Rabu, 28 Juli 2010

Obama tepis bocoran Wikileaks

media dakwah
Presiden AS Barack Obama mengatakan pembocoran dokumen rahasia mengenai perang di Afghanistan merisaukan, tapi tidak mengungkapkan informasi baru.

Dalam reaksi publik pertamanya atas pembocoran, Presiden Obama mengatakan data itu memperkuat alasan keputusannya untuk merombak strategi militer AS di Afghanistan.

Wikileaks, yang memposting dokumen rahasia di situs internet, menggambarkan berkas-berkas tersebut sebagai laporan medan tempur dan intelijen.

Rincian baru, termasuk laporan mengenai Osama bin Laden muncul dari berkas-berkas tersebut.

Beberapa berkas merunut Bin Laden, meski Amerika Serikat menyatakan tidak menerima informasi yang bisa dipercaya mengenai pemimpin al-Qaida ''bertahun-tahun'' ini.

''Meski saya merisaukan tentang pengungkapan informasi sensitif dari medan tempur yang bisa mengancam perorangan atau operasi, faktanya adalah bahwa dokumen ini tidak mengungkapkan masalah yang belum menjadi informasi dalam debat publik mengenai Afghanistan,'' kata Obama dalam konferensi pers di Washington.
Bocoran utama Wikileaks

* Laporan ancaman antara 2004 dan 2009 yang mengkaitkan pemimpin al-Qaida Osama bin Laden dengan kegiatan perlawanan

* Hampir 200 laporan mengenai Task Force 373, operasi khusus militer pasukan elit dengan tugas memburu dan menghabisi petempur musuh

* Tuduhan bahwa dinas intelijen Pakistan, ISI mengarahkan atau merencanakan serangan pemberontak

* Serangan terhadap pesawat udara mengindikasi pemberontak memiliki senjata canggih, termasuk rudal pelacak panas

''Memang mereka [berkas rahasia] mengacu ke tantangan-tantangan yang sama yang mendorong saya mengadakan peninjauan ekstentif terhadap kebijakan kita musim gugur lalu,'' ujar Obama.

''Selama tujuh tahun, kita gagal untuk menerapkan strategi yang memadai untuk menghadapi tantangan di kawasan ini,'' tambah presiden AS, seraya menegaskan bahwa Afghanistan merupakan asal serangan 11 September dan rencana teror lain.

''Itulah sebabnya kita memperbesar komitmen kita di sana, bertekad untuk mendapatkan akuntabilitas lebih besar dari Afghanistan dan Pakistan, mengembangkan strategi baru yang bisa bekerja. Kini kita harus menggulirkan strategi itu,'' katanya.

Sementara itu, departemen pertahanan AS, Pentagon, telah mulai mengadakan ''penyelidikan yang sangat seksama'' untuk menemukan pihak yang menyampaikan dopkumen rahasia itu ke Wikileaks.

Dalam perkembangan terpisah, Divisi Investigasi Angkatan Darat AS juga menggulirkan penyelidikan tersendiri atas kebocoran berkas informasi rahasia tersebut.(sumber: www.bbc.co.uk)

Israel Hancurkan Sebuah Desa Milik Suku Badui

media dakwah
NEGEV (Arrahmah.com) - Otoritas zionis Israel telah menghancurkan rumah milik 300 penduduk suku pedalaman di sebuah desa yang berlokasi di selatan gurun Negev.
Penghancuran ini dilakukan pada Selasa (27/7/2010) menggunakan buldoser-buldoser militer.  Selain rumah, penduduk juga kehilangan ternak dan tanaman mereka.

Desa Al-Arakib dihuni oleh sekitar 40 rumah, merupakan salah satu desa dari 45 desa milik suku pedalaman yang akan dihancurkan oleh Israel.

Sekitar 5 buldoser tiba pada pukul 5.30 pagi untuk menghancurkan puluhan rumah.

Penduduk lokal dan sekitar 150 aktivis mencoba menghalangi eksekusi yang dilakukan Israel, karena perlawanan ini, beberapa orang terluka dan beberapa aktivis ditangkap.

Kebanyakan dari penduduk Al-Arakib pindah ke pemakaman untuk bernaung. (haninmazaya/arrahmah.com)

Sebut Islam Pengultusan, Calon Gubernur Tennese, AS, Dikecam

NASHVILLE, TENNESE, AS (addakwah.com) --Kandidat gubernur Tennesse, AS, dari partai Republik, Ron Ramsey, mendapat kritik tajam dari kelompok advokasi Muslim nasional. Pasalnya Ron dalam sebuah pernyataan di depan publik sempat mempertanyakan apakah Islam cenderung sebuah pengultusan ketimbang sebuah agama.

Dalam sebuah acara di Chattanoga, awal bulan ini, Ramsey berkata, "Anda dapat berargumen apakah menjadi seorang Muslim sebenarnya memeluk agama, ataukah itu sebuah nasionalisme, cara hidup, pengultusan atau apa pun yang ingin anda sebut?"

Jurubicara Dewan Hubungan Amerika Islam (CAIR), Ibrahim Hooper, mengatakan komentar Ramsey adalah tanda-tanda tren gangguan di Amerika. Ia menilai nada komentar ingin menyatakan bahwa muslim Amerika seharusnya memiliki hak konstitusi lebih sedikit atau lebih ketat dibanding warga penganut keyakinan lain.

Ibrahim mendesak Ramsey untuk bertemu dengan anggota komunitas Muslim di Tennesse yang ia sebut "mampu menawarkan keseimbangan dan informasi akurat tentang Islam kepadanya."

Ramsey melontarkan pernyataan itu sebagai respon keprihatinannya bahwa sudah terlalu banyak hal dalam Islam yang lebih mirip filosofi politik penuh kekerasan ketimbang agama cinta damai. "Waktunya bagi muslim Amerika yang mencintai negara ini untuk menyatakan perang terhadap jihad kekerasan dan menentang mereka yang mencoba melukai Amerika dengan bermacam komunitas keyakinannya," ujarnya.

Komentar itu muncul di tengah ketegangan emosi kalangan warga AS atas rencana pendirian masjid dan Islamic Center di Murfreesboro, yang sempat memunculkan demo dari kedua pihak, pendukung dan penentang. Ramsey berdalih, saat berkampanye di Chattanooga ia tak pernah ditanya tentang Islam hingga kontroversi pendirian masjid itu mencuat. Politisi yang sempat menjadi kandidat pemilihan Kongres tahun lalu, juga menyeru bahwa masjid adalah ancaman bagi moral dan landasan politik negara.(sumber: republika)

Islam Berkembang Begitu Pesatnya di Eropa dan Amerika

media dakwah
JAKARTA (addakwah.com)--Islam merupakan agama yang paling cepat perkembangannya di Eropa dan Amerika. Islam kini makin mendapat tempat di hati masyarakat Eropa dan Amerika. Sejak menyebarnya Islam ke Eropa pada abad ke-7 Masehi melalui Andalusia (Spanyol) oleh pasukan Thariq bin Ziyad, panglima tentara dari Dinasti Bani Umayyah, benua putih dan biru itu seakan menjadi lahan subur penyebaran dakwah dan syiar Islam.

Dalam 30 tahun terakhir, jumlah kaum Muslimin di seluruh dunia telah meningkat pesat. Sebuah angka statistik menunjukkan, pada tahun 1973 penduduk Muslim dunia sekitar 500 juta jiwa. Namun, saat ini jumlahnya naik sekitar 300 persen menjadi 1,57 miliar jiwa. Tercatat, satu dari empat penduduk dunia beragama Islam.

Data ini diungkapkan oleh Pew Research Center, sebuah kelompok pencari fakta Amerika yang menyediakan informasi mengenai isu, sikap, dan tren yang membentuk Amerika dan dunia melalui sebuah jajak pendapat publik. Dalam studinya yang berjudul "Memetakan Populasi Muslim Global: Sebuah Laporan Tentang Jumlah dan Distribusi Populasi Muslim Dunia", kelompok ini mengindikasikan bahwa seperlima kaum Muslim (300 juta) tinggal di negara-negara non-Muslim.

Hasil studi yang dirilis akhir tahun lalu ini juga menemukan bahwa Eropa memiliki sedikitnya 38 juta Muslim yang membentuk lima persen dari total populasi benua tersebut. Sebagian besar terkonsentrasi di Eropa Tengah dan Timur. Rusia memiliki lebih dari 16 juta Muslim, dan terbesar di Eropa. Menurut studi tersebut, Jerman memiliki pemeluk Muslim sebanyak 4,5 juta, Prancis sebesar 3,5 juta jiwa, Inggris sekitar dua juta orang, dan Italia sebanyak 1,3 juta jiwa.

Sisanya tersebar di beberapa negara Eropa lainnya seperti Portugal, Swedia, Belanda, Swiss, Belgia, dan lainnya. Namun demikian, jumlah ini diperkirakan bertambah lagi. Sebab, sebuah hasil studi di Rusia menyebutkan, jumlah pemeluk Islam di negara Beruang Merah tersebut mencapai 25 juta jiwa dari total populasi yang mencapai 145 juta jiwa.

Studi tersebut mengatakan bahwa hampir 46 juta Muslim berada di benua Amerika. Di negara super power, Amerika Serikat, agama Islam dipeluk oleh sekitar 2,5 juta orang. Sementara itu, di Kanada jumlah pemeluk Islam mencapai 700 ribu orang. Tak jauh berbeda dengan Argentina. Umat Islam di negara Tango itu mencapai 800 ribu orang, dan merupakan pemeluk Islam terbesar di Amerika Selatan. Sementara itu, di Suriname, pemeluk Islam mencapai 16 persen dari total penduduknya, dan menjadi populasi Muslim terbesar di benua Amerika.

Data yang disampaikan oleh pihak Pew Research Center mengenai populasi Muslim di Barat, terutama di Eropa dan AS itu bertolak belakang dengan perhitungan yang biasanya dilaporkan oleh organisasi-organisasi Muslim di kawasan-kawasan tersebut. Muslim di AS, misalnya, secara umum diyakini berjumlah lebih dari tujuh juta sementara Prancis lebih dari enam juta.

Faktor pemicu

Peningkatan umat Islam yang demikian pesat itu, bukan saja karena disebabkan oleh meningkatnya jumlah penduduk di negara-negara Muslim, tapi juga bertambah jumlah orang-orang yang memeluk Islam (mualaf). Hal ini merupakan suatu fenomena yang menonjol, terutama setelah serangan terhadap World Trade Center (WTC) pada tanggal 11 September 2001. Ketertarikan secara alamiah dan rasa ingin tahu yang mendalam, telah mendorong peningkatan jumlah warga dunia yang berpaling kepada Islam.

''Alhamdulillah, kondisi umat Islam di AS baik-baik saja. Umat Islam terus bertambah banyak di sini, baik sebelum maupun sesudah peristiwa 11 September 2001,'' ujar Mohammad Kudaimi, anggota Nawawi Foundation, sebuah lembaga pendidikan yang berbasis di Chicago, Amerika Serikat (AS).

Menurut pria keturunan Suriah ini, dalam lima tahun terakhir ini, agama Islam menjadi agama yang paling cepat perkembangannya di bandingkan dengan agama lainnya. Ia mengatakan, setiap harinya selalu ada warga negara non-Muslim AS yang memeluk Islam. Kondisi serupa juga terjadi benua Eropa dan kawasan Amerika lainnya. Menurut laporan surat kabar Times, setelah peristiwa 11 September, agama Islam mendapatkan perhatian besar dari kalangan warga kulit putih Inggris yang berekonomi kuat dan berpendidikan. Peristiwa itu, bukannya membuat makin besar stigma negatif, tetapi makin menambah jumlah anak-anak muda dan peneliti yang termotivasi untuk mempelajari Islam. Bahkan, mereka makin tertarik dan Akhirnya memeluk Islam.

Di Belgia, agama Islam terus menunjukkan eksistensi yang semakin kuat, walaupun kebencian terhadap umat Islam, sudah tak lagi sebatas retorika, kebijakan, atau kecaman, melainkan mengarah pada kebencian dan Islamophobia. Di negara berpenduduk 10 juta jiwa itu kini menjadi tempat bermukim sekitar 628.751 umat Muslim, atau enam persen dari populasi.

Jumlah pemeluk Islam yang terus berkembang, menyebabkan perubahan secara demografi. Di banyak wilayah, penduduk Muslim sudah lebih banyak ketimbang pemeluk Kristen Protestan dan Yahudi. Majalah terkemuka L'Express dalam sebuah artikelnya, bahkan berani memprediksikan bahwa dalam 20 tahun ke depan, Islam bisa menjadi agama dominan di ibu kota Brussel, Belgia.

Para sosiolog di Belgia mencatat, pada awal tahun 2000, jumlah umat Muslim di kota itu mencapai 17 persen dari populasi. Tapi di tahun 2008, menurut Oivier Servais, dari Laboratory for Prospective Anthropology di UCL, angkanya sudah mencapai 33,5 persen dari populasi, naik hampir dua kali lipat. Di kota ini, sebanyak 33,5 persen penduduknya atau sekitar 350 ribu orang dari 1,1 juta jiwa, memeluk Islam. Subhanallah.(sumber: republika)

Terbukti Demokrasi Mahal, MUI Desak Koreksi Pemilu

media dakwah
Jakarta (addakwah.com) - Munas MUI telah usai dan ditutup oleh wapres Boediono, setidaknya ada beberapa rekomendasi. Rekomendasi Musyawarah Nasional (Munas) Majelis Ulama Indonesia (MUI) VIII juga menyoroti masalah politik. Di bidang tersebut, MUI meminta pemerintah meninjau ulang pelaksanaan pemilihan umum kepala daerah.

"MUI mengusulkan agar pihak DPR dan pemerintah secara serius meninjau ulang sistem pemilukada," kata Ketua Bidang Dakwah MUI Amrullah Ahmad.

Hal itu dikatakan dia saat membaca butir G rekomendasi MUI itu di depan Wakil Presiden Boediono saat penutupan Munas di Twin Plaza Hotel, Jl Gatot Subroto, Jakarta Barat, Rabu (28/7/2010).

...MUI mengusulkan agar pihak DPR dan pemerintah secara serius meninjau ulang sistem pemilukada," kata Ketua Bidang Dakwah MUI Amrullah Ahmad...

Menurut Amrullah, fenomena pemilihan pemimpin secara langsung di tingkat daerah ternyata menimbulkan praktek kapitalisme dan liberalisme dalam perpolitikan. Praktek tersebut membawa sejumlah dampak buruk.

Pertama, terjadinya dominasi pemilik modal kuat dalam pemilukada tanpa mempertimbangkan kapabilitas, kapasitas, dan intergritas calon. Kedua, terjadinya konflik horizontal antar pendukung calon akibat cara-cara yang liberal dan pragmatis dalam pemilukada.

"Ketiga, terjadi pemborosan keuangan negara dan masyarakat yang seharusnya dapat digunakan untuk pembangunan dan pemberdayaan masyarakat dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat," tutupnya.

SBY Prihatin Demokrasi Mahal

Sebelumnya, jauh-jauh hari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono merasa prihatin dan mengeluhkan terhadap pelaksanaan Pilkada di sejumlah daerah karena ongkos demokrasi yang terlampau mahal.

..."Satu keprihatinan dan kecemasan kalau politik dan demokrasi kita ini menjadi sesuatu yang amat mahal...

"Satu keprihatinan dan kecemasan kalau politik dan demokrasi kita ini menjadi sesuatu yang amat mahal. Ini bukan jadi rahasia lagi kalau orang mencemaskan pilkada saja biayanya sangat tinggi," ujar Presiden SBY.

Hal itu diungkapkan Presiden, saat menerima Pengurus Pusat ICMI di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (18/3/2010).

MUI Jatim Desak Pilihan Langsung Dihapus

Memang mahalnya ongkos demokrasi ini disorot MUI Jatim dalam Munas MUI yang ditutp hari ini. Bahkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur mengusulkan kepada pemerintah untuk menghapus pemilihan gubernur secara langsung karena fungsi gubernur hanya koordinator wilayah.

...Pilkada langsung selama ini seolah-olah demokratis, tapi pemenang sebenarnya adalah pemodal, karena itu harus dievaluasi," kata Ketua Umum MUI Jatim KH Abdusshomad Bukhori...

"Terus-terang, pilkada langsung selama ini seolah-olah demokratis, tapi pemenang sebenarnya adalah pemodal, karena itu harus dievaluasi," kata Ketua Umum MUI Jatim KH Abdusshomad Bukhori, Jumat (23/7).

Ia mengemukakan hal itu ketika dikonfirmasi tentang usulan MUI Jatim dalam Musyawarah Nasional (Munas) MUI di Jakarta pada 25-28 Juli.

Menurut dia, pilkada langsung perlu dievaluasi dengan tatacara pemilihan yang lebih meminimalkan penodaan demokrasi, seperti syarat "incumbent" (pejabat kini) untuk mundur sejak saat pencalonan, pernah mengikuti Lemhannas, pertimbangan moralitas dari MUI, dan sebagainya.

"Evaluasi pilkada akan menghindarkan masyarakat dari benturan fisik dan pemborosan dana, karena itu kami mengusulkan pilgub untuk dievaluasi paling dahulu," katanya. (Ibnudzar/dbs)(sumber: voa-islam.com)

Akhirnya Ary Ginanjar Akui Kekeliruan ESQ

media dakwah
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Di tengah gonjang-ganjing status “keabsanan” ESQ Ary Ginanjar setelah difatwa sesat oleh Mufti Malaysia, alhamdulillah, di Bekasi Jawa Barat terjadi dialog dari hati ke hati antara seorang alumnus training ESQ, Ustadz Farid Achmad Okbah MA dengan pendiri ESQ, Bapak Dr Ary Ginanjar Agustian. Dialog diadakan pada hari selasa 20 Juli 2010 pukul 18.30 - 20.00 WIB di Meeting Room Radio DAKTA Jl. KH. Agus Salim Bekasi.

Saya adalah salah satu saksi mata pertemuan antara Bapak Dr. Ary Ginanjar Agustian dengan Ustadz Farid Ahmad Oqbah, MA (Direktur Islamic Center Al-Islam Bekasi dan narasumber Kajian Aqidah Radio Dakta 107 FM Bekasi). Pertemuan ini terkait penjelasan atas beberapa koreksi Ustadz Farid terhadap ESQ yang dimuat di berbagai media, antara lain voa-islam.com (baca: Nasihat Alumnus ESQ untuk Ary Ginanjar Agustian).

Ustadz Farid Okbah berani mengoreksi beberapa ajaran ESQ Ary Ginanjar, karena beliau telah mengikuti pelatihan ESQ tahun 2006 silam. Ust Farid sendiri adalah alumni ESQ ke-46.

Dalam pertemuan itu sangat jelas dan terang Bapak Ary Ginanjar menerima semua koreksi Ustadz Farid dan berjanji akan memperbaiki kekeliruan-kekeliruannya. Di samping memang Pak Ary sendiri sangat kooperatif, terbuka dan jujur menerima semua masukan Ustadz Farid. Perlu dicatat bahwa hampir semua nasihat dan koreksi Ustadz Farid sama persis dengan Fatwa Ulama Persekutuan Malasyia yang menyesatkan ajaran ESQ. Dan itu tidak dibantah sedikit pun oleh Pak Ary. (Adalah urusan Allah yang tahu apakah Pak Ary menerimanya atau tidak)

Sebelumnya kita tahu betul bahwa Bapak Ary Ginanjar menolak semua dakwaan bahkan cenderung membenturkan ulama dengan ulama. Sementara Majelis Fatwa Mudzakarah Malasyia yang mendukung ESQ pun tetap dengan syarat ESQ memperbetul (memperbaiki) kekeliruan yang sudah terjadi. (Karena kebenaran tidak bisa dikalahkan dengan banyaknya jumlah yang mayoritas).

Sementara itu, Ust Farid memandang bagaimanapun juga ESQ adalah aset umat yang sangat berharga yang harus dijaga dan didukung namun tetap harus dikoreksi jika terdapat kekeliruannya di dalamnya, sebagai kewajiban saudara muslim terhadap muslim lainnya agar sama-sama selamat dunia akhirat.

...Ary Ginanjar dengan besar hati mengakui kekeliruannya. Ia menegaskan bahwa dari awal ESQ sangat komitmen terhadap Al-Qur'an dan As-Sunnah. Hanya beliau menyadari ada kekeliruan dalam memahami tafsir dan syarah keduanya....

Ustadz Farid Okbah juga sangat menyayangkan pembelaan membuta KH Said Agil Siradj dan Prof Dr Din Syamsuddin terhadap ESQ. Sementara Bapak Ary Ginanjar sendiri dengan besar hati mengakui kekeliruannya. Pak Ary menegaskan bahwa dari awal ESQ sangat komitmen terhadap Al-Qur'an dan As-Sunnah dan akan terus berpegang teguh kepada keduanya. Hanya beliau menyadari ada kekeliruan dalam memahami tafsir dan syarah keduanya.

Pertemuan di atas berjalan penuh dengan nuansa kekeluargaan, akrab, hangat dan cair. Salut buat Pak Ary yang bersedia mendatangi Ulama untuk meminta taushiah, dan mengakui kekeliruannya. Semoga urusan umat ini semakin melancarkan perjuangan Da'wah ilallah. Perbaiki Bangkit, maju dan berkibarlah ESQ dengan semangat li’ilai kalimatillah. Amien.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. (sumber: voa-isalm.com)

Wildan Hasan (Penyiar Radio Dakta 107 FM Bekasi)
Pusdiklat Dewan Da’wah Kp. Bulu Setiamekar Tambun Bekasi 17510
HP. 0813 8665 7822

Konsep ESQ Memang Bermasalah! (Bagian 2)

 media dakwah

 Oleh: AM Waskito (Penulis, tinggal di Bandung)
[E] BEBERAPA KRITIK FUNDAMENTAL

Berikut ini saya kemukakan beberapa catatan kritik terhadap konsep ESQ yang dirintis Bapak Ary Ginanjar Agustian. Referensi kritik ini berdasarkan isi buku ESQ New Edition yang diterbitkan oleh Penerbit Arga Jakarta.
Catatan-catatan kritik ini tidak bermaksud untuk menetapkan konsep ESQ sesat, tetapi mendorong agar konsep itu diperbaiki lagi, sesuai ajaran Islam.


(1) Klaim “The ESQ Way 165”

Yang dimaksud ESQ Way adalah konsep: “Ihsan, Rukun Iman, dan Rukun Islam.” Ihsan dihitung 1, Rukun Iman dihitung 6, dan Rukun Islam dihitung 5. Jadi semuanya digabung menjadi simbol “165”. Konsep “165” ini diulang-ulang dalam buku ESQ di banyak tempat.

Ary Ginanjar Agustian dan komunitas ESQ harus paham dengan baik, bahwa Rukun Iman dan Rukun Islam itu merupakan PILAR AJARAN Islam. Kalau berbicara tentang pilar-pilar ini, harus sangat hati-hati. Tidak boleh sembrono, atau seenaknya sendiri.

Sekedar penjelasan, kalau seseorang mengalami catat dari sisi Rukun Iman, imannya bisa gugur, atau setidaknya bisa rusak iman. Begitu juga, kalau seseorang cacat dari sisi Rukun Islam, keislamannya bisa hancur atau rusak. Oleh karena itu, para ulama sangat hati-hati kalau bicara tentang Rukun Iman dan Rukun Islam, sebab keduanya merupakan konsep paling sensitive dalam akidah Islam.

Kalau membaca buku ESQ karya Ary Ginanjar itu, Bagian II tentang Mental Building (Membangun Mental), halaman 117-248. Disini dibahas tentang membangun karakter mental, berdasarkan inspirasi Rukun Iman yang 6. Tetapi kalau Anda baca bab yang melebihi 100 halaman itu, disana tidak akan ditemukan pembahasan tentang Rukun Iman. Bahkan istilah “Percaya kepada Allah”, “Percaya kepada Malaikat”, “Percaya kepada Kitab”, dan seterusnya sebagaimana lazimnya pembahasan Rukun Iman, tidak ada. Yang ada justru rukun-rukun keyakinan yang dibuat oleh Ary Ginanjar sendiri.

Lebih menarik lagi, untuk menjelaskan “Rukun Iman” tersebut, Ary Ginanjar sangat banyak mengutip pandangan pakar-pakar Barat. Lha ini, mau membahas Rukun Iman, tetapi referensinya pandangan-pandangan orang non Muslim.

Begitu pula, dalam soal Rukun Islam yang dibahas di Bab III, Personal Strength (Ketangguhan Pribadi), halaman 249-323. Dalam bab ini Ary Ginanjar membatasi pandangan-pandangan pakar Barat, dan lebih mengkaji konsep-konsep ibadah dalam Islam. Tetapi sayangnya, Ary Ginanjar membuat tafsiran-tafsiran sendiri atas ibadah-ibadah seperti Shalat, Zakat, Puasa, Haji itu. Dia membuat tafsiran independen atas ibadah-ibadah ritual dalam Islam.

Para ulama Islam sudah menjelaskan, bahwa masalah ibadah itu sifatnya tauqifiyah (tinggal dilaksanakan saja, tidak ada inovasi di dalamnya). Perkara ibadah sifatnya given (diberikan secara langsung) oleh Syariat. Disini tidak ada inovasi, baik secara amalan, maupun pemikiran. Tidak boleh kita membuat inovasi-inovasi dalam masalah ibadah. Dan Ary Ginanjar justru melakukan hal itu.

Ormas Muhammadiyyah dan Persis, terkenal sangat anti bid’ah. Terutama bid’ah dalam masalah ibadah dan keyakinan. Penafsiran Ary Ginanjar terhadap Rukun Islam itu jelas berbeda dengan tradisi pandangan yang dikembangkan oleh kedua ormas Islam tersebut.  

Disini saya menyimpulkan, klaim ESQ terhadap konsep Ihsan, Rukun Iman, dan Rukun Islam, atau kemudian disimbolisasi dengan icon “165”, hanya sekedar klaim belaka. Tidak ada kenyataan seperti itu dalam ajaran-ajaran ESQ.

(2)  Konsep “Zero Minds Process” (ZMP)

Konsep ini dibahas di buku ESQ, Bagian I. Judulnya, Zero Minds Process, Penjernihan Emosi, halaman 63-116. Dalam konsep ini diterangkan, sebelum seseorang mengkaji buku ESQ, dia harus membersihkan pikiran-pikirannya dari 7 belenggu pemikiran, yaitu: Prasangka, Prinsip-prinsip Hidup, Pengalaman, Kepentingan, Sudut Pandang, Pembanding, dan Literatur. Satu per satu belenggu pemikiran ini dibahas dalam bab I tersebut.

Dalam boks di halaman 99, Ary Ginanjar menulis, “Periksa pikiran Anda terlebih dulu, sebelum menilai segala sesuatu, jangan melihat sesuatu karena pikiran Anda, tetapi lihatlah sesuatu karena apa adanya.” Lalu di boks halaman 103 disebutkan, “Janganlah terbelenggu oleh literature-literatur, berpikirlah dengan merdeka, jadilah yang berhati ‘ummi’.”

Dalam konsep Zero Minds ini, kita harus membersihkan pikiran dari pemikiran, persepsi, opini, dan apapun yang lain. Setelah sampai di titik “Zero Minds”, kita baru siap untuk menerima kebenaran yang dibawa oleh ajaran ESQ. Dalam pelatihan, digambarkan ada gelas berisi penuh air. Maka sebanyak dituangkan air ke gelas penuh itu, ia menjadi tidak berguna. Gelas akan memuntahkan airnya, karena sudah penuh. Maka gelas itu harus kosong terlebih dulu, sebelum menerima kebenaran (ajaran ESQ). Inilah konsep ZMP, Zero Minds Process.

Kalau seseorang teliti dan kritis, dia akan menolak konsep “Zero Minds” ini. Ini bukanlah konsep yang Islami, bahkan ia bukan konsep yang manusiawi. Konsep “mengosongkan pikiran” dari pengaruh pandangan luar, kerap dipakai di dunia intelijen untuk mencetak agen. Ia juga dipakai di lingkungan negara-negara Komunis dulu, untuk tujuan indoktrinasi secara paksa. Anda tentu ingat apa yang disebut metode brain washing (cuci otak). Konsep Zero Minds mirip itu. Bahkan cara yang sama dipakai para ahli hipnotis untuk menghipnotis manusia. Anda tentu masih ingat ucapan, “Kosongkan pikiranmu, kosongkan pikiranmu, kosongkan pikiranmu!”

Dalam berdakwah kepada manusia, kita tidak usah menuntut supaya pikiran mereka kosong dulu. Biarkan saja mereka memiliki banyak persepsi, pikiran, opini, dan apapun. Tidak ada satu pun konsep Islam yang mengajarkan metode “kosongkan pikiran” itu. Malah Islam melarang manusia minum khamr, sebab minum khamr bisa membuat manusia “hilang akal” untuk sementara.

Nabi Saw saat berbicara di bukit Shafa di hadapan para pemuka Quraisy di Makkah, lalu menawarkan kalimat “Laa ilaha illa Allah”, beliau tidak menuntut mereka “mengosongkan pikiran”. Tidak sama sekali. [Coba baca lagi kisah di balik turunnya Surat Al Lahab atau Al Massad]. Begitupun ketika Mush’ab bin Umair Ra berdakwah ke Madinah, beliau juga tidak menuntut warga Madinah “mengosongkan pikiran”. Jadi dakwah itu ditempuh secara normal saja. Kalau mau terima, silakan; kalau menolak, ya silakan. Agama ini adalah pilihan, bukan pemaksaan. [Baca Surat Al Kahfi ayat 29].

Ary Ginanjar berdalil, bahwa Rasulullah Saw dulu, sebelum menerima Wahyu, beliau adalah manusia ‘ummi, yang tidak bisa membaca-menulis. Begitu pula manusia jaman sekarang, kalau mau menerima kebenaran, harus mengosongkan pikiran dari aneka macam belenggu pikiran. Disini Ary Ginanjar mendalilkan konsep Zero Minds Process (ZMP).

Disini ada kekelirun pemikiran yang fatal. Rasulullah Saw itu awalnya tidak mengenal Islam, lalu Allah memberikan Wahyu kepadanya. Jadi wajar jika beliau sebelumnya harus bersih dari pengaruh-pengaruh ajaran/ideologi apapun. Masalahnya, kaum Muslimin yang menjadi segmen pasar konsep ESQ ini, mereka bukan orang yang tidak beragama. Mereka adalah kalangan Muslim yang sudah beragama. Mungkinkah orang yang sudah beragama disuruh “mengosongkan pikiran” dari aneka macam pemikiran, kepentingan, pengalaman, dll.? Ini jelas tidak benar.

Prinsip “mengosongkan pikiran” boleh saja diterapkan kepada non Muslim, tetapi tidak boleh untuk kaum Muslimin. Bagaimana kalau mereka meninggal dalam keadaan sedang “kosong pikiran”? Itu sama saja, mereka meninggal dalam keadaan mabuk (hilang akal).

Andaikan metode Zero Minds itu boleh diterapkan kepada non Muslim, ia tetap bukan metode Islami. Islam sama sekali tak pernah mengajarkan cara “mengosongkon pikiran” dalam berdakwah. Biarkan manusia dengan segala keadaannya, maka Kitabullah dan Sunnah akan memperbaiki mereka, jika Allah menghendaki hidayah atas mereka.

Bahkan Ary Ginanjar sebenarnya tidak konsisten dengan konsep ZMP-nya itu. Buktinya mudah. Dalam konsep ZMP, seseorang tidak boleh dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman. Pengalaman dianggap sebagai belenggu pikiran. Namun dalam buku ESQ itu, Ary Ginanjar sendiri sangat banyak memuat catatan-catatan pengalaman, baik dari dirinya sendiri maupun orang lain. Artinya, Ary Ginanjar mengakui bahwa dalam pengalaman-pengalaman itu ada sesuatu yang baik yang bisa dijadikan pelajaran hidup. Maka mengosongkan pikiran dari persepsi awal, termasuk pengalaman-pengalaman, bukanlah suatu pemikiran yang fair.

(3)  Terlalu Berlebihan Mengagungkan “God Spot”

Konsep “God Spot” ini pertama kali dicetuskan oleh ahli syaraf VS Ramachandran dari California University, pada tahun 1997. Ramachandran menemukan eksistensi God Spot dalam otak manusia. God Spot itu merupakan struktur yang sudah build in dalam otak semua manusia. Hal ini disebut dalam buku ESQ halaman 44. Berulang kali Ary Ginanjar dalam bukunta menyebut istilah God Spot.

Terkait tentang kedudukan God Spot, Ary Ginanjar antara lain menulis, “Ketika jiwa manusia mengangguk, mengakui Allah sebagai Tuhannya, maka saat itulah Sifat-sifat Tuhan yang Suci dan Mulia, akan mengemuka dan memancar dalam God Spot-nya, dan dari sinilah dasar pijakan kecerdasan spiritual bermula.” (ESQ, halaman 108). Masih pada halaman yang sama, Ary Ginanjar menyebutkan daftar 99 Asmaul Husna yang diberi judul: “99 Sifat Allah yang terefleksikan pada God Spot (Core Values)”. Di halaman 110 disebutkan, “Inilah 7 spiritual core values (nilai dasar ESQ) yang diambil dari Asmaul Husna yang harus dijunjung-tinggi sebagai bentuk pengabdian kepada sifat Allah yang terletak pada pusat orbit (God Spot).” Begitu hebatnya God Spot sampai Ary Ginanjar menyandarkan Sifat-sifat Allah kepada God Spot itu. Jelas semua ini berlebihan.

Mungkin saja, hasil penelitian tentang God Spot itu layak dihargai. Tetapi kita harus hati-hati dan proporsional. Islam sudah muncul di dunia sejak 1400 tahun lebih, yang lalu. Sedangkan konsep God Spot itu baru dikenalkan tahun 1997 lalu. Apakah kaum Muslimin harus beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, setelah menunggu ditemukannya Got Spot? Jelas tidak mungkin. Tanpa ditemukan God Spot pun, kaum Muslimin sudah memiliki dasar-dasar keyakinan yang kuat. Alhamdulillah.

Sebenarnya, sejak lama sarjana-sarjana Islam juga sudah menjelaskan tentang tabiat religius pada setiap manusia, meskipun sifatnya bukan hasil penelitian neurologis (syaraf). Kalangan Hizbut Tahrir, dalam bidang pembinaan kejiwaan, menyebut manusia memiliki  gharizatut tadayyun (instink untuk beragama). Mereka mendasarkan pendapat itu dari temuan-temuan arkheologis, bahwa manusia-manusia kuno yang tinggal di gua-gua, mereka memiliki ritual-ritual tertentu. Padahal mereka tidak mendapat pelajaran atau informasi seperti masyarakat normal.

Dalam konsep ESQ, God Spot dianggap segala-galanya. Kemegahan God Spot ini sampai dibuatkan model tersendiri, namanya ESQ Model. Kalau Anda lihat bagan ESQ Model, God Spot diletakkan di titik pusat (sentral). Lalu bagan ESQ Model ini dicantumkan berkali-kali di halaman: 59, 60, 64, 118, 121, 138, 153, 176, 202, 218, 241, 250, 258, 273, 301, 326, 331, dan 356. Ini untuk bentuk ESQ Model yang bersifat lengkap. Adapun ESQ Model yang dipecah-pecah, masih banyak lagi. Konsep ESQ benar-benar berhutang budi kepada Ramachandran dan tim dari California University yang menemukan God Spot. Tanpa penemuan Ramachandran, tidak akan ada ESQ. 

Dalam masalah posisi God Spot ini kita menemukan TITIK KEKELIRUAN FATAL dari konsep ESQ. ESQ begitu berlebihan memposisikan God Spot, hingga menjadikan God Spot sebagai titik sentral ESQ Model. Konsep seperti ini jelas KELIRU. Pembaca harus sadar, God Spot itu adalah sebuah struktur syaraf di otak yang membuktikan bahwa dalam diri manusia ada tabiat religius. Jadi pada hakikatnya, God Spot itu merupakan SEBUAH yang terletak di susunan syaraf otak. Jadi God Spot itu sebenarnya tidak memiliki FUNGSI KOMPLEKS seperti yang dibayangkan oleh Ary Ginanjar Agustian. Pusat kesadaran manusia ialah QALBU atau hati, terletak di dada. Adapun pusat pemikiran manusia adalah otaknya di kepala. Andaikan otak isinya hanya God Spot saja, tanpa susunan fungsi-fungsi syaraf yang lain, maka otak itu tidak akan berfungsi. Jadi, bagan ESQ Model runtuh disini.

Dan lebih menarik lagi ketika Ary Ginanjar tidak bisa membedakan, mana otak di kepala (termasuk God Spot di dalamnya) dan maka hati nurani di dada. Pembahasan otak dan hati ini dalam buku ESQ sangat rancu. Ada kalanya pusat kesadaran disebut God Spot, ada kalanya disebut hati nurani. Mengapa kerancuan itu timbul? Sebabnya mudah saja, karena Ary Ginanjar tertawan oleh konsep pemikiran Barat dan Timur. Menurut pakar psikologi Barat, hati nurani di dada tidak dianggap. Mereka menganalisis jiwa manusia dengan sarana susunan syaraf di otak. Sementara menurut pakar kejiwaan Timur, mereka berpijak pada fungsi hati nurani di dada.

Harus dicatat dengan baik, posisi God Spot itu berada di jaringan syaraf otak. Artinya, ia berada di kepala. Kepala jelas bukan hati (qalbu). Kepala berbeda dengan qalbu. Rasulullah Saw menjelaskan, bahwa dalam diri setiap manusia ada segumpal daging. Jika daging itu baik, baiklah seluruh tubuh; jika daging itu buruk, maka buruklah seluruh tubuh. Adapun daging itu adalah qalbu. Hal ini disebut dalam hadits Bukhari-Muslim, dari An Nu’man bin Basyir Ra.

Seharusnya, aspek yang lebih tepat diperhatikan adalah hati (qalbu), bukan Got Spot di otak. Bahkan menjadi ironi ketika konsep ESQ begitu serius memperhatikan masalah God Spot, sedangkan sejak awal Saudara Ary Ginanjar sudah menekankan, bahwa: “EQ lebih penting dari IQ.” EQ terletak di qalbu, sedangkan IQ terletak di otak. Jadi bagaimana dong?

Kesadaran tentang God Spot tidak otomatis membuat seseorang beriman kepada Islam. Konsep ini dianggap unggul di hadapan ideologi atheis. Tetapi kemudian setiap orang merasa bebas memilih agama apa saja, di luar Islam, selama dalam dirinya masih ada God Spot. Padahal jelas-jelas Allah sudah menegaskan, “Innad dina ‘indallahil Islam” (agama di sisi Allah itu adalah Islam).

Bagi seseorang yang mendakwahkan Islam, maka dakwahnya akan berhenti sampai membuat “manusia beragama”, apapun agamanya. Padahal sejatinya dakwah Islam mengajak manusia masuk Islam, tidak sekedar menjadi manusia beragama. (Bersambung ke bagian-3)(voa-islam.com)

Konsep ESQ Memang Bermasalah! (Bagian 1)

media dakwah
 Oleh: AM Waskito (Penulis, tinggal di Bandung)
[A] LATAR BELAKANG

Bismillahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillah Rabbil ‘alamiin, was shalatu wassalamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Sejak lama saya bersikap netral dan apresiatif terhadap konsep ESQ, atau secara khusus pelatihan-pelatihan berbasis ESQ, yang dikembangkan Bapak Ary Ginanjar Agustian dan perusahaannya. Hal ini terjadi, karena saya lebih mengikuti penilaian orang lain . Banyak orang memuji dan kagum kepada ESQ, saya pun mengikuti saja. Selain itu, saya berpikir, konsep ESQ ini semacam upaya mengangkat citra Islam dengan bukti-bukti sains dan temuan modern. Ya, serupa seperti serial karya besar Dr. Harun Yahya itulah. Saya baru tergerak membaca buku ESQ setelah berkembang opini luas seputar fatwa dari ulama Malaysia yang menyebut konsep ESQ sesat di media-media internet.

Sejak beberapa tahun terakhir, isteri membawa buku ESQ original ke rumah. Judul lengkap: “ESQ, Emotional Spiritual Quotient. The ESQ Way165. 1 Ihsan, 6 Rukun Iman, dan 5 Rukun Islam. Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan spiritual. New Edition.” Tentu saja buku ini karya Saudara Ary Ginanjar Agustian. Diterbitkan oleh Penerbit Arga Jakarta, cetakan tahun 2005. Kata pengantar ditulis oleh Bapak HS. Habib Adnan.

Beberapa tahun buku tersebut ada di rumah, saya tidak berhasrat membacanya. Saya anggap, isinya baik-baik saja. Jadi, tidak perlu dikaji pun, tak masalah. Baru ada keinginan membaca setelah muncul fatwa dari Mufti Persekutuan Malaysia, Datuk Haji Wan Zahidi bin Wan Teh, yang memvonis ESQ sebagai konsep menyesatkan, sehingga harus dilarang. Sebelum ada fatwa itu, segalanya tampak baik-baik saja. Saya tertarik untuk mengkaji fatwa tersebut, apakah ia sudah proporsional atau ada masalah di dalamnya? Jadi pada mulanya, benar-benar tak ada niat mengkaji buku ESQ.

Setelah berkembang isu fatwa sesat, manajemen ESQ memberikan klarifikasi. Dalam klarifikasi itu juga dicantumkan surat rekomendasi dari anggota MUI (KH. Amidhan Shabirah), anggota DDII, dll. Klarifikasi ini saya anggap mencukupi. Saya menyimpulkan, fatwa Datuk Wan Zahidi mungkin terlalu terburu-buru dalam memberikan vonis sesat. Saya berprasangka baik kepada MUI dan DDII. Di tubuh DDII ada seorang pakar Syariah, Dr. Zayn An Najah. Juga ada pakar liberalisme, Dr. Adian Husaini. Kedua tokoh ini insya Allah mumpuni untuk membahas konsep ESQ.

Namun belakangan Dewan Dakwah (DDII) melalui situs eramuslim.com menganulir surat pernyataan yang mengatasnamakan DDII itu. Dalam surat yang ditanda-tangani KH. Syuhada Bahri dijelaskan, bahwa DDII belum pernah memberi rekomendasi resmi terhadap ESQ.  Kalaupun ada, itu adalah pernyataan anggota Dewan Dakwah, yang mewakili diri sendiri (pribadi). Surat klarifikasi Dewan Dakwah ini membuat saya gelisah sekaligus penasaran. “Wah, ada apa dengan konsep ESQ?” Sejak saat itu, saya tertarik membaca langsung buku ESQ tersebut. Namun harus dicatat, pembacaan buku ini terjadi sekian tahun, setelah kami mendapati buku original ESQ.

Setelah membaca buku original ESQ tersebut, saya mendapati bukti-bukti bahwa fatwa yang dikeluarkan Mufti Persekutuan Malaysia, Datuk Wan Zahidi, memiliki relevansi kebenaran. Meskipun saya tidak bisa membuktikan untuk seluruh item persoalan yang dituduhkan oleh Datuk Wan Zahidi, tetapi beberapa tuduhan saya menemukan bukti-buktinya. Malah dalam buku “ESQ New Edition” itu saya juga menemukan perkara-perkara lain yang tidak sesuai Syariat Islam.

Namun bagaimanapun, tulisan ini sebatas opini pribadi. Saya tidak memiliki wewenang untuk menyampaikan fatwa. Ini hanya opini tentang konsep ESQ, berdasarkan bukti-bukti dari buku yang diterbitkan Penerbit ESQ sendiri. Apa yang ditulis ini lebih sebagai analisis ilmiah, bukan produk fatwa. Kalau sepakat, silakan diterima; kalau tidak sepakat, silakan diabaikan.

Sebagaimana dalam ESQ diajarkan sikap jujur, adil, konsisten, integritas, dan lain-lain. Maka Saudara Ary Ginanjar, manajemen ESQ, dan semua kalangan yang mendukung konsep tersebut, harus legowo menerima kritikan. Jangan bersikap arogan, seolah suatu konsep pemikiran sudah dianggap final, dengan meniadakan kritik-kritik terhadapnya. Tidak ada yang final di dunia ini, selain Kitabullah dan Syariat Nabi Muhammad Saw.


[B] KAIDAH UMUM

Untuk menilai suatu perkara baik atau buruk, lurus atau sesat, halal atau haram, tidak bergantung pada banyaknya pujian yang dialamatkan ke perkara tersebut. Banyaknya pujian tidak menjamin keabsahan sesuatu. Buktinya, banyak selebritis di dunia maupun di Indonesia, mereka dicintai dan dikagumi ribuan, bahkan jutaan manusia. Melalui rekayasa media, mereka dielu-elukan manusia. Tetapi publikasi media dan kekaguman publik, tidak menjamin bahwa para selebritis tersebut memiliki moralitas yang baik. Banyak fakta, bahwa para selebritis cenderung mengalami krisis moral. 

Dalam studi hadits ada kaidah bagus. Bahwa puji-pujian yang banyak kepada seorang perawi hadits, tidak menyelamatkan perawi itu dari kritik yang ditujukan kepadanya. Tetap harus dicermati adanya kritik-kritik obyektif yang diarahkan kepadanya. Sehingga pada akhirnya masyarakat bisa memilih sesuatu yang baik/benar berdasarkan argumentasi, bukan perasaan, atau fanatisme.



[C] SIKAP INFERIOR MASYARAKAT

Salah satu kritik besar untuk bangsa Indonesia, ialah sikap inferior (rendah diri). Ini merupakan penyakit akut yang sangat merugikan kehidupan bangsa ini. Akibat sikap inferior, lalu bangsa-bangsa asing berbondong-bondong membodohi bangsa ini, sejak dulu sampai sekarang. Bagaimana tidak akan dibodohi, sedangkan kita memiliki semua alasan untuk dibodoh-bodohi orang lain. Kata Malik bin Nabi rahimahullah, “Keadaan kita telah menghalalkan bagi terjadinya penjajahan.”

Contoh mudah sikap inferior ini ialah dalam masalah buku (pustaka). Orang Indonesia akan memandang suatu buku sangat ilmiah, perlu, layak beli, layak dikoleksi, jika dalam buku itu banyak dikutip pendapat pakar-pakar Barat. Sebuah buku, meskipun isinya baik dan metodenya lurus, jika tidak dihiasi dengan kutipan pendapat-pendapat pakar Barat, akan diremehkan. Dianggap tidak ilmiah, dianggap tidak berkualitas. Seolah, Barat merupakan hakim ilmiah di dunia ini. Sesuatu belum sah dan ideal, jika tidak melalui rekomendasi pakar Barat.

Buku ESQ Ary Ginanjar telah terjual sampai 500 ribu eksemplar lebih. Hal tersebut, menurut penilaian saya, karena dalam buku itu terdapat banyak kutipan-kutipan pendapat pakar Barat. Padahal “benang merah” pemikiran ESQ sendiri, belum tentu istiqamah sesuai ajaran Islam. Namun ketidak-istiqamahan itu bisa tertutupi oleh banyaknya pendapat pakar-pakar Barat.

Cara pandang seperti ini jelas tidak benar. Peradaban Barat atau Timur, tidak bisa menjadi hakim atas ajaran Islam. Justru sebaliknya, Islam menjadi hakim atas semua konsep pemikiran manusia. Hal ini dijelaskan dalam Al Qur’an: “Wa kadza-lika ja’alnakum ummatan wasa-than, li takunu syuhada’a ‘alan naasi, wa yakunar Rasulu ‘alaikum syahida” (Dan demikianlah, Kami jadikan kalian sebagai ummat yang adil-pilihan, agar kalian menjadi saksi atas [kebenaran agama] manusia, dan agar Rasulullah Saw menjadi saksi atas [kebenaran keislaman] kalian. Al Baqarah, 143). 

Islam tidak boleh diadili oleh pemikiran tokoh-tokoh Barat. Pemikiran manusia sifatnya relative dan tentative. Ia bisa berubah-ubah seiring penemuan informasi baru. Sedangkan Wahyu Allah bersifat abadi, kokoh, dan mutlak. Pemikiran manusia tidak boleh mengadili ajaran Pencipta manusia (Allah Ta’ala). Justru, ajaran Allah itu menjadi pelita hidup manusia.

Soal pemikiran-pemikiran Barat cocok atau mendukung ajaran Islam. Itu biasa. Sejak jaman Rasulullah Saw pun, Kaisar Romawi Hiraklius juga sudah mengakui kebenaran ajaran Islam. Meskipun Hiraklius tidak mampu mengajak para bawahan dan rakyatnya, sepaham dengan kesimpulannya. Pemikiran tokoh-tokoh Barat tidak boleh menjadi hakim bagi ajaran Islam. Paling, kedudukan pemikiran mereka sebatas penjelasan pelengkap atas kebenaran Islam. 

Sebagai Muslim, seharusnya kita sadar bahwa diri kita adalah Ahli Tauhid. Dalam aplikasi Tauhid, tidak ada satu pun makluk yang berhak menjajah diri kita, selain hanya Allah saja yang berhak diibadahi. Tauhid akan membawa kepada kemerdekaan hakiki, lepas dari segala penjajahan makhluk.

Seharusnya, yang kita kembangkan TQ atau Tauhidi Quotient. Ini adalah cara membangkitkan rasa percaya diri dan martabat manusia, dengan jalan mengajari prinsip-prinsip Tauhid. Prinsip-prinsip Tauhid, kalau bisa diajarkan dengan pendekatan modern training, insya Allah bisa melahirkan revolusi hidup yang dahsyat. Bayangkan, dengan Tauhid itu manusia menjadi sadar posisi, dan sadar akan Keagungan Rabbul ‘alamiin.

Dulu para pahlawan Islam berhasil membangun peradaban religius yang mengagumkan, karena mereka dikader dengan sangat baik dari sisi Tauhidi Quotient-nya. Kalau boleh disebut demikian. Contoh bagus ialah pernyataan Shahabat Rib’i bin Amir Ra di hadapan Kaisar Persia, Rustum. Beliau ditanya oleh Rustum tentang missi yang dibawanya. Beliau menjawab: “Allah datang bersama kami, Dia mengutus kami untuk untuk mengeluarkan siapa saja yang mau, dari penghambaan ke sesama manusia kepada penghambaan kepada Allah, dari sempitnya kehidupan dunia kepada keluasannya, dari kesewengan agama-agama kepada keadilan Islam.”

Demi Allah, Rib’i bin Amir Ra, beliau tidak pernah ikut pelatihan-pelatihan SDM. Beliau tidak pernah mendengar pandangan-pandangan pakar psikologi Barat. Tetapi ucapan beliau mencerminkan kualitas “Tauhidi Quotient” yang sangat matang. Seharusnya, kalau kita percaya diri dan mau menggali nilai-nilai ajaran Islam dan sejarahnya, kita tidak membutuhkan referensi yang lain. Persis seperti ucapan Khatib Al Baghdadi rahimahullah, “Kalau seseorang memahami keindahan Sunnah Nabi, maka dia tidak akan membutuhkan lagi referensi yang lain.”

Seharusnya, kita mengembangkan Tauhidi Quotient, Muamalah Quotient, Dinar Quotient, Adab Quotient, Sirah Quotient, Jihad Quotient, dan seterusnya. Semua itu lebih jelas dan menjanjikan, daripada mengumpulkan remah-remah ajaran spiritual dari kalangan non Muslim.


[D] PUJIAN UNTUK “ESQ”

Sebelum diajukan beberapa kritik penting, terlebih dulu saya utarakan beberapa pujian terhadap konsep ESQ yang dikembangkan oleh Bapak Ary Ginanjar Agustian dan tim.

Pertama, konsep ini dikembangkan dalam lapangan pemberdayaan SDM. Kita harus menghargai setiap usaha untuk memberdayakan SDM masyarakat Indonesia, khususnya kaum Muslimin.

Kedua, dalam lapangan pelatihan, manajemen ESQ dipimpin oleh Saudara Ary Ginanjar Agustian, kerap memanfaatkan teknologi modern dan pendekatan pelatihan kreatif. Konon, untuk pelatihan ESQ yang asli, selalu memakai daya-dukung sound system yang mumpuni. Kreativitas dalam penyediaan sarana-sarana untuk mencapai hasil pemberdayaan SDM yang optimal, sangat dibutuhkan.

Ketiga, konsep ESQ secara umum setuju dengan tesis yang mengatakan, bahwa: “Selain IQ, manusia sangat membutuhkan EQ, untuk mencapai sukses.” Tesis seperti ini insya Allah benar. Para ulama menjelaskan, bahwa dalam tradisi studi Islam, pengajaran etika didahulukan sebelum pengajaran ilmu. Imam Nawawi dalam Riyadhus Shalihin, memulai kitabnya dengan bab etika, seperti ikhlas, taubat, shabar, dll. Al Ghazali dalam Al Ihya juga memulai kitabnya dengan bab tentang adab menuntut ilmu. EQ dalam arti akhlak dan adab, adalah sangat penting dalam Islam.

Keempat, dalam buku ESQ, Ary Ginanjar sering mengemukakan hasil-hasil pengalaman pribadi dalam bisnis dan mengelola perusahaan. Pengalaman seperti itu layak untuk disimak, menjadi hikmah dan pelajaran. Terlepas hal itu berhubungan dengan konsep ESQ atau tidak.

Kelima, Ary Ginanjar Agustian secara verbal mengakui keunggulan konsep Ihsan-Rukun Iman-Rukun Islam. Terlepas kemudian, dia menafsirkan konsep Ihsan-Rukun Iman-Rukun Islam itu tidak sesuai dengan pengajaran yang diberikan para ulama. Niatnya membela konsep Islam sangat dihargai, meskipun cara yang ditempuhnya tidak lurus.  

Keenam, dalam versi pelatihan-pelatihan, ESQ banyak mengemukakan bukti-bukti penemuan modern yang semakin menunjukkan kebenaran Allah Ta’ala sebagai Rabb alam semesta.

Inilah beberapa pujian penting terhadap konsep ESQ dan penulisnya, serta program pelatihan SDM yang selama ini intensif mereka kembangkan. Mungkin ada pujian-pujian lain, namun yang terpenting ialah seperti poin-poin di atas. (Bersambung ke bagian-2) (sumber: voa-islam)
 

Media Dakwah Copyright © 2010 LKart Theme is Designed by Lasantha