Kamis, 11 November 2010

Aneh! Bakso dan Sate Obama Tutupi Kezaliman Amerika Terhadap Indonesia

Jakarta (voa-islam.com) - Kunjungan singkat Presiden Amerika Serikat Barack Obama ke Jakarta telah membuat rakyat Indonesia lupa. Padahal Obama tak ubahnya Kuda Troya yang menipu bangsa Indonesia. Dengan menjual sejarah masa kecilnya di Menteng Dalam, Jakarta Pusat, Obama seolah terkesan mencintai Indonesia.

"Sesungguhnya tetap saja Amerika itu imperialis, penjajah baru Indonesia. Seolah-olah mencintai padahal hanya untuk mengeruk kekayaan alam Indonesia," ujar anggota Komisi VI DPR Chandra Tirtawijaya, Kamis (11/11/2010).

Chandra mencontohkan, kedatangan Obama sama sekali tak membicarakan kontrak karya pertambangan perusahaan-perusahaan Amerika di Indonesia yang sangat tidak adil.
..."Sesungguhnya tetap saja Amerika itu imperialis, penjajah baru Indonesia. Seolah-olah mencintai padahal hanya untuk mengeruk kekayaan alam Indonesia," ujar Chandra Tirtawijaya...
"Kalau kedatangan Obama membicarakan soal kontrak karya dan merubah bagi hasil yang lebih adil baru itu namanya pencerahan, bukan sekadar cerita soal bakso dan sate saja," ujar politisi PAN ini.

Chandra mengingatkan, rakyat Indonesia selama ini mudah tertipu oleh penampilan-penampilan yang seolah-olah kebaikan namun sesungguhnya kezaliman.

"Obama hanya bagian kecil dari Amerika yang melakukan kezaliman di Indonesia melalui eksploitasi kekayaan alam Indonesia. Rakyat hanya terpukau pidato Obama soal sate dan bakso tapi tambang kita dikeruk oleh Amerika," kesal Chandra.

Seperti diberitakan, pidato Barack Obama saat jamuan makan malam di Istana Merdeka, Selasa (9/11/2010) dan ceramah kuliah umum di Universitas Indonesia (UI), Rabu (10/11/2010) telah menghipnotis jutaan rakyat Indonesia.

Dalam pidatonya, Obama menceritakan tentang kisah-kisah masa kecilnya saat tinggal di Menteng Dalam, Jakarta Pusat bersama ibundanya, Ann Dunham dan ayah angkatnya, Lolo Soetoro.

Kunjungan Obama Tak Otomatis Datangkan Investor

Banyak pihak berharap kedatangan Presiden Barack Obama bisa menarik investor asing ke Indonesia. Namun, hal itu tidak mudah. Menurut mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) tidak ada keuntungan langsung yang bisa dinikmati dari kunjungan Obama.

"Tidak ada hari ini datang berkunjung, tiba-tiba besok ada investor, tidak ada negara seperti itu," tandas JK, Rabu (10/11/2010) malam. Namun, menurut Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) ini, kunjungan pimpinan negara adidaya itu jangan dilihat dari sisi keuntungan jangka pendek.

"Jangan lihat keuntungan itu langsung, tapi lihat hubungan baik itu mungkin bisa menyebabkan banyak hubungan-hubungan yang lebih mudah nanti," katanya.

JK juga tak mempersoalkan singkatnya jadwal kunjungan yang kurang dari 24 jam. Sebab, menurut JK, yang terpenting hasil substansi yang dicapai.

"Walaupun seminggu, kalau substansinya tidak ada, kan sama saja. Namanya itu liburan. Walaupun sehari tapi selama substansinya baik itu juga lebih baik," tukasnya. (Ibnudzar/inh)

Bagi-bagi Injil Berwajah Al-Quran, Modus Kristenisasi Pengungsi Somalia

NAIROBI (voa-islam.com): Sejumlah organisasi Barat yang bersifat kemanusiaan melakukan kegiatan misionaris di antara para pengungsi Somalia di Kenya dengan memanfaatkan kesulitan yang mereka hadapi, disaat kosongnya pemerintah resmi Somalia.

Organisasi Amerika Horse bekerjasama dengan Lembaga "kaum beriman Kristen Somalia" yang diketuai oleh Ahmed Ali Haili warganegara Amerika memimpin kegiatan penginjilan di tengah-tengah kaum fakir dan para pengungsi Somalia di Kenya, menurut laporan dan saksi mata yang diwawancarai oleh Al-Jazeera baru-baru ini.

Semua upaya Al-Jazeera untuk memperoleh akses ke Ahmed Ali Haili menemukan kegagalan karena yang bersangkutan menolak untuk melakukan wawancara apapun, bahkan melalui telepon, sebagaimana pejabat organisasi Amerika Horse di Nairobi melarang Al-Jazeera masuk ke markas dimana warga Somalia berkumpul pada hari Sabtu dan Minggu setiap pekan untuk melakukan ritual agama Kristen dan menerima pelajaran dari Injil.

Namun, Al-Jazeera bertemu dengan sejumlah pengungsi Somalia di Kenya dan mendengar cerita mereka tentang kegiatan misionaris yang dilakukan oleh organisasi tersebut.

Pengakuan pengungsi:
Nyonya Maemuna menceritakan kisahnya bersama lembaga "Kaum beriman Kristen Somalia" ketika menjadi salah satu dari puluhan pengungsi Somalia yang telah terlibat dalam percobaan agama baru setelah sampai di Kenya dari Somalia selatan setelah runtuhnya pemerintah pusat 1991.

Maemuna menceritakan kepada Al-Jazeera, "kondisi hidup yang sulit memaksa saya mencari nafkah untuk menyelamatkan hidup saya dan hidup anak saya, dan saya bertemu dengan Ketua lembaga yaitu Ahmed Ali Haili yang memberikan saya pertama kali sejumlah uang 500 dolar AS sebagai gantinya masuk agama Kristen dan saya menerima ide tersebut karena alasan keuangan".

Dia menambahkan, "kemudian saya menghubungkan banyak keluarga Somalia dengan lembaga tersebut setelah kondisi hidup saya membaik, dan mulai membaca salinan Injil yang diterjemahkan ke dalam bahasa Somalia dalam sebuah gereja di Nairobi sebelum mereka memotong bantuan keuangan kepada saya setelah menemukan bahwa saya masih terikat kuat dengan agama Islam".

Dia menyebutkan bahwa para pengungsi Somalia di Kenya - yang menjadi target badan-badan misionaris, terutama di ibukota Nairobi - menerima pelajaran agama selain kursus pelajaran menjahit, kursus komputer dan mobil, mencatat bahwa jumlah warga Somalia terkait dengan lembaga tersebut lebih dari enam ratus orang.

Adapun kisah Anisa Aris Nuno (63 tahun), yang kehilangan tiga saudaranya dalam perang saudara Somalia tidak berbeda dengan kisah Maemuna, di mana dia menceritakan kepada Al-Jazeera dengan nada marah, mengatakan "Saya bukan rakyat Somalia, karena tidak ada yang peduli dengan kami, dan memeriksa kondisi kami walaupun adanya para pedagang Somalia di Kenya , meskipun adanya keluarga dan kerabat di Kenya".

Yang mengejutkan adalah ketika Nyonya Anisa mengeluarkan mushaf Al-Qur'an dari tas kecil, kemudian membaca Surat Al-Ikhlas dan Al-Mu'awwidzatain beberapa saat lalu segera menyembunyikannya ketika seorang warga Somalia yang telah murtad Kristen mendekatinya karena takut pemotongan bantuan keuangan kepadanya.

Pembagian Injil mirip Al-Qur'an:

Lembaga "kaum beriman kristen Somalia" bekerjasama dengan Organisasi Amerika Horse dan gereja-gereja lokal Kenya membagikan salinan kitab Injil yang diterjemahkan ke dalam bahasa Somalia kepada para pengungsi Somalia di Kenya dengan cara sembunyi-sembunyi dimana salinan tersebut mirip dengan sampul mushaf Al-Qur'an.

Dalam konteks ini, seorang dai Omar Muhammad Jami - salah satu dai Somalia di Nairobi - menjelaskan kepada Al-Jazeera bahwa badan-badan kemanusiaan barat menggunakan berbagai cara untuk menginjilkan para pengungsi Somalia, termasuk godaan bantuan keuangan dan pendidikan, dan perawatan kesehatan gratis bagi anak-anak mereka, dan membuka pintu imigrasi ke Amerika, Kanada, Australia dan Eropa Barat.

Patut dicatat bahwa organisai Amerika Horse adalah organisasi pribadi non-profit yang terdaftar di negara bagian California dengan kantor cabang di Korea, dan membuka kantor regionalnya di Kenya pada tahun 1994, dan terkonsentrasi kegiatannya di Kenya dan Somalia, dan memperhatikan perawatan bagi masyarakat miskin dan cacat, dan mereka beroperasi dalam perawatan para penyandang cacat, dan kelompok rentan dalam masyarakat, dan pencarian identitas.

Sumber-sumber Somalia di Kenya menegaskan bahwa puluhan warga Muslim Somalia pada dekade pertama abad ini telah murtad menjadi Kristen sebagai akibat dari kemiskinan, serta kelalaian pemerintah Somalia untuk menunaikan tanggung jawab formal dalam melindungi kepentingan pengungsi di Kenya.

Kunjungi Gereja, Ketum Partai Demokrat Anas Urbaningrum Dicurigai Dukung Kristenisasi

KLATEN (voa-islam.com) – Kunjungan Anas Urbaningrum ke pengunsi di Gereja Katolik Klaten dicurigai sebagai upaya dukungan terhadap gerakan pemurtadan. Pasalnya, banyak titik lokasi pengungsian yang ditempati kaum Muslimin, tidak ia kunjungi.
Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum dan rombongan berkunjung ke pengungsian yang berada di gereja Katolik Paroki Kecamatan Kebonarum Klaten, Rabu siang (10/11/2010).
Para tokoh masyarakat setempat sangat menyayangkan dan merasa tersinggung karena tidak dihargai dengan kedatangan Anas dan rombongan yang hanya berkunjung ke satu titik pengungsian, yaitu di gereja Katolik Paroki Kebonarum, padahal banyak titik pengungsian di Kecamatan Kebonarum. Bahkan sikap Anas yang mantan aktivis HMI itu dinilai tidak peka dengan pengungsi-pengungsi yang lain yang berada di pengungsian banyak kaum muslimin. Mereka mencurigai sikap Anas secara tidak langsung sebagai mendukung pemurtadan.
Nadianto, aktivis Forum Arimatea Solo mensinyalir pihak gereja telah memanfaatkan musibah Merapi  sebagai ajang pemurtadan.
"Bagi orang gereja, musibah membawa berkah karena banyak jiwa-jiwa baru yang siap dibaptis,” ujarnya.
Berdasarkan informasi yang diperoleh relawan Jama’ah Ansharut Tauhid Klaten, pihak kecamatan tidak dikonfirmasi kedatangan Anas dan rombongan tersebut.
Indikasi Pemurtadan di GOR Klaten
Sementara itu, ditempat terpisah, yaitu posko pengungsian di Gedung Olah Raga (GOR) Klaten, upaya pemurtadan dilakukan dengan cara membagikan kaos kristiani. Salah satunya adalah kaos hitam bertuliskan slogan Kristen: "I will follow Jesus forever."
Mardiono, seorang pengungsi yang berasal dari dukuh Karangjati, Desa Ngemlak Kecamatan Kemalang, mengaku kaos yang bertuliskan "I will follow Jesus forever" diberikan oleh temannya. Penampilan Mardiono yang awam dengan bahasa kristenisasi ini terlihat aneh. Kepalanya memakai peci hitam, nampak sebagai seorang Muslim. Tapi bila dilihat kaos lengan pendek warna hitam yang dipakainya, ia kelihatan seperti seorang Kristen militan.
Sayang Mardiono tidak menyebutkan siapa gerangan temannya tersebut. Malah Mardiono meminta bantuan jaket  saat kami mewawancarainya. Sedangkan  Yadi, yang menemani Mardiono dan mengaku tetangganya malah meminta sajadah dan sarung. [Bekti Sejati]

Jika Polri Tak Ada Kepentingan, Kaburnya Gayus Bisa Cepat Diusut

Jakarta - Kepolisian dinilai lambat menyelidiki kasus kaburnya terdakwa mafia pajak Gayus Halomoan Partahanan Tambunan dari penjara Mako Brimob, Depok. Secara normatif, polisi memiliki bukti awal untuk menjerat Gayus dalam kasus 'pelesiran' ke Nusa Dua, Bali, asal tidak ada kepentingan di tubuh Polri itu sendiri.

"Tidak sulit untuk menindaknya, apalagi ada saksi. Tinggal bagaimana mekanisme penindakan di tubuh Polri itu sendiri," kata pengamat hukum Universitas Jenderal Soedirman, Angkasa, saat berbincang dengan detikcom, Kamis (11/11/2010).

"Ditambah kalau Polri tidak ada kepentingan lain, seharusnya bisa cepat. Tinggal tunggu apa lagi?" imbuhnya.

Dia juga menilai, pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi dapat membantu pengungkapan foto yang diduga Gayus Tambunan saat menonton kejuaraan tenis internasional di Bali.

"Cara itu sebagai alternatif untuk membuktikan apakah itu Gayus atau bukan," ujar Angkasa.

Dia mengimbau polisi berkaca pada kasus penganiayaan yang dilakukan TNI di Papua yang beredar luas di internet yang telah diperkarakan di pengadilan.

"Polisi harusnya meneladani TNI yang cepat menuntaskan kasus penganiayaan di Papua," ujarnya.

Pria yang sangat mirip dengan Gayus terjepret kamera fotografer Kompas Agus Susanto pada Jumat (5/11) pukul 21.10 Wita. Saat itu tengah digelar pertandingan antara petenis Daniela Hantuchova dan Yanina Wickmayer.

Disebut-sebut pula, pria mirip Gayus tersebut datang tidak sendiri, tapi bersama seorang wanita. Keduanya sempat terlihat di Hotel Westin.

Belakangan beredar foto wanita mirip Milana Anggraieni, istri Gayus, sedang menonton turnamen tenis di hari yang sama.  Dalam foto tersebut, wanita mirip Milana ini mengenakan kaos kuning hitam dan topi hitam bertuliskan WTA. Wanita ini tampak berdiri di belakang pria mirip Gayus tersebut.(sumber: detiknews.com)

Gunung Merapi Belum Stabil, Macan Turun ke Pemukiman

Jakarta - Meningkatnya aktivitas Merapi selama beberapa pekan terakhir juga berimbas kepada hewan liar. Seekor macan dilaporkan turun gunung sampai ke pemukiman warga, tepatnya di dusun Kuron, Candibinangun, Pakem.

"Ada satu macan yang masuk ke pemukiman pukul 13.00 siang tadi," ujar Camat Pakem, Budiharjo ketika dihubungi detikcom, Kamis (11/10/2010).

Budi menuturkan bahwa tim dari Kebun Binatang Gembiraloka telah dilibatkan dalam penanganan Macan ini. Sampai pukul 22.00 WIB, dirinya mengaku belum mendapat laporan ditemukannya hewan liar tersebut.

"Saat ini masih dalam penanganan. Sudah ada tim dari Gembiraloka yang ke sana," tambahnya.

Namun Budi memperkirakan Macan tersebut tidak akan mendatangkan bahaya serius. Pasalnya situasi di dusun Kuron, Candibinangun, Pakem hampir seluruhnya kosong karena warga mengungsi ke bawah.

"Tidak perlu dikhawatirkan secara berlebihan. Penduduk di sana hampir semanya mengungsi ke bawah," terangnya.

Menurut Budi, dengan intensitas Merapi yang meninggi sejak pertengahan Oktober silam, bukan hal yang aneh jika hewan-hewan liar bergerak sampai ke bawah.

"Itungannya normal sih mas, kalau mereka (hewan liar) turun," tukasnya.

Namun berdasarkan laporan yang diterima Budi sampai malam ini, baru satu macan tersebut yang kedapatan turun gunung. "Baru macan itu saja," tutupnya.(sember:detiknews.com)

Rabu, 10 November 2010

Astagfirullah!! Tifatul Membungkuk Bersalaman dengan Istri Obama

Jakarta (voa-islam.com) — Situs microblogging Twitter langsung heboh ketika ketika siaran langsung stasiun televisi swasta menyiarkan tayangan di mana Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring, yang juga mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera, berjabatan tangan dengan Ibu Negara Michelle Obama di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (9/11/2010) sore.
Pada Selasa sore, Presiden AS Barack Obama dan Michelle berkunjung ke Istana Merdeka. Setibanya di Istana Merdeka, Obama dan Michelle menyalami para anggota Kabinet Indonesia Bersatu Kedua dan pemimpin lembaga tinggi negara lainnya.
Kehebohan terjadi karena Tifatul selama ini berpegang teguh tak berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahramnya. Soal "insiden" itu, Tifatul punya dalih sendiri.
..."Sdh ditahan 2 tangan, eh Bu Michele-nya nyodorin tangannya maju banget...kena deh," begitu tweet Tifatul...
"Sdh ditahan 2 tangan, eh Bu Michele-nya nyodorin tangannya maju banget...kena deh," begitu tweet Tifatul pada akun Twitter-nya, @tifsembiring.
Anehnya, di televisi tampak Tifatul agak membungkuk badan sambil menyalami Ibu Negara AS Michele Obama bersama rombongan saat tiba di Istana Negara.

Tifatul Menikmati Salamannya?

Mantan presiden PKS itu menjawab dalam twitternya tanggal 9 November sekitar pukul 22.00 sekitar dua jam setelah kritik para twitter dan facebooker dimuat di media massa online, termasuk tribunnews.com

"Hmmm saya mulai faham poinnya, intinya ngiri aja..." jawab Tifatul di twitternya. Kontan saja jawaban seperti itu mengundang respon para twitter lagi.

Ada yang mengkritik lagi dan mengatakan bahwa Pak Tifatul sedang mabuk, menjabat tangan bukan mahram kan haram."Kok Bapak berfikir demikian. Berarti Bapak menikmati dong salaman dengan Michele Obama," kata twitter lagi. Tapi ada juga twitter yang mendukung sikap Tifatul karena itu acara resmi dan kesempatan langka.

..."Kok Bapak berfikir demikian. Berarti Bapak menikmati dong salaman dengan Michele Obama," kata twitter lagi...
Kejadian jabat tangan itu tampak seperti tak terelakkan oleh Tifatul Sembiring. Ketika Presiden SBY diperkenalkan satu persatu rombongan yang dibawa Obama. Kemudian gantian Presiden SBY memperkenalkan anggota Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) kepada Obama dan Michele. Tifatul berdiri di dekat Gubernur Lemhanas Muladi.

Saat Obama menjabat tangannya, senyum dan sapa Obama menyapa hangat. Michele Obama pun lantas gantian menyodorkan tangan untuk berjabat tangan dengan Tifatul. Walhasil, terjadilah peristiwa aksi jabat tangan Tifatul dengan perempuan yang bukan mahramnya.

Dan karena ini menjadi pembicaraan hangat saking anehnya, berita juga dimuat di The Washington Post tanggal 9 November 2010 dengan judul Minister admits reluctant Michelle Obama handshake.

Tifatul mengaku tak ada pilihan lain selain menjabat tangan Michele Obama. Dengan demikian apakah selanjutnya Tifatul juga tidak bisa menolak saat ada wanita yang bukan mahramnya mengajak berjabat tangan? (LieM/dbs)

Menyikapi Ajakan Kemusyrikan Obama di Istiqlal: 'Lakum Dinukum Waliyadin'

Oleh: Hartono Ahmad Jaiz
Secarik kertas  berisi tulisan tangan Presiden Amerika Serikat Barack Obama tentang kesan khusus atas kunjungannya ke Masjid Istiqlal diterima oleh Imam Besar Masjid Istiqlal KH Mohammad Ali Mustofa Yakub, Rabu 10 November 2010.
Bagaimanapun, tulisan tangan seorang Presiden Amerika yang dia sendiri mengaku sebagai Kristiani itu walau tampaknya mengajak kepada suatu “kebaikan” namun entah disengaja atau tidak, di dalamnya ada tawaran kemusyrikan. Satu bentuk keyakinan yang sangat dilarang oleh Islam, bahkan puncak kemungkaran.
Hal itu tercermin dalam akhir tulisan tangan Presiden Obama: “…. I hope my visits promotes greater understanding between peoples of different countries and different faith for we are all children of God."
Baris terakhir termaktub “we are all children of God,” yang kurang lebih terjemahnya adalah “kita semua adalah anak-anak Allah.” Kalimat ini  adalah ajakan kepada kemusyrikan, karena dalam Islam, Allah Ta’ala berfirman dengan jelas:
“Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia" (Qs Al-Ikhlash 1-4).
Penawaran dengan menyebut “we are all children of God” itu mengingatkan peristiwa yang diajukan oleh kaum kafir Quraisy untuk apa yang kurang lebihnya sekarang disebut “doa bersama antaragama”, namun langsung Allah Ta’ala menurunkan surat Al-Kafirun, yang isinya menolak tegas-tegas penawaran dari kaum kafir Quraisy itu.
“Katakanlah: "Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu semba. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah, dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku." (QS Al-Kafirun 1-6).
Tulisan tangan Obama itu diterima Imam Besar Masjid Istiqlal KH Mohammad Ali Mustofa Yakub. Berikut isi lengkap tulisan Obama:
"I am honored to have had an opportunity to visit this magnificent mosque, which stands as a symbol of the role of Islam in guiding the lines of millions of Indonesians. I hope my visits promotes greater understanding between peoples of different countries and different faith for we are all CHILDREN OF GOD."
Terjemahannya kurang lebih demikian:
"Kehormatan bagi saya karena mendapat kesempatan untuk dapat mengunjungi masjid yang sangat luar biasa ini, Istiqlal adalah simbol peranan Islam dalam menuntun kehidupan jutaan rakyat Indonesia. Saya berharap kunjungan saya makin meningkatkan saling pengertian di antara orang-orang dari berbagai negara dan keyakinan, sebab kita semua adalah ANAK-ANAK TUHAN."

Bagaimana umat Islam menyikapinya?

Bagaimana cara menyikapi setelah kita tahu ada ayat “lakum dinukum waliyadin” ِ(bagimu agamamu, dan bagikulah, agamaku)?
Imam Ibnu Katsir mengaitkan ayat itu dengan sikap Nabi Ibrahim alaihissalam dan para pengikutnya terhadap orang-orang musyrikin:
"Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (Qs Al-Mumtahanah 4).
Walaupun tulisan Obama itu berkaitan dengan kunjungan di Masjid Istiqlal, namun isinya pada hakikatnya adalah mengajak kepada kemusyrikan. Karena sebagaimana Allah Ta’ala telah jelaskan:
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu” (QS Al-Baqarah 120).
Bagi Umat Islam, lafal “insya Allah” ataupun “assalamu’alaikum” yang diucapkan Obama ketika berkunjung ke Indonesia, tidak lantas membuat silau akidah. Umat Islam tetap lebih percaya kepada apa yang difirmankan Allah dan Rasul-Nya, di antara: “lakum dinukum waliyadin.” ِBagimu agamamu, dan bagikulah agamaku, wahai Mister Obama.(sumber: voa-islam.com)

Waspadai , Misionaris Dekati Pengungsi Merapi

Addakwah.com (Yogyakarta) Musibah Merapi yang terjadi hingga saat ini,menimbulkan dampak yang luar biasa bagi sebagian Umat Islam di wilayah Sleman, Magelang dan sekitarnya. Mereka harus mengungsi, meninggalkan kampung halaman. Tidah hanya sehari dua hari, namun sampai saat ini mereka masih tertahan di barak barak pengungsian yang disediakan pemerintah dengan bekal seadanya. Bahkan sebagian harus berpisah dengan sanak saudaranya, sebagian lagi tidak mengetahui nasibnya.
Meninggalkan sebagian harta benda yang ludes diterjang awan panas, rumah porak poran dan kehilangan anggota keluarga, sungguh ujian yang begitu berat. Mengungsi dengan keterbatasan bekal acapkali membuat rasa putus asa.
Dengan memanfaatkan situasi seperti inilah, para misionaris bergerak, menyusup di antara kelengahan kaum muslimin. Mereka memberikan tempat tampungan di gereja atau tempat tempat tertentu yang luput dari perhatian ummat. Di barak pengungsian stadion Maguwoharjo ditemukan buku dengan Judul “TEROBOS KESULITAN”. Buku Saku tipis bergambar dari penerbit Malang dengan alamat yang tidak begitu jelas. Mereka membagi bagikan buku secara sembunyi sembunyi.
Mereka juga mengadakan acara-acara seremonial,  seperti  doa bersama yang rencanaya  akan dilaksanakan di stadion Kridosono Yogyakarta pada Selasa Sore jam 16.30 Wib. Namun, akhirnya dibatalkan oleh panitia tanpa sebab yang jelas. Dengan mengetahui cara seperti itu akan lebih meningkatkan kewaspadaan kaum muslimin untuk menjaga akidah saudaranya yang sedang tertimpa musibah. (Edy)
 

Media Dakwah Copyright © 2010 LKart Theme is Designed by Lasantha