Pasalnya, hujan kerikil dan abu belum juga usai.(sumber:detik.com)


Pasir dan Abu Tutupi Kaca Mobil, Ganggu Evakuasi Korban Awan Panas Merapi foto

Jakarta - Hujan kerikil dan abu yang mengguyur Kota Yogyakarta sungguh dahsyat. Sampai-sampai, mobil-mobil yang melintas di jalanan terpaksa berhenti karena kaca depannya tertutup oleh pasir dan abu.

Yuli, seorang warga Yogyakarta yang tinggal di Condong catur, Sleman menceritakan, lalu lintas di Yogya pagi ini sangat ramai.

"Banyak mobil dan motor seliweran ke sana ke mari, ramai banget," kata Yuli kepada detikcom, Jumat (5/11/2010).

Namun laju kendaraan khususnya mobil terganggu dengan adanya pasir dan abu yang menutup kaca depan mobil. Abu itu tidak dapat hilang dengan wiper.

"Jadi beberapa orang menyiram kaca mobil pakai air selokan," kata Yuli.

Pemandangan ini disaksikannya di perempatan Ring Road Utara, atau Jalan Kaliurang km 6. "Untung banyak orang yang bantu," katanya.

Menurut Yuli, mobil-mobil tersebut ada yang mengangkut korban awan panas Merapi. Mobil itu hendak menuju RS Sarjito yang berada di kawasan UGM.

"Banyak mobil yang ngangkut korban luka," kata Yuli.(sumber:detik.com)

Hujan Abu dan Kerikil Merata di Seluruh Kota Yogyakarta

Jakarta - Hujan abu dan kerikil akibat letusan Merapi dirasakan warga yang tinggal di Yogyakarta bagian selatan. Warga panik dan memilih untuk tidak tidur.

"Kita nggak tidur, hujan kerikil di sini," kata Rumi, warga yang tinggal di Sorosutan, Umbulharjo, Yogyakarta saat berbincang dengan detikcom, Jumat (5/11/2010).

Rumi dan seluruh keluarganya memilih memantau kondisi Merapi melalui televisi. Untuk berjaga-jaga, pensiunan PNS itu sengaja tidak tidak mengunci pintu dan pagar rumahnya.

"Nanti kalau ada apa-apa kita langsung lari," katanya. Jarak rumah Rumi dari Merapi sekitar 35 km.

Yang membuat Rumi khawatir adalah Kali Code yang berada tidak jauh dari rumahnya. Seperti diketahui, sungai itu merupakan salah satu aliran lahar Merapi.

"Bisa jadi banjir juga, makanya kita pantau terus," katanya.

Hujan pasir juga dirasakan warga yang tinggal di Kemetiran. Daerah itu berada tidak jauh dari Malioboro.

"Genteng bunyi klotak-klotak, pasirnya besar-besar," kata Devi.

Sementara itu, Arif, warga Yogyakarta yang lain mengatakan, Kota Yogyakarta dini hari ini sungguh ramai. Jalan raya seperti di Jalan Kaliurang Km 5 dan
Ring Road Utara dipenuhi kendaraan.

"Rata-rata mereka dari atas, mengungsi," kata Arif(sumber:detik.com)

Rabu, 03 November 2010

Merapi Kembali Meletus, Angin Cenderung ke Barat

Lihat video dari metro tv tentang letusan gunung merapi

Lihat video dari metro tv tentang banjir lahar dingin di Kali Kuning

Jakarta - Untuk kesekian kalinya, Gunung Merapi kembali melontarkan awas panasnya. Bahkan letusan Merapi kali ini, kembali menjadi yang paling kuat sejak proses erupsi 26 Oktober lalu.

"Proses erupsi ini letusan yang terbesar sejak 26 Oktober lalu," kata Kepala Pusat Vulkonologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi
Kementerian ESDM, Dr Surono saat dihubungi detikcom, Kamis (4/11/2010).

Surono menjelaskan, asap putih di puncak Merapi kini terus membumbung tinggi. Diperkirakan ketinggian asap itu dari puncak Merapi mencapai 4 ribu meter.

Surono belum dapat memperkirakan ke arah mana awan panas itu akan bergerak. Pasalnya, asap putih itu masih berdiri tegak.

"Sepertinya cenderung ke arah barat," jelas Surono.

Merapi, lanjut Surono, sepertinya masih menyimpan kekuatan yang cukup besar. Meski begitu, Surono belum mengubah radius jarak aman di 15 km. (detik.com)



Cara Mengajari Balita Anda Bicara

Setiap perkembangan pada anak, khususnya balita, memiliki arti tersendiri bagi orangtua. Salah satunya ketika si kecil mulai belajar bicara. Ini merupakan tahap penting yang ditunggu-tunggu oleh orangtua. Banyak cara bisa dilakukan untuk merangsang anak cepat bicara.

Mulai dari rajin mengajaknya bicara hingga telaten membacakan cerita. Dikatakan oleh psikolog keluarga dari Universitas Indonesia, Sani B Hermawan Psi, cara tersebut menjadi salah satu cara yang tepat untuk menstimulasi anak agar lebih cepat berbicara. ”Sebaiknya itu dilakukan sejak dini,” katanya.

Jika anak mengucapkan kata yang salah, benarkan tanpa memojokkan anak. Menarik bahasa anak agar sempurna adalah hal yang wajib dilakukan orangtua. Sani menjelaskan, saat berbicara, berarti ada dua organ yang terlibat, yaitu pendengaran dan wicara. Pada saat masih kecil, anak bisa berbicara jika mendengar dengan baik. Jadi, anak harus dirangsang baik dari segi pendengaran dengan menstimulasi lewat suara. Selain suara orangtua, lewat suara dari lagu atau suara televisi.

”Kenalkan beragam suara dari lingkungan bisa langsung maupun lewat media. Stimulasi wicara bisa dilatih dengan menguatkan otot wicara, dengan mainan gigitan yang lunak.

Disarankan oleh Sani agar mengajak bicara pada bayi sejak dini. Sejak lahir, bayi sudah bisa mendengar dan mengerti suara manusia, terutama suara ibunya. Walaupun bayi belum bisa menjawab dengan kata-kata, tetapi bayi bisa menyatakan perasaan dengan senyuman, gerakan bibir, bersuara, berteriak, menggerakkan tangan dan kaki, kepala, atau menangis.
Dengan berlatih setiap hari sejak bayi, maka lama-kelamaan bayi dan anak dapat menjawab dengan kata-kata dan kalimat. Latihan ini sekaligus merangsang perkembangan emosi, komunikasi sosial, dan perkembangan kecerdasannya.
Supaya bayi Anda tidak terlambat bicara, maka lakukan metode ini setiap hari. Bicara sesering mungkin dan dalam kegiatan apa pun ketika orangtua berada tidak jauh dari bayi. ”Dengan seringnya anak mendengar, maka anak akan memiliki banyak kosakata.”

Jadi, semakin sering atau sebanyak mungkin orangtua berbicara dengan penuh kasih sayang walaupun anak belum bisa menjawab, hal itu dimungkinkan agar anak cepat merespons. Saat berbicara, orangtua bisa memulainya dengan bertanya kepada bayi seperti ”adik lapar ya? Ini mainan siapa? Gambar ini warna apa?” dan lainnya.

Orangtua bisa memancing respons anak dengan berkomentar terhadap perasaan bayi seperti, ”Kenapa sayang, kamu lapar yah? Yuk makan sini,”. Selain itu, melatih anak berbicara bisa juga dengan menyatakan perasaan ibu atau ayah, seperti kangen. Juga bercerita tentang benda-benda di sekitar bayi. Seperti ”itu ada pohon, pohon daunnya warna hijau, nanti berbuah mangga. Adik suka mangga nggak”.

Nah, di saat bayi sudah bisa mendengar pertanyaan atau cerita Anda, kemungkinan bayi akan merespons. Jadi, ketika bayi atau anak bersuara atau berbicara walaupun tidak jelas, sebaiknya orangtua menoleh dan memandang ke arah bayi dan mendengarkan suara bayi seolaholah orangtua mengerti maksudnya dan tirukan suaranya.
Jadi, semakin sering atau sebanyak mungkin orangtua berbicara dengan penuh kasih sayang walaupun anak belum bisa menjawab, hal itu dimungkinkan agar anak cepat merespons.
”Berikan jawaban atau pujian seolah-olah bayi mengerti jawaban orangtua dan jangan pernah menyebutkan potongan kata, semisal sepatu..ya harus sepatu, bukan sepa.. tu,” ungkap Sani.

Cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan mendengarkan lagu atau menonton televisi sambil mendampingi anak. Saat mendampingi anak menonton televisi, orangtua bisa sambil menunjukkan dan menyebutkan nama-nama benda, tokoh, atau kejadian yang ada di televisi. Ajak anak untuk mengulangi kata yang diajarkan.

Bermain dengan cilukba bisa menjadi alternatif. Saat ibu berkata “ciluuuuuuk” dengan muka yang ditutup bantal, beberapa detik kemudian bantal ditarik ke samping dan kembali ucapkan ”baaaaaaa” dengan nada riang. Setelah itu, Anda bisa melakukan bernyanyi bersama sambil bermain. Dengan tepukan dan menunjuk anggota tubuh lain dengan suara yang jelas.

Membacakan cerita sambil menunjukkan gambar bisa orang tua lakukan untuk melatih anak berbicara. Bacakan cerita singkat dari buku cerita anak yang bergambar. Selain itu, ajak bermain dengan anak lain atau dengan kakak, tetangga, sepupu yang sudah lebih jelas berbicaranya, semisal sambil bermain boneka, kubus, balok, gambar, atau yang lainnya.

”Dalam berinteraksi, gunakan bahasa yang sederhana agar si kecil dengan mudah dapat memahami maksud Anda,” sarannya.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Paundara Dianti, 26. Saat ini, wanita yang akrab disapa Dian itu selalu mengajarkan cara sederhana yang diajarkan oleh orangtuanya agar bayinya cepat bicara. Seperti mengajak anak bercerita sejak anak dalam kandungan. ”Sekarang anak saya hampir satu tahun, tapi kerjaannya ngoceh, ceriwis banget, karena mungkin sudah diajarkan untuk bisa bicara sejak dini,” paparnya.
Cara sederhana yang diajarkan oleh orangtuanya agar bayinya cepat bicara, yaitu mengajak anak bercerita sejak anak dalam kandungan.
Dian bercerita, saat bayinya memasuki umur 7 bulan, bayi sudah mulai mengucapkan suara yang hampir membentuk kata. Seperti ”ma-ma”atau ”pa-pa”. Selain senang karena sudah bisa diajak berkomunikasi, hal itu menjadi suatu kebanggaan untuk dirinya karena anaknya lebih cepat memiliki kemampuan untuk berbicara.

”Semua kosakata saya ajarkan secara bertahap, tapi sebisa mungkin anak saya dihindarkan dari kata-kata yang tidak pantas untuk seusianya,” ungkap Dian. (sydh/ Sindo)

Sebab-sebab Su'ul Khatimah

Oleh: Badrul Tamam
Seorang muslim yang beriman dengan betul-betul pasti akan takut mati su'ul khatimah. Karenanya, dia berusaha mencari tahu sebab-sebab yang bisa melindunginya dari kondisi tersebut, lalu berlindung di belakangnya.
Dalam kenyataan, ada sebagian orang terlihat sebagai seorang muslim yang rajin ibadah, namun akhir hayatnya ditutup dengan su'ul khatimah, Ya Allah kami berlindung kepada-Mu dari kondisi ini. Berikut ini beberapa sebab yang bisa menyebabkan seseorang meninggal su'ul khatimah:
Pertama, rusaknya aqidah walaupun disertai dengan kezuhudan dan keshalihan
Jika seseorang memiliki aqidah yang rusak dan meyakininya, walau dia tigak ragu bahwa dia salah dalam meyakininya, maka akan terkuak kebatilan keyakinanya ketika sakaratul maut. Walaupun dalam dirinya terdapat keyakinan yang hak dan yang batil. Tersingkapnya kebatilan akidahnya menjadi sebab hilangnya sisa akidahnya yang lain. Sesungguhnya keluarnya nyawa orang tersebut dalam kondisi ini sebelum mengecap kebenaran dan kembali kepada pokok iman, ditutup dengan su'ul khatimah dan meninggalkan dunia tanpa iman. Dia termasuk di antara orang-orang yang disebutkan oleh Allah Ta’ala,
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا * الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
 Katakanlah: "Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi: 103-104)
Siapa saja yang meyakini akidah yang berseberangan dengan akidah yang shahih, baik atas penalarannya sendiri atau mengambil dari orang yang berakidah batil, maka tetap berada dalam lingkup bahaya. Kezuhudan dan keshalihan tidak sedikiitpun membawa manfaat baginya. Dan sesungguhnya yang bisa mendatangkan kebaikan pada dirinya adalah akidah yang benar, yang sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallaahu 'alaihi wasallam. Karena akidah dalam Islam tidak dianggap kecuali yang berasal dari keduanya.
Kedua, terus menerus bermaksiat
Orang yang terbiasa melakukan kemaksiatan-kemaksiatan maka akan terekam dalam batinnya. Dan semua tindakan yang terekam selama hidupnya akan teringat kembali saat kematian menjemput.
Jika kecenderungannya kepada ketaatan lebih dominan, maka yang akan terngiang dalam benaknya ketika ajal datang adalah amal-amal ketaatan. Sebaliknya, jika kecenderungannya kepada perbuatan maksiat lebih banyak, maka yang akan muncul dalam ingatannya ketika maut menjemput adalah kemaksiatan-kemaksiatan. Dan boleh jadi, keinginan berbuat kemaksiatan itu mendominasi dirinya ketika kematian menghampirinya, sehingga hatinya kecanduan dengannya. Akibatnya, muncul hijab antara dirinya dengan Rabb-nya dan menjadi sebab kesengsaraannya di akhirat. Sebagian ulama salaf berkata,
الْمَعَاصِيْ بَرِيْدُ الْكُفْرِ كَمَا أَنَّ الْقُبْلَةَ بَرِيْدُ الْجِمَاعِ وَالْغِنَاءَ بَرِيْدُ الزِّنَا وَالنَّظَرَ بَرِيْدُ الْعِشْقِ وَالْمَرَضَ بَرِيْدُ الْمَوْتِ
Maksiat adalah pengantar menuju kekafiran sebagaimana halnya ciuman pengantar menuju jimak, nyanyian adalah pengantar menuju zina, pandangan adalah pengantar menuju kerinduan, dan sakit pengantar menuju kematian”. (Lihat Al-Jawab Al-Kafi (hal. 33) karya Ibnul Qoyyim)
Dan siapa yang tidak pernah melakukan kemaksiatan atau pernah melakukannya lalu bertaubat, maka dia jauh dari bahaya ini. Sedangkan orang yang banyak melakukan dosa sehingga jumlahnya lebih banyak dari ketaatannya, dan dia tidak bertaubat darinya bahkan terus menerus melakukannya, maka ini akan menciderai dirinya. Karena banyaknya goresan dosa tersebut menyebabkan ukiran dalam hatinya, sehingga dia kecanduan terhadapnya. Maka ketika nyawanya dicabut dalam kondisi itu, maka itu menjadi sebab akhir hidupnya yang buruk (su'ul khatimah).
Contoh mudah dari hal ini, seseorang memimpikan kondisi yang dijalani selama hidupnya. Sehingga orang yang menghabiskan waktunya untuk berkecimpung dengan ilmu, akan memimpikan kondisi-kondisi yang berkaitan dengan ilmu dan ulama. Seseorang yang menghabiskan waktunya dalam menjahit, maka dia akan memimpikan jahitan, para penjahit dan pelanggan. Kenapa seperti itu? Karena tidak akan hadir dalam mimpi seseorang kecuali yang sesuatu yang memiliki kesan dalam batinnya karena seringnya berkecimpung dengan hal itu. Sedangkan kematian, walaupun tingkatannya di atas tidur, tetapi kondisi yang mengawalinya hampir sama. Maka yang sering dilakukan akan diingatnya ketika maut datang, akan terkenang dalam hatinya dan cenderung kepadanya. Ketika ruhnya dicabut dalam kondisi itu, maka dia telah mengakhiri hidupnya dengan su'ul khatimah.
Imam al-Dzahabi berkata dalam al-Kabaair, …. Mujahid berkata, “Tidak ada satu orang yang meninggal kecuali terbayang olehnya teman-temannya yang sering duduk bersamanya, sehingga datang seseorang yang biasa bermain catur bersamanya. ..Lalu dikatakan padanya, “Ucapkan Laa Ilaaha Illallaah”, maka dia menjawab, “Sekak” lalu dia mati. Maka yang banyak terucap oleh lisannya adalah yang biasa dikerjakanya saat bermain catur. Maka ucapannya Sekak adalah pengganti dari kalimat tauhid.
Dan datang lagi seorang laki-laki kepada laki-laki lain yang biasa menenggak minuman keras. Dia mendekatinya, lalu mulai mentalkinkan (menuntunkan)-nya dengan kalimat syahadat. Maka dia berkata kepada orang yang menjenguknya tadi, “Minum dan tuangkan untukku”, lalu dia mati. Laa Haula wa laa Quwwata Illaa Billaahi al-‘Aliyyi al-‘Adzim.” (Selesai)
Orang yang terbiasa melakukan kemaksiatan-kemaksiatan maka akan terekam dalam batinnya.
Dan semua tindakan yang terekam selama hidupnya akan teringat kembali saat kematian menjemput.
Ketiga, sengaja tidak istiqamah (sengaja menyimpang)
Jika seseorang sebelumnya istiqamah, lalu berubah kondisinya dan meninggalkan keadaan tadi, maka hal itu menjadi sebab dia mengalami su'ul khatimah. Contohya: Bal’am bin Ba’ur yang telah Allah berikan kepadanya ayat-ayat-Nya, lalu dia sengaja melepaskan diri darinya dikarenakan cenderung kepada dunia dan mengikuti hawa nafsunya yang rendah, akhirnya dia menjadi orang yang sesat dan celaka.
Contoh lainnya adalah pendeta Barshisha, seorang ahli ibadah dari kalangan Bani Israil yang dibujuk syetan, “Kufurlah”. Ketika telah kufur maka syetan berkata, “Sesungguhnya aku takut kepada Rabb, Tuhan semesta alam.” Dia telah ditipu syetan untuk kufur. Maka ketika dia telah kafir, syetan berlepas diri darinya karena takut akan menyertainya dalam adzab. Tapi hal itu tidak bermanfaat baginya, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
فَكَانَ عَاقِبَتَهُمَا أَنَّهُمَا فِي النَّارِ خَالِدَيْنِ فِيهَا وَذَلِكَ جَزَاءُ الظَّالِمِينَ
Maka adalah kesudahan keduanya, bahwa sesungguhnya keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah balasan orang-orang yang dzalim.” (QS. Al-Hasyar: 17)
Keempat, lemah iman
Jika iman seseorang lemah, maka lemah pula rasa cintanya kepada Allah Ta’ala. Sebaliknya, cintanya kepada dunia menguat dalam hatinya sampai menguasai dirinya. Sehingga tidak tersisa lagi tempat untuk mencintai Allah Ta’ala. Akibatnya, jiwanya tidak lagi merasakan terpengaruh atas penyimpangan dirinya. Larangan berbuat maksiat tidak lagi berguna. Anjuran untuk taat tidak lagi memiliki tempat dalam dirinya. Sehingga dia terjerembab dalam kubangan syahwat dan melakukan berbagai perbuatan maksiat. Kegelapan dosa telah menutupi hatinya. Sampai-sampai cahaya iman selalu dipadamkan olehnya. Ketika datang sakaratul maut, maka kecintaan kepada Allah melemah dalam hatinya ketika dia tahu akan berpisah dengan dunia yang dicintainya. Sedangkan kecintaannya kepada dunia mengalahkan dirinya sehingga berat meninggalkannya.
Tingkatan Suul Khatimah
Su'ul khatimah memiliki dua tingkatan: Pertama, sangat berbahaya. Yaitu muncul keraguan dan penentangan ketika sakaratul maut dan kengeriannya datang. Sehingga nyawanya dicabut dalam kondisi demikian. Maka hal itu menjadi penghalang antara dirinya dengan Allah Ta’ala untuk selama-lamanya. Hal itu menjadikannya kekal dalam siksa yang abadi.
Kedua, tingkatan di bawah itu, tapi masih berbahaya. Ketika sakaratul maut datang, dalam hatinya didominasi kecintaan kepada dunia dan kesenangannya. Hal itu tergambar jelas dalam benaknya sehingga tidak terpikir olehnya selain dari itu. Maka kondisi tercabutnya nyawa semacam ini sangatlah menghawatirkan. Karena seseorang mati dalam kondisi yang biasa dia jalani, maka hal itu menjadi kerugian yang besar.
Jika pokok iman seseorang dan cintanya kepada Allah Ta’ala telah memenuhi hatinya dalam waktu cukup lama yang dikuatkan dengan amal-amal shalih, maka iman dalam hatinya tergolong kuat, -Allah Mahatahu tentang kadar kuatnya-, maka ketika dia harus dimasukkan dalam neraka untuk membersihkan dosa-dosanya, dia akan dikeluarkan darinya dalam waktu dekat. Dan jika imannya ada di bawah itu, maka tinggalnya di neraka lebih lama lagi. Tetapi jika iman dalam hati hanya sebesar biji, maka pasti dikeluarkan dari neraka walaupun setelah beribu-ribu tahun.
Setiap orang yang memiliki sedikit saja keyakinan terhadap Allah dalam sifat dan perbuatan-Nya yang menyimpang dari akidah yang benar, baik karena taklid atau hasil pencariannya sendiri, maka dia dalam kondisi yang membahayakan. Kezuhudan dan keshalihannya tidak cukup untuk menghilangkan bencana ini. Bahkan tidak bisa menyelamatkan darinya kecuali keyakinan yang benar, yang sesuai dengan kitabullah dan sunnah muthahharah.
Semoga Allah melimpahkan kepada kita husnul khatimah. Menjadikan kuburan kita sebagai  bagian dari taman-taman surga dengan ampunan, rahmat, dan kemurahan-Nya. [PurWD/voa-islam.com]
 

Media Dakwah Copyright © 2010 LKart Theme is Designed by Lasantha