Minggu, 03 Juli 2011

SHALAT DHUHA

Shalat merupakan kuncinya surga, apabila baik shalat kita maka akan baik pula seluruh amal kita. Namun seringkali shalat kita tidak sempurna, maka diantara cara untuk menambal shalat kita yang berlobang sana sini Rasulullah menawarkan alternatif yang sungguh luar biasa yakni dengan melazimi shalat sunnah, seperti tahiyatul masjid, witir, tahajjud, dhuha dan masih banyak lagi shalat-shalat sunnah.

Shalat Dhuha merupakan shalat yang banyak mengandung fadhilah/ keutamaan, namun tidak banyak mendapat perhatian dari kita selaku mukmin. Karena ia berada dalam waktu yang di dalamnya banyak kesibukan. Orang banyak yang bekerja mencari rezki. Bagi pelajar mereka sibuk menuntut ilmu, begitu juga dengan yang memiliki kesibukan lainnnya. Oleh karenanya ia tidak begitu mendapat perhatian yang serius dan sering terlupakan.

Kapan Shalat Dhuha Dilakukan?
Waktunya ketika matahari mulai naik sepenggalah (agak miring). Dan waktu yang paling afdhal adalah ketika mulai panas. Hal ini dijelaskan didalam sebuah hadits Rasulullah SAW: ”Shalat awaabiin (orang-orang yang kembali kepada Allah) adalah ketika anak-anak unta sudah merasa kepanasan” (HR. Muslim)

Jumlah Rakaat
Disyariatkan kepada orang muslim untuk mengerjakan shalat Dhuha dengan dua, empat, enam, delapan atau dua belas rakaat.

Jika mau, dia boleh mengerjakannya dua rakaat dua rakaat. Adapun shalat Dhuha yang dikerjakan dua rakaat telah ditunjukkan oleh hadits Abu Dzar RA, Rasulullah SAW bersabda.
“Bagi masing-masing ruas dari anggota tubuh salah seorang di antara kalian harus dikeluarkan sedekah …Dan semua itu setara dengan ganjaran dua rakaat shalat Dhuha” (HR. Muslim)

Sedangkan shalat Dhuha yang dikerjakan empat rakaat, telah ditunjukkan oleh Abu Darda dan Abu Dzar RA, dari Rasulullah SAW, dari Allah yang Mahaperkasa lagi Mahamulia, dimana Dia berfirman: ”Wahai anak Adam, ruku’lah untuk-Ku empat rakaat di awal siang, niscaya Aku akan mencukupimu di akhir siang” (HR. At-Tirmidzi)

Sedangkan shalat Dhuha yang dikerjakan enam rakaat, ditunjukkan oleh hadits Anas bin Malik RA: “Bahwa Nabi SAW pernah mengerjakan shalat Dhuha enam rakaat” (HR. At-Tirmidzi di dalam kitab Asy-Syamaa-il)

Dan shalat Dhuha yang dikerjakan delapan rakaat ditunjukkan oleh hadits Ummu Hani, di mana dia bercerita: ”Pada masa pembebasan kota Makkah, dia mendatangi Rasulullah SAW ketika beliau berada di atas tempat tinggi di Makkah. Rasulullah SAW beranjak menuju tempat mandinya, lalu Fathimah memasang tabir untuk beliau. Selanjutnya, Fatimah mengambilkan kain beliau dan menyelimutkannya kepada beliau. Setelah itu, beliau mengerjakan shalat Dhuha delapan rekaat” (HR. Asy-Syaikhani)

Sedangkan shalat Dhuha yang dikerjakan dua belas rakaat ditunjukkan oleh hadits Abu Darda RA, dimana dia bercerita, Rasulullah SAW bersabda.
“Barangsiapa mengerjakan shalat Dhuha dua rakaat, maka dia tidak ditetapkan termasuk orang-orang yang lengah. Barangsiapa shalat empat rakaat, maka dia tetapkan termasuk orang-orang yang ahli ibadah. Barangsiapa mengerjakan enam rakaat maka akan diberikan kecukupan pada hari itu. Barangsiapa mengerjakan delapan rakaat, maka Allah menetapkannya termasuk orang-orang yang tunduk dan patuh. Dan barangsiapa mengerjakan shalat dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di Surga. Dan tidaklah satu hari dan tidak juga satu malam, melainkan Allah memiliki karunia yang danugerahkan kepada hamba-hamba-Nya sebagai sedekah. Dan tidaklah Allah memberikan karunia kepada seseorang yang lebih baik daripada mengilhaminya untuk selalu ingat kepada-Nya” (HR. Ath-Thabrani)

Keutamaan shalat Dhuha
Banyak hadits Rasulullah SAW yang bercerita tentang keutamaan shalat Dhuha, diantaranya;

Dari Abu Dzar al-Ghifari ra, ia berkata bahwa Nabi saw bersabda; Di setiap sendiri seorang dari kamu terdapat sedekah, setiap tasbih (ucapan subhanallah) adalah sedekah, setiap tahmid (ucapan alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (ucapan lailahaillallah) adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, mencegah dari kemungkaran adalah sedekah. Dan dua rakaat Dhuha diberi pahala" (H.R. Muslim).

Di dalam Fath al-Bari, Imam Ibnu Hajar berkata; "Salah satu dari faidah shalat Dhuha adalah diberi pahala sedekah bagi seluruh sendi manusia dalam setiap hari. Dan jumlah sendi itu adalah tiga ratus enam puluh sendi" .

Bagi yang rajin mengerjakan shalat Dhuha, maka ia akan dibangunkan sebuah rumah di dalam surga. Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits Rasulullah SAW: "Barangsiapa yang shalat Dhuha sebanyak empat rakaat dan empat rakaat sebelumnya, maka ia akan dibangunkan sebuah rumah di surga"

Dan tentunya masih banyak keutamaan shalat dhuha, mudah-mudahan kita bisa melaksanakannya secara perlahan-lahan. Kita sempatkan diri kita untuk menghadap Allah SWT. Rasanya tidak akan lama dan tidak akan memakan waktu yang panjang untuk mengerjakannya. Dua rakaat, empat rakaat, enam rakaat, delapan rakaat. Bagi yang kerja di kantor, kita upayakan sebisa mungkin. Bagi para pengajar, kita upayakan ketika waktu istirahat. Bagi para siswa (pelajar, mahasiswa) kita usahakan ketika waktu istirahat. Insya Allah kita akan mendapat ketenangan batin, kelapangan hidup dan ketentraman jiwa dengan mengingat Allah SWT. [idris]

Kamis, 23 Juni 2011

CINTA KASIH SEORANG AYAH

Ayah adalah sosok yang kuat, tegas, berwibawa, dan berani. ltulah yang digambarkan seorang anak manakala ia ditanya mengenai sosok ayahnya. Kedekatan anak dengan orang tua, baik ayah atau ibu menjadikan pandangan anak terhadap ayah dan ibupun akan berbeda. Mengapa ada perbedaan? Jawabnya adalah karena seringnya bertemu, dan cara kedekatan ayah dan ibu pada anak yang berbeda.
Cinta seorang ayah kepada anak bukanlah suatu hal dapat dengan mudah berkurang atau bahkan hilang. Cinta ayah kepada anak bagaikan bara dalam api. Tidak tampak, namun tidak pernah padam. Selalu memberi kehangatan. Bahkan akan berusaha membara kembali dengan semakin bertambahnya sekam.
Namun cinta yang terpendam dalam sekam, seringkali tidak mudah ditangkap oleh anak-anak yang merindukan belaian, atau anak yang mempunyai jumlah pertemuan yang sangat sedikit dengan ayahnya. Sosok yang pendiam, galak, dan terlalu disiplin serta predikat sangar lainnya akan diberikan anak yang jarang mendapat belaian dari ayahnya.
Begitu juga bagi remaja yang sedang masuk dalam permasalahan pubertas, namun kurang mendapat respon dan ayahnya, akan mencari sosok yang bisa mengayominya. Namun demikian, sebetulnya remaja sangat mendambakan kehadiran ayahnya meskipun predikat sangar masih dalam bayangannya. Hal ini dikarenakan ia sedang menunggu seorang “guru” dalam kehidupan sosialnya. Bagaimana dengan kita?

Luangkan Waktu Spesial
Sebagai ayah, hendaknya mengetahui perkembangan dan kebutuhan anak akan kedekatan orang tuanya. Sempatkan waktu dalam sehari meski hanya sesaat, spesial untuk anak-anak kita. Kedekatan tidak harus bergandengan tangan, tidak harus bercengkrama setiap saat. Namun pada keadaan tertentu bercengkrama dan bergandengan tangan merupakan hal yang dirindukan.
Adapun kunci yang dapat memberi kualitas kedekatan ayah pada anaknya meskipun sebentar antara lain:
- Usahakan berpamitan kepada anak saat kita akan berangkat bekerja dengan mencium mereka. Atau jika ayah berangkat lebih siang dari anak-anak, hantarkan mereka pergi sekolah meski hanya sampai depan pintu rumah.
- Doakan anak-anak kita, baik di depan mereka maupun disaat kita sendiri.
- Tanyakan kabar anak-anak kita sepulang sekolah.  
- Jika anak kita sudah remaja, lakukan setiap hari. Apa kabarnya dan bagaimana shalat mereka hari ini?
- Ciumlah anak-anak kita sesering mungkin.
- Bercerita sepulang dari shalat berjamaah di masjid.
Masih banyak lagi kunci kedekatan ayah dengan anak. Apabila yang tertulis di atas dapat dilakukan semuanya insya Allah akan besar manfaatnya bagi keluarga kita. Namun apabila kita tidak mampu melakukan semuanya, lakukanlah salah satu dari yang tertulis di atas dan jadikan kebiasaaan. Insya Allah akan tertanam di dalam benak anak kita suatu kedekatan nyata yang akan memunculkan kerinduan hingga anak kita tumbuh besar bahkan hingga dewasa.

Kasih Sayang Sepanjang Masa
Ibu mempunyai peran penting dalam menanamkan kecintaan anak kepada ayahnya. Sejak bangun tidur hingga sebelum tidur lagi, cinta ibu kepada ayah akan memberikan gambaran betapa keharmonisan di dalam rumah tangga dapat diikuti oleh anak-anaknya. Ketaatan ibu kepada ayah menjadi panutan anak untuk hormat dan patuh kepada ayah. Cinta adalah rasa, rasa diciptakan dengan sentuhan hati dan sentuhan verbal. Kerjasama ayah dan ibu dalam membagi kasih sayang dalam bentuk ucapan dan tindakan pada saat di rumah juga merupakan bagian dan cara untuk menyeimbangkan kedekatan anak dengan orang tuanya. Memberikan gambaran ayah yang kuat, sayang dan suka menolong akan mengurangi gambaran ayah yang sangar tersebut.
Ibu juga mempunyai kunci yang dapat memberikan kualitas kedekatan anak pada ayah:
- Ajak anak bersalaman pada saat ayah berangkat kerja atau berpamitan sekolah
- Mengajak berdo’a untuk ayah yang sedang bekerja mencari nafkah untuk keluarga.
- Sampaikan kepada anak bahwa tugas dan peran ayah di luar (kerja) adalah perintah Allah dalam menafkahi keluarga, bukan kepentingan sendiri.
- Menceritakan kebaikan ayah pada anak kita saat masih kecil (bayi) pada saat ibu berdua dengan anak (tanpa kehadiran ayah).
- Mengajak anak menyongsong kedatangan ayah dari bepergian/ kerja. Menunggu di depan rumah dengan air minum yang disiapkan untuk ayah. Setelah ayah datang ajak bersalaman dan mencium ayahnya.
Masih banyak lagi yang dapat kita ciptakan dan lakukan, namun apabila tidak dapat dilakukan semuanya, lakukanlah satu hal yang dapat menanamkan kedekatan anak dengan ayah dengan istiqomah. Wallahu a’lam. [nur aini]

HANGATNYA CINTA SEORANG AYAH

Ayah adalah sosok yang kuat, tegas, berwibawa, dan berani. ltulah yang digambarkan seorang anak manakala ia ditanya mengenai sosok ayahnya. Kedekatan anak dengan orang tua, baik ayah atau ibu menjadikan pandangan anak terhadap ayah dan ibupun akan berbeda. Mengapa ada perbedaan? Jawabnya adalah karena seringnya bertemu, dan cara kedekatan ayah dan ibu pada anak yang berbeda.
Cinta seorang ayah kepada anak bukanlah suatu hal dapat dengan mudah berkurang atau bahkan hilang. Cinta ayah kepada anak bagaikan bara dalam api. Tidak tampak, namun tidak pernah padam. Selalu memberi kehangatan. Bahkan akan berusaha membara kembali dengan semakin bertambahnya sekam.
Namun cinta yang terpendam dalam sekam, seringkali tidak mudah ditangkap oleh anak-anak yang merindukan belaian, atau anak yang mempunyai jumlah pertemuan yang sangat sedikit dengan ayahnya. Sosok yang pendiam, galak, dan terlalu disiplin serta predikat “strong” lainnya akan diberikan anak yang jarang mendapat belaian dari ayahnya.
Begitu juga bagi remaja yang sedang masuk dalam permasalahan pubertas, namun kurang mendapat respon dan ayahnya, akan mencari sosok yang bisa mengayominya. Namun demikian, sebetulnya remaja sangat mendambakan kehadiran ayahnya meskipun image “strong” masih dalam bayangannya. Hal ini dikarenakan ia sedang menunggu seorang “guru” dalam kehidupan sosialnya. Bagaimana dengan kita?

Luangkan Waktu Spesial
Sebagai ayah, hendaknya mengetahui perkembangan dan kebutuhan anak akan kedekatan orang tuanya. Sempatkan waktu dalam sehari meski hanya sesaat, spesial untuk anak-anak kita. Kedekatan tidak harus bergandengan tangan, tidak harus bercengkrama setiap saat. Namun pada keadaan tertentu bercengkrama dan bergandengan tangan merupakan hal yang dirindukan.
Adapun kunci yang dapat memberi kualitas kedekatan ayah pada anaknya meskipun sebentar antara lain:
- Usahakan berpamitan kepada anak saat kita akan berangkat bekerja dengan mencium mereka. Atau jika ayah berangkat lebih siang dari anak-anak, hantarkan mereka pergi sekolah meski hanya sampai depan pintu rumah.
- Doakan anak-anak kita, baik di depan mereka maupun disaat kita sendiri.
- Tanyakan kabar anak-anak kita sepulang sekolah.
- Jika anak kita sudah remaja, lakukan setiap hari. Apa kabarnya dan bagaimana sholat mereka hari
inii?
- Ciumlah anak-anak kita sesering mungkin.
- Bercerita sepulang dari shalat berjamaah di masjid.
Masih banyak lagi kunci kedekatan ayah dengan anak. Apabila yang tertulis di atas dapat dilakukan semuanya insya Allah akan besar manfaatnya bagi keluarga kita. Namun apabila kita tidak mampu melakukan semuanya, lakukanlah salah satu dari yang tertulis di atas dan jadikan kebiasaaan. Insya Allah akan tertanam di dalam benak anak kita suatu kedekatan nyata yang akan memunculkan kerinduan hingga anak kita tumbuh besar bahkan hingga dewasa.

Kasih Sayang Sepanjang Masa
Ibu mempunyai peran penting dalam menanamkan kecintaan anak kepada ayahnya. Sejak bangun tidur hingga sebelum tidur lagi, cinta ibu kepada ayah akan memberikan gambaran betapa keharmonisan di dalam rumah tangga dapat diikuti oleh anak-anaknya. Ketaatan ibu kepada ayah menjadi panutan anak untuk hormat dan patuh kepada ayah. Cinta adalah rasa, rasa diciptakan dengan sentuhan hati dan sentuhan verbal. Kerjasama ayah dan ibu dalam membagi kasih sayang dalam bentuk verbal dan non-verbal pada saat di rumah juga merupakan bagian dan cara untuk menyeimbangkan kedekatan anak dengan orang tuanya. Memberikan gambaran ayah yang kuat, sayang dan suka menolong akan mengurangi gambaran ayah yang “strong” tersebut.
Ibu juga mempunyai kunci yang dapat memberikan kualitas kedekatan anak pada ayah:
-  Ajak anak bersalaman pada saat ayah berangkat kerja atau berpamitan sekolah
-  Mengajak berdo’a untuk ayah yang sedang bekerja mencari nafkah untuk keluarga. - ---- Sampaikan kepada anak bahwa tugas dan peran ayah di luar (kerja) adalah perintah Allah dalam menafkahi keluarga, bukan kepentingan sendiri.
-  Menceritakan kebaikan ayah pada anak kita saat masih kecil (bayi) pada saat ibu berdua dengan anak (tanpa kehadiran ayah).
-  Mengajak anak menyongsong kedatangan ayah dari bepergian/ kerja. Menunggu di depan rumah dengan air minum yang disiapkan untuk ayah. Setelah ayah datang ajak bersalaman dan mencium ayahnya.
Masih banyak lagi yang dapat kita ciptakan dan lakukan, namun apabila tidak dapat dilakukan semuanya, lakukanlah satu hal yang dapat menanamkan kedekatan anak dengan ayah dengan istiqomah. Wallahu a’lam. [nur ‘aini]

Rabu, 22 Juni 2011

AKIBAT BERBUAT MAKSIAT

Jama’ah shalat jum’ah yang dimuliakan Allah Ta’ala

Allahamdulillah segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kita seorang mukmin yang senantiasa berusaha untuk melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dan Dia lah yang telah memberikan pada kita nikmat kesehatan dan kesempatan sehingga kita ditaqdirkan dapat melaksanakan shalat jum’ah di masjid ini.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada nabi junjungan, nabi besar Muhammad SAW yang telah membawa ummat ini dari jaman jahiliyah menuju zaman yang terang benderang dengan cahaya Islam.

Jama’ah shalat jum’ah yang dimuliakan Allah Ta’ala

Sesungguhnya musibah-musibah yang menimpa kaum muslimin saat ini berupa penderitaaan, kesulitan dan kesempitan baik pada harta maupun keamana, baik yang menyangkut pribadi ataupun sosial, sesungguhnya disebabkan oleh maksiat-maksiat yang mereka lakukan. Sikap mereka yang meninggalkan perintah-perintah Allah, Allah yang paling sayang terhadap mereka daripada kasih sayang ibu-ibu dan bapak-bapak mereka. Dan yang paling mengetahui kemaslahatan dan kebaikan bagi mereka daripada diri mereka sendiri. Allah berfirman,

مَاكَانَ لِبَشَرٍ أَن يُؤْتِيَهُ اللهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِّي مِن دُونِ اللهِ وَلَكِن كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ

"Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, Maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. dan cukuplah Allah menjadi saksi." (QS. An Nisa’: 79)

Jama’ah shalat jum’ah yang dimuliakan Allah Ta’ala

Sesungguhnya kebanyakan orang-orang sekarang mengembalikan sebab musibah-musibah yang mereka alami, baik musibah yang menyangkut harta atau yang menyangkut keamanan dan politik mereka mengembalikan sebab-sebab musibah-musibah ini hanya kepada sebab-sebab alami, materi, atau kepada sebab pergolakan politik, atau sebab perekonomian, atau kepada sebab perselisihan tentang daerah perbatasan antara dua Negara.

Tidak disangsikan lagi, hal ini disebabkan kurangnya pemahaman mereka dan lemahnya iman mereka dan kelalaian mereka dari mentadabburi Al-Qur’an dan sunnah-sunnah Rasulullah SAW.

Jama’ah shalat jum’ah yang dimuliakan Allah Ta’ala

Islam selalu mengajarkan kebaikan kepada pengikutnya. Demikian pula Islam melarang pemeluknya untuk berbuat dosa dan kemaksiatan. Tidaklah Islam memerintahkan serta melarang sesuatu kecuali ada hikmah dibalik semua itu.

Setiap orang yang melanggar aturann yang telah ditetapkan Allah, pasti pelakunya akan mendapat kesengsaraan di dunia dan akhirat. Ia akan menjadi titik hitam yang sulit dibersihkan jika tidak bertaubat dan dibarengi dengan perbuatan yang baik. Rasulullah SAW bersabda :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ : « إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِى قَلْبِهِ فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ قَلْبُهُ فَإِنْ زَادَ زَادَتْ فَذَلِكَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَهُ اللَّهُ فِى كِتَابِهِ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ(

“Seorang mukmin jika berbuat satu dosa, maka ternodalah hatinya dengan senoktah warna hitam. Jika dia bertobat dan beristighfar, hatinya akan kembali putih bersih. Jika ditambah dengan dosa lain, noktah itu pun bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah karat yang disebut-sebut Allah dalam ayat,“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka." (HR Tarmidzi)

Jama’ah shalat jum’ah yang dimuliakan Allah Ta’ala

Ada seorang ulama’ Ibnul Qoyyim al Jauziyah menjelaskan akibat berbuat maksiat pada Allah Ta’ala. Diantara akibat tersebut adalah :

1. Maksiat Menghalangi Ilmu Pengetahuan

Ilmu adalah cahaya yang dipancarkan ke dalam hati. Namun, kemaksiatan dalam hati dapat menghalangi dan memadamkan cahaya tersebut. Ketika Imam Malik melihat kecerdasan dan daya hafal Imam Syafi'i yang luar biasa, beliau (Imam Malik) berkata,

"Aku melihat Allah telah menyiratkan dan memberikan cahaya di hatimu, wahai anakku. Janganlah engkau padamkan cahaya itu dengan maksiat. "

Ketahuilah bahwa Islam ini adalah cahaya. Ia akan menerangi jalan menuju jannah-Nya Allah Ta’ala. Dan ketahuilah bahwa cahaya islam ini tidak akan masuk kedalam hati kita jika kemaksiatan masih menghiasi kehidupan kita.

Banyaknya pengajian yang kita hadiri, ceramah-ceramah dari pada da’i dan khotib yang kita dengarkan, akan tetapi banyak yang sulit untuk diserap dalam pikiran kita. Mungkin penyebabnya adalah maksiat.

Bagaimana tidak, telinga kita masih mendengarkan perkataan-perkataan yang kotor. Mata kita masih menonton tayangan-tayangan yang seronok. Serta anggota badan kita masih banyak melakukan dosa-dosa sehingga Allah belum memberikan ilmunya pada kita.

2. Maksiat Menghalangi Rizki

Jika ketakwaan adalah penyebab datangnya rizki. Maka meninggalkan ketakwaan berarti menimbulkan kefakiran.

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ
"Dari Tsauban berkata, bersabda Rasulullah sallallahu alaihiwasallam : Sesungguhnya seorang hamba dicegah dari rezeki akibat dosa yang diperbuatnya" (HR. Ahmad)

Kita harus yakin bahwa takwa adalah penyebab yang akan mendatangkan rizki dan memudahkannya dan tidaklah mudah mendapatkan rizki Allah kecuali kita tinggalkan kemaksiatan dan janganlah kita penuhi jiwa kita hal-hal yang berbau maksiat.

Kita juga harus membersihkan rizki kita dari barang-barang yang haram dan syubhat. Jauhkan dari riba, menipu, serta transaksi-transaksi yang dilarang dalam islam. Dan ingatlah bahwa satu suap yang didapat dari barang haram bisa menjadikan diri kita terjerumus kedalam neraka. Rasulullah SAW bersabda:

كُلُّ جَسَدٍ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ
Setiap jasad yang tumbuh dari barang haram, maka neraka lebih pantas baginya. (HR. Thabrani dan dishahihkan oleh Al Bani)

3. Maksiat Menimbulkan Jarak Dengan Allah
Diriwayatkan ada seorang laki-laki yang mengeluh kepada seorang arif tentang kesunyian jiwanya. Sang arif berpesan, "Jika kegersangan hatimu akibat dosa-dosa, maka tinggalkanlah (perbuatan dosa itu). Dalam hati kita, tak ada perkara yang lebih pahit daripada kegersangan dosa diatas dosa."

4. Maksiat Menjauhkan Pelakunya dengan Orang baik

Maksiat menjauhkan pelakunya dari orang lain, terutama dari golongan yang baik. Semakin berat tekanannya, maka semakin jauh pula jaraknya hingga berbagai manfaat dari orang yang baik terhalangi. Kesunyian dan kegersangan ini semakin menguat hingga berpengaruh pada hubungan dengan keluarga, anak-anak dan hati nuraninya sendiri. Seorang salaf berkata, "Sesungguhnya aku bermaksiat kepada Allah, maka aku lihat pengaruhnya pada perilaku binatang (kendaraan) dan istriku."

5. Maksiat Menyulitkan Urusan

Jika ketakwaan dapat memudahkan segala urusan, maka pelaku maksiat akan menghadapi kesulitan dalam menghadapi segala urusannya. Maksiat menggelapkan hati, ketaatan adalah cahaya, sedangkan maksiat adalah gelap gulita. Ibnu Abbas ra berkata, "Sesungguhnya perbuatan baik itu mendatangkan kecerahan pada wajah dan cahaya pada hati, kekuatan badan dan kecintaan. Sebaliknya, perbuatan buruk itu mengundang ketidakceriaan pada raut muka, kegelapan di dalam kubur dan di hati, kelemahan badan, susutnya rizki dan kebencian makhluk."

Kita berdo’a pada Allah Ta’ala agar ia Dia menjauhkan kita dari masiat dan memudahkan kita dalam ketaatan.

اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا

"Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini."

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأسْتَغْفِرُ اللهُ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ.

Jumat, 17 Juni 2011

AGAR SEPARO TAQWA LAGI KITA MILIKI

Dari Anas bin Malik r.a ia berkata: bersabda Rasulullah saw: “Jika seorang hamba menikah, berarti ia telah menyempurnakan setengah agamanya, maka hendaklah ia bertaqwa kepada Allah pada separuh sisanya.” {HR. Baihaqi}

Baiklah, anggap saja anda telah menikah, berarti anda berhak untuk mendapat separuh dari kesempurnaan dien. Tahukah anda kenapa pernikahan mengambil separuh bagian dari dien ini? Karena pernikahan adalah ibadah yang agung, ia membantu kita menegakkan dien dan menjaga syari’at Allah swt, seperti sabda Rasul saw.
“Wahai sekalian para pemuda barang siapa diantara kalian telah mampu [ba’ah] hendaklah menikah karena dengan menikah itu lebih dapat menundukan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Barang siapa yang belum mampu menikah hendaklah ia berpuasa karena puasa merupakan wijaa’ (pemutus syahwat) baginya.” [HR. Bukhori (4/106) dan Muslim (no. 1400) dari Ibnu Masud.]

Untuk bertakwa pada separoh sisa dari kesempurnaan dien, kita memerlukan dukungan dari komponen yang lain, tanpa dukungan itu, kita akan mengalami kesulitan untuk bertahan apalagi maju dalam prestasi dien ini. Alih alih membangun keluarga sakinah malah derita, pilu dan kegagalan rumah tangga yang harus kita tanggung, mimpi indahnya pernikahan menjadi bencana dalam kehidupan.
Diantara komponen penting itu adalah orang-orang terdekat yang hadir di sekitar kita; istri dan anak-anak. Maka, berbahagialah mereka yang memiliki istri dan anak-anak, yang kehadirannya mewarnai prestasi ketakwaan kita di hadapan Allah swt.

Tatkala turun firman Allah swt. : “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak serta tidak menafkahkannya pada jalan Allah…” [QS. At-Taubah: 34.] Berkata orang-orang muhajirin: “Lalu harta apa yang baik untuk kita miliki?” Kata Umar: “Baiklah, aku akan tanyakan itu kepada Nabi saw”. Maka aku mendapati beliau Shalallahu ‘alaihi wasallam di atas unta, aku pun bertanya: “Wahai Rasulullah, orang-orang muhajirin bertanya: “Harta apa yang baik untuk kami miliki?” Kemudian Rasulullah saw bersabda: “Lisan yang senantiasa berdzikir, hati yang senantiasa bersyukur, dan istri mukminah yang membantu kalian dalam urusan dien.”

Demikianlah, nilai seorang istri mukminah; lebih berharga ketimbang emas dan perak… kecantikannya abadi, karena terpatri pada budi pekerti. Bersyukurlah mereka yang telah memiliki perhiasan ini. Dan merugilah mereka yang kehadiran sang istri di sisinya hanya memperdalam tempatnya di dalam neraka. Seperti Ummu Jamil, istri Abu Lahab yang turut membantu suaminya dalam kekufuran, hingga Allah abadikan kisahnya dalam Al-Qur’an agar menjadi pelajaran bagi kita semua.

Rumah tangga tidak lengkap tanpa kehadiran anak. Lalu, bagaimanakah potret anak-anak yang kita idamkan? Mereka yang lahir dan tumbuh dari darah daging kita.
Mari meneropong sisi kehidupan anak-anak yang hidup di masa lalu…salah satunya anak seorang Khalifah yang fenomenal..

Usai menyampaikan pidato perdana, pelantikannya sebagai khalifah, Umar bin Abdul Aziz turun dan mengganti baju kebesarannya serta menyuruh orang untuk menjual dan menyimpan hasilnya di baitul mal… Baru saja beliau bersiap-siap untuk beristirahat [qoilulah], tiba-tiba datang anaknya, Abdul Malik, dan bertanya: “Wahai Amirul Mukminin “Apa yang hendak engkau lakukan?” Umar berkata: “Beristirahat wahai anakku,” anaknya menimpali ” Wahai ayah, engkau akan beristirahat? Sementara harta orang-orang yang terdhalimi belum lagi kau kembalikan haknya..”  Umar menjawab:  “Aku semalam tidak memejamkan mata, karena mengurusi mendiang Sulaiman [khalifah sebelumnya]. Lepas Dzuhur nanti, aku akan kembalikan hak mereka.” Anaknya menjawab: ”Siapakah yang membarimu jaminan hidup hingga waktu Dzuhur?” Umar berkata:  Mendekatlah kemari wahai anakku…, lalu mendekatlah anaknya, dan diuntailah kalimat di hadapan kedua mata anaknya : “Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan dari tulang rusukku, seorang anak yang membantuku dalam urusan-urusan dienku.” Kemudian beliau bangkit, keluar dan meninggalkan qoilulahnya” [bidayah wa nihayah, juz 9]

Subhanallah, betapa sejuknya mata kedua orang tua yang memiliki anak seperti ini…membantu menyelamatkan orang tuanya dari jilatan api neraka. Bagaimana dengan anak-anak kita?
Berhentilah berangan-angan tentang anak yang datang membawa emas dan perak sebagai bukti bakti mereka kepada orang tua, karena nilai emas dan perak telah jatuh martabatnya dihadapan orang-orang shaleh, kecuali mereka yang menginfakkan hartanya di jalan Allah.
Berhentilah mengkhawatirkan masa depan dunia anak kita... Yakinlah bahwa setiap insan terlahir bersama rizkinya. Bukankah Allah telah memberinya makan sejak ia dalam kandungan. Nah, mulailah mengkhawatirkan nasib mereka di akherat, bertanyalah tentang shalat mereka, ngaji mereka, pergaulan mereka, dll…agar mereka tumbuh menjadi anak shaleh dan membalas kebaikan orang tua dengan kebaikan yang kekal abadi.

Mari kita periksa rumah tangga kita dan cermati komponen yang kita butuhkan untuk menjaga dien ini. Andikan realitas tidak seperti idealisme yang diharapkan, maka masih ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya… agar separo ketakwaan yang masih tersisa dapat kita raih. [uun]

Kamis, 21 April 2011

ILMU, PELITA DALAM KELUARGA

Sepasang suami istri yang telah dikaruniai anak, bahkan cucu bisa saja tidak tahu menahu ketika ditanya tentang mandi jenabat, bacaan shalat, bacaan Al-Qur’an, tajwid, dll; hal-hal yang semestinya tidak luput dari pengetahuan mereka. Masih banyak perkara mendasar lain yang apabila ditanyakan kepada mereka, jawabannya idem, “tidak tahu”.

Ini kondisi yang memprihatinkan bukan??... Lebih menyedihkan lagi, jika mereka tidak memiliki keinginan dan usaha untuk mencari dan mengetahui ilmu yang mereka butuhkan.

Demikianlah potret keluarga miskin ilmu... Lalu, apa yang akan mereka wariskan untuk anak dan cucu mereka? Sementara orang semulia Rasulullah saw, pun tidak mewariskan kecuali ilmu. Karena itulah beliau mewajibkan umatnya untuk menuntut ilmu, sebagaimana sabdanya:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
 “ Menuntut ilmu itu wajib atas setiap muslim.” [HR. Ibnu Majah, Al Baihaqi dan Ibnu ‘Adi. Dishahihkan syaikh Al Albani dalam Shahih Jami’ Shaghir no. 3913]

Keluarga Ideal, Kaya Ilmu
Suami istri ibarat nahkoda kapal dan wakilnya; sangat menentukan kemana arah kapal akan mereka laju. Kalau nahkodanya tidak piawai dan miskin pengetahuan, sulit untuk berhasil menghadapi cuaca ekstrim dan gulungan ombak, lalu bagaimana ia akan sampai ke tempat tujuan?

Mari kita menengok lebih dekat rumah tangga Rasulullah SAW, kesibukan apa yang selalu menghiasai keluarganya?
Allah SWT berfirman dalam surat Al-Ahzab: 34

وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا
“Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunah Nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Ahzab: 34)

Ayat di atas memotret suasana rumah tangga Rasul saw yang sangat akrab dengan bacaan Al-Qur’an dan Sunnah, dimana keduanya menjadi referensi pertama dan ilmu yang paling utama diburu oleh setiap hamba. Inilah yang diwariskan oleh Rasulullah saw, ketika beliau kembali keharibaan Allah Azza wa Jalla.

Suasana itu tidak hanya tampak dalam rumah tangga beliau saw, juga terlukis hingga pada keturunannya.. Lihatlah bagaimana tingginya motivasi mencari ilmu dari anak cucu beliau. Abdurrahman bin Ardak bercerita : Suatu ketika Ali bin Husain memasuki masjid. Ia meminta jalan kepada mereka yang hadir sehingga ia duduk di halaqohnya (majlis ilmu) Zaid bin Aslam. Melihat hal itu Nafi’ bin Jubair berkata : Semoga Allah mengampuni anda.! Anda adalah Sayyid (tuan) dari sekalian manusia. Anda bersusah-susah untuk menghadiri majlis hamba sahaya! Maka Ali bin Husain berkata : Ilmu itu dibutuhkan, didatangi dan dicari dimanapun ia berada.” (Siyar A’lamun Nubala, IV/388)

Bagaimana dengan rumah tangga kita?
Saatnya kita menciptakan suasana thalabul ilmi yang baik di tengah keluarga, agar tumbuh keluarga-keluarga muslim yang berkualitas, sebagaimana yang Rasulullah bangun di keluarganya, juga di kalangan para sahabatnya. Allah swt menjelaskan:

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ. - آل عمران / 164
“Sungguh Allah telah menganugerahkan kepada kaum mukminin ketika Allah mengutus pada mereka seorang rasul dari diri mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayatNya, membersihkan jiwa mereka dan mengajarkan kepada mereka al-kitab dan al-hikmah. Meskipun mereka sebelum itu benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Ali-’Imran: 164)

Merencanakan pernikahan dengan bekal ilmu
Satu hal yang tidak boleh dilupakan bagi mereka yang hendak berumah tangga adalah menyiapkan ilmu. Memang, menikah bagi seorang muslim adalah upaya menyempurnakan dien (agama).. tetapi bukan hanya karena menikah lantas dien seseorang secara otomatis sempurna. Menikah hanya faktor pendukung, tetapi kesempurnaan itu lebih pada proses pengejawantahan tujuan-tujuan pernikahan...

Kondisi memprihatinkan kadang menimpa sebagian para aktivis pengajian... Sebagian ikhwan atau akhwat (baca: pemuda/pemudi) begitu giatnya mengikuti majlis-majlis ilmu, pengajian, dan kegiatan-kegiatan keislaman yang lain, itu saat mereka masih berstatus lajang. Namun, selepas menikah perjalanan hidup tidak selalu indah dan mudah. Tuntutan keluarga mulai antri, dari isi perut, isi rumah, ongkos berobat hingga anggaran menghadiri resepsi pernikahan, cukup mengikis isi dompet... Nah, mulailah jadwal majelis ta'lim dipangkas, lama-lama digundulin... dan selamat tinggal majlis ilmu.

Jangan sampai pernikahan menjadi sinyal saatnya ber’sayonara’ dengan majlis ilmu? Karena ilmu adalah salah satu kunci kebahagiaan sebuah keluarga. Idealnya, ketika menikah orang lebih giat mencari ilmu, karena ia berada dalam dunia yang baru, yang menuntut banyak pengetahuan dan ilmu syari yang memadai. Jadi, bagi mereka yang sudah berkeluarga, memiliki anak, bahkan cucu, rengkuhlah ilmu sebagai pelita menuju surga Allah Ta’ala. (hur)

Senin, 07 Februari 2011

Dahsyatnya Tiupan Sangkakala

addakwah.com. GELEGAR kedahsyatan sangkakala yang ditiup oleh malaikat Israfil akan menandai hancurnya alam semesta sebagai rangkaian dari tegaknya kiamat. Tiupannya  benar-benar mengejutkan manusia saat itu. Tiupannya akan memporak-porandakan seluruh alam dan membinasakan manusia. Bahkan, kedahsyatannya pun akan dirasakan oleh penghuni kubur. Sungguh, hiruk-pikuknya tak pernah terbayangkan.
 
Ghaib, Tapi Wajib Diimani
Sangkakala adalah terompet berbentuk tanduk  yang siap ditiup oleh malaikat Israfil yang selalu menunggu kapan diperintah Allah untuk meniupnya. Dari peniupan sangkakala inilah kejadian kiamat dimulai. Meski ghaib, peristiwa ini wajib diimani oleh setiap muslim, karena bagian dari akidah yang pokok.
Jumlah Tiupan
Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam menjelaskan jumlah tiupan sangkakala tersebut. Ada yang berpendapat tiupannya sebanyak dua kali. Ada yang berpendapat tiga kali. Bahkan, ada yang berpendapat empat kali.
Namun, pendapat yang paling tepat —wallahu a’lam bish-showab—adalah dua kali. Yaitu:
  • Tiupan yang mengejutkan.
Manusia akan sangat terkejut hingga mereka semua mati, kecuali yang dikehendaki oleh Allah. simaklah firman Allah berikut ini: 
وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَصَعِقَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ إِلَّا مَنْ شَاءَ اللَّهُ
Dan ditiuplah sangkakala maka matilah semua yang di langint dan di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki oleh Allah. (Az-Zumar [39]: 68)
  • Tiupan untuk kebangkitan.
Pada tiupan kedua inilah manusia akan terbangun dari kubur mereka. Allah SWT berfirman:
وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَإِذَا هُمْ مِنَ الْأَجْدَاثِ إِلَى رَبِّهِمْ يَنْسِلُونَ
Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kubur (menuju) kepada Rabb mereka. (Yâsîn : 51)

Seburuk-buruk Makhluk
Sebelum peniupan sangkakala yang pertama terjadi, seluruh makhluk yang beriman kepada Allah SWT akan diwafatkan. Hingga tersisalah mereka orang-orang kafir yang tidak mengenal iman dan amal shalih. Orang-orang yang hanya sibuk dengan urusan dunia dan mengingkari adanya hari kebangkitan.
Tiupan sangkakala (yang pertama) terjadi dengan tiba-tiba dan mengejutkan. Mereka pun tak ada kesempatan untuk menuntaskan aktivitas duniawi mereka. Sungguh celakalah manusia yang mengalami peristiwa ditiupnya sangkakala yang pertama ini. Merekalah orang-orang yang jahat. Merekalah seburuk-buruk makhluk!
Firman Allah, “Dan orang-orang kafir itu mengatakan, ‘Kapan janji (hari kebangkitan) itu (terjadi) jika kalian adalah orang-orang yang benar?’ Mereka hanya menunggu satu teriakan, yang membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar. Sehingga mereka tidak mampu membuat suatu wasiat dan mereka juga tidak dapat kembali kepada keluarganya.” (Yâsîn :48-51)

Hari Itu, Hari Jum’at
Hari ketika ditiupnya sangkakala adalah hari Jum’at, sebagaimana yang dikabarkan oleh Rasulullah SAW,
لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ إلاَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ
Tidaklah hari kiamat itu terjadi kecuali pada hari Jum’at.
 
Dan dalam sabdanya yang lain, “Sesungguhnya hari paling utama di antara hari-hari kalian adalah hari Jum’at. Di dalamnya diciptakan Adam AS, dan di hari itu diwafatkan, di hari itu ditiupnya (terompet), dan di hari itu terjadi sha’iqah (pingsannya semua makhluk). Maka perbanyaklah shalawat atasku! Sesungguhnya shalawat kalian akan sampai padaku.” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah, dan Al-Baihaqi)
 
Jarak Antar Kedua Tiupan
Setelah alam semesta hancur dan seluruh makhluk yang bernyawa telah meninggal—kecuali yang dikehendaki oleh Allah—maka ruh manusia dan jin tetap berada di alam kubur menunggu ditiupnya sangkakala yang kedua. Jasad manusia dan jin telah hancur, kecuali jasad para Nabi dan Rasul. Semua tulang belulang dan anggota badan manusia hancur, kecuali satu tulang, yaitu tulang ekor.
“seluruh badan manusia dimakan oleh tanah, kecuali tulang ekornya. Darinya ia dibentuk dan darinya pula kelak ia akan dibentuk lagi.” (HR. Muslim)
Dari tulang ekor inilah Allah menyatukan bagian-bagian tulang manusia yang lain. Allah kemudian menurunkan hujan dari langit yang akan menyatukan anggota-anggota badan manusia dan mengembalikan seperti sedia kala, sebagaimana saat ia belum mati.
Setelah jasad seluruh manusia kembali seperti sediakala, Allah mengembalikan ruh kepada jasadnya, kemudian memerintahkan malaikat Israfil untuk meniup sangkakala kali yang kedua.
Dengan tiupan inilah seluruh manusia dan jin bangkit dari alam kubur. Inilah peristiwa yang dinamakan dengan hari kebangkitan (yaumul ba’ts) dan hari pengumpulan (yaumul hasyr).
Jarak kedua peristiwa (tiupan pertama dan kedua) adalah empat puluh, tanpa adanya penegasan dari Rasulullah SAW; apakah empat puluh tahun, empat puluh bulan, ataupun empat puluh hari.
Dari Abu Hurairah mengatakan bahwa Nabi SAW bersabda, “Di antara dua tiupan itu ada jarak selama 40.” Para sahabat bertanya, “Apakah 40 hari?” beliau menjawab, “Saya tidak mau menjawab.” Para sahabat bertanya lagi, “Apakah 40 bulan?” Beliau menjawab, “Saya tidak mau menjawab.” Para sahabat bertanya lagi, “Apakah 40 tahun?” Beliau menjawab, “Saya tidak mau menjawab.” (HR. Al-Bukhari)
Hasbunallah wa Ni’mal Wakil
Demikian dahsyatnya huru-hara yang terjadi tatkala ditiupnya sangkakala, hingga tak memberikan kesempatan seorang pun untuk sempat bersenang-senang. Sebagaimana  yang diisyaratkan oleh Rasulullah SAW.
“Bagaimana saya bersenang-senang, sedangkan pemilik terompet (Israfil) telah melekatkan terompet pada mulutnya. Memasang telinganya dan mendekatkan dahinya; demi menunggu kapan dia diperintahkan untuk meniup sangkakala.”  Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, kalau begitu apa yang harus kami ucapkan?” Beliau menjawab, “Katakanlah: Hasbunullah wa ni’mal wakil (cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung).” (Hadits Shahih Riwayat At-Tirmidzi, Ahmad, Al-Hakim, dan Ibnu Hibban). Allahu A’lam (Abilfarisi)

MENJEMPUT SI ‘BAIK’ DENGAN MEMPERBAIKI DIRI

addakwah.com.  Setiap orang pasti ingin jadi baik. Namun, tak setiap kita mau bertekad menjadi baik, karena tekad membutuhkan kesungguhan. Seorang pencuri sekalipun, pasti mau masuk surga, namun adakah tekad dalam jiwanya untuk menjadi penghuni surga?
Pada dasarnya yang menjadi tolak ukur seseorang menjadi baik atau tidak adalah sikap hatinya. Kondisi lahiriah hanya bisa menggambarkan sebagian dari kondisi hati. Bila berkebalikan dengan kondisi hatinya, maka keadaan yang diperankan lahirian tidak akan lama. Maka, perbaikilah kondisi hati, niscaya si 'baik' akan lahir dalam diri kita.
Tapi sah-sah saja siapapun ingin menjadi baik. Sama halnya, setiap orang juga sah-sah saja mendambakan pendamping yang terbaik buat dirinya. Seorang laki-laki yang mendambakan istri dengan segala atribut kesempurnaan pada wanita : shalihah, cantik, kaya, berpendidikan, berpenampilan sangat Islami, hafal sekian juz dalam Al-Qur'an dan lain sebagainya. Begitu juga pada seorang wanita, dia juga layak saja memiliki impian seorang suami idaman : ganteng, shalih, penyabar, pengertian, kaya, memiliki banyak ilmu, pandai memimpin dan membimbing istri, dan seterusnya.
Salahkan obsesi seperti itu? Tidak, sama sekali tidak. Yang keliru adalah bila seseorang mendambakan segala kesempurnaan itu, memimpikan calon pendamping dengan segala kesempurnaan itu, tapi ia sendiri tak pernah mau berproses untuk menjadi baik dari waktu ke waktu. Karena yang dikhawatirkan justru, apakah ia akan mampu berdampingan dengan laki-laki atau wanita sesempurna itu, sementara ia sendiri tak mendambakan kesempurnaan itu untuk dirinya sendiri?
Pendamping shalih atau shalihah adalah asset akhirat. Bekal yang harus dimiliki seseorang untuk berdampingan dengannya adalah bekal-bekal yang bernuansa akhirat. Sikap ceroboh, justru akan menggulingkan dirinya kelembah kenistaan.
Ketika Pasangan Tak Seimbang
Ada seorang laki-laki mendambakan wanita shalihah. Ia membayangkan, bahwa dengan istri yang shalihah, yang selalu mematuhinya, yang tidak banyak permintaan, ia akan hidup tenang. Allah berkenan mengabulkan keinginannya. Menikahlah ia dengan wanita tersebut. Lalu apa yang terjadi? Tak lebih dua bulan, mereka resmi bercerai.
Pasalnya, sang istri memang tak banyak menuntut. Ia juga selalu mematuhi sang suami. Ia juga selalu tampil sebagai wanita shalihah. Namun di sisi ini saja, sang suami hanya merasa senang sebelum mencoba. Hari-hari berikutnya, diwarnai dengan perdebatan, saat suaminya ingin sang istri tampil sedikit modis, namun sang istri menolak. Saat sang suami mengajaknya ke tempat-tempat maksiat sang istri menolak. Disisi lain, saat sang istri meminta suaminya rajin melaksanakan sholat berjama'ah, sang suami tidak mau. Saat sang istri meminta suaminya banyak mengaji dan mempelajari agama, sang suami merasa tak mampu dan tidak punya waktu luang.
Bahkan, saat membicarakan mengenai prinsip-prinsip hidup, mereka seringkali berseberangan. Dan, hari-hari mereka pun dipenuhi dengan berbagai hal yang di luar bayangan suami selama ini. Ternyata, ia bukan orang yang mampu menjaga istrinya yang shalihah, sebagai asset akhiratnya. Ia hanya senang membayangkan, dan tak pernah mampu memiliki sang istri seutuhnya. Ia menginginkan istri yang shalihah, tapi tak sanggup menahan konsekuensinya. Padahal, suami dan istri seharusnya ibarat belahan jiwa.
Bijak Tentukan Pilihan
Seseorang hendaklah memiliki idealisme yang tinggi, untuk urusan mencari pendamping hidup. Tapi jangan biarkan hal itu menggurui kita, sehingga kita menunda-nunda menikah hanya karena ingin mencari yang sempurna. Jika kebanyakkan laki-laki memiliki idealisme yang menggebu-gebu soal calon istri, padahal belum tentu mereka memiliki kesetaraan dengan wanita dambaannya itu dalam soal keshalihan diri, maka seorang wanita juga berhak memiliki obsesi yang serupa. Asalkan dengan niat tulus untuk mencari pendamping yang bisa membimbing ke arah kebenaran.
Sebagai perenungan dalam hal mencari pasangan hidup dapat disimpulkan sebagai berikut :
Pertama, soal jodoh, kita tahu, bukanlah merupakan hak kita menetapkannya. Kita hanya mampu berusaha dan memohon kepada-Nya agar diberi yang terbaik. Bila sudah jodoh tak akan lari kemana.
Kedua, soal keshalihan sangatlah relatif. Ada wanita yang berada di barisan terdepan dalam berpakaian muslimah secara sempurna, namun tidak dalam soal menuntut ilmu. Menggebu dalam menuntut ilmu, mungkin bukan termasuk yang sukses dalam menata hati. Ada yang gigih belajar dan mengamalkan sunnah, tapi nol besar dalam berdakwah. Ada yang sukses mendakwahi orang lain, tapi gagal mendakwahi keluarga sendiri. Jadi setiap kita penuh dengan kekurangan.
 Ketiga, suatu hal yang wajar jika seorang wanita yang shalihah mencari suami yang lebih shalih dari dirinya dengan niat agar tertular keshalihannya. Demikian juga sebaliknya, seorang laki-laki  yang shalih, ingin lebih shalih dengan menikahi wanita yang melebihi keshalihannya.
Namun, satu hal yang perlu dicatat, bahwa dalam diri kita harus ditanamkan tekad untuk berusaha terus memperbaiki diri. Bila tidak, maka keshalihan pasangan hidup kita justru akan menjadi 'Neraka Dunia' bagi kita. Karena keshalihan selalu menyemburatkan implementasi yang luas diberbagai sisi kehidupan. Bila sisi-sisi kehidupan kita masih terlalu banyak diisi dengan keburukan-keburukan, sementara pasangan kita sebaliknya, maka yang akan terjadi adalah tabrakan demi tabrakan yang akan menciptakan ketidakharmonisan, ketidakserasian dan ketidakpantasan untuk membina hidup bersama. Wallahu a'lam. [rasyid]
 

Media Dakwah Copyright © 2010 LKart Theme is Designed by Lasantha