Tampilkan postingan dengan label Liputan daerah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Liputan daerah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 November 2010

Waspadai , Misionaris Dekati Pengungsi Merapi

Addakwah.com (Yogyakarta) Musibah Merapi yang terjadi hingga saat ini,menimbulkan dampak yang luar biasa bagi sebagian Umat Islam di wilayah Sleman, Magelang dan sekitarnya. Mereka harus mengungsi, meninggalkan kampung halaman. Tidah hanya sehari dua hari, namun sampai saat ini mereka masih tertahan di barak barak pengungsian yang disediakan pemerintah dengan bekal seadanya. Bahkan sebagian harus berpisah dengan sanak saudaranya, sebagian lagi tidak mengetahui nasibnya.
Meninggalkan sebagian harta benda yang ludes diterjang awan panas, rumah porak poran dan kehilangan anggota keluarga, sungguh ujian yang begitu berat. Mengungsi dengan keterbatasan bekal acapkali membuat rasa putus asa.
Dengan memanfaatkan situasi seperti inilah, para misionaris bergerak, menyusup di antara kelengahan kaum muslimin. Mereka memberikan tempat tampungan di gereja atau tempat tempat tertentu yang luput dari perhatian ummat. Di barak pengungsian stadion Maguwoharjo ditemukan buku dengan Judul “TEROBOS KESULITAN”. Buku Saku tipis bergambar dari penerbit Malang dengan alamat yang tidak begitu jelas. Mereka membagi bagikan buku secara sembunyi sembunyi.
Mereka juga mengadakan acara-acara seremonial,  seperti  doa bersama yang rencanaya  akan dilaksanakan di stadion Kridosono Yogyakarta pada Selasa Sore jam 16.30 Wib. Namun, akhirnya dibatalkan oleh panitia tanpa sebab yang jelas. Dengan mengetahui cara seperti itu akan lebih meningkatkan kewaspadaan kaum muslimin untuk menjaga akidah saudaranya yang sedang tertimpa musibah. (Edy)

Senin, 08 November 2010

Umat Islam Dituntut Lebih Peduli

Addakwah.com (Yogyakarta). Pasca Letusan merapi (4/11) pada malem Jumat gelombang pengungsi semakin bertambah banyak. Dusun dusun yang tadinya berada di wilayah aman dari Zona bahanya berangsur angsur meninggalkan kampungnya untuk menyelamatkan diri. Rombongan pengungsi berkelompok kelompok menuju tempat tempat pengungsian yang telah disediakan. Termasuk Stadion Maguwoharjo.
Dengan hati yang tidak menentu, seringkali para pengungsi amat mudah menerima apa yang dianggap mampu memberikan kemudahan untuk menyelamatkan diri saat itu. Ketika mereka berada di tempat pengungsian sementara, tanpa disadari darimana asalnya ada sebuah tawaran untuk mengungsi di tempat yang lebih menjanjikan.
Mereka adalah Rombongan pengungsi terdiri dari sekitar 77 orang yang mayoritas kaum muslimin. Pada hari Jumat mereka mendapatkan tawaran di suatu tempat di daerah Bantul. Akhirnya mereka menuruti untuk menerima tawaran tersebut. Tidak taunya Rombongan tersebut diungsikan di Gereja besar di Ganjuran Bambanglipuro Bantul. Dari hari Jumat hingga Senin, mereka berada di tempat pengungsian tersebut.
Senin, 8 November Beberapa elemen Umat Islam mendatangi Gereja tersebut untuk mengambil para pengungsi tersebut untuk dipindahkan ke tempat yang lebih terjaga akidahnya. Dengan difasilitasi Muspika setempat dan tokoh Pondok Pesantren Asy Syifa akhirnya dicapai kesepakatan untuk dipindah ke Ponpes tersebut berapapun jumlahnya.
Bagaimana jika tidak ada elemen umat Islam yang berusaha memindahkan mereka dari Gereja tersebut? Tentu sudah bisa diketahui, dari rasa ewuh pekewuh dan fasilitas yang sedemikian enak sedikit demi sedikit bisa membahayakan akidah mereka. Apakah hanya gereja di Ganjuran Bantul saja yang menampung para pengungsi merapi? Sangat dibutuhkan jalinan kerjasama antar eemen muslim untuk peduli terhadap nasib pengungsi merapi Saat ini. (Edy)

Sabtu, 19 Juni 2010

Selamat Tinggal Tugu Mojang 'Seronok', Selamat Kongres Muslim Bekasi


Addakwah.com ------MARAKNYA gerakan pemurtadan dan pendangkalan akidah di Bekasi yang kerap dilakukan para kafirin melalui pelecehan dan penghinaan, menjadi ancaman yang serius terhadap kerukunan umat beragama. Puncaknya adalah penginjakan kitab suci Al-Qur’an, penghujatan Islam dalam blog Santo Bellarminus dan ulah Kristen Radikal yang memasuki pelataran Masjid Agung Bekasi dan membuat formasi Pedang-Salib.
Menyikapi ancaman gesekan antarumat beragama itu, para tokoh, ulama, aktivis, pengurus masjid-mushalla, ormas-ormas Islam dan seluruh elemen Islam se-Bekasi bertekad untuk menyatukan perjuangan menegakkan Islam, melalui Kongres Umat Islam Bekasi (KUIB). Rencananya, kongres umat Islam yang pertama di kota Patriot ini akan digelar tanggal 20 Juni 2010 dan 27 Juni 2010, dengan dua tujuan utama, yaitu sebagai wahana silaturrahim dan silatul fikir para ulama, zuama dan cendekia muslim guna meningkatkan peran masing-masing dalam segala bidang; serta mempersatukan ummat dalam rangka memerangi kemaksiatan, kezaliman dan pemurtadan.
KUIB bertema “Jadikan Bekasi Kota Syuhada yang Bersyariah” ini digelar dengan mengusung tiga misi: membangkitkan kesadaran umat untuk mewujudkan Bekasi sebagai kota bersyariah; memberdayakan sumberdaya dari seluruh elemen umat; dan memobilisasi seluruh kekuatan umat untuk menghadang pemurtadan.
Satu hari sebelum KUIB digelar, ada kabar gembira dari kawasan elit Harapan Indah, Medan Satria Bekasi. Patung seronok Tiga Mojang yang selama bertahun-tahun meresahkan umat Islam itu akhirnya berhasil dibongkar.
Setelah diupayakan pihak walikota dengan kawalan Polres Metro Bekasi dan ratusan massa berbagai ormas Islam, patung seronok karya Nyoman Nuarta itu berhasil dirobohkan pada pukul 07.30 WIB.
Direktur Operasional PT Hasana Damai Putera (HDP) Fredy Yanto, mengaku pasrah dengan pembongkaran patung kontroversial tersebut. Pihaknya terpaksa menurunkan patung itu atas instruksi langsung Wali Kota Bekasi Mochtar Mohamad. “Dalam surat itu dijelaskan atas alasan keamanan akhir-akhir ini, sehingga kami diminta membongkar patung tersebut,” kata Fredy, Sabtu siang.
Untuk sementara, kata Fredy, patung tersebut diamankan di Kantor Polsek Medan Satria, yang tidak jauh dari lokasi pembongkaran. Selanjutnya, patung tersebut akan dijual. “Saat ini sudah banyak pihak yang menawar patung tersebut, termasuk warga Australia,” jelasnya.
Sementara itu, Nyoman menuding pembongkaran patung buatannya itu sebagai preseden buruk bagi kesenian dan kebudayaan Indonesia. Ia juga akan memperkarakan kasus ini ke jalur hukum.
"Saya akan pikirkan untuk membawa masalah ini ke jalur hukum," katanya sat diwawancarai ANTARA melalui telepon selular, Sabtu (19/6/2010).
Bahkan Nyoman menuding tindakan ormas-ormas Islam bersama Pemkot Bekasi dan kepolisian yang membongkar patung tersebut sebagai tindakan pembodohan terhadap umat.
"Ini adalah pembodohan kepada masyarakat yang dilakukan oleh sekelompok orang dan saya akan melawan untuk mencerdaskan mereka," tutur seniman yang lahir di Bali itu.
Umat Islam Bekasi terganggu dengan berdirinya terhadap patung perunggu senilai lima miliar rupiah tersebut, karena dinilai bertentangan dengan budaya Bekasi yang patriotik dan relijius. Selain itu, patung setinggi sekitar 20 meter itu tidak memiliki izin.
Ketua DDII Bekasi, KH Salimin Dani menjelaskan, bahwa Patung tiga mojang ini menjulang tinggi ke atas dengan memajang patung tiga gadis  bertelanjang dada. Ketiganya berdiri dengan pose membusungkan dada, sehingga -maaf- organ intim di wilayah dada itu terlihat menantang.
Sementara KH Sulaiman Zachawerus, Ketua Umum GAMIS menilai pendirian patung itu juga tidak berizin, melanggar perda dan menyalahi tata lingkungan pembangunan di Bekasi. “Bagi saya, patung itu tidak pantas disebut Tugu Tiga Mojang, karena patung seronok seperti itu lebih pantas disebut Tugu Tiga Kuntilanak,” katanya.
Walhasil, patung Tiga Mojang yang dinilai seronok, sensual dan tidak pantas didirikan di kampung perjuangan KH Noer Ali itu sudah dibongkar jelang Kongres Umat Islam Bekasi. Selamat tinggal patung seronok, selamat bermusyawarah para pejuang Islam Bekasi. Ikhlaskan niat, wahai pendamba syahid. Semoga sukses menjadikan Bekasi sebagai Kota Syuhada yang Bersyariah. [taz/ab/adrian]

Selasa, 15 Juni 2010

DDIIA Bina ratusan Mualaf Perbatasab Aceh-Sumut

addakwah.com–Dewan Dakwah Islam Indonesia Aceh (DDIIA) melakukan pembinaan terhadap ratusan Muallaf (orang yang baru masuk Islam) dari sejumlah desa di Kabupaten Aceh Singkil, atau perbatasan Provinsi Aceh dengan Sumatera Utara (Sumut).
“Pembinaan terhadap Muallaf itu merupakan kerja sama DDI dengan Baitul Mal Aceh, dengan harapan bisa membantu perekonomian dan pendidikan anak-anak mereka (muallaf) di perbatasan tersebut,” kata Sekjen DDIIA, Said Azhar, di Banda Aceh, Senin.
Tahap awal pembinaan pemahaman tentang Islam, terkait dengan aqidah dan ibadah praktis bagi ratusan Muallaf, terutama mereka yang berdomisili di Kecamatan Danau Paris, Aceh Singkil, tambah dia menjelaskan.
Kemudian, katanya, akan dilakukan proses pemberdayaan ekonomi yang bertujuan untuk kesejahteraan para muallaf dalam menjalani kehidupannya sehari-hari.
Selain Aceh Singkil, DDIIA dan Baitul Mal Aceh juga akan membekali sebanyak 25 Muallaf yang tersebar di beberapa desa di Kota Subulussalam.
“Baitul Mal Aceh juga akan menyediakan dana untuk pengadaan buku bacaan, dan rekrutmen pemberian beasiswa kepada anak-anak mereka, seperti dana operasional anak-anak sekolah yang masing-masing diberikan senilai Rp100 ribu/bulan,” jelas dia,
Beasiswa tersebut hanya diberikan kepada anak Muallaf yang masih duduk dibangku sekolah dari keluarga kurang mampu, sebagai upaya untu menghindari anak-anak jangan sampai putus sekolah akibat tidak memiliki uang.
“Melalui pembekalan dan pemberian beasiswa itu diharapkan dapat memberi pemahaman konprehensif tentang Islam bagi para Muallaf. Dan menjawab kebutuhan mereka sebagai langkah awal belajar Islam dan proses pemberdayaan kesejahteraan keluarganya,” katanya. [ant/hidayatullah.com]
Foto: Gadis Batak menganut Islam mengucap dua kalimah syahadat di Mesjid Agung Bireuen.[Bahrul Walidin/Rakyat Aceh]

MUI Curigai Ada Ajaran Sesat di Tasikmalaya

Addakwah.com. , Tasikmalaya – Majelis Ulama Indonesia Kota Tasikmalaya mencurigai ada ajaran sesat dari ajaran Islam sejak dikabarkan seseorang mengaku nabi datang ke Tasikmalaya, Jawa Barat.
“Kecurigaan terindikasi adanya seseorang berinisial SK yang diketahui menyimpang dari ajaran Islam itu, diungkapkan Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tasikmalaya KH Mufti Aminudin Bustomi, di Tasikmalaya, Selasa (15/6).
Namun, untuk kepastiannya, kata dia harus menunggu fatwa dari MUI Pusat. “Kalau indikasi penyimpangannya, memang ada,” katanya.
Kedatangan seseorang yang dicurigai tersebut, kata Mufti berdasarkan informasi ada seseorang mengaku sebagai nabi, sehingga dikhawatirkan kedatangannya berdampak negatif terhadap umat muslim di Kota Tasikmalaya.
“Para ulama telah mengetahui hal itu, tetapi belum ada kejelasan tentang kedatangan orang tersebut,” kata Mufti.
Ia meminta Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakorpakem) untuk segera menindaklanjuti adanya indikasi ajaran sesat itu.
“Kami mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap ajaran-ajaran yang menyimpang dari ajaran Islam,” katanya. [antara/bar]

Minggu, 30 Mei 2010

37 Warga Saptosari Gunung Kidul Masuk Islam

Gununng Kidul (addakwah.com). Hari Ahad, 18 April 2010 atau 5 Jumadil Awal 1431 adalah hari yang bersejarah bagi 37 orang warga Pedukuhan Pucung, Desa Planjan Kecamatan Saptosari Kabupaten Gunungkidul. Betapa tidak, hari ini secara resmi mereka mengikrarkan diri mereka sebagai muslim/muslimah di hadapan ratusan jamaah pengajian di Balai Desa Pampang Kecamatan Paliyan Gunungkidul.
Dari 37 orang tersebut, 33 orang diantaranya sebelumnya menganut agama Hindu dan sisanya adalah penganut Nasrani. Usia mereka cukup bervariasi, paling muda umur 11 tahun dan tertua umur 60 tahun. Datang dengan menumpang mobil bak terbuka setelah menempuh jarak 17 km dari Saptosari ke Paliyan, nampak keceriaan di wajah-wajah mereka seakan siap menyongsong hidup baru dalam naungan hidayah Sang Pencipta Alam Semesta, Allah SWT.

Berbondong-bondong masuk Islamnya para mualaf ini tak lepas dari peran Yayasan Ukhuwah Muallaf (YAUMU) Gunungkidul pimpinan Bapak Supoyo dan Yayasan Bina Ummat Muallaf Indonesia (YABUMI) Yogyakarta pimpinan Ust Willibrordus Romanus Lasiman yang juga memimpin Pondok Pesantren Diklat Al-Hawariyyun Yogyakarta.
Sosok WR Lasiman ini cukup menarik karena beliau adalah da’i tangguh yang mengembalikan keimanan ummat di berbagai daerah di Yogyakarta dan Jawa Tengah bagian selatan, khususnya di lereng Merapi. Sebagaimana namanya, ia dulu beragama Katolik dengan nama baptis Willibrordus, ditambah nama baptis penguatan (kader) Romanus dan biasa dipanggil Pak Willi. Sebagai seorang pemuka Katolik, ia banyak mempertanyakan kejanggalan demi kejanggalan yang dia temukan dan mendiskusikannya dengan pendeta pengasuhnya. Kegelisahan yang semakin menggoyahkan keyakinannya itu memberinya keputusan untuk berkelana dari Katolik ke Kristen Baptis, lalu pindah ke Kebatinan Pangestu (Ngestu Tunggil), mendalami kitab Sasongko Jati, Sabdo Kudus, dan lainnya.
Ia juga terjun ke perdukunan dan menguasai berbagai kitab primbon dan ajian. Tujuannya satu, mencari dan menemukan kebenaran hakiki.Tentang WR Lasiman silakan klik: http://swaramuslim.net/islam/more.php?id=A5635_0_4_0_M

Mari kita kembali lagi ke prosesi peng-Islaman di Paliyan. Dalam sambutannya, Bapak Supoyo mewakili YAUMU memaparkan bahwa dalam setahun ini YAUMU telah meng-Islamkan 517 orang dan melakukan pembinaan ke-Islaman kepada mereka, bekerjasama dengan Pengurus Cabang Muhammadiyah Gunungkidul dan beberapa organisasi dakwah lainnya.
Biasanya, setelah prosesi ikrar maka para muallaf akan dibina secara intensif selama tiga hari di kota Yogyakarta, dengan fasilitas antar-jemput. “Kalau muallaf yang sudah lama, untuk datang ke pengajian tentu tidak perlu dijemput lagi”, kata Pak Supoyo. Di bidang ekonomi, YAUMU juga berusaha memberdayakan para muallaf misalnya dengan memberikan santunan berupa bahan makanan pokok, serta kambing gaduhan.
Di bidang pendidikan, YAUMU berusaha memindahkan para siswa muallaf dari sekolah non-muslim ke sekolah bernafaskan Islam.
Nah, kami yang berangkat dari Yogya sejak pukul 06.00 setelah saling menunggu sejak habis subuh sudah tak sabar untuk mengikuti prosesi sakral ini. Kebetulan hadirin semakin banyak berdatangan; dari berbagai jamaah pengajian di Gunungkidul, Yogya, bahkan ada rombongan Ust Wahfiudin dari Jakarta. Prosesi pun diawali dengan pensucian, yakni melakukan wudlu dan berganti pakaian.
Sewaktu datang, hanya seorang anak perempuan yang memakai kerudung. Pensucian dilakukan di kamar mandi SDN 1 Pampang yang terletak di sebelah timur balai desa dengan dibatasi lapangan sepak bola.
Prosesi ikrar Syahadatain (dua kalimat Syahadat) yang dipimpin Ust Wahfiudin tersebut berlangsung dengan sangat khusyuk dan mengharukan. Dilanjutkan dengan doa berbahasa Indonesia, para muallaf tak kuasa lagi menahan air mata mereka. Tangis pun pecah, begitu juga yang terjadi pada para hadirin. Betapa tidak, hari ini adalah hari bersejarah dalam kehidupan mereka; hari dimana mereka kembali kepada naungan Allah SWT yang telah menciptakan mereka, menghidupkan mereka, dan suatu saat pasti akan mengambil nyawa mereka.
Ya, sebagaimana raga mereka yang tak mungkin menghindar dari takdir-Nya, hari ini mereka menyerahkan kembali jiwa mereka pada fitrah yang telah ditetapkan Sang Khalik; menjadi seorang muslim atau muslimah yang berarti berserah diri pada Allah SWT.
Ya Allah, teguhkanlah iman mereka, mudahkanlah dalam menjalankan agama-Mu, bahagiakan mereka di dunia dan akhirat dan kumpulkan kami bersama mereka di surga-Mu. Amien. (Muhammad Abu Ibrahim Azzam, Ketua Dept Data dan Informasi Majelis Mujahidin)
 

Media Dakwah Copyright © 2010 LKart Theme is Designed by Lasantha