Selasa, 13 Juli 2010

TANGGA MENUJU MAGFIRAH

133. Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa


134. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan


Dengan berbagai cobaan, tidak sedikit manusia yang terhempas dan terseret hembusan kenikamatan sementara dan akhirnya terjerumus didalam pelukan syaitan laknatullah. Memang, setiap diri kita pernah merasakan terjatuh ke dalam kotoran dan lumuran dosa. Namun Allah selalu membuka lebar-lebar pintu ampunan bagi hamba-Nya yang sadar dan mau kembali ke pangkuan-Nya. Firman Allah Swt. : “ Katakanlah wahai hambaKu yang telah berlebih-lebihan merugikan diri sendiri. Janganlah berputus asa dari Rahmat Allah. Sesungguhnya Allah Swt megampuni segala dosa, karena Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang “ (QS. Az-Zumar : 53) Rasulullah Saw bersabda : “Setiap anak cucu Adam pernah melakukan dosa kesalahan dan sebaik-baiknya manusia yang bersalah ialah mereka yang bertaubat” (HR. Tirmidzi).
Dalam keadaan seperti ini, selayaknua manusia berusaha meraih magfirah (ampunan) serta tetap melaksanakan taubat agar tidak lagi mengulangi perbuatan maksiat serta selalu mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Makna Taubat dan Kedudukan Magfirah

Jika melihat dari makna lafzhiyah, taubat bararti Roja’a (kembali). Maksudnya kembali dari maksiat kepada taat, dari sifat tercela kepada sifat terpuji. Makna yang lebih mendekati pengertian sebenarnya ialah kembali dari yang asalnya jauh dari magfirah Allah Swt menjadi lebih dekat kepadNya, demikian menurut Al-Ijiy. Sedangkan menurut Al-Qurtubi mengutip pendapat para muhaqqiqien: “ Taubat ialah menjauhi perbuatan dosa yang biasanya mendahuimu secara sungguh-sungguh atau sesuai kemampuannya “.
Adapun magfirah berasal dari kata Ghafara yang artinya menutup atau memperbaiki. Ampunan Allah disebut maghfirah karena dia menutup segala dosa dan kesalahannya. Keterkaitan anatara taubat dan maghfirah sangatlah dekat. Kalimat Al-Qur’an yang berasal dari Ghafarah cukup banyak, hal ini menjadi isyarat akan sangat pentingnya masalah maghfirah dalam kehidupan kaum muslimin. Dalam banyak ayat dan hadits pun kedua istilah ini sering bergandengan, seperti dalam surat Hud Ayat 52 yang mengatakan : “ Ya Kaum_Ku mohon ampunlah kepada Robb kalian kemudian bertaubatlah kepada Nya”.
Kedudukan taubat dan magfirah tinggi nilainya sebagai amaliyah yang tidak boleh terlewatkan oleh setiap muslim. Rasulullah Saw bersabda: “ Wallahi, sungguh aku beristigfar kepada Allah dan bertaubat kepadaNya tidak kurang 70 (tujuh puluh) kali dalam sujud “. (HR. Bukhori).
Hadits diatas menunjukkan bagaimana perhatian Rasulullah Saw dalam melaksanakan taubat dan istighfar. Hal ini menunjukkan bahwa bertaubat dan istighfar bukan hanya sebagai amal manusia yang telah berbuat dosa dan kesalahan tetapi juga diwajibkan bagi setiap muslim sebagai amal sholeh. Allah Swt menyatakan dalam firmanNya : “ …..dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. (Qs An-Nur : 31 ).
Ayat ini merupakan perintah akan wajibnya bertaubat. Bahkan ayat lain menyatakan : “ Dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka adalah orang-orang yang dzolim”. (Qs Al-Hujurat : 11)
Maka amaliyah taubat dan istighfar (mohon maghfirah) tidak saja berfungsi sebagai penyuci diri dari kedzoliman tetapi juga merupakan tanda dan bukti keimanan seseorang.

Bersegera Menuju Maghfirah

Al-Musara’ah ilal maghfirah (bersegeralah menuju ampunan) adalah perintah Allah kepada orang-orang beriman. Menyegerakan amal shalih dan tidak menunda-nunda walau beberapa waktu sangatlah dianjurkan. Banyak ayat yang menyatakan, hal itu dipertegas lagi oleh beberapa hadits diantaranya, apa yang diungkapkan oleh Ibnu Umar ra : “Apabila kamu berada diwaktu sore jangan tunggu waktu pagi dan bila kamu berada diwatu pagi maka jangan tunggu waktu sore, jadikanlah waktu sehatmu sebelum waktu sakit, dan waktu hidup sebelum matimu”. (HR. Bukhori)
Hadits di atas sungguh membuat kita harus lebih memperhatikan masalah waktu dalam kebaikan dan menjaga amalan.
Maka untuk mencapai maghfirah Allah yang luas tadi maka dijelaskan oleh lanjutan ayat yang sekaligus juga merupakan sifat dan karakteristik  orang yang bertaqwa :
Pertama, orang-orang yang menafkahkan hartanya baik ketika lapang maupun sempit. Infaq atau Shadaqoh merupakan bukti kebenaran Taqwa yang terhujam kuat dalam hati seorang muslim. Yang dinilai bukanlah  jumlah harta atau benda  yang diinfakkan tetapi landasan yang menjadi motivasi untuk mengeluarkan sebagian hartanya. Ayat tentang infaq ini berkaitan erat dengan ayat sebelumnya yang mengharamkan riba. Artinya infaq merupakan sebuah alternative menghentikan riba. Sebagaimana perbandingan yang difirman oleh Allah : “ dan sesuatu riba yang kamu berikan agar dia menambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah pada sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat, yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhoan Allah maka itulah orang-orang yang melipat gandakan pahalanya “. (Qs. Ar-Rum :39).
Keutamaan infaq dan Shadaqoh cukup banyak dijelaskan dalam Al-Qur’an beberapa hadits juga menjelaskan: “ Takutlah kalian terhadap neraka, sekalipun hanya dengan sepotong buah kurma, dan berikanlah kepada orang-orang yang sekalipun itu adalah dengki yang dibakar”.
Makna shadaqoh secara luas dipapaprkan dalam sabda Rasulullah Saw: “ setiap muslim atasnya (harus) shadaqoh. Mereka (sahabat) bertanya : “ Ya Nabiyallah, bagaimana jika tidak punya?, lalu nabi menjawab : “ bekerjalah dengan kemampuannya bagi dirinya dan ia dapat bershadaqoh, mereka berkata lagi ? bagaimana jika tidak mampu?, “ sandanya : “ dia (shadaqoh dengan menolong orang yang membutuhkan dan yang kesusahan”. Mereka bertanya lagi: “ bagaimana jika tidak mampu?”, sabdanya : “ kerjakanlah yang baik dan cegahlah dirinya dari perbuatan jahat. Maka sesungguhnya itu adalah shadaqoh baginya”.(HR. Bukhori).
Shadaqoh adalah syarat turunnya ampunan Allah. Karena shadaqoh menjadi penyuci harta  benda yang kita gunakan. Sedangkan bersihnya harta kekayaan merupakan syarat terkabulnya do’a kita

Kedua, orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain serta berbuat baik terhadap sesamanya.
Marah adalah sifat yang manusiawi. Namun jika nafsu amarah yang bergejolak itu tidak dapat terkendali tentu akan merugikan diri sendiri. Maka Rasulullah Saw menyatakan : “ orang yang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan diri ketika marah”.
Orang yang selalu emmosi ketika sedang menghadapi masalah akan menjerumuskan dirinya pada penyesalan yang tiada akhir. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Haritsah Bin Abdurahman, bahwa seorang dari sahabat datang kepada Rasulullah Saw dan meminta nasehat, maka beliau bersabda : “ Janganlah marah “. Maka berpikirlah aku (kata orang itu tentang sabda Rasulullah Saw tersebut dan ternyata sifat marah itu menghimpun segala kejahatan.
Maka jika kita mencapai titik kemarahan yang sangat, Rasulullah Saw menganjurkan agar cepat-cepat mengambil air wudhu, ini langkah untuk mengendalikan kemarahan tadi. Rasulullah Saw  bersabda “ Sesungguhnya sifat marah itu dari syaitan dan syaitan itu diciptkan dari api, dan api hanya dapat dipadamkan dengan air, maka jika seseorang marah hendaklah segera berwudhu”. (HR. Ahmad dari Urwah Bin Muhammad).
Demikianlah utamanya orang yang mampu mengendalikan amarahnya sehngga Rasulullah Saw bersabda: barang siapa menahan rasa marahnya sedang ia mampu melampiaskannya, maka Allah akan memenuhi hatinya dengan rasa ketenangan dan keimanan (HR. Abu Dawud).
Selanjutnya tanda orang taqwa yang mendapat maghfirah Allah adalah orang yang dapat memaafkan kesalahan orang lain seberapapun kesalahan mereka. Sangat berat menjadiorang pemaaf. Karenanya Rasulullah Saw amat memuji orang yang mampu memaafkan disaat mereka berkuasa membalas dendam. Sabdanya : “ Barang siapa suka rumahnya dalam surga didirikan dan diangkat derajatnya , hendaklah ia memaafkan orang yang berbuat aniyaya terhadap dirinya, memberi kepada orang miskin dan menyambung silaturahmi dengan orang yang memutuskannya”. (HR. Tabrani)
Kemudian Allah sangat mencintai orang yang memaafkannya, menyantuni hambanya yang menderita sebagai tanda syukur terhadapNya. Imam Baihaqi mengetengahkan sebuah riwayat bahwa ada seorang hamba sahaya wanita milik Ali Bin Husen ra. Ketika hamba sahaya mengucurkan air wudhu padanya tiba-tiba kendi airnya terlepas dan melukai Ali. Alangkah marahnya dia dan hendak memukul sahaya. Namun sahaya tadi berkata: sungguh Allah berfirman “ ialah orang yang menahan amarahnya” sadarlah Ali dan berkata : aku telah menahan amarahku. Sang sahaya berkata : dan orang-orang yang suka memaafkan orang lain”. Beliau menyahut Allah telah memaafkanmu. Sahaya itu berkata lagi “ sesunggunya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik”. Ali pun menjawab : pergilah engkau , mulai sekarang aku memerdekakanmu karena Allah”.
Perubahan sikap seorang ulama salaf ini sungguh mengagumkan. Inilah sebuah ilustrasi Musara’ah ila maghfirah (bersegera menuju ampunan Allah).

Ketiga, orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya dirinya sendiri, mereka ingat akan Allah lalu memohon ampunan akan dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang  dapat mengampuni dosa selain Allah?. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedangkan mereka mengetahui.
Tanda ketaqwaan terakhir selalu menjaga kesucian batinnya dengan tidak segan bertaubat jika melakukan kesalahan dan dosa. Karena baimanapun besarnya dosa, jika dengan ikhlas kita bertaubat, pasti Allah maha pengampun, asalkan ia tidak mengulangi perbuatan kejinya. Rasulullah Saw bersabda : “Tidak ada dosa besar yang disertai istighfar dan tidak ada dosa kecil yang selalu dibarengi dengan terus menerus”.  Wallahu Alam bisawab.

Syahwat Merdeka

Menarik apa yang disampaikan Taufik Ismail dalam acara seruan penghapusan pornografi. Acara yang dikemas dalam “Deklarasi Menteng” tersebut dilakukan di kantor Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Jakarta, akhir bulan Juni lalu.

Puisi dengan judul ’Gerakan Syahwat Merdeka’ tersebut lahir atas keprihatinannya melihat hilangnya rasa malu di negeri ini.

Hilangnya rasa malu, menurut Taufik menyebabkan runtuhnya moral bangsa, korupsi merajalela, sikap permisif (serba boleh)-, adiktif (serba kecanduan), brutalistik (serba kekerasan), transgresif (serba melanggar aturan), hedonistik (serba mau enak, foya-foya), dan materialistik (serba benda, diukur).
Lebih jauh, Taufik menyindir dengan maraknya sek bebas dan gelora syahwat. ’Nilai permisif yang serba boleh itu, menyebabkan hak penggunaan kelamin orang lain, Diambil dicuri tanpa rasa risih, Karena rasa malu sudah sangat erosi’.

Taufik tidak sendiri. Banyak orang tua merasa miris atas kasus video mesun Ariel, Luna Maya dan Cut Tari. 80% anak menonton video tersebut. Ironisnya, orang semakin penasaran. Anak-anak sekolahpun berlomba-lomba menonton video mesum tersebut.

Menilik kebelakang, Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pernah mengadakan penelitian tentang perilaku seks remaja di 33 propinsi akhir tahun 2008. Hasilnya, 63 persen remaja di Indonesia usia sekolah SMP dan SMA sudah melakukan hubungan seksual di luar nikah dan 21 persen di antaranya melakukan aborsi.Berdasarkan data penelitian pada 2005-2006 di kota-kota besar mulai Jabotabek, Medan, Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Makassar, masih berkisar 47,54 persen remaja mengaku melakukan hubungan seks sebelum nikah. Namun, hasil survey terakhir tahun 2008 meningkat menjadi 63 persen.
Data Departemen Kesehatan juga menyebutkan hingga September 2008, dari 15.210 penderita AIDS atau orang yang hidup dengan HIV/AIDS di Indonesia, 54 persen di antaranya adalah remaja.

Maka, jangan kaget jika Indonesia menjadi negara syawat. Dimana-mana syahwat bergelora. Tidak mengenal batas usia. Anak, remaja, pemuda dan orang tua. Mereka ramai-ramai menggelorakan syahwat. Mulai jalan, gedung, tempat perbelanjaan, Mal, tempat wisata, hotel dan bahkan merambah sekolah. Ariel, Luna Maya dan Cut Tari menjadi simbol kemerdekaan syahwat. Para pendukungnyapun akan berteriak, ‘Merdeka Syahwat! Hidup syahwat! Hidup Ariel! Hidup Luna Maya! Hidup Cut Tari!’. (mulyanto)


Arah Qiblat Versi MUI Melenceng ke Afrika


JOMBANG (addakwah.com) – Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) soal Kiblat ternyata melenceng tidak menghadap Masjidil Haram Makkah, tapi menghadap ke Afrika. MUI sudah merevisinya, akan tetapi draft revisi itu belum ditandatangani dan belum dipublikasikan ke masyarakat.
Hal itu diungkapkan anggota Komisi Fatwa MUI, Sopa AR. Menurutnya, fatwa MUI  Nomor 3 Tahun 2010, tentang arah kiblat masjid di Indonesia ada kesalahan. Dalam draft fatwa yang salah itu MUI menyebut bahwa letak geografis Indonesia berada di bagian Timur Makkah.
Dengan begitu arah kiblat masjid hendaknya menghadap tepat ke arah barat. Namun, setelah melalui kajian bersama beberapa pakar ilmu falak dan astronomi, arah yang ditentukan MUI itu justru menghadap ke Afrika, Somalia Selatan, Kenya, dan Tanzania.
…setelah melalui kajian bersama beberapa pakar ilmu falak dan astronomi, arah yang ditentukan MUI itu justru menghadap ke Afrika, Somalia Selatan, Kenya, dan Tanzania…
Hanya saja, atas kesalahan tersebut MUI sudah merevisinya, akan tetapi draft revisi itu belum ditandatangani dan belum dipublikasikan ke masyarakat. “Kami akui fatwa itu keliru, tapi kemarin sudah direvisi,” kata Komisi Fatwa MUI Pusat, Sopa AR dalam Seminar Nasional Arah Kiblat dan Penentuan Waktu Shalat di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Selasa (13/7/2010).
Atas kesalahan itu, kata Sopa, dalam waktu dekat, draf revisi itu akan segera ditandatangani ketua, dan segera disebarkan ke tengah masyarakat. Menurutnya, arah qiblat masjid yang benar adalah menghadap ke barat laut dengan kemiringan yang bervariasi, sesuai dengan letak geografis. Pertimbanganya, ternyata secara geografis letak Indonesia tidak persis berada di sebelah timur Makkah.
Dia berharap agar pengurus masjid di Indonesia merubah arah kiblat sesuai dengan revisi fatwa. Pelurusan arah kiblat tidak harus dengan merombak bangunan masjid. Namun, caranya cukup dengan membuat garis shalat, yang disesuaikan dengan arah kiblat yang benar.
…Pelurusan arah kiblat tidak harus dengan merombak bangunan masjid. Namun, caranya cukup dengan membuat garis shalat, yang disesuaikan dengan arah kiblat yang benar…
Sopa lalu menegaskan bahwa melencengnya arah kiblat itu bukan dipengaruhi oleh pergeseran lempeng bumi akibat gempa. Alasannya, rentang pergeseran antara Indonesia dengan titik kiblat itu sebesar 140 sentimeter. Jika pergeseran hanya 7 sentimeter itu tidak ada artinya.
Sementara itu, pembicara lainnya, Thomas Jamaludin, Peneliti dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) membenarkan hal itu. Menurutnya, dari kacamata ahli astronomi metode pengukuran itu dibenarkan. Pergeseran hanya terjadi di bangunan masjid saja. “Karena itu, yang harus dirubah hanya arah pada saat shalat. Bukan letak masjidnya,” katanya menambahkan. [taz/beritajatim](sumber: voa-islam)

Pendidikan Islam Membentuk Murid Agar Mencintai Allah dan Rasul


Pada masa jahiliyah, para pemimpin dan tokoh masyarakat Arab berusaha menguasai rakyat mereka dengan dididik menjadi hamba sahaya dan budak belian. Kemudian datanglah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam untuk mengeluarkan bangsa Arab yang buta huruf dan berperilaku keji menjadi bangsa yang mulia lagi kekal kemuliaannya. Allah Ta’ala berfirman,
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
"Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (QS. Al-Jumu’ah: 2)
Para orang tua dan pendidik muslim wajib mengetahui metode dan cara Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam dalam mendidik para sahabat beliau. Bagaimana Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bisa membuat mereka semua menjadi manusia-manusia mulia yang berperilaku agung?
Dalam dakwah dan pendidikan, Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam memerankan diri sebagai pengarah, guru, pendidik, dan pejuangnya secara langsung. Beliau terus memimpin jalannya dakwah ini dengan sunnah-sunnahnya hingga umat ini berada di atas jalan keselamaan, hidup di atas kemuliaan, dan masuk ke dalam surga.
Dalam mendidik dan membina para sahabat, Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam senantiasa berusaha dan berupaya agar umatnya senantiasa mencintai Allah dan Rasul-Nya dengan sebenarnya. Cinta yang karenanya mereka tidak khawatir lagi darah mereka tertumpah, tubuh mereka tercacah, harta benda mereka habis untuk fi sabilillah.
Dalam merealisasikan cinta ini mereka tidak pernah pantang mundur menghadapi musuh-musuh Allah, Rasul-Nya dan musuh mereka dari kalangan kafirin musyrikin. Dalam diri mereka terbangun sikap berani dan bermental baja sehingga mereka tidak pernah gentar dengan pedang, panah, dan tombak yang siap mengoyak tubuh mereka. Ini semua mereka lakukan agar mendapat cinta Allah dan Rasul-Nya sehingga layak masuk ke dalam jannatun na’im.
Mereka siap berkata yang benar dan terus terang dengan keimanan mereka. Sikap mereka sangat jelas dalam berislam. Semua itu karena niat mereka benar dan lurus. Cinta yang mereka cari adalah cinta Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan melakukan apa saja untuk meraihnya. Sebaliknya segala perilaku dan sikap yang bisa mengundang murka keduanya dijauhi, sebagaimana mereka tidak mau kalau dilemparkan ke dalam neraka.
Menanamkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan tugas utama seorang pendidik muslim.
Menanamkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya merupakan tugas utama seorang pendidik muslim. Dengannya, anak didik akan ringan melaksanakan ibadah dan mengikuti sunnah. Ringan dalam menerima dan mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupannya, karena yang dituju dan dicari sudah jelas, yaitu cinta Allah dan Rasul-Nya.
Ketika Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam tiba di Madinah, beberapa orang Yahudi datang menemui beliau. Mereka berkata, “Kami mencintai Allah, akan tetapi kami tidak dapat mengikuti ajaranmu.” Kemudian Allah membantah dan membatilkan kecintaan mereka kepada-Nya dan menganggap pernyataan itu dusta. Allah berfirman,
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيم
"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Ali Imran: 31)
Allah Subhanahu wa Ta'ala juga berfirman,
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (QS. Al-Ahzab: 21)
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam datang memberikan pelajaran kepada para sahabat akan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya.
Disebutkan dalam Shahih al-Bukhari, Umar bin Khathab radliyallaahu 'anhu berkata kepada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah, demi Allah engkau lebih aku cintai daripada harta, keluarga, dan anakku, kecuali diriku.”
Beliau bersabda, “Tidak wahai Umar, aku harus lebih engkau cintai dari dirimu sendiri.”
Umar berkata, “Demi Allah wahai Rasulullah, engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.”
Beliau bersabda, “Sekarang (kecintaanmu telah benar) wahai Umar.”
Dalam Sunan al-Tirmidzi dengan sanad hasan, dikisahkan ketika Umar hendak melaksanakan umrah, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam berkata kepadanya, “Jangan engkau lupakan kami dalam doamu, wahai saudaraku!”
Umar kemudian berangkat melaksanakan umrah, namun ia meninggalkan hatinya bersama Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam dengan penuh perasaan rindu dan cinta. Dan rasa ini semakin kuat pada diri Umar ketika berada di medan perang.
Kecintaan ini pula yang mendorong Anas bin Nadhar untuk menghunuskan pedangnya menuju perang Uhud. Padahal ketika itu Saad bin Mu’adz berkata, “Kembalilah engkau wahai Anas.” Akhirnya ia meninggal setalah mendapat delapan puluh lebih tebasan pedang.
Kecintaan ini pula yang membuat Handzalaqh termotifasi untuk meninggalkan istrinya di malam pengantin baru untuk berangkat ke medan perang, padahal ia dalam keadaan junub. Ia mengorbankan dirinya di jalan Allah dan memasrahkan dirinya kepada Islam. Ini semua merupakan tanda adanya cinta kepada Allah dan Rasul-Nya dalam diri Handzalah.
Dikisahkan bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam melihat ke arah lengit ketika berada di sisi jasad Handzalah, beliau bersabda, “Demi jiwaku yang berada di genggaman-Nya, aku menyaksikan para malaikat memandikan tubuh Handzalah di antara langit dan bumi.”
Abdullah Al-Anshari, ayah Jabir, menyiapkan kain kafan dan wangi-wangian, setelah sebelumnya ia menorehkan pedangnya pada kulit lututnya. Ia berkata, “Ya Allah, ambillah darahku pada hari ini sampai Engkau meridlaiku.”
Iapun berangkat ke medan peperangan sehingga terbunuh. Hal itu membuat anaknya, Jabir menangis. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam kemudian bersabda, “Janganlah engkau menangisinya, Malaikat akan terus memberikan naungan kepadanya dengan sayap-sayapnya hingga ruhny diangkat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
“Allah tidak berbicara kepada seorangpun kecuali dari balik hijab. Allah menghidupkan ayahmu dan berbicara dengannya secara berhadapan langsung. Allah berfirman, ‘Engkau memberikan (berkorban) kepadaku maka aku akan memberikan sesuat kepadamu.’ Ia berkata, ‘Wahai Tuhanku, apakah Engkau akan menghidupkanku hingga aku terbunuh karena membela ajaran-Mu untuk kedua kalinya?’ Allah berfirman, ‘Sudah menjadi ketetapan-Ku sejak dahulu bahwa mereka tidak akan dikembalikan (ke dunia)’.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)
Saat Abdullah bin Jahsyi ikut serta dalam perang Uhud, ia berkata, “Wahai Rabbku, sunguh Engkau Mahamengetahui bahwa aku mencintaimu. Aku perrsembahkan mahar pembaiatanku. Ya Allah, jika Engkau mengetahui kecintaanku itu, maka pertemukanlah aku dengan musuh-Mu yang paling kuat hingga ia dapat menewaskanku di jalan-Mu. Jika Engkau berkata kepadaku, ‘Untuk apa engkau melakukan hal seperti ini?’ Maka aku akan menjawab, ‘Aku lakukan itu karena-Mu, wahai Rabbku’.” (HR. Al-Baihaqi dan Al-Hakim)
Sesungguhnya para kekasih Allah pasti akan bersegera menggapai kecintaan Allah. Dia akan mengutamakannya atas yang lain. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam pernah mengabarkan bahwa Allah tersenyum pada tiga jenis manusia. Salah satunya adalah seorang laki-laki yang memiliki rasa cinta. Ia melakukan perjalanan bersama rombongan kafilah. Di tengah perjalanan mereka merasakan kelelahan. Ketika sahabatnya yang lain berhenti, mereka merebahkan tubuh mereka di atas tanah hingga tertidur. Adapun orang tadi, ia sama sekali tidak tidur. Ia bergegas mencari air dan mengambil wudlu. Ia lalu menghadap kiblat untuk shalat dan menangis. Ia berdoa dan bermunajat kepada Dzat yang Mahaesa.
Ini merupakan cerminan dari adanya rasa cinta. Kecintaan yang mendorong pemiliknya untuk melakukan apa saja agar mendapat keridlaan orang yang dicintainya.
DR. Aidh bin Abdullah Al-Qarni dalam bukunya Bait Ussisa ‘alaa al-Taqwa, menuliskan sebuah kisah yang disebutkan seorang dai. Bahwa ada seorang pemuda muslim dari Jazirah Arab pergi ke Inggris, tepatnya di kota London.
Di London, dia tinggal di rumah seorang wanita pribumi yang telah berusia lanjut. Meski udara di waktu Fajar begitu amat dingin dan bersalju, ia tetap melaksanakan shalat. Ketika ia berwudlu, pemilik rumah yang sudah renta tersebut terus memperhatikannya. Ia berkata kepadanya, “Apakah engkau sudah gila?”
Ia menjawab, “Tidak.”
Ia bertanya terheran-heran, “Bagaimana engkau bisa bangun di jam seperi ini untuk mengambil air wudlu?”
“Agamaku memerintahkanku untuk melakukan itu,” jawabnya.
Ia kembali bertanya, “Tidak bisakah engkau undur waktunya?”
Ia menjawab, “Jika aku undur waktunya, maka Allah tidak menerima amalku.”
Wanita itu menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, “Sikap seperti itu bagaikan tekad yang kaut yang dapat menghancurkan besi sekalipun. Sikap seperti itu bagaikan tekad yang kuat yang dapat menghancurkan besi sekalipun.” Ia mengulang dua kali ucapannya itu. (PurWD/voa-islam.com)
Oleh: Badrul Tamam

Biaya Haji 2010 Lebih Rendah USD 36 dibanding 2009

Jakarta (addakwah.com) ---Pemerintah dan DPR belum menyepakati nilai Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) 2010. Namun dipastikan nilainya akan lebih rendah setidaknya USD 36 dibanding BPIH pada musim haji tahun lalu.

"ONH tahun 2010 turun minimal US$ 36. Angka itu masih bisa ditekan lagi, Insya Allah," kata Menag Suryadharma Ali saat jumpa pers di Kantor Presiden, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Selasa (13/7/2010).

Menurutnya penurunan tersebut disebabkan adanya komponen direct cost yang dipindahkan ke indirect cost. Itu artinya komponen biaya yang seharusnya ditanggung oleh jemaah kini dibebankan kepada pemerintah. Sedangkan pembiayaanya akan diambil dari bunga bank dari dana milik jamaah.

Meski nilainya lebih rendah, tetapi tidak akan berpengaruh terhadap pelayanan terhadap jamaah haji. Malahan, lokasi pemondokan jamaah haji tahun ini dibanding tahun lalu semakin banyak yang jaraknya dekat dengan Masjidil Haram.

"Pada 2009, pemondokan yang masuk ring 1 (sekitar 2 kilo meter) hanya 27 persen atau 57 ribu jamaah. Tahun ini sekitar 63 persen atau 100 ribu lebih jamaah," paparnya.

Persiapan Matang

Selain soal pemondokan, masalah penyedian maskapai penerbangan juga hampir tuntas persiapannya. Menteri Perhubungan Freddy Numberi memastikan Garuda Indonesia dan Saudi Arabia Airlines telah siap memberangkatkan jamaah ke Tanah Suci.

"Total ada 24 pesawat. Kita harapkan tidak ada masalah teknis," kata Freddy dalam kesempatan yang sama.

Sementara, Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedianingsih juga memastikan persiapan kesehatan juga telah memadai. Menurutnya, saat ini telah disiapkan sarana kesehatan setaraf dengan rumah sakit kelas C baik di Mekah dan di Madinah.

"Karena pemerintah Saudi Arabia mewajibkan suntik maningitis, dua minggu setelah lebaran nanti semua calon jamaah sudah disuntik maningitis," sambung Endang.

(anw/lh) (detik.com)

Senin, 12 Juli 2010

Rambut disemir merah, Bolehkah?

Tanya
Assalamu’alaikum. Apakah rambut disemir merah itu bolehkah? (085292302xxx, dan beberapa penanya yang lain)



Jawab:
Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.
Menyemir rambut yang telah beruban sangat dianjurkan. Akan tetapi tidak diperbolehkan menggunakan semir hitam.
Rasulullah SAW bersabda,
إِنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى لَا يَصْبُغُونَ فَخَالِفُوهُمْ
Sesungguhnya orang-orang Yahudi dan Nashrani tidak menyemir uban mereka, maka selisilah mereka. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Rasulullah saw bersabda,
غَيِّرُوا هَذَا بِشَيْءٍ وَاجْتَنِبُوا السَّوَادَ
Ubahlah uban ini dengan sesuatu, tetapi hindarilah warna hitam. (HR. Muslim).
Rasulullah saw juga bersabda,
يَكُونُ قَوْمٌ يَخْضِبُونَ فِي آخِرِ الزَّمَانِ بِالسَّوَادِ كَحَوَاصِلِ الْحَمَامِ لَا يَرِيحُونَ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ
Pada akhir zaman nanti akan muncul suatu kaum yang bersemir dengan warna hitam seperti tembolok merpati. Mereka itu tidak akan mencium bau surga. (HR. Abu Daud, An Nasa’i, Ibnu Hibban dalam shahihnya, dan Al Hakim)
Maka, menyemir rambut yang telah beruban dengan selain warna hitam (termasuk warna merah) diperbolehkan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ أَحْسَنَ مَا غَيَّرْتُمْ بِهِ الشَّيْبَ الْحِنَّاءُ وَالْكَتَمُ
Sesungguhnya bahan yang terbaik yang kalian gunakan untuk menyemir uban adalah hinna’ (pacar) dan katm (inai). (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan An Nasa’i. Syaikh Al Albani dalam As Silsilah Ash Shahihah mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Menyemir merah, meski tak beruban bolehkah?
Melihat kondisi hari ini, menyemir rambut yang tidak beruban dengan warna merah (dan warna lain selain warna hitam) tidak diperbolehkan. Sebab, lebih mendekati perbuatan tasyabuh (menyerupai) kaum kafir. Dan Rasulullah melarang perbuatan tasyabuh terhadap orang kafir. Berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka. (HR. Ahmad dan Abu Dawud).
Selain itu, tidak ada sebab/ alasan (‘ilah) yang membolehkan untuk mengubah warna rambut. Sebab dibolehkannya menyemir (dengan selain warna hitam) adalah adanya uban. Warna hitam pada rambut sudah menunjukkan keindahan dan bukanlah suatu yang jelek (aib).

Kesimpulan:
Hukum menyemir rambut, jika ada hajat semacam sudah beruban, maka pada saat ini dibolehkan bahkan diperintahkan. Namun apabila rambut masih dalam keadaan hitam, lalu ingin disemir (dipirang) menjadi warna selain hitam, maka hal ini tidak diperbolehkan

Laskar Pelangi di Pulau Lombok (Catatan Pengalaman menjadi Dai Ramadhan)

Rindu yang Menyesakkan
Pergi dari kampung halaman lebih dari seminggu, seingat saya baru kali ini saya lakukan. Persiapan yang cukup lama. Memberesi pekerjaan yang belum kelar, menyiapkan materi (maklum bukan ustadz beneran) membeli bekal yang harus dibawa dan lain lain. Tiba saatnya untuk berangkat, setelah berpamitan dengan istri dan orang tua, kulangkahkan kaki menuju tempat tujuan. Menjadi dai Ramadhan selama satu bulan di pulau nun jauh. Jadwal pemberangkatan molor banyak, akhirnya bus jurusan Mataram berangkat. Bismillah, bus berjalan pelan, sambil menikmati pemandangan sekitar dari bus aku mainkan kamera jeprat jepret. Tengok kanan kiri siapa tahu ada momen menarik. Sesekali ngemil bekal yang dibawakan istri. Setelah sekian lama berjalan, kantuk mulai menggelayuti.
Cukup lama kelihatannya aku tertidur, tiba tiba handphone-ku menjerit-jerit, "Assalamualaikum…" suara itu menyapa, "Wa'alaikum salam" jawabku. Ternyata anakku menelpon. "Sampai mana pak?" "Astaghfirulloh..." aku mendesah. Menurut istriku, anakku memaksa minta untuk menghubungiku. Baru kali ini saya merasakan Rasa rindu yang begitu menyesakkan dada. Seandainya dua atau tiga jam lagi bisa ketemu mereka itu tidak masalah, hal yang biasa. Tetapi perjalanan baru saja dimulai. Untuk ketemu mereka nunggu 1 bulan lagi. Ya Allah…rindunya "Sudah...sudah ..coba telpon mbah siti dulu.." kataku mengalihkan pembicaraan. Tanpa banyak pembicaraan akhirnya hp saya matikan. Saya tidak ingin tersiksa perasaan rindu di dada.
Sampai pagi HP Off...Pagi hari, bus sampai di pulau Bali. Memasuki pulau ini pemeriksaan KTP cukup ketat. Maklum, ada jenggotnya sedikit sih. Perjalanan menuju tujuan kira-kira sehari semalam. Di Lombok Utara.

Menjadi Dai Ramadhan di seberang memang sudah menjadi pilihan. Yang biasanya setiap hari hilir mudik mendatangi klien, maka untuk bulan ramadhani ini saya penuhi dengan anak-anak desa. Mengajari mengaji iqro, mengarang sedikit kadang “outbond” di tanah lapang ujung kampung yang begitu luas.
Ada sekitar 20an anak yang tiap sore rajin mengikuti pengajian. Saya memberi penilaian kepada mereka: masih sederhana, polos dan lebih dewasa kalau dibandingkan anak-anak di kampungku. Rasa Gotong royong begitu terasa, ada seorang santriku yang pinter, penampilan kerempeng sederhana. Beberapa pertanyaan sempat meluncur dari mulutnya yang membuatku mengernyitkan dahi. setiap kenaikan kelas pasti juara 1. Jadi teringat sama lintang (Remaja jenius yang putus sekolah gara gara gak ada uang) dalam film "Laskar Pelangi". Dan ini kenyataan.

Tamu Istimewa
Dipertengahan Ramadhan, tuan rumah kedatangan saudara dari jauh, (pihak tuan rumah yang saya tempati) tentunya membutuhkan kamar yang lebih. Maka, malam itu saya putuskan menginap di rumah salah satu takmir yang lain, berada di pojok desa. Sesampainya disana, ada telepon.."bahwa ada tamu 2 orang yang sedang mencari saya. wah, tamu istimewa pikirku.." Di Brugak (tempat penerima tamu) sudah menunggu 2 orang pake peci hitam. Satu orang berbadan gemuk putih dan yang satu lagi sudah agak tua, berkulit hitam dan sedikit garang.
Setelah itu terlibat pembicaraan basa basi dan tamu menjelaskan maksud kedatanganya bahwa sebagai abdi negara harus selalu menjaga keutuhan negara, menjaga umat. Tak lupa mereka menanyakan identitas dan kelengkapan yang lain, KTP, surat jalan dan surat tugas. Sambil berbincang ringan mereka menanyakan maksud dan tujuan kesini. Lembaga yang menugaskan dan juga melihat buku panduan ceramah, tak lupa mereka meminta nomor kontak saya. Cukup singkat namun membuat tegang juga. Pagi harinya, pihak tuan rumah karena seorang perangkat desa, seharian penuh diinterogasi. Kenapa dai datang kemari? apa yang dia cari? Sore itu cukup membuat panik beberapa pihak, sebagian teman melihat isi tas saya, jika mungkin ada barang “yang lain”.
Sore hari saya berpamitan untuk pindah rumah, dan juga berbarengan ada tamu dari kecamatan, lalu saya pamit karena ada jadwal ngisi kultum. Tapi kelihatannya ada yang nguntit, dan ternyata benar, ada info kalau malam itu ada yang secara serius mendengarkan kultum istimewa saya dan yang mendengarkan secara khusus pun 2 orang. Yang satunya secara terang-terangan datang kalau dia memang seorang “utusan”.
Malam itu, kepalaku agak berat, dan sedikit pening. Apalagi istriku tadi pagi telpon kalau anakku sakit, oh...terus apa tidak nih? Baru kali ini saya merasakan ketakutan yang amat. Jangan-jangan saya nanti diculik? Tak henti-hentinya saya berdoa. Alhamdulillah akhirnya bisa tidur juga walau sebentar, jam 1 bangun dan terus berdoa akan keselamatan dan kekuatan. Untuk menambah kekuatan, paginya saya ke rumah teman minta masukan, motivasi dan doanya.
Ternyata tidak sampai disitu, masih ada tamu tamu istimewa yang datang kerumah, dengan maksud yang tidak begitu jelas. Mereka menatapku begitu Lekat, membuat diriku jengah. Apapun yang terjadi, mulai hari itu sudah saya putuskan untuk melanjut misi dakwah. Karena daerahnya yang cukup terpencil, di atas perbukitan --seperti daerah persembunyian--, sehingga sosok da'i TPA macam saya patut untuk "diperhatikan".

Ada juga cerita yang lain, pak camat ingin sekali berkunjung kerumah untuk silaturahmi, karena di rumah ini ada saya. Namun hal itu tidak terjadi, karena ada berita kalau isu itu (isu apaan sih? Saat itu saya diisukan menjadi intel yang menyamar jadi ustadz), Isu itu semakin kabur. Jadi pak camat urung kerumah..ada-ada saja....
Puncak kegiatan Tim Dai Ramadhan di Lombok Utara ditandai dengan acara Festival Anak Sholeh I dengan Tema "Ayah bunda, Aku bisa!” Alhamdulillah, bulan Syawal datang juga. Berakhir pula tugas saya. Pamitan diwarnai dengan isak tangis mengharukan.
Mungkin para pembaca berkeinginan menjadi Dai di bulan Ramadhan tahun ini? Silakan di coba. [Edy Hudzaifah – Jogjakarta].

Empat Kelompok Berkonspirasi Membubarkan FPI


Wawancara dengan Ketua Umum DPP Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab

Sebagai salah satu kekuatan massa umat Islam Indonesia, Front Pembela Islam (FPI) yang beranggotakan 7 juta orang dianggap paling berbahaya bagi musuh-musuh Islam. Pasalnya, FPI dinilai paling keras dalam memberantas kemaksiyatan sebagai wujud dari pelaksanan amar makruf nahi mungkar di Indonesia. Maka tidaklah mengherankan jika mereka bersatu dan melakukan konspirasi dengan menghalalkan segala cara untuk membubarkan FPI.

Sejak tahun 2006, FPI berusaha diadu domba dan difitnah, agar pemerintah memiliki dalih untuk membubarkan FPI. FPI berusaha dibenturkan dengan Banser dan terakhir dengan Satgas PDIP. Namun perilaku jahat kelompok Liberalis itu selalu mengalami kegagalan. Terakhir pada peristiwa Banyuwangi (24/6) lalu, dimana FPI difitnah akan membubarkan sosialisasi kesehatan yang dilakukan tiga anggota DPR RI, namun nyatanya konsolidasi para eks tapol PKI.

Berikut ini wawancara dengan Ketua Umum DPP FPI, Habib Rizieq Syihab, seputar konspirasi jahat untuk membubarkan FPI. Jika sampai berhasil, maka akan menjadi langkah awal untuk membubarkan ormas-ormas Islam di Indonesia yang dinilai keras menentang kedholiman dan ketidakadilan.  

Apakah ada konspirasi untuk membubarkan Front Pembela Islam (FPI)  pasca peristiwa Banyuwangi atau sebelumnya ?

Sebetulnya konspirasi sejumlah pihak untuk pembubaran FPI sudah berlangsung sejak lama. Kita juga sudah mengidentifikasi pihak-pihak yang melakukan konspirasi untuk membubarkan FPI. 

Pertama, kelompok mafia,  yang memang selama ini FPI dianggap sebagai momok yang sangat menakutkan sekaligus menganggu bisnis haram mereka. Adapun yang saya maksud mafia disini, apakah mereka yang terlibat dalam sindikat narkoba, film-film porno, perjudian, pelacuran dan sebagainya. Ini semua sudah menjadi sindikat dan bukan kejahatan biasa, sementara FPI sejak lahir sangat concern dalam persoalan tersebut.  FPI banyak mengungkap, menguak bahkan memejahijaukan mereka sehingga sudah jelas mana kelompok mafia ini menjadikan FPI sebagai musuh. Mereka mempunyai kepentingan untuk membubarkan FPI.

Kedua, yang masuk dalam konspirasi adalah kelompok liberal. Karena mereka melihat FPI secara fulgar melakukan konfrontasi terhadap gerakan-gerakan kaum liberal. Artinya FPI tidak lagi sembunyi-sembunyi bahkan perang pemikiran maupun  perang di lapangan sekalipun. Karena kalau kita lihat peristiwa perjuangan RUU Pornografi dan Pornoaksi, bagaimana kelompok liberal memanfaatkan preman-preman untuk menyerang posko FPI di berbagai daerah. Jadi artinya mulai perang pemikiran sampai perang otot. Belakangan kita lihat banyak usaha kaum liberal yang kandas, apakah itu judicial review UU Pornografi, UU Penistaan Agama. Termasuk juga upaya mereka memanfaatkan Gus Dur untuk membatalkan TAP MPRS No XXV/MPRS/ 1966 soal PKI, tetapi kan usaha mereka kandas. Sebetulnya kandasnya mereka bukan hanya karena perjuangan FPI, tetapi semua ormas Islam. Cuma karena FPI dianggap terlalu fulgar, mungkin lebih meninjau atau mungkin konfrontasinya lebih terbuka, sehingga mereka melihat FPI sebagai musuh utama. Jadi kelompok liberal ini masuk dalam konspirasi tersebut.

Ketiga, kelompok Kristen radikal. Radikalisme ada di semua kelompok. Kelompok Kristen radikal mempunyai catatan tersendiri terhadap laskar-laskar Islam, mulai dari peristiwa Ambon hingga Poso. Dimana salah satu diantaranya adalah FPI. Ditambah lagi gerakan Kristen radikal ini yang mencoba mendirikan gereja-gereja liar di berbagai tempat. Jadi bukan geraja resmi yang mempunyai ijin resmi dan sesuai dengan peruntukannya, no problem. Markas FPI di Petamburan Jakarta Pusat ini sekitarnya ada 5 gereja, hubungannya dengan FPI saat ini baik-baik saja. Bahkan para pendetanya suka sowan kemari dan kita diskusi, no problem. Kenapa, karena gereja-gereja ini resmi punya ijin dan sesuai dengan peruntukannya. Sementara kalau ruko jadi gereja, kan lain cerita. Berarti peruntukannya untuk rumah tinggal dan toko, kok tiba-tiba berubah jadi gereja.

Sebetulnya penutupan gereja-gereja liar ini merupakan gerakan masyarakat, tetapi lagi-lagi FPI yang dituduh. Mungkin dalam gerakan tersebut ada warga FPI yang ikut bersama masyarakat. FPI kan sekarang dimana-mana ada, warganya juga dimana-mana ada. Tidak selalu perbuatan mereka mengatasnamakan organisasi FPI. Ada kalanya mereka bergerak atas nama organisasi tetapi ada kalanya atas nama masyarakat, jadi mereka tidak sendiri. Kalau mereka bersama masyarakat setempat, jangan salahkan FPI. Tetapi walau bagaimanapun juga, keterlibatan warga yang berafiliasi kepada FPI ini akhirnya membuat FPI terseret juga, Sehingga bagi kelompok Kristen radikal, FPI menjadi musuh utamanya. Jadi ada kelompok mafia yang merasa bisnis haramnya terganggu, ada kelompok liberal yang aqidah sesatnya juga terganggu dan ada kelompok Kristen radikal yang gerakan Kristenisasinya juga terganggu.

Keempat, adanya konspirasi politik. Kelompok-kelompok politik melihat banyak kepentingan politik mereka yang terganggu dengan gerakan-gerakan ormas Islam. Sekarang ada konspirasi, dimana kelompok politik ingin mengoalkan suatu UU, tiba-tiba UU ini berbenturan dengan Syariat Islam.  Secara otomatis akan berhadapan dengan gerakan Islam dan salah satunya adalah FPI. Mungkin dimata mereka FPI dilihat terlalu fulgar melakukan konfrontasi, sehingga dianggap menganggu agenda politik mereka. Jadi konspirasi antara kelompok mafia, liberal, Kristen radikal dan politik. Mereka bersatu untuk menjadikan FPI sebagai musuh bersama. 

Berarti mereka mencari momentum yang tepat untuk membubarkan FPI?

Akhirnya mereka mencoba mencari momentum untuk pembubaran FPI. Momentum apa saja yang mereka dapat, apakah momentum peristiwa Depok, dimana ada kontes waria yang dibubarkan warga yang didalamnya juga ada FPI. Bagaimana dengan peristiwa Bekasi, dimana ada patung yang dirubuhkan, walaupun sebetulnya yang merubuhkan patung adalah Walikota Bekasi, bukan FPI atas desakan masyarakat. Tetapi di media massa yang dituduh kan FPI.

Kenapa peristiwa Banyuwangi dianggap momentum, karena memang lebih dahsyat daripada Bekasi, Singkawang dan Depok. Persoalannya ada tiga anggota DPR RI yang katanya sedang melakuan kunjungan kerja.  Artinya, kalau melibatkan anggota DPR RI berarti bersingungan dengan lembaga tinggi negara. Ini berarti bisa dikatakan subversib kalau membubarkan acara negara. Meraka lihat ini momentum penting untuk dibenturkan dengan berita FPI telah membubarkan kunjungan kerja anggota DPR RI dan FPI mengusir anggota DPR RI.

Peristiwa Banyuwangi mereka jadikan momentum untuk membubarkan FPI. Cuma mereka kecelek, mereka salah fakta, karena ternyata di Banyuwangi, subhanallah nasrullah. Tepatnya pada 25 April 2010 lalu, DPW FPI Banyuwangi dibekukan karena ada konflik internal diantara mereka yang terkait Pilkada. Kemudian sikap politik dari para pengurus FPI berbeda, yang membuat mereka ada sedikit konflik. Kemudian kita tugaskan Sekjen FPI untuk menyelesaikannya dan  akhirnya disepakati supaya tidak ada fihak yang dimenangkan dan dikalahkan, maka dibekukan dulu. Berarti, kalau sudah dibekukan tidak boleh ada pergerakan apapun atas nama FPI. Tahu-tahu mereka mengkaitkannya dengan FPI, kan salah fakta dan mereka kecelek. Pada peristiwa ini kan tidak ada yang memakai seragam FPI. Jadi kesimpulannya, mereka salah fakta. Mereka sudah ramai-ramai ingin membubarkan FPI, ternyata salah fakta.

Begitu Munarman, Ustad Awit dan Ustad Khathath tampil di televisi, dengan debat terbuka dan kita ungkapkan fakta-faktanya, akhirnya mereka malu sendiri. Karena mereka malu, maka mereka lari ke berbagai peristiwa sebelumnya seperti insiden Monas. Sekarang semua film yang ditayangkan Metro TV, RCTI atau televisi swasta lainnya, itu peristiwa yang sudah diadili, sudah divonis dan pelakunya sudah dipenjara, artinya sudah inkracht dan  sudah selesai. Tidak ada satu persoalan hukum yang diadili sampai dua kali. Kalau persoalan hukumnya telah selesai, kok televisi mengadili lagi. Pengadilan saja tidak berhak untuk mengadili lagi, apalagi televise. Jadi kesimpulannya, mereka kecelek.

Mengapa selama ini media massa terutama televisi dan koran selalu memojokkan FPI, bagaimana tanggapan Habib ?

Kalau media massa memojokkan FPI, memang ada beberapa asumsi. Pertama, kelompok-kelompok yang memusuhi FPI adalah kelompok beruang seperti kelompok mafia, liberal, Kristen radikal dan kelompok politik. Meraka bisa dengan mudah untuk memberi siaran televisi. Jadi ini hanya persoalan duit, siapa yang bisa bayar itu yang mereka beritakan dengan senang hati.

Saya kasih contoh, pada saat Ustad Awit tampil di salah satu televisi dengan menyerahkan salah satu film ceramah  Ribka Tjiptaning di Banyuwangi, mereka kita tantang untuk berani setel ini karena isinya soal PKI, ternyata mereka tidak berani. Adapun yang disetel lagi ribut-ributnya.  Tetapi ceramah Ribka soal PKI di Banyuwangi selama 20 menit, kok tidak berani mereka setel. Apa karena FPI tidak bayar, kalau disuruh bayar nanti dulu. Tadi itu asumsi pertama, tetapi indikasinya kan kuat siapa punya duit bisa menguasai media massa.

Kedua, jangan lupa, hampir semua stasiun televisi tidak ada yang luput dari protes FPI. Hampir semua televisi pernah didemo oleh FPI. Biasalah, mungkin mereka tersinggung karena pernah didemo FPI. Jadi mereka enggan untuk menyiarkan berita-berita yang menurut mereka dapat mengangkat citra FPI. Jadi sepertinya ada sakit hati dan dendam kepada FPI yang pernah mendemo mereka. FPI tidak peduli kalau mereka salah kita demo. Metro TV, SCTV, RCTI dan Indosiar pernah kita demo, bahkan TVRI pernah kita demo.  Televisi mana yang tidak pernah kita demo. FPI tidak peduli  memdemo televisi, yang penting kalau salah ya kita protes. FPI tidak peduli apakah beritanya akan dimuat  atau tidak dimuat di televisi. Itu asumsi kedua, artinya indikasinya kan ada.

Ketiga, ini yang paling kuat. Sesuai dengan dokumen Rand Corporation, disitu ditulis donasi-donasi AS dan sekutunya memang berupaya dengan segala kekuatan finansialnya untuk membeli media massa. Paling tidak, kalau tidak beli ya mereka kuasai. Itu memang ada dalam Rand Corporation, itu artinya terperinci betul. Adapun yang menarik disitu juga disebutkan, kalau ada perbuatan-perbuatan yang menaikkan citra yang dilakukan kelompok Islam manapun tidak boleh dimuat. Bukan hanya FPI, tetapi kelompok Islam manapun. Sebaliknya, kalau ada perbuatan-perbuatan yang sekiranya dapat menurunkan citra kelompok Islam, maka harus dimuat dan harus diulang-ulang.

Makanya jangan kaget, kita bisa lihat acara di Metro TV dan SCTV, peristiwa penyerangan tempat biliar yang dijadikan ajang judi oleh laskar FPI tahun 2002 atau sudah 8 tahun lalu. Tetapi film itu selalu diulang, kadang-kadang kalau diulang seperti peristiwa Banyuwangi filmnya selalu diulang. Berarti apa yang dilakukan SCTV dan Metro TV serta beberapa televisi lain sesuai dengan dokumen Rand Corporation. Bukan saya mencoba mengkait-kaitkan, tetapi faktanya memang begitu.

Apa isi dokumen Rand Corporation ?

Dalam dokumen itu juga disebutkan, kalau kelompok-kelompok Islam yang mereka anggap sebagai musuh, kalau menyebutkan identitas cukup nama saja, tidak perlu disebut titelnya seperti Prof Dr dan sebagainya.  Kalau Kyai Haji  dan Habib jangan disebut KH dan Habibnya. Kalau Ustad jangan disebut ustadnya, pokoknya disebut namanya saja. Tetapi sebaliknya, kalau kelompok yang mendukung mereka harus disebut dengan lengkap titelnya, seperti Prof, Dr, PhD, MA, MSc dan sebagainya, itu tertulis dalam dokumen Rand Corporation. Jadi dengan demikian, ini memang grand design mereka. Jadi tidak perlu kaget dan ini tidak akan menjadi yang terakhir. Besok pasti mereka akan mencari lagi momentum untuk membubarkan FPI, dan  itu akan terus berlangsung sampai mereka berhasil membubarkan FPI. Kita harapkan sekarang gerakan Islam semakin merapatkan barisan dan memperkokoh ukhuwan Islamiyah, karena sebetulnya yang ditarget itu bukan hanya FPI saja tetapi semua gerakan Islam. Mungkin FPI dianggap sebagai pintu gerbangnya untuk dibobol terlebih dahulu.

Apa kerugian yang akan dialami bangsa Indonesia seandainya FPI sampai dibubarkan ?

Secara pribadi kalau FPI dibubarkan tidak ada masalah.  Kalau hari ini Front Pembela Islam dibubarkan, maka besok akan saya bikin Front Pecinta Islam. Dengan singkatan yang sama, pengurus yang sama, gerakan yang sama dan wajah yang sama pula, kan UU tidak melarang. Jadi saya tidak pernah pusing dengan pembubaran. Nanti kalau Front Pecinta Islam juga dibubarkan, maka akan saya bentuk Front Penyelamat Islam. Jadi mengapa pusing-pusing, saya tidak pernah pusing mengenai pembubaran ini, tidur saya tetap nyenyak.

Jadi saya bicara pribadi, artinya yang ingin saya tekankan, ada FPI atau tidak ada FPI amar makruf nahi mungkar tetap wajib dijalankan. Ada FPI atau tidak ada FPI, perjuangan para kader FPI yang ada dimana saja tetap berjalan. Artinya, saya dan kawan-kawan yang ada di FPI tidak pernah menjadikan FPI sebagai tujuan perjuangan. Kita selalu mengingatkan, FPI cuma kendaraan. Jadi kalau kendaraan ini rusak ditengah jalau atau dibakar orang atau dicuri orang atau kendaraan terbalik dan tidak bisa dipakai lagi, kita ganti kendaraan yang lain. Kenapa susah-susah amat karena FPI bukan  tujuan. Tujuan kita hanya mencari ridha Allah, tujuan kita liilai kalimatillah subhanahu wa taala. Jadi bukan tujuan kita mencitrakan FPI, membaguskan FPI, membesarkan FPI. Itu hanya proses perjuangan, tujuannya liilai kalimatillah subhanahu wa taala.

Itu yang secara pribadi saya melihat wacana pembubaran FPI, bahkan saya katakan bukan wacana lagi. Sebab ini sudah merupakan gerakan  sistimatis  yang dilakukan musuh-musuh Islam untuk membubarkan FPI. Tetapi memang kalau kita bicara secara umum buat masyarakat kasihan.  Kalau  ormas Islam bukan hanya FPI  yang concern terhadap amar makruf nahi mungkar terhadap penegakan keadilan melawan kedholiman. Kalau yang seperti ini sampai dibubarkan, kasihan umat Islam itu sendiri.  Artinya kekuatan mereka semakin lemah, kekuatan pembelaan mereka semakin surut. Bahkan kita khawatirkan  begitu ada ormas Islam semacam FPI yang dibubarkan, jangan-jangan nanti ada masyarakat yang takut untuk berjuang. Itu yang kita khawatirkan. Artinya mereka nanti akan menjadikan proyek percontohan. Jangan keras-keras, nanti nasibnya akan seperti FPI. Nanti kita jadi takut melawan kedholiman, kemungkaran, mafia, bajingan dan takut melawan okum pejabat yang bejat akhlaknya, ini berbahaya. Jadi kalau ada pembubaran suatu ormas Islam, ini kan melemahkan semangat juang umat Islam Indonesia. Walaupun secara pribadi kita tidak akan kendor, walaupun dibubarkan sepuluh kalipun kita tetap akan berjuang. Tetapi umat yang awam kan tidak begitu fikirannya.

Jadi kalau FPI dibubarkan, berarti akan mengulang sejarah ketika Soekarno meminta Masyumi membubarkan diri atau dibubarkan tahun 1960 lalu ?

Kalau kita kembali kepada sejarah Sukarno, ini kan sejarah yang sangat oronis. Tatkala Masyumi dituduh terlibat dalam PRRI,  ini kan tuduhan dan firtnah, Masyumi kemudian dibubarkan. Tetapi begitu PKI yang nyata-nyata berkhianat, Sukarno tidak membubarkannya. Ini fakta sejarah, ada apa ? Seharusnya Sukarno bersikap adil. Kalau Masyumi dibubarkan, PKI yang terlibat pemberontakan G30S seharusnya dibubarkan. Ini lebih berbahaya,  tetapi  nyatanya tidak dibubarkan Sukarno.

Sejak zaman kemerdekaan, terjadi pergulatan apakah itu ideologi, pertempuran fisik antara kelompok Islam dengan sekuler. Jadi kelompok sekuler ini memang selalu ingin menang sendiri. Jadi segala yang jelek dari sekuler mereka maklumi, tetapi apapun yang kelihatannya jelek dari kelompok Islam, kalaupun  tidak jelek mereka jelek-jelekkan. Itu akan dijadikan mereka alasan untuk penghancuran.

Sekarang kalau kita bicara soal pembubaran, kita lihat alasannya. Apa alasan  mereka ingin membubarkan FPI, karena FPI melakukan sejumlah kekerasan. Saya tidak ingin membela diri. Katakanlah benar FPI melakuan kekerasan, itupun kekerasan harus kita diskusikan dulu. Apa betul itu kekerasan, apa betul itu kekerasan struktural yang dilakukan secara organisatoris atau bagaimana. Itu masih perlu diskusi dan pembuktian dulu, andaikata FPI dituduh keras dan musti dibubarkan. Pertanyaan kita, bagaimana dengan berbagai kekerasan yang dilakukan partai politik. Berbagai pilkada di daerah sejak reformasi hingga sekarang ini selalu diwarnai kekerasan. Ada pembunuhan, pembakaran gedung pemerintana, pembakaran mobil, pembakaran pom bensin, luar biasa. Itu yang tidak pernah dilakukan FPI. FPI tidak pernah bakar gedung pemerintah, FPI tidak pernah membunuh Ketua DPRD, ini kan massa partai.

Kalau FPI dibubarkan, Parpol harus juga dibubarkan ?

Jadi kalau massa FPI melakukan kekerasan FPI nya harus dibubarkan, maka logikanya kalau massa partai melakuan kekerasan, maka partainya harus juga dibubarkan. Sekarang massa PDIP, PKB dan Demokrat melakukan kekerasan. Kalau begitu PDIP, PKB dan Demokrat harus dibubarkan. Ini kalau kita memakai logika pembubaran. Jadi tidaklah adil jika ada massa FPI melakukan kekerasan maka FPI dibubarkan. Tetapi kalau massa partai yang melakukan kekerasan, partainya tidak dibubarkan, enak betul ! Memang yang punya negara ini partai ! Kekerasan yang dilakukan massa partai lebih dahsyat, lebih keras bahkan biadab. Masak Ketua DPRD Sumatera Utara sampai dibunuh di dalam Gedung DPRD. Pembakaran gedung kabupaten seperti di Tuban dan pembakaran mobil di Mojokerto. Apa ada aksi FPI semacam itu. Apa ada massa FPI seperti itu. FPI paling-paling memakai pentungan. Adapun yang dirusak cuma kaca biliar dan tidak lebih dari itu. Ini kalau kita bicara fakta. Kalau pemerintah ingin membubarkan FPI, maka PDIP, PKB, Demokrat dan Golkar juga dibubarkan, jadi sama-sama bubar, termasuk negara ini juga bubar.

Selama ini kelompok liberal ingin membenturkan FPI dengan massa Gus Dur dan sekarang PDIP, tetapi usaha mereka selalu gagal ?


Kelompok liberal ini tidak mempunyai massa, tidak mempunyai grass-roots. Mereka antek Barat dan hanya mampu membuat LSM-LSM komprador. Mereka dibantu dengan bantuan asing, ini mereka sendiri yang mengakuinya.   Kalau kita ingin bicara jujur, FPI ingin dibubarkan karena  melangar UU No. 8 Tahun 1985 tentang Keormasan. Sekarang salah satu larangan dalam UU Keormasan adalah menerima bantua luar negeri atau asing. LSM yang dibuat kelompok liberal, semuanya menerima bantuan asing.  Bubarkan meraka dulu, FPI sudah siap untuk dibubarkan. Jadi kita bubar-bubaran, mereka ini tidak bercermin. Jadi kalau ada pepatah  mengatakan kuman disebarang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak.  Kesalahan FPI yang kecil jauh mereka lihat, tetapi kesalahan mereka yang besar dalam diri  mereka sendiri, tidak mereka lihat.

Kelompok liberal memang tidak punya massa. Masyarakat mana yang mau jadi antek asing. Serendah-rendahnya pendidikan, pemikiran, status sosial dan ekonomi  masyarakat Indonesia, secara umum mereka masih mempunyai ras cinta tanah air, cinta bangsa dan negara. Mereka tidak mau menjual negaranya untuk orang asing. Sehingga kelompok liberal tidak mendapatkan tempat di tengah masyarakat dan mereka tidak mempunyai kekuatan grass-roots. Adapun yang mempunyai kekuatan grass-roots di Indopnesia seperti NU dan Muhammadiyah. Kalau partai politik seperti PDIP yang mengakar ke bawah.

Kelompok liberal  melihat FPI sebagai ancaman dan FPI mempunyai kekuatan grass-roots kebawah. Bagaimana cara untuk menghadapi FPI, mereka berusaha untuk menunganggi NU tetapi tidka berhasil. Karena waktu itu Ketua PBNU KH Hasyim Muzadi, beliau dikenal orang baik, cerdas dan tidak bisa ditunggangi oleh Ulil dan kawan-kawan. Karena itu ketika tersiar kabar di beberapa daerah terjadi konflik antara massa FPI dengan NU, KH Hasyim Muzadi langsung klarifikasi.  Itu ternyata bukan NU, tetapi massa preman yang dibayar suatu kelompok dan dipakaikan baju NU. Akhirnya kebongkar semua dan mereka cuma ingin mengadu domba.

Dikabarkan ada  seorang tokoh yang kirim Banser palsu ke Pengadilan, tetapi ternyata itu preman yang diberi baju Banser. Padahala Banser sendiri tidak tahu menahu. Berbagai cara kotor seperti ini dilakukan kelompok liberal. Karena Gus Dur sudah meninggal dunia dan mereka menunganggi NU sudah tidak ada pintunya, maka sekarang mereka mencoba menunganggi PDIP. Kebetulan ada kasus Banyuwangi PDIP sedang marah, maka masuk Ulil ngipasin PDIP. Kebetulan Ulil pengurus Partai Demokrat. Maka kita sampaikan informasi itu ke PDIP, apa anda mau ditunganggi sama Partai Demokrat dan diadu dengan FPI, sehingga PDIP jadi mawas diri. (Abdul Halim)
 

Media Dakwah Copyright © 2010 LKart Theme is Designed by Lasantha