Selasa, 19 Juli 2011

AWAS, PIHAK KE-3 SYAITAN

Ketika kita mendengar seseorang yang berkata ‘awas pihak ke-3-nya syaitan’, secara otomatis pikiran kita tertuju pada perbuatan dua insan berbeda jenis yang berkumpul di tempat yang sunyi. Dalam Islam istilah ini dikenal dengan sebutan khalwat, yaitu menyendirinya antara laki-laki dan wanita yang bukan mahram pada suatu tempat yang tidak dilihat orang banyak, tanpa adanya muhrim wanita. Dan khalwat seperti ini jelas diharamkan oleh syari'at Islam. Seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah dalam sabdanya, “Janganlah salah seorang dari kalian berkhalwat dengan seorang wanita karena sesungguhnya syaitan menjadi yang ketiga diantara mereka berdua.” (HR. Ahmad 1/18, Ibnu Hibban [lihat Shahih Ibnu Hibban 1/436], At-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Awshoth 2/184, dan Al-Baihaqi dalam sunannya 7/91. Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah 1/792 no. 430).

Kenapa Sih Berkhalwat Itu Dilarang?
Khalwat merupakan salah satu sarana yang mengantarakan kepada perbuatan zina, sedang zina adalah puncak dari kesuksesan syaitan dalam menggoda manusia. Maka Nabi SAW mengingatkan kita dengan tegas, “syaitan menjadi orang ketiga diantara mereka berdua”

Berkaitan dengan peringatan Nabi SAW diatas Al-Munawi berkata, “Yaitu syaitan menjadi penengah (orang ketiga) diantara keduanya dengan membisikan mereka (untuk melakukan kemaksiatan) dan menjadikan syahwat mereka berdua bergejolak dan menghilangkan rasa malu dan sungkan dari keduanya serta menghiasi kemaksiatan hingga nampak indah dihadapan mereka berdua, sampai akhirnya syaitanpun menyatukan mereka berdua dalam kenistaan (yaitu berzina) atau (minimal) menjatuhkan mereka pada perkara-perkara yang lebih ringan dari zina yaitu perkara-perkara pembukaan dari zina yang hampir-hampir menjatuhkan mereka kepada perzinahan.” (Faidhul Qodir 3/78).

Kamis, 07 Juli 2011

Menjadi Sales Dakwah

Saya pernah melihat sebuah film tentang strategi pemasaran barang melalui sales. Tidak seperti yang jamak kita lihat; di drop dengan mobil di sebuah gang, lalu para sales akan berjalan kaki mendatangi rumah-rumah. Sebuah metode yang menurut saya kurang ekfektif sekaligus sering bikin orang jengkel. Dalam film itu, sales hanya ditugaskan untuk menjual gaya hidup. Satu tim sales terdiri dari lelaki perlente seusia eksekutif muda yang berperan sebagai bapak, wanita usia 33 tahunan yang modis sebagai ibu dan dua remaja, lelaki dan perempuan yang gaul sebagai anak. Mereka ditempatkan disebuah rumah di kawasan elit. Tugas mereka hanya berpura-pura menjadi satu keluarga, lalu memamerkan gaya hidup dan berbagai barang-barang keluaran terbaru kepada tetangga dan semua kenalan baru mereka. Mereka sangat antusias mencari kenalan dan nomor telepon. ‘Ayah’ akan memamerkan mobil dan perlengkapan olahraga, ‘ibu’ mempengaruhi teman-temannya untuk memakai kosmetik dan busana dengan merk yang dipakainya, dan ‘anak-anak’ akan memamerkan handphone, sepatu, dan berdandan serta bergaya sangat trendi. Dan, semua merek yang mereka kenalkan hanya didistribusikan oleh perusahaan tempat sales-sales itu bekerja. Hasilnya? Luar biasa. Dalam tempo sedikit bulan, tetangga dan semua kenalan mereka, diceritakan sudah meniru gaya mereka dan membeli produk-produk yang sama. Angka penjualan distributor tersebut di kota itu melesat naik, dan akhirnya keluarga sales itu pun mendapat bonus.
Melihat tayangan itu, saya jadi membayangkan, barangkali Islam juga akan lebih dapat diserap masyarakat jika dipasarkan dengan cara persuasif yang mengandalkan keteladanan seperti itu. Di tayangan itu, keluarga ‘jadi-jadian’ itu menjadi trend setter alias suri tauladan dalam gaya hidup. Untuk Islam, tentunya bukan dengan membuat hal serupa tapi benar-benar membuat  dan membina keluarga yang mampu mencerminkan Islam dan gaya hidup Islami. Lalu keluarga itu akan mempengaruhi lingkungan dimana dia tinggal. Ini adalah salah satu gaya dakwah bil hal, dakwah dengan keteladanan.
Ah, tapi kan nyatanya tidak semudah itu.
Sebuah keluarga yang membawa gaya hidup Islami, tak jarang justru mendapat tentangan saat membaur dengan masyarakat yang masih awam. Kadang dibilang aneh, tidak “ngumumi”, sok alim sampai yang lebih parah dari itu.
‘Memasarkan’ Islam atau berdakwah memang tidak bisa persis seperti memasarkan barang. Selain ada seni tersendiri, diperlukan pula kesabaran dan komitmen. Dengan dua bekal itu, insyaallah penolakan masyarakat hanyalah “hello effect” saja alias dampak di permulaan yang akan segera sirna setelah melihat cahaya yang terus dinyalakan oleh sang ‘sales dakwah’. Hanya manusia yang telah dikunci mati hatinya yang terus menyalakan permusuhan dan kebencian, sementara dakwah telah disampaikan dengan segala cara yang dibenarkan. Anda hanya akan membayangkan, akan lebih menghayati sekiranya turut mencoba.... Mari menjadi bagian kafilah dakwah. (zhafran)

ANUGERAH SAKIT GINJAL

Pengalaman Rohani Theofilus Sarjiono (Muhajir)

Menjadi seorang bread cooker alias tukang roti telah saya tekuni sejak remaja hingga akhirnya saya bisa menjadi tukang roti yang cukup berpengalaman. Setelah menikah saya mengontrak rumah milik seorang pastur di tepi sungai yang cukup fenomenal yakni kali code di  Yogyakarta, yang sebenarnya tidak layak huni. Tapi bagaimanapun juga saya merasa bahagia bisa menghidupi seorang isteri dan 2 orang anak.

Sebagai seorang penganut Kristen Pantekosta ,saya tergolong taat dan  rajin ke gereja. Hal inilah yang akhirnya menaikkan derajat saya, dengan diangkat sebagai pembantu pendeta. Berawal dari sini semuanya serba kecukupan. Uang bukan masalah bagi saya, sebab sudah dicukupi oleh gereja. Makan daging babi merupakan keharusan bagi keluarga dan harus tersedia tiap hari di meja makan. Selain itu seminggu sekali saya mengkonsumsi daging anjing, hal yang selama ini jarang kami alami.

Sebab itu pulalah penderitaan saya bermula. Mungkin karena saya terlalu rakus memakan daging, badan saya membengkak dan perut membuncit. Akibatnya saya mulai terserang bermacam-macam penyakit. Kolesterol tinggi, denyut jantung tak teratur, kadar gula meningkat, ginjal yang sudah tidak berfungsi normal ,dan sebagainya. Dikarenakan penyakit semakin parah maka dokter menganjurkan saya untuk cuci darah. Dengan cuci darah ini, harta yang selama ini saya kumpulkan ikut tercuci juga. Habis sudah semua yang saya miliki. Bahkan untuk makan sehari-hari saja susah apalagi untuk berobat ke dokter. Kali ini sakit yang saya alami benar-benar luar biasa, kaki mulai membengkak. Untuk sekedar tidur saja tidak bisa karena rasa sakit yang saya alami.

Pada suatu  pagi  sekitar jam 04.30 WIB saya mendengar suara dari masjid seruan adzan. Tiba-tiba secara spontan saya menirukan adzan tersebut. Bila saya menirukan kalimat Laa ilaaha Illallah, sakit yang saya alami terasa berkurang. Maka kata-kata itu saya ucapkan berulang-ulang meskipun saat itu saya tidak tahu maksudnya, hingga berpuluh mungkin ratusan kali kata saya ucapkan, lupa saya menghitungnya. Isteri saya mengingatkan, ”Mas, bacaan itu kan bacaan orang Islam, sampeyan kan orang Kristen tidak baik mengucapkan kata-kata itu”. Maka jawaban spontan saya waktu itu, ”Biarpun kata-kata itu berasal dari agama manapun akan saya ucapkan terus, wong kalau diucapkan sakit saya berkurang kok”.

Hingga suatu malam saya bermimpi. Dalam mimpi itu saya disuruh  menemui seseorang yang bisa membantu menyembuhkan sakit saya yang bernama pak Abu. Pagi harinya saya menemui seorang tukang becak yang kebetulan adalah tetangga rumah juga. Ternyata memang benar  ada seseorang yang biasa membantumengobati pasiennya dengan memberi ramuan tradisioanal, Beliau bernama Abu Sujak. Akhirnya  saya minta tolong tetangga sebelah untuk mengantarkan ke rumah pak Abu Sujak. Dalam benak saya pasti pak Abu ini orang Islam, terlihat dari namanya. Tapi apa boleh buat, yang penting penyakit saya bisa sembuh. Ternyata benar dugaan saya pak Abu adalah muslim yang taat, berulang kali saya diminta untuk membaca basmalah, dan saya lakukan pula. Dalam  pikiran saya waktu itu adalah saya akan lakukan apapun yang diminta oleh pak Abu agar penyakit saya bisa sembuh.

Di akhir pertemuan saya diberi resep,  untk membeli obat di rumah salah seorang putra pak Abu. Ketika saya sodorkan resep tersebut, saya juga tanyakan harga obatnya. Si penjual bilang harganya Rp 32.500,00 padahal waktu itu saya tidak membawa uang sebanyak itu. Uang yang di saku hanya sekedar cukup untuk membayar ongkos becak. Ketika menyerahkan obat, penjual bilang bahwa saya tidak perlu membayar sebab pak Abu bilang khusus untuk pak Theo gratis saja. Sesampai di rumah saya langsung mengkonsumsi obat tradisioanl tersebut. Beberapa hari kemudian badan terasa enak, sakit yang selama ini saya rasakan mulai berkurang. Hingga akhirnya penyakit saya sembuh total. Sejak saat itu pula kebiasaan makan daging babi dan anjing benar-benar saya tinggalkan.

Suatu ketika saya ingin mengucapkan rasa terima kasih kepada pak Abu dengan mendatangi rumah beliau. Ketika sampai ternyata banyak orang berkerumun di rumah beliau. Saya diberitahu bahwa pak Abu meninggal dunia, bak disambar petir di siang bolong. Tidak dapat menahan air mata kala itu, saya menangis.
Dalam hati kecil, timbul keinginan untuk mengikuti jejak beliau beragama islam. Mulailah saya dengan sembunyi-sembunyi menghadiri pengajian di kampung meskipun saat itu status saya masih penganut Kristen.
Setelah cukup saya mendapatkan pelajaran agama, saya minta disyahadatkan. Alhamdulillah akhirnya saya membaca dua kalimat syahadat di Kantor UII (Universitas Islam Indonesia) Yogyakarta beserta dengan Istri dan anak saya.

Tak jarang saya diminta untuk sekedar berbagi pengalaman di beberapa tempat tentang kisah hidup dan perjalanan saya selama menjadi penganut Kristen hingga akhirnya mendapat hidayah dari Allah SWT. Meskipun dari pemahaman agama Islam saya tergolong masih sangat minim, tapi selagi bisa berbagi maka akan sampaikan walaupun itu pahit rasanya.

Ketika saya mulai berinterksi dengan banyak muslim, saya mulai berpikir bahwa Muslim yang menyeberang menjadi Kristen itu kebanyakan motivasinya mendapat kedudukan, serta iming-iming kekayaan, dan kehidupan yang baik. Berbeda dengan orang Kristen yang masuk Islam pasti mengalami ujian yang sangat berat. Terutama dalam bidang ekonomi, kehilangan pekerjaan, dikucilkan dari pergaulan, dicaci maki dan lain sebagainya. Diri saya pun tak luput dari ujian tersebut. Saya dikeluarkan dari pekerjaan tanpa pesangon. Saya dipecat, karena masuk Islam. Dengan rasa percaya diri dan iman kepada Allah, saya pasrahkan semua kepada-Nya. Derita apapun akan saya hadapi dengan hati yang tabah.

Untuk menyambung hidup dan mencukupi kebutuhan keluarga, saya mulai kembali membuat roti. Setelah saya diuji oleh Allah dengan berbagai kesulitan, benar rasanya Allah memberi anugerah yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Hingga akhirnya ada seorang dermawan yang memberikan modal untuk usaha saya beserta dengan rumah tempat tinggal. Dengan iringan doa semoga Allah selalu melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepada dermawan tersebut serta memberi rizki dan pahala yang berlipat ganda. Amin. [Kisah ini dirangkum oleh M. Hadjir Digdodharmojo]

Minggu, 03 Juli 2011

Misteri Shodaqoh

Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)." Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.(QS. Saba’: 39)

Satu hal yang kadang sulit bagi kita yakni merelakan apa yang kita berikan kepada orang lain. Padahal dengan tegas Allah berjanji akan memberikan rizki kepada para hambanya, dengan memberi balasan atas amal yang dikerjakan. Barang siapa yang menyedekahkan hartanya dengan diliputi rasa kekhawatiran akan menjadi fakir, maka seolah-olah ia tidak membenarkan janji Allah dan RasulNya.
Dalam sebuah riwayat, Abu Hurairah pernah menceritakan Rasulullah SAW sedang menasehati Bilal: ”Sedekahkan hartamu wahai Bilal. Kamu jangan khawatir kalau Allah sang penguasa Arsy sampai mengurangi hartamu (fakir)”. (HR Thabarani)

Hiasan Bisikan Setan
Memang setan tak akan pernah menyerah untuk selalu meniupkan rasa takut dan khawatir kepada orang yang senantiasa shadaqah.
"Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 268)
Menafsirkan ayat mulia ini, Ibnu Abbas  berkata: "Dua hal dari Allah, dan dua hal dari setan. Dan dua hal dari Allah adalah, "Allah menjanjikan untukmu ampunan daripadaNya," yakni atas maksiat yang kamu kerjakan, "dan karunia" berupa rizki. Sedang dua hal dari setan: "Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan." Setan itu berkata, 'Jangan kamu infakkan hartamu, peganglah untukmu sendiri karena kamu membutuhkannya'. "Dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir).
Imam Ibnu Qayim Al-Jauziyah dalam menafsirkan ayat yang mulia ini berkata: "Demikianlah, peringatan setan bah-wa orang yang menginfakkan hartanya, bisa mengalami ke-fakiran bukanlah suatu bentuk kasih sayang setan kepa-danya, juga bukan suatu bentuk nasihat baik untuknya. Ada-pun Allah, maka Ia menjanjikan kepada hambaNya ampunan dosa-dosa daripadaNya, serta karunia berupa penggantian yang lebih baik daripada yang ia infakkan, dan ia dilipatgan-dakanNya baik di dunia dan di akhirat." 

Selaksa Manfaat
Banyak pundi-pundi amal yang dapat kita dulang dari sebuah shadaqah, berikut ini diantara manfaat yang dapat kita peroleh dari shadaqah, tentunya tidak sebatas yang kami sebutkan berikut, tapi lebih dari itu.
Pertama, diturunkannya barokah dari harta seseorang. Barokah maknanya adalah tambah atau tetapnya kebaikan. Dengan harta yang disedekahkan akan menambah amal shalih seseorang, untuk menyantuni fakir miskin anak yatim sekaligus sebagai tambahan amal shalih. Dengan begini tetaplah kebaikan dalam dirinya. Abu Hurairah meriwayatkan: Rasulullah SAW pernah bersabda: “Wahai manusia bersedekahlah apa yang telah dikaruniakan kepadamu” kemudian Rasullullah melanjutkan sabdanya, sesungguhnya berkah Allah (rezeki) tidak terbatas, senantiasa mengalir, dan tidak sesuatupun yang bisa menguranginya, baik diwaktu malam atau siang. (HR Muslim)
Kedua, rizki semakin melimpah atau sebagai pembuka pintu rizki. Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Abu Hurairah  bahwasanya Nabi  bersabda: "Tidaklah para hamba berada di pagi hari kecuali didalamnya terdapat dua malaikat yang turun. Salah satunya berdo'a, 'Ya Allah, berikanlah kepada orang yang berinfak ganti (dari apa yang ia infakkan)'. Sedang yang lain berkata, 'Ya Allah, berikanlah kepada orang yang menahan (hartanya) kebinasaan (hartanya)'."
Ketiga, diturunkan hujan dari langit yang menumbuhkan berbagai macam tumbuhan.
Abdullah bin Umar bercerita : Rasulullah SAW mendatangi kami kemudian berkhutbah : “…suatu kaum yang enggan berzakat dan mereka tidak merasakan turun hujan dari langit dan seandainya tidak ada binatang ternak niscaya mereka tidak diturunkan hujan…(HR Muslim).
Hadits di atas menyatakan keengganan kita mengeluarkan zakat menimbulkan tertahannya hujan sehingga mengakibatkan paceklik, kelaparan, hidup serba susah dan berkurangnya kebaikan dimuka bumi.
Keempat, menolak terjadinya bencana atau musibah. Sahabat Anas RA berkata: Bersegeralah kalian mengeluarkan shadaqah, karena musibah tidak mampu melampaui shadaqah. Bisa jadi silih bergantinya musibah yang menerpa negeri ini karena keengganan orang-orang untuk mengeluakan shadaqah.
Kelima, dapat menyembuhkan penyakit. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW pernah bersabda: “Hendaklah kalian mengobati sakit kalian dengan shadaqah. (Hadits Hasan Shahih at-Targhib Li al-Bani)
Keenam, dapat menghapus dosa seseorang. Rafi’ bin Khujaj meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: shadaqah dapat menutup tujuh puluh pintu kejahatan. Dalam sabdanya yang lain: Shadaqah dapat menghapus dosa sebagaimana air bisa memadamkan api.

Segala amalan yang kita perbuat, amal baik ataupun amal buruk, semuanya akan terpulang kepada kita. Demikian juga jika kita berbicara soal harta yang kini ada dalam genggaman kita dan kerapkali membuat kita lalai. Demi Allah, semua ini datangnya dari Allah yang Maha Pemberi Rizki dan Maha Kaya. Dititipkanya harta kepada kita tiada lain supaya kita bisa beramal dan bershadaqah dengan penuh keikhlasan semata-mata karena Allah. Kemudian pastilah kita akan mendapatkan balasan pahala dari pada-Nya, baik ketika di dunia ini maupun saat menghadap-Nya kelak. Wallahu a’lam. [aan]

SHALAT DHUHA

Shalat merupakan kuncinya surga, apabila baik shalat kita maka akan baik pula seluruh amal kita. Namun seringkali shalat kita tidak sempurna, maka diantara cara untuk menambal shalat kita yang berlobang sana sini Rasulullah menawarkan alternatif yang sungguh luar biasa yakni dengan melazimi shalat sunnah, seperti tahiyatul masjid, witir, tahajjud, dhuha dan masih banyak lagi shalat-shalat sunnah.

Shalat Dhuha merupakan shalat yang banyak mengandung fadhilah/ keutamaan, namun tidak banyak mendapat perhatian dari kita selaku mukmin. Karena ia berada dalam waktu yang di dalamnya banyak kesibukan. Orang banyak yang bekerja mencari rezki. Bagi pelajar mereka sibuk menuntut ilmu, begitu juga dengan yang memiliki kesibukan lainnnya. Oleh karenanya ia tidak begitu mendapat perhatian yang serius dan sering terlupakan.

Kapan Shalat Dhuha Dilakukan?
Waktunya ketika matahari mulai naik sepenggalah (agak miring). Dan waktu yang paling afdhal adalah ketika mulai panas. Hal ini dijelaskan didalam sebuah hadits Rasulullah SAW: ”Shalat awaabiin (orang-orang yang kembali kepada Allah) adalah ketika anak-anak unta sudah merasa kepanasan” (HR. Muslim)

Jumlah Rakaat
Disyariatkan kepada orang muslim untuk mengerjakan shalat Dhuha dengan dua, empat, enam, delapan atau dua belas rakaat.

Jika mau, dia boleh mengerjakannya dua rakaat dua rakaat. Adapun shalat Dhuha yang dikerjakan dua rakaat telah ditunjukkan oleh hadits Abu Dzar RA, Rasulullah SAW bersabda.
“Bagi masing-masing ruas dari anggota tubuh salah seorang di antara kalian harus dikeluarkan sedekah …Dan semua itu setara dengan ganjaran dua rakaat shalat Dhuha” (HR. Muslim)

Sedangkan shalat Dhuha yang dikerjakan empat rakaat, telah ditunjukkan oleh Abu Darda dan Abu Dzar RA, dari Rasulullah SAW, dari Allah yang Mahaperkasa lagi Mahamulia, dimana Dia berfirman: ”Wahai anak Adam, ruku’lah untuk-Ku empat rakaat di awal siang, niscaya Aku akan mencukupimu di akhir siang” (HR. At-Tirmidzi)

Sedangkan shalat Dhuha yang dikerjakan enam rakaat, ditunjukkan oleh hadits Anas bin Malik RA: “Bahwa Nabi SAW pernah mengerjakan shalat Dhuha enam rakaat” (HR. At-Tirmidzi di dalam kitab Asy-Syamaa-il)

Dan shalat Dhuha yang dikerjakan delapan rakaat ditunjukkan oleh hadits Ummu Hani, di mana dia bercerita: ”Pada masa pembebasan kota Makkah, dia mendatangi Rasulullah SAW ketika beliau berada di atas tempat tinggi di Makkah. Rasulullah SAW beranjak menuju tempat mandinya, lalu Fathimah memasang tabir untuk beliau. Selanjutnya, Fatimah mengambilkan kain beliau dan menyelimutkannya kepada beliau. Setelah itu, beliau mengerjakan shalat Dhuha delapan rekaat” (HR. Asy-Syaikhani)

Sedangkan shalat Dhuha yang dikerjakan dua belas rakaat ditunjukkan oleh hadits Abu Darda RA, dimana dia bercerita, Rasulullah SAW bersabda.
“Barangsiapa mengerjakan shalat Dhuha dua rakaat, maka dia tidak ditetapkan termasuk orang-orang yang lengah. Barangsiapa shalat empat rakaat, maka dia tetapkan termasuk orang-orang yang ahli ibadah. Barangsiapa mengerjakan enam rakaat maka akan diberikan kecukupan pada hari itu. Barangsiapa mengerjakan delapan rakaat, maka Allah menetapkannya termasuk orang-orang yang tunduk dan patuh. Dan barangsiapa mengerjakan shalat dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di Surga. Dan tidaklah satu hari dan tidak juga satu malam, melainkan Allah memiliki karunia yang danugerahkan kepada hamba-hamba-Nya sebagai sedekah. Dan tidaklah Allah memberikan karunia kepada seseorang yang lebih baik daripada mengilhaminya untuk selalu ingat kepada-Nya” (HR. Ath-Thabrani)

Keutamaan shalat Dhuha
Banyak hadits Rasulullah SAW yang bercerita tentang keutamaan shalat Dhuha, diantaranya;

Dari Abu Dzar al-Ghifari ra, ia berkata bahwa Nabi saw bersabda; Di setiap sendiri seorang dari kamu terdapat sedekah, setiap tasbih (ucapan subhanallah) adalah sedekah, setiap tahmid (ucapan alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (ucapan lailahaillallah) adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, mencegah dari kemungkaran adalah sedekah. Dan dua rakaat Dhuha diberi pahala" (H.R. Muslim).

Di dalam Fath al-Bari, Imam Ibnu Hajar berkata; "Salah satu dari faidah shalat Dhuha adalah diberi pahala sedekah bagi seluruh sendi manusia dalam setiap hari. Dan jumlah sendi itu adalah tiga ratus enam puluh sendi" .

Bagi yang rajin mengerjakan shalat Dhuha, maka ia akan dibangunkan sebuah rumah di dalam surga. Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits Rasulullah SAW: "Barangsiapa yang shalat Dhuha sebanyak empat rakaat dan empat rakaat sebelumnya, maka ia akan dibangunkan sebuah rumah di surga"

Dan tentunya masih banyak keutamaan shalat dhuha, mudah-mudahan kita bisa melaksanakannya secara perlahan-lahan. Kita sempatkan diri kita untuk menghadap Allah SWT. Rasanya tidak akan lama dan tidak akan memakan waktu yang panjang untuk mengerjakannya. Dua rakaat, empat rakaat, enam rakaat, delapan rakaat. Bagi yang kerja di kantor, kita upayakan sebisa mungkin. Bagi para pengajar, kita upayakan ketika waktu istirahat. Bagi para siswa (pelajar, mahasiswa) kita usahakan ketika waktu istirahat. Insya Allah kita akan mendapat ketenangan batin, kelapangan hidup dan ketentraman jiwa dengan mengingat Allah SWT. [idris]

Kamis, 23 Juni 2011

CINTA KASIH SEORANG AYAH

Ayah adalah sosok yang kuat, tegas, berwibawa, dan berani. ltulah yang digambarkan seorang anak manakala ia ditanya mengenai sosok ayahnya. Kedekatan anak dengan orang tua, baik ayah atau ibu menjadikan pandangan anak terhadap ayah dan ibupun akan berbeda. Mengapa ada perbedaan? Jawabnya adalah karena seringnya bertemu, dan cara kedekatan ayah dan ibu pada anak yang berbeda.
Cinta seorang ayah kepada anak bukanlah suatu hal dapat dengan mudah berkurang atau bahkan hilang. Cinta ayah kepada anak bagaikan bara dalam api. Tidak tampak, namun tidak pernah padam. Selalu memberi kehangatan. Bahkan akan berusaha membara kembali dengan semakin bertambahnya sekam.
Namun cinta yang terpendam dalam sekam, seringkali tidak mudah ditangkap oleh anak-anak yang merindukan belaian, atau anak yang mempunyai jumlah pertemuan yang sangat sedikit dengan ayahnya. Sosok yang pendiam, galak, dan terlalu disiplin serta predikat sangar lainnya akan diberikan anak yang jarang mendapat belaian dari ayahnya.
Begitu juga bagi remaja yang sedang masuk dalam permasalahan pubertas, namun kurang mendapat respon dan ayahnya, akan mencari sosok yang bisa mengayominya. Namun demikian, sebetulnya remaja sangat mendambakan kehadiran ayahnya meskipun predikat sangar masih dalam bayangannya. Hal ini dikarenakan ia sedang menunggu seorang “guru” dalam kehidupan sosialnya. Bagaimana dengan kita?

Luangkan Waktu Spesial
Sebagai ayah, hendaknya mengetahui perkembangan dan kebutuhan anak akan kedekatan orang tuanya. Sempatkan waktu dalam sehari meski hanya sesaat, spesial untuk anak-anak kita. Kedekatan tidak harus bergandengan tangan, tidak harus bercengkrama setiap saat. Namun pada keadaan tertentu bercengkrama dan bergandengan tangan merupakan hal yang dirindukan.
Adapun kunci yang dapat memberi kualitas kedekatan ayah pada anaknya meskipun sebentar antara lain:
- Usahakan berpamitan kepada anak saat kita akan berangkat bekerja dengan mencium mereka. Atau jika ayah berangkat lebih siang dari anak-anak, hantarkan mereka pergi sekolah meski hanya sampai depan pintu rumah.
- Doakan anak-anak kita, baik di depan mereka maupun disaat kita sendiri.
- Tanyakan kabar anak-anak kita sepulang sekolah.  
- Jika anak kita sudah remaja, lakukan setiap hari. Apa kabarnya dan bagaimana shalat mereka hari ini?
- Ciumlah anak-anak kita sesering mungkin.
- Bercerita sepulang dari shalat berjamaah di masjid.
Masih banyak lagi kunci kedekatan ayah dengan anak. Apabila yang tertulis di atas dapat dilakukan semuanya insya Allah akan besar manfaatnya bagi keluarga kita. Namun apabila kita tidak mampu melakukan semuanya, lakukanlah salah satu dari yang tertulis di atas dan jadikan kebiasaaan. Insya Allah akan tertanam di dalam benak anak kita suatu kedekatan nyata yang akan memunculkan kerinduan hingga anak kita tumbuh besar bahkan hingga dewasa.

Kasih Sayang Sepanjang Masa
Ibu mempunyai peran penting dalam menanamkan kecintaan anak kepada ayahnya. Sejak bangun tidur hingga sebelum tidur lagi, cinta ibu kepada ayah akan memberikan gambaran betapa keharmonisan di dalam rumah tangga dapat diikuti oleh anak-anaknya. Ketaatan ibu kepada ayah menjadi panutan anak untuk hormat dan patuh kepada ayah. Cinta adalah rasa, rasa diciptakan dengan sentuhan hati dan sentuhan verbal. Kerjasama ayah dan ibu dalam membagi kasih sayang dalam bentuk ucapan dan tindakan pada saat di rumah juga merupakan bagian dan cara untuk menyeimbangkan kedekatan anak dengan orang tuanya. Memberikan gambaran ayah yang kuat, sayang dan suka menolong akan mengurangi gambaran ayah yang sangar tersebut.
Ibu juga mempunyai kunci yang dapat memberikan kualitas kedekatan anak pada ayah:
- Ajak anak bersalaman pada saat ayah berangkat kerja atau berpamitan sekolah
- Mengajak berdo’a untuk ayah yang sedang bekerja mencari nafkah untuk keluarga.
- Sampaikan kepada anak bahwa tugas dan peran ayah di luar (kerja) adalah perintah Allah dalam menafkahi keluarga, bukan kepentingan sendiri.
- Menceritakan kebaikan ayah pada anak kita saat masih kecil (bayi) pada saat ibu berdua dengan anak (tanpa kehadiran ayah).
- Mengajak anak menyongsong kedatangan ayah dari bepergian/ kerja. Menunggu di depan rumah dengan air minum yang disiapkan untuk ayah. Setelah ayah datang ajak bersalaman dan mencium ayahnya.
Masih banyak lagi yang dapat kita ciptakan dan lakukan, namun apabila tidak dapat dilakukan semuanya, lakukanlah satu hal yang dapat menanamkan kedekatan anak dengan ayah dengan istiqomah. Wallahu a’lam. [nur aini]

HANGATNYA CINTA SEORANG AYAH

Ayah adalah sosok yang kuat, tegas, berwibawa, dan berani. ltulah yang digambarkan seorang anak manakala ia ditanya mengenai sosok ayahnya. Kedekatan anak dengan orang tua, baik ayah atau ibu menjadikan pandangan anak terhadap ayah dan ibupun akan berbeda. Mengapa ada perbedaan? Jawabnya adalah karena seringnya bertemu, dan cara kedekatan ayah dan ibu pada anak yang berbeda.
Cinta seorang ayah kepada anak bukanlah suatu hal dapat dengan mudah berkurang atau bahkan hilang. Cinta ayah kepada anak bagaikan bara dalam api. Tidak tampak, namun tidak pernah padam. Selalu memberi kehangatan. Bahkan akan berusaha membara kembali dengan semakin bertambahnya sekam.
Namun cinta yang terpendam dalam sekam, seringkali tidak mudah ditangkap oleh anak-anak yang merindukan belaian, atau anak yang mempunyai jumlah pertemuan yang sangat sedikit dengan ayahnya. Sosok yang pendiam, galak, dan terlalu disiplin serta predikat “strong” lainnya akan diberikan anak yang jarang mendapat belaian dari ayahnya.
Begitu juga bagi remaja yang sedang masuk dalam permasalahan pubertas, namun kurang mendapat respon dan ayahnya, akan mencari sosok yang bisa mengayominya. Namun demikian, sebetulnya remaja sangat mendambakan kehadiran ayahnya meskipun image “strong” masih dalam bayangannya. Hal ini dikarenakan ia sedang menunggu seorang “guru” dalam kehidupan sosialnya. Bagaimana dengan kita?

Luangkan Waktu Spesial
Sebagai ayah, hendaknya mengetahui perkembangan dan kebutuhan anak akan kedekatan orang tuanya. Sempatkan waktu dalam sehari meski hanya sesaat, spesial untuk anak-anak kita. Kedekatan tidak harus bergandengan tangan, tidak harus bercengkrama setiap saat. Namun pada keadaan tertentu bercengkrama dan bergandengan tangan merupakan hal yang dirindukan.
Adapun kunci yang dapat memberi kualitas kedekatan ayah pada anaknya meskipun sebentar antara lain:
- Usahakan berpamitan kepada anak saat kita akan berangkat bekerja dengan mencium mereka. Atau jika ayah berangkat lebih siang dari anak-anak, hantarkan mereka pergi sekolah meski hanya sampai depan pintu rumah.
- Doakan anak-anak kita, baik di depan mereka maupun disaat kita sendiri.
- Tanyakan kabar anak-anak kita sepulang sekolah.
- Jika anak kita sudah remaja, lakukan setiap hari. Apa kabarnya dan bagaimana sholat mereka hari
inii?
- Ciumlah anak-anak kita sesering mungkin.
- Bercerita sepulang dari shalat berjamaah di masjid.
Masih banyak lagi kunci kedekatan ayah dengan anak. Apabila yang tertulis di atas dapat dilakukan semuanya insya Allah akan besar manfaatnya bagi keluarga kita. Namun apabila kita tidak mampu melakukan semuanya, lakukanlah salah satu dari yang tertulis di atas dan jadikan kebiasaaan. Insya Allah akan tertanam di dalam benak anak kita suatu kedekatan nyata yang akan memunculkan kerinduan hingga anak kita tumbuh besar bahkan hingga dewasa.

Kasih Sayang Sepanjang Masa
Ibu mempunyai peran penting dalam menanamkan kecintaan anak kepada ayahnya. Sejak bangun tidur hingga sebelum tidur lagi, cinta ibu kepada ayah akan memberikan gambaran betapa keharmonisan di dalam rumah tangga dapat diikuti oleh anak-anaknya. Ketaatan ibu kepada ayah menjadi panutan anak untuk hormat dan patuh kepada ayah. Cinta adalah rasa, rasa diciptakan dengan sentuhan hati dan sentuhan verbal. Kerjasama ayah dan ibu dalam membagi kasih sayang dalam bentuk verbal dan non-verbal pada saat di rumah juga merupakan bagian dan cara untuk menyeimbangkan kedekatan anak dengan orang tuanya. Memberikan gambaran ayah yang kuat, sayang dan suka menolong akan mengurangi gambaran ayah yang “strong” tersebut.
Ibu juga mempunyai kunci yang dapat memberikan kualitas kedekatan anak pada ayah:
-  Ajak anak bersalaman pada saat ayah berangkat kerja atau berpamitan sekolah
-  Mengajak berdo’a untuk ayah yang sedang bekerja mencari nafkah untuk keluarga. - ---- Sampaikan kepada anak bahwa tugas dan peran ayah di luar (kerja) adalah perintah Allah dalam menafkahi keluarga, bukan kepentingan sendiri.
-  Menceritakan kebaikan ayah pada anak kita saat masih kecil (bayi) pada saat ibu berdua dengan anak (tanpa kehadiran ayah).
-  Mengajak anak menyongsong kedatangan ayah dari bepergian/ kerja. Menunggu di depan rumah dengan air minum yang disiapkan untuk ayah. Setelah ayah datang ajak bersalaman dan mencium ayahnya.
Masih banyak lagi yang dapat kita ciptakan dan lakukan, namun apabila tidak dapat dilakukan semuanya, lakukanlah satu hal yang dapat menanamkan kedekatan anak dengan ayah dengan istiqomah. Wallahu a’lam. [nur ‘aini]

Rabu, 22 Juni 2011

AKIBAT BERBUAT MAKSIAT

Jama’ah shalat jum’ah yang dimuliakan Allah Ta’ala

Allahamdulillah segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kita seorang mukmin yang senantiasa berusaha untuk melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dan Dia lah yang telah memberikan pada kita nikmat kesehatan dan kesempatan sehingga kita ditaqdirkan dapat melaksanakan shalat jum’ah di masjid ini.

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada nabi junjungan, nabi besar Muhammad SAW yang telah membawa ummat ini dari jaman jahiliyah menuju zaman yang terang benderang dengan cahaya Islam.

Jama’ah shalat jum’ah yang dimuliakan Allah Ta’ala

Sesungguhnya musibah-musibah yang menimpa kaum muslimin saat ini berupa penderitaaan, kesulitan dan kesempitan baik pada harta maupun keamana, baik yang menyangkut pribadi ataupun sosial, sesungguhnya disebabkan oleh maksiat-maksiat yang mereka lakukan. Sikap mereka yang meninggalkan perintah-perintah Allah, Allah yang paling sayang terhadap mereka daripada kasih sayang ibu-ibu dan bapak-bapak mereka. Dan yang paling mengetahui kemaslahatan dan kebaikan bagi mereka daripada diri mereka sendiri. Allah berfirman,

مَاكَانَ لِبَشَرٍ أَن يُؤْتِيَهُ اللهُ الْكِتَابَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُولَ لِلنَّاسِ كُونُوا عِبَادًا لِّي مِن دُونِ اللهِ وَلَكِن كُونُوا رَبَّانِيِّينَ بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ

"Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, Maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. dan cukuplah Allah menjadi saksi." (QS. An Nisa’: 79)

Jama’ah shalat jum’ah yang dimuliakan Allah Ta’ala

Sesungguhnya kebanyakan orang-orang sekarang mengembalikan sebab musibah-musibah yang mereka alami, baik musibah yang menyangkut harta atau yang menyangkut keamanan dan politik mereka mengembalikan sebab-sebab musibah-musibah ini hanya kepada sebab-sebab alami, materi, atau kepada sebab pergolakan politik, atau sebab perekonomian, atau kepada sebab perselisihan tentang daerah perbatasan antara dua Negara.

Tidak disangsikan lagi, hal ini disebabkan kurangnya pemahaman mereka dan lemahnya iman mereka dan kelalaian mereka dari mentadabburi Al-Qur’an dan sunnah-sunnah Rasulullah SAW.

Jama’ah shalat jum’ah yang dimuliakan Allah Ta’ala

Islam selalu mengajarkan kebaikan kepada pengikutnya. Demikian pula Islam melarang pemeluknya untuk berbuat dosa dan kemaksiatan. Tidaklah Islam memerintahkan serta melarang sesuatu kecuali ada hikmah dibalik semua itu.

Setiap orang yang melanggar aturann yang telah ditetapkan Allah, pasti pelakunya akan mendapat kesengsaraan di dunia dan akhirat. Ia akan menjadi titik hitam yang sulit dibersihkan jika tidak bertaubat dan dibarengi dengan perbuatan yang baik. Rasulullah SAW bersabda :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ : « إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِى قَلْبِهِ فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ قَلْبُهُ فَإِنْ زَادَ زَادَتْ فَذَلِكَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَهُ اللَّهُ فِى كِتَابِهِ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ(

“Seorang mukmin jika berbuat satu dosa, maka ternodalah hatinya dengan senoktah warna hitam. Jika dia bertobat dan beristighfar, hatinya akan kembali putih bersih. Jika ditambah dengan dosa lain, noktah itu pun bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah karat yang disebut-sebut Allah dalam ayat,“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka." (HR Tarmidzi)

Jama’ah shalat jum’ah yang dimuliakan Allah Ta’ala

Ada seorang ulama’ Ibnul Qoyyim al Jauziyah menjelaskan akibat berbuat maksiat pada Allah Ta’ala. Diantara akibat tersebut adalah :

1. Maksiat Menghalangi Ilmu Pengetahuan

Ilmu adalah cahaya yang dipancarkan ke dalam hati. Namun, kemaksiatan dalam hati dapat menghalangi dan memadamkan cahaya tersebut. Ketika Imam Malik melihat kecerdasan dan daya hafal Imam Syafi'i yang luar biasa, beliau (Imam Malik) berkata,

"Aku melihat Allah telah menyiratkan dan memberikan cahaya di hatimu, wahai anakku. Janganlah engkau padamkan cahaya itu dengan maksiat. "

Ketahuilah bahwa Islam ini adalah cahaya. Ia akan menerangi jalan menuju jannah-Nya Allah Ta’ala. Dan ketahuilah bahwa cahaya islam ini tidak akan masuk kedalam hati kita jika kemaksiatan masih menghiasi kehidupan kita.

Banyaknya pengajian yang kita hadiri, ceramah-ceramah dari pada da’i dan khotib yang kita dengarkan, akan tetapi banyak yang sulit untuk diserap dalam pikiran kita. Mungkin penyebabnya adalah maksiat.

Bagaimana tidak, telinga kita masih mendengarkan perkataan-perkataan yang kotor. Mata kita masih menonton tayangan-tayangan yang seronok. Serta anggota badan kita masih banyak melakukan dosa-dosa sehingga Allah belum memberikan ilmunya pada kita.

2. Maksiat Menghalangi Rizki

Jika ketakwaan adalah penyebab datangnya rizki. Maka meninggalkan ketakwaan berarti menimbulkan kefakiran.

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ
"Dari Tsauban berkata, bersabda Rasulullah sallallahu alaihiwasallam : Sesungguhnya seorang hamba dicegah dari rezeki akibat dosa yang diperbuatnya" (HR. Ahmad)

Kita harus yakin bahwa takwa adalah penyebab yang akan mendatangkan rizki dan memudahkannya dan tidaklah mudah mendapatkan rizki Allah kecuali kita tinggalkan kemaksiatan dan janganlah kita penuhi jiwa kita hal-hal yang berbau maksiat.

Kita juga harus membersihkan rizki kita dari barang-barang yang haram dan syubhat. Jauhkan dari riba, menipu, serta transaksi-transaksi yang dilarang dalam islam. Dan ingatlah bahwa satu suap yang didapat dari barang haram bisa menjadikan diri kita terjerumus kedalam neraka. Rasulullah SAW bersabda:

كُلُّ جَسَدٍ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ
Setiap jasad yang tumbuh dari barang haram, maka neraka lebih pantas baginya. (HR. Thabrani dan dishahihkan oleh Al Bani)

3. Maksiat Menimbulkan Jarak Dengan Allah
Diriwayatkan ada seorang laki-laki yang mengeluh kepada seorang arif tentang kesunyian jiwanya. Sang arif berpesan, "Jika kegersangan hatimu akibat dosa-dosa, maka tinggalkanlah (perbuatan dosa itu). Dalam hati kita, tak ada perkara yang lebih pahit daripada kegersangan dosa diatas dosa."

4. Maksiat Menjauhkan Pelakunya dengan Orang baik

Maksiat menjauhkan pelakunya dari orang lain, terutama dari golongan yang baik. Semakin berat tekanannya, maka semakin jauh pula jaraknya hingga berbagai manfaat dari orang yang baik terhalangi. Kesunyian dan kegersangan ini semakin menguat hingga berpengaruh pada hubungan dengan keluarga, anak-anak dan hati nuraninya sendiri. Seorang salaf berkata, "Sesungguhnya aku bermaksiat kepada Allah, maka aku lihat pengaruhnya pada perilaku binatang (kendaraan) dan istriku."

5. Maksiat Menyulitkan Urusan

Jika ketakwaan dapat memudahkan segala urusan, maka pelaku maksiat akan menghadapi kesulitan dalam menghadapi segala urusannya. Maksiat menggelapkan hati, ketaatan adalah cahaya, sedangkan maksiat adalah gelap gulita. Ibnu Abbas ra berkata, "Sesungguhnya perbuatan baik itu mendatangkan kecerahan pada wajah dan cahaya pada hati, kekuatan badan dan kecintaan. Sebaliknya, perbuatan buruk itu mengundang ketidakceriaan pada raut muka, kegelapan di dalam kubur dan di hati, kelemahan badan, susutnya rizki dan kebencian makhluk."

Kita berdo’a pada Allah Ta’ala agar ia Dia menjauhkan kita dari masiat dan memudahkan kita dalam ketaatan.

اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا

"Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini."

أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأسْتَغْفِرُ اللهُ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ وَتُوْبُوْا إِلَيْهِ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ.
 

Media Dakwah Copyright © 2010 LKart Theme is Designed by Lasantha