Senin, 31 Mei 2010

Lasiman: Misionaris Kondang Menjadi Dai

(addakwah.com). Islam, Lasiman, mantan misionaris yang juga tetangga dari Mbah Marijan, yang tinggal di dekat Gunung Merapi, Yogyakarta itu alkhirnya mengucapkan syahadat. Ia pun berusaha untuk mengembalikan mereka yang pernah dimurtadkannya.
Berikut kisahnya :
Aku dulu seorang penganut Katolik . Nama kecilku Lasiman. Aku lahir dari orang tua kejawen. Namun sejak kecil dididik secara formal di sekolah Katolik di samping Gereja di Sleman Yogyakarta. Aku pun mendapat pendidikan agama Katolik. Alhasil aku menjadi penganut Katolik. Aku diberi nama baptis Willibrordus. Kemudian diberi nama baptis kader penguatan Romanus. Selanjutnya aku belajar di sekolah guru milik yayasan Katolik yang didirikan tahun 1822.
Aku dididik menjadi guru misi, sehingga aktivitas yang ada selalu terkait dengan kegiatan misi Katolik seperti melatih teater untuk tampil di Natalan, Paskah, dan lainnya. Aku pun aktif di tim koor lagu-lagu Katolik, acara-acara Natal, Paskah, dalam rangka dakwah misi Katolik lainnya.
Guru-guru sekolah Katolik saat itu dapat pembinaan khusus sebagai guru misionaris. Kami dilatih dari Keuskupan Agung Semarang dan dari Gereja Pintaran di Yogya. Kami mendapat pelatihan terkait kurikulum pendidikan, dan bagaimana mengajar di sekolah-sekolah untuk mengaburkan keislaman para siswa melalui pendidikan sejarah. Kami diajarkan bahwa yang menyebarkan agama Islam di Indonesia itu bukan hanya 9 wali tapi 10 wali yang salah satunya itu Syekh Siti Jenar. Syeikh Siti Jenar itu mengenalkan istilah manunggaling kaulo gusti, menyatunya tuhan dan manusia. Diajarkan di dunia ini, bahwa yang menyatunya tuhan dan manusia yang paling hebat dan melebihi Syekh Siti Jenar adalah menyatunya Tuhan Allah dengan Yesus. Jadi diajarkan bahwaYesus itu wujudnya manusia tapi rohnya Allah.
Tugas seorang misionaris yang paling prinsip adalah mengubah orang Indonesia yang mayoritas Muslim ini menjadi orang-orang Nasrani. Salah satunya itu melalui lembaga pendidikan. Makanya wajar meski UU Sisdiknas ini sudah diundangkan tapi nyatanya belum dipraktekkan di Yayasan Katolik dan Kristen. Hal itu bisa dibaca di buku saya berjudul Kristenisasi Berkedok Islam.
Pada 1977 setelah dilatih di Keuskupan Semarang untuk menyebarkan Katolik di Jawa Barat, aku kemudian ditempatkan di Garut. Ketika di Garut lah aku bertemu dengan Profesor Dr Anwar Musyaddad, di Pondok Pesantren Musyaddadiyah. Beliau saat itu adalah Rektor IAIN Bandung. Kami berdialog tentang kebenaran yang ada. Kebetulan beliau juga paham tentang Kristologi dan perbandingan agama.
Kebiasaan dialog tentang kebenaran sebenarnya aku lakukan juga ketika aku sekolah di Kemaritiman dan Sospol UGM waktu itu. Dialog merupakan salah satu cara bagaimana untuk mengkristenkan mahasiswa.
Masuk Islam
Dialog juga aku lakukan dengan para pimpinan Katolik. Karena banyak hal yang ingin aku pertanyakan dan butuh jawaban yang memuaskan seperti perbedaan Katolik dan Protestan, dosa warisan dan lainnya. Ketika aku belajar Tafsir di Katolik kemudian belajar tafsir Al Kitab Kristen, banyak perbedaan di antara keduanya. Tafsir Al kitab di Katolik lebih rendah dibandingkan Protestan. Perbedaan antara Katolik dan Kristen itulah yang aku diskusikan dengan pimpinan-pimpinanku saat itu, namun itu tidak bisa terjawab.
Setelah berdialog lama dengan Profesor Anwar Musyaddah akhirnya aku pun masuk Islam. Aku secara resmi mengikrarkan syahadat di Kantor Depag Yogyakarta, 15 April 1980. Aku mememukan kebenaran di Islam. Dari hasil dialog dan penelitian itu aku memperoleh kesimpulan bahwa orang yang hidup itu pasti mati, mati itu harus membawa kebenaran, kebenaran itu ada di kitab suci dan kitab yang benar itu Alquran.
Setelah masuk Islam aku kemudian belajar di sebuah pesantren di Cirebon. Aku ingin mendalami Islam lebih dalam. Aku melihat begitu banyak orang yang mengaku Islam tapi mereka tidak mendalami Islam. Itu tantangan ketika aku hidup di lingkungan Islam. Aku ingin berislam secara ilmiah Karena memang aku sudah biasa dilatih seperti itu di sekolah misi Katolik. Aku pikir kalau berislam dengan tidak ilmiah itu omong kosong. Tapi setelah aku belajar di pesantren, aku rasa itu tidak cukup. Hingga akhirnya aku kuliah mengambil sarjana muda di IAIN Cirebon. Tapi di IAIN juga tidak cukup. Akhirnya aku pikir aku harus selalu mempelajari Islam.
Aku kemudian pulang ke Yogja dan melanjutkan kuliah di S1. Selanjutnya melanjutkan belajar di psikologi Islam di UMJ dengan tesis konversi agama yang diuji beberapa professor. Dalam tesis itu dibahas bagaimana orang Islam yang haji bisa masuk Kristen dan aktivis Kristen bisa tobat. Setelah aku paham Islam, dan tahu kewajiban dalam Islam itu berdakwah maka aku pun mendakwahkan kebenaran itu ke orang-orang.
Tantangan
Banyak tantangan kuhadapi setelah masuk Islam. Banyak teman-temanku yang tidak menyukai ketika tahu aku masuk Islam.. Ketidaksukaan mereka itu disampaikan baik secara lisan, fisik, sampaikan dengan hukuman. Termasuk itu datang dari keluarga.
Menurutku itu sudah biasa, sebab Rasulullah juga mengalaminya. Kalau Rasulullah dulu dikatakan orang kafir Quraisy sebagai majnun (gila), maka itu juga yang aku alami. Aku juga dikatakan majnun.
Aku pikir itu wajar. Itu sudah menjadi sunnatullah. Lihat saja dalam QS Al Baqarah ayat 155-156 dan 214. Jadi kalau berislam apalagi baru masuk Islam itu tidak ada tantangan, atau ketika menegakkan agama Rasulullah itu tidak ada tatangan itu justru tidak benar.
Aku tetap memegang teguh kebenaran Islam. Aku yakin akan firman Allah SWT: innamal yusri yusro. Untuk mencapai kesuksesan itu harus berani menerima tantangan dan penderitaan. Jika tak ada tantangan dan penderitaan itu maka tak akan ditemukan kebahagiaan.
Setelah masuk Islam, hatiku mantap dan merasakan ketenangan. Itu karena kebenaran yang kutemukan ini adalah kebenaran ilmiah yang bisa diterima dengan hati, akal dan pikiran. Tapi sayang, meski ajaran Islam ini benar tapi orang-orangnya banyak yang belum benar.
Ketika menjadi misionaris, banyak orang-orang Muslim yang berhasil kumurtadkan. Jumlahnya ribuan orang. Saat itu kami lakukan diantaranya dengan membagi-bagikan susu, pakaian dan lainnya. Semuanya itu dilakukan tidak sendirian, tapi secara terpadu.
Karena itu, setelah masuk Islam, aku ingin mengem-balikan yang murtad itu kepada Islam. Kami kemudian mendirikan lembagai Al Mantik 1991 di Jakarta bersama M Natsir. Kami pun mendekla-rasikan orang-orang masuk Islam se-ASEAN. (Olahan Wawancara, pendi/mediaumat)

Minggu, 30 Mei 2010

Senyum Dua Jenazah Tak Teridentifikasi

Jakarta (addakwah.com). Rabu, 26 Mei 2010, Mabes Polri merilis dua foto wajah 'tersenyum' yang diduga teroris. Keduanya ditembak Densus 88 saat penggrebekan di Cawang dan Cikampek, Rabu (12/5) lalu. Hingga saat ini Polri masih kesulitan mengidentifikasi kedua jenazah karena tidak ada data awal terhadap dua orang tersebut. Pertanyaannya, kalau memang belum dikenal, mengapa mereka dianggap teroris berbahaya dan langsung ditembak mati ?

Mengapa Mereka Langsung Ditembak Mati ?    
Kontroversi tindakan Densus 88 yang main tembak terduga teroris semakin merebak. Semakin banyak kalangan mempertanyakan standar atau prosedur tembak di tempat yang diberlakukan Densus 88. Ironisnya, dua jenazah korban penembakan Densus 88 belum lama ini di Cawang dan Cikampek malah belum dikenali identitasnya.
Wakadivhumas Mabes Polri Brigjen Pol Zainuri Lubis mengatakan, kedua jenazah terduga teroris itu saat ini masih berada di RS Polri Kramat Jati. "Mereka melawan makanya ditembak," kata Zainuri di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jaksel, Rabu (26/5/2010). Apakah benar mereka terduga teroris itu melawan Densus 88 ketika digrebek?
Salah seorang saksi mata, pemilik agen bus di Cawang, memaparkan kejadian penembakan ketika itu, sebagaimana diceritakan Lia, adiknya. Semua berawal dari tiga orang yang baru keluar dari taksi dan berhenti di depan tempat usaha kakaknya. Kakaknya yang berada di depan meja penjualan tiket bus malam melihat ketiganya berpencar setelah turun dari taksi.
 "Yang satu langsung naik motor, yang dua orang jalan ke PGC (Pusat Grosir Cililitan),"
Namun setelah terjadi kejadian penyergapan yang berlangsung dengan cepat. Di depan mata kakaknya, tiba-tiba datang seorang laki-laki berbadan besar dari arah belakang laki-laki yang sedang menyalakan motor.

"Tahu-tahu ada orang yang mencekik dia dari belakang terus ditembak perut kirinya," kata Lia.

Tidak ada perlawanan dari laki-laki yang dicekik itu. Tak lama kemudian datang belasan orang berbadan besar dan berjaket hitam mengamankan area penyergapan.

"Rambutnya ada yang cepak dan gondrong. Pokoknya seram-seram," ujar Lia menirukan perkataan kakaknya.
Itu penuturan saksi mata atas penembakan terduga teroris oleh Densus 88 di Cawang. Di Cikampek, ada juga warga yang sempat menyaksikan dan mengabadikan kejadian tersebut. Sayangnya, menurut penuturan warga, Densus 88 menghapus rekaman tersebut.
Herman, warga Dusun Mekar Jati, Cikampek, menuturkan bahwa saat itu banyak yang merekam kejadian tersebut dengan menggunakan ponsel. Namun setelah penggerebekan anggota tim Densus 88 sempat mengambil ponsel warga dan menghapusnya.
Dalam penyergapan di Cikampek, lima anggota tim Densus 88 masuk ke bagian belakang sedangkan sisanya berjaga-jaga di sekitar kontrakan. Saat dilakukan penggerebekan tersangka atau terduga teroris berusaha melarikan diri. Namun lokasi kontrakan yang ditempati mereka berada di belakang dan dikelilingi tembok setinggi 3,5 meter dan langsung ditembak. Ironis!
Teroris Agar Pakai Tag Nama  
Kejanggalan tindakan Densus 88 ini mendapat sorotan coordinator TPM, Mahendradatta. Beliau menyindir polisi yang dinilai semakin gampang melumpuhkan terduga teroris dengan cara menembak mati di tempat. Sebagai bentuk sindiran, TPM menghimbau para teroris yang akan beraksi agar menggunakan tag nama di dadanya agar tak salah tembak.

Mahendra memaparkan, dalam operasi di Cikampek dan Cawang beberapa waktu lalu polisi mengatakan menembak mati para teroris membahayakan. Tapi sudah berhari-hari ditembak, hingga kini jenazah orang yang ditembaki hingga mati itu berada di ruang mayat karena tidak diketahui identitasnya.

"Peristiwa ini tidak ketemu nalarnya. Orang yang sama sekali tidak dikenal, tidak jelas identitas, tidak jelas peran maupun sosoknya tapi ditembak mati. Ketika ditanya siapa dia dan apa perannya, yang menembak itu juga masih kebingungan. Ini sangat aneh," ujar Mahendra.

Mahendra melanjutkan, jika cara-cara seperti itu diteruskan maka akan semakin banyak orang tak bersalah yang menjadi korban. Bisa saja seorang tukang ojek tiba-tiba langsung ditembak mati saat memboncengkan terduga teroris. Padahal si tukang ojek itu tidak tahu siapa yang dibencengkan.

"Karena itu kami menghimbau agar para teroris yang hendak beraksi sebaiknya menggunakan tag nama di dadanya. Tulis besar-besar 'Aku Teroris'. Dengan demikian orang yang tidak tahu urusan biar tidak dekat-dekat dengannya agar tidak ikut jadi sasaran penembakan polisi," pungkasnya.
Sementara itu, Din Syamsuddin, Ketua PP Muhammadiyah menilai tindakan Densus 88 menembak mati sejumlah orang yang diduga teroris bisa menimbulkan luka dan bisa menimbulkan keinginan balas dendam.
"Kalau semena-mena seperti itu, tidak akan mematikan (terorisme). Malah menimbulkan luka dan itu akan berakibat balas dendam,"
Din Syamsuddin juga mengatakan, pemberantasan terorisme tidak dapat dilakukan dengan cara-cara represif. Densus 88 juga diminta tidak berbangga hati karena telah membunuh orang yang diduga teroris itu.

"Walaupun ada bukti, jangan ditembak mati. Kan bisa ditangkap hidup-hidup," ujarnya.

Senyum Bisa Identifikasi Jenazah Korban Densus 88?
Uniknya, ada cara baru untuk mengidentifikasi jenazah korban Densus 88, yakni lewat senyum. Hal ini sebagaimana pengamatan dan yang dituturkan oleh muslimdaily.net. Sebenarnya tidak terlalu sulit untuk mengidentifkasi apakah jenazah yang dibunuh itu terlibat terorisme atau tidak.
Berdasarkan pengalaman yang sudah  berulang kali terjadi, wajah "teroris" yang telah terbunuh hampir semuanya ceria dan tersenyum. Sebagian aktivis Islam menilai itu adalah karamah yang Allah tunjukkan sebagai pemuliaan terhadap apa yang dilakukan oleh para "teroris" tersebut-terlepas bahwa di mata sebagian manusia teroris adalah musuh yang harus dibasmi.
Memang, jika kita perhatikan secara seksama, maka wajah jenazah korban-korban penembakan Densus 88 selalu tersenyum, meski tidak semua orang setuju dengan pendapat tersebut. Sebagian aktivis Islam akan mengatakan bahwa hanya orang yang berjihad di jalanNya sajalah yang mampu melihat senyum para syuhada.
Wallahu'alam bis Showab!
(M Fachry/arrahmah.com/dari berbagai sumber) 

Ribuan Pemudi Masuk Islam di Tengah Gencarnya Isu Larangan Cadar

LONDON (addakwah.com): Menurut sebuah laporan pers Inggris bahwa ribuan pemudi Inggris yang tinggal di UK telah memutuskan untuk masuk Islam, di tengah-tengah perdebatan tentang larangan mengenakan cadar yang terjadi saat ini di Eropa.

Surat kabar "The Times" mengatakan bahwa jumlah wanita yang mendapat hidayah Islam meningkat, pada saat jumlah penduduk yang melakukan sembahyang setiap minggu di Gereja Inggris menurun 2% dari jumlah populasi.

Para wanita yang menunaikan sholat di masjid central London di daerah Regent's Park sekitar dua-pertiga dari jumlah muallaf Muslimin yang baru mengucapkan dua kalimat syahadat, sebagian besar dari mereka berumur kurang dari tiga puluh tahun.

Statistik berkaitan dengan jumlah orang yang merubah agama mereka, sebagaimana dinyatakan dalam sensus penduduk tahun 2001 di Inggris Raya, menunjukkan bahwa setidaknya ada tiga puluh ribu warga Inggris yang masuk Islam.

Menurut Kevin Brice, dari Pusat Studi Kebijakan Migrasi di Universitas Swansea, bahwa jumlah ini sekarang mungkin meningkat sekitar lima puluh ribu orang, sebagian besar wanita.

Dan analisa dasar menunjukkan bahwa jumlah kaum wanita berpendidikan tinggi dan yang berusia antara dua puluhan dan tiga puluhan, paling banyak yang memeluk Islam.

Seorang wanita Inggris menceritakan kisah keislamannya:
Salah satu wanita yang mendapat hidayah Islam, bernama Joanne Bailey, seorang pengacara dari Bradford berusia tiga puluh tahun, menceritakan kisahnya memeluk Islam, mengatakan kepada surat kabar, bahwa sebelumnya tidak seorangpun menyangka dirinya akan masuk Islam, karena dia telah tumbuh dan dibesarkan dalam keluarga kelas pekerja yang kaya di Yorkshire Selatan, di mana dia hampir tidak pernah melihat seorang muslim sebelum masuk universitas.

Pekerjaan pertama yang diperolehnya adalah di sebuah firma hukum kota Barnsley, South Yorkshire, dan pada siang satu hari di tahun 2004 segala sesuatu berubah dalam kehidupan Joanne. Pada hari itu, saat menghirup secangkir kopi dengan seorang teman muslim sambil mengobrol dengannya,tiba-tiba dia memperhatikan salib emas kecil yang melingkar dilehernya lalu bertanya padanya "Apakah Anda percaya bahwa Kristus Tuhan?".

Saat itu dia mengenakan salib - menurut pengakuannya - hanya masalah fashion bukan karena alasan agama, maka dia telah menjawab pertanyaan tersebut  bahwa dia tidak mengimaninya, kemudian temannya mulai menceritakan tentang agamanya.

Dia menambahkan bahwa pada awalnya dia meremehkan kata-kata temannya, tapi kata-katanya "menetap dalam pikiran saya, dan setelah beberapa hari, saya mendapati diriku memesan salinan Alquran di internet."

Dan Joanne melanjutkan: "Saya membutuhkan beberapa saat untuk mengumpulkan keberanian, lalu saya pergi ke salah satu kegiatan sosial wanita yang diselenggarakan oleh Asosiasi muslim muallaf Kota Leeds, dan saya ingat pernah mondar-mandir di depan pintu Asosiasi tersebut dan berpikir: Ada apa gerangan yang kaulakukan di sini?".

Dia menambahkan, "Saya membayangkan para wanita di tempat ini mengenakan pakaian yang menutupi seluruh tubuh mereka dari kepala sampai kaki, dan saya bertanya-tanya: Apa hal umum yang menyatukan seorang pemudi pirang Inggris di usia dua puluh lima ini dengan mereka?".

Dia melanjutkan: "Tapi ketika saya masuk tidak satupun dari para wanita tersebut yang cocok dengan type ibu rumah tangga muslim yang terkekang, bahkan mereka adalah dokter, guru, spesialis kepribadian, dan saya terheran-heran melihat ketenangan dan ketenteraman pikiran mereka."

Akhirnya Joanne tertarik masuk islam setelah melafazkan dua kalimat syahadat di rumah temannya pada bulan Maret 2008.
(ar/islammemo+ thetimes)

37 Warga Saptosari Gunung Kidul Masuk Islam

Gununng Kidul (addakwah.com). Hari Ahad, 18 April 2010 atau 5 Jumadil Awal 1431 adalah hari yang bersejarah bagi 37 orang warga Pedukuhan Pucung, Desa Planjan Kecamatan Saptosari Kabupaten Gunungkidul. Betapa tidak, hari ini secara resmi mereka mengikrarkan diri mereka sebagai muslim/muslimah di hadapan ratusan jamaah pengajian di Balai Desa Pampang Kecamatan Paliyan Gunungkidul.
Dari 37 orang tersebut, 33 orang diantaranya sebelumnya menganut agama Hindu dan sisanya adalah penganut Nasrani. Usia mereka cukup bervariasi, paling muda umur 11 tahun dan tertua umur 60 tahun. Datang dengan menumpang mobil bak terbuka setelah menempuh jarak 17 km dari Saptosari ke Paliyan, nampak keceriaan di wajah-wajah mereka seakan siap menyongsong hidup baru dalam naungan hidayah Sang Pencipta Alam Semesta, Allah SWT.

Berbondong-bondong masuk Islamnya para mualaf ini tak lepas dari peran Yayasan Ukhuwah Muallaf (YAUMU) Gunungkidul pimpinan Bapak Supoyo dan Yayasan Bina Ummat Muallaf Indonesia (YABUMI) Yogyakarta pimpinan Ust Willibrordus Romanus Lasiman yang juga memimpin Pondok Pesantren Diklat Al-Hawariyyun Yogyakarta.
Sosok WR Lasiman ini cukup menarik karena beliau adalah da’i tangguh yang mengembalikan keimanan ummat di berbagai daerah di Yogyakarta dan Jawa Tengah bagian selatan, khususnya di lereng Merapi. Sebagaimana namanya, ia dulu beragama Katolik dengan nama baptis Willibrordus, ditambah nama baptis penguatan (kader) Romanus dan biasa dipanggil Pak Willi. Sebagai seorang pemuka Katolik, ia banyak mempertanyakan kejanggalan demi kejanggalan yang dia temukan dan mendiskusikannya dengan pendeta pengasuhnya. Kegelisahan yang semakin menggoyahkan keyakinannya itu memberinya keputusan untuk berkelana dari Katolik ke Kristen Baptis, lalu pindah ke Kebatinan Pangestu (Ngestu Tunggil), mendalami kitab Sasongko Jati, Sabdo Kudus, dan lainnya.
Ia juga terjun ke perdukunan dan menguasai berbagai kitab primbon dan ajian. Tujuannya satu, mencari dan menemukan kebenaran hakiki.Tentang WR Lasiman silakan klik: http://swaramuslim.net/islam/more.php?id=A5635_0_4_0_M

Mari kita kembali lagi ke prosesi peng-Islaman di Paliyan. Dalam sambutannya, Bapak Supoyo mewakili YAUMU memaparkan bahwa dalam setahun ini YAUMU telah meng-Islamkan 517 orang dan melakukan pembinaan ke-Islaman kepada mereka, bekerjasama dengan Pengurus Cabang Muhammadiyah Gunungkidul dan beberapa organisasi dakwah lainnya.
Biasanya, setelah prosesi ikrar maka para muallaf akan dibina secara intensif selama tiga hari di kota Yogyakarta, dengan fasilitas antar-jemput. “Kalau muallaf yang sudah lama, untuk datang ke pengajian tentu tidak perlu dijemput lagi”, kata Pak Supoyo. Di bidang ekonomi, YAUMU juga berusaha memberdayakan para muallaf misalnya dengan memberikan santunan berupa bahan makanan pokok, serta kambing gaduhan.
Di bidang pendidikan, YAUMU berusaha memindahkan para siswa muallaf dari sekolah non-muslim ke sekolah bernafaskan Islam.
Nah, kami yang berangkat dari Yogya sejak pukul 06.00 setelah saling menunggu sejak habis subuh sudah tak sabar untuk mengikuti prosesi sakral ini. Kebetulan hadirin semakin banyak berdatangan; dari berbagai jamaah pengajian di Gunungkidul, Yogya, bahkan ada rombongan Ust Wahfiudin dari Jakarta. Prosesi pun diawali dengan pensucian, yakni melakukan wudlu dan berganti pakaian.
Sewaktu datang, hanya seorang anak perempuan yang memakai kerudung. Pensucian dilakukan di kamar mandi SDN 1 Pampang yang terletak di sebelah timur balai desa dengan dibatasi lapangan sepak bola.
Prosesi ikrar Syahadatain (dua kalimat Syahadat) yang dipimpin Ust Wahfiudin tersebut berlangsung dengan sangat khusyuk dan mengharukan. Dilanjutkan dengan doa berbahasa Indonesia, para muallaf tak kuasa lagi menahan air mata mereka. Tangis pun pecah, begitu juga yang terjadi pada para hadirin. Betapa tidak, hari ini adalah hari bersejarah dalam kehidupan mereka; hari dimana mereka kembali kepada naungan Allah SWT yang telah menciptakan mereka, menghidupkan mereka, dan suatu saat pasti akan mengambil nyawa mereka.
Ya, sebagaimana raga mereka yang tak mungkin menghindar dari takdir-Nya, hari ini mereka menyerahkan kembali jiwa mereka pada fitrah yang telah ditetapkan Sang Khalik; menjadi seorang muslim atau muslimah yang berarti berserah diri pada Allah SWT.
Ya Allah, teguhkanlah iman mereka, mudahkanlah dalam menjalankan agama-Mu, bahagiakan mereka di dunia dan akhirat dan kumpulkan kami bersama mereka di surga-Mu. Amien. (Muhammad Abu Ibrahim Azzam, Ketua Dept Data dan Informasi Majelis Mujahidin)

Dzikir Bersama antara Pro dan Kontra

A. IFTITAH
Dzikir berjamaah seakan telah mendarah daging di masyarakat luas, terutama di tanah air kita Indonesia. Secara umum dapat dipahami, bahwa dzikir berjamaah biasanya dikaitkan dengan peristiwa kematian, sebagai bentuk acara peringatan terhadap kematian seseorang. Tetapi juga dalam acara hajatan sebagai wasilah untuk memohon keselamatan dan ampunan dari Alloh. Dzikir ini dipimpin oleh satu orang, kemudian dibaca bersama-sama (koor) oleh semua hadirin, dan bahkan kadang memunculkan dampak yang sama (menangis bersama).
Apalagi acara-acara serupa juga diblow-up oleh media massa dengan menampilkan sosok muballigh kharismatik, sehingga menjadi acuan bagi masyarakat luas.
Bagaimana islam memandang hal tersebut? Sudah saatnya kita mengkaji lebih dalam tentang dzikir dan tata caranya, sehingga amal tersebut memenuhi syarat, yaitu Ikhlas dan Ittiba’. Alhamdulillah, dewasa ini animo masyarakat semakin tinggi untuk mempelajari islam secara benar.
B. PENGERTIAN DAN DALIL TENTANG DZIKIR
Dzikir secara bahasa adalah mengingat. Dzikir menurut syariat adalah mengucapkan lafadz-lafadz yang dianjurkan untuk banyak memuji Alloh, seperti: subhaanalloh, wal hamdulillaah (Fathul Baari). Sedangkan menurut Fiqh Sunnah (Sayyid Sabiq, Jilid 3-4), dzikir adalah apa-apa yang dilaksanakan oleh hati dan lisan berupa tasbih (penyucian), tahmid (puji-pujian), dan takbir (pengagungan) bagi Alloh Ta’ala.
Dzikrulloh berarti mengingat dan memuji Alloh. Dzikrulloh juga berarti menjalankan apa yang diperintahkan Alloh Ta’ala atau dituntunkan Rasulullah SAW, seperti: qiroatil quran, mendalami hadits, menjalankan sholat sunnat, serta menyebut nama Alloh dengan hati dan lisan (Fathul Baari). Dikuatkan dengan pendapat Said bin Zubair r.a., bahwa setiap orang yang beramal karena Alloh demi mentaati perintah-Nya, maka ia sedang melakukan dzikrulloh.
Majelis Dzikir adalah berkumpulnya kaum muslimin untuk mendalami ilmu tentang Firman Alloh, Sunnah Rasululloh, dan Keteladanan orang-orang sholih, serta bebas dari bid’ah dan bersih dari kemaksiatan (Imam Qurtubi). Adapun menurut Sahabat Atho’ r.a, Majelis Dzikir adalah berkumpulnya kaum muslimin untuk membahas halal-haram, hukum jual-beli, nikah-talaq, sholat, shoum, hajji, dan urusan dien lainnya.
Dalil-dalil yang tentang perintah berdzikir sangat banyak, antara lain:
1. Q.S. Al-Ahzab : 41
“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Alloh, dzikir yang sebanyak-banyaknya”
Menurut Tafsir Al-Maraghi, dzikir sebanyak-banyaknya dalam ayat di atas adalah mengingat Alloh dengan hati, lisan, dan anggota badan dalam segala keadaan sekuat tenaga, karena Dialah yang telah memberi bermacam-macam nikmat. Sedangkan Tafsir UII menjelaskan: Dzikir sebanyak-banyaknya dilakukan pada waktu pagi hari sebagai rasa syukur kepada Alloh yang telah menghidupkan kita setelah mati (tidur), sehingga masih menjumpai lembaran hidup yang baru. Adapun pada sore hari sebagai rasa syukur kepada Alloh atas Taufiq dan Hidayah-Nya sehingga kita dapat mencari rizki dan memenuhi hajat. Sahabat Mujahid r.a. menjelaskan, “Tidak dikatakan banyak berdzikir kepada Alloh kecuali seseorang yang berdzikir kepada Alloh di waktu duduk, berdiri, dan berbaring”.
2. QS. Al-Baqoroh :152: Perintah berdzikir dan bersyukur kepada Alloh
3. QS. Al-A’raaf : 205 : Perintah berdzikir dengan rasa takut, merendahkan suara (sirr)
4. QS. Al-Hijr : 9 : Adz-Dzikr, nama lain Al Quran sebagai jalan mengingat Alloh
5. QS. Ali Imro :191 : Orang-orang yang mengingat Alloh sambil berdiri, duduk, berbaring
C. KOREKSI TENTANG DZIKIR BERJAMAAH
    1. Dalil-dalil yang digunakan untuk membenarkan dzikir berjamaah adalah dalil umum, sementara ditekankan untuk amalan khusus
Contoh:
QS. Al-Ahzab : 41
“Hai orang-orang yang beriman, dzikirlah (dengan menyebut nama) Alloh, dzikir yang sebanyak-banyaknya”
Dalam ayat tersebut, tidak ada ahli tafsir yang menjelaskan bentuk dan cara berdzikir dengan berjamaah. Juga tidak ada ketentuan tentang jumlah bilangan, tempat, dan peristiwa sebagaimana yang dilakukan sebagian besar kaum muslimin saat ini.
    2. Dzikir adalah ibadah, sehingga dalilnya pun harus jelas. Hal ini sesuai kaidah fiqh : “Segala bentuk ibadah itu tertolak sebelum ada dalil yang memerintahkannya”. Sebenarnya banyak dzikir dan doa yang shohih, tetapi jarang diamalkan oleh seorang muslim. Misalnya dalam Kitab : Kalimah Thoyyibah (Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah)
    3. Dzikir adalah amalan harian, bahkan rutinitas yang pengamalannya pasti dilihat oleh para sahabat dari praktik Rosulullah SAW dan mereka mengikutinya. Tetapi para sahabat tidak menjumpai amalan dzikir berjamaah ini baik ucapan, praktik, maupun persetujuan beliau SAW, sehingga dzikir berjamaah ini mustahil sebagai amalan yang shohih. Berbeda dengan dalil-dalil tentang thoharoh, sholat, perawatan jenazah, shoum, qurban, haji yang dapat dilihat jelas lalu dicontoh oleh para sahabat.
    4. Dzikir berjamaah ternyata disukai oleh orang-orang yang cenderung dan suka bid’ah dari kalangan sufi mubtadi’ah. Maka kenyataan ini melengkapi posisi dzikir berjamaah yang tidak disyariatkan.
    5. Beberapa sahabat seperti Ibnu Mas’ud r.a. dan Khabbab bin Irts r.a. justru telah menegur orang-orang yang melakukan dzikir berjamaah. Pada waktu itu ada sekumpulan orang berdzikir menggunakan hitungan kerikil, dipimpin oleh satu orang, lalu Ibnu Mas’ud berkata: “Sesungguhnya belum usang pakaian para sahabat, tetapi kamu telah membuat syariat baru dalam agama ini!”
    6. Dzikir berjamaah terlarang menurut Empat Imam Madzhab, Dalam hal ini Imam Syafii rhm membolehkan dzikir jamaah beberapa kali dalam rangka mengajari orang-orang yang belum bisa. Tetapi beliau lebih cenderung bahwa dzikir itu dilakukan sendiri-sendiri.
D. KHOTIMAH
Alloh Ta’ala dan Rasululloh SAW telah menetapkan cara berdzikir seperti yang terungkap dalam surat Al-A’raaf : 205 dan QS. Ali Imron : 191, bahwa dzikir dilakukan dengan takut dan merendah (khusyu’ dan khudlu’), suasana lirih (sirr), serta dalam kondisi duduk, berdiri, dan berbaring. Dalam banyak kondisi disebutkan cara berdzikir Rasulullah SAW, tetapi tak satupun yang menunjukkan dzikir bersama dipimpin satu komando.
Tulisan ini diharapkan dapat menjadi titik tolak untuk melakukan dakwah jamaah, memurnikan ibadah, dengan tetap memegang adab-adab dan tahapan dakwah. Secara wawasan, dalil-dalil tentang dzikrulloh ini seharusnya disampaikan kepada ummat. Adapun pada tataran praktik, secara bertahap dan istiqomah dapat diterapkan sesuai tingkat pemahaman dan kesiapan ummat islam. Wallohu waliyyut taufiq. (Rahmat Budiyanto, S.Pd)
Maraji’:
1. Tafsir Al-Maraghi
2. Tafsir Al quranul Karim, UII
3. Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq
4. Kalimah Thoyyibah, Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah
* Makalah disampaikan dalam Kajian Kunsiroh PCM Pandak Barat, Ramadhan 1430 H

Kunci Sukses Beribadah

addakwah.com --------“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz Dzariyat: 56).
Demikian Alloh menegaskan tujuan penciptaan manusia: Ibadah. Sehingga, seharusnya tidak ada satu detik dari desah nafas manusia yang tidak bernilai ibadah. Karena ibadah juga bisa kita laksanakan setiap detik dari nafas kita. Sebagaimana yang dijelaskan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ibadah adalah suatu istilah yang meliputi segala perbuatan dan perkataan; zhohir maupun batin yang dicintai dan diridhoi oleh Alloh Ta’ala. Dengan demikian ibadah terbagi menjadi tiga, yaitu: ibadah hati, ibadah lisan dan ibadah anggota badan.

4 Kaidah Yang Membedakan Agama dan Sekuler

oleh Syeikh Ali bin Hudlair al Hudlair
Muqaddimah
Segala puji bagi Allah, rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarganya, dan para shahabatnya. Wa ba’d.
Ini adalah risalah singkat yang membahas tentang kaidah-kaidah yang bisa digunakan oleh seorang muslim untuk mengetahui perbedaan antara agamanya yang agung dengan agama neo-paganisme dan syirik kontemporer yang dinamakan dengan sekularisme beserta cabang-cabangnya. Dengan mengetahui perbedaan itu ia bisa menjauhinya, meninggalkan, serta melepaskan diri darinya dan para pengikutnya yang disebut dengan sekularis. Dia bisa membebaskan diri dari mereka karena Allah, membenci, mengkafirkan, memusuhi, dan berjihad terhadap mereka,  baik mereka yang berperan sebagai pemikir, intelektual, politikus, pemerintah, jurnalis, penyanyi, atau pelukis, baik yang berupa teori, lembaga pemerintah atau lembaga non-pemerintah (LSM). Berikut inilah keempat kaedah tersebut

Bagaimana Mendidik Anak

addakwah.com ------Secara umum, seluruh orangtua pasti meminginginkan buah hatinya menjadi anak-anak yang sholeh dan sholehah. Siapa pun dia, sebagai orangtua pasti menharapkan hal tersebut. Seorang pejudi, tentu akan suka ketika ia mengetahui anaknya menjadi penjudi. Seorang pencuri, sangat tidak mungkin memiliki cita-cita, agar anaknya menjadi pelanjut perilaku buruknya, begitu pula terhadap kasus-kasus yang lain.
Islam memandang anak itu sebagai asset masa depan, yang akan penyuplai pahala bagi orangtuanya. Dan itu akan terwujud, apa bila orangtua sukses menghantarkan mereka menjadi pribadi-pribadi yang shaleh dan shalehah, yang senantiasa mentaati Allah dan Rosul-Nya. Rosulullah bersabda, “Ketika anak adam meninggal, maka terputuslah amal perbuatannya, kecuali tiga perkara; shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang shaleh, yang senantiasa mendoakan orangtuanya,” (Al-Hadits).
 

Media Dakwah Copyright © 2010 LKart Theme is Designed by Lasantha