Tampilkan postingan dengan label kolom. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kolom. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Januari 2011

Perbedaan Antara Iman dan Islam

Tidak syak, terdapat perbedaan mencolok antara muslim dan mukmin, atau Islam dan Iman. Iman adalah perkataan dan perbuatan (amal): Perkataan adalah perkataan hati dan lisan, sedangkan amal adalah amalan hati dan anggota badan. Sementara makna Islam, maksudnya berserah diri, tunduk dan patuh kepada ketetapan-Nya.
Allah 'Azza wa Jalla berfirman,
قَالَتِ الْأَعْرَابُ آَمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُم
Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah (kepada mereka): "Kamu belum beriman, tetapi katakanlah: "Kami telah tunduk", karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu. . .” (QS. Al-Hujurat: 14)
Karena itu para ulama menafsirkan Iman sebagai amal batin, sedangkan Islam sebagai amal zhahir. Karena iman pada dasarnya adalah pembenaran dangan hati terhadap apa yang diyakini dan dipercaya. Sementara asal makna Islam adalah ketundukan dan kepatuhan yang menuntut kerja dengan anggota badan.
Maka seorang muslim adalah orang yang tunduk menyerah kepada perintah Allah dan mematuhi-Nya. Dia akan tunduk dan mentaati Allah dengan suka rela atau terpaksa tanpa membeda-bedakan satu perintah dengan perintah yang lain. Apabila Allah memerintahkan satu perintah, maka dia segera melaksanakannya. Dan apabila melarang sesuatu dalam Islam, maka dia meninggalkan dan menjauhinya. Dia meyakini bahwa perintah Allah hanya berisi maslahat semata, sedangkan yang dilarang-Nya hanya berisi mafsadat (kerusakan). Maka kapan saja dia mendengar ada ketaatan kepada Allah dalam satu masalah, segera dia melaksanakannya karena cinta kepada perintah tersebut, sangat agresif dan penuh semangat, seolah-olah dia sendiri yang menghendaki tanpa ada paksaan. Seperti inilah seharusnya seorang muslim.
Seorang muslim adalah orang yang tunduk menyerah kepada perintah Allah dan mematuhi-Nya. Dia akan tunduk dan mentaati Allah dengan suka rela atau terpaksa tanpa membeda-bedakan satu perintah dengan perintah yang lain.
Pada banyak kesempatan, syariat menggunakan kata ‘Islam’ untuk menjelaskan maksud Iman. Seperti dalam hadits Jibril 'alaihis salam yang sangat masyhur itu, beliau shallallahu 'alaihi wasallam membedakan antara keduanya ketika Jibril bertanya kepadanya, “Ya Rasulallah, beritahukan kepadaku tentang Iman!”. Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab, “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, dan hari akhir, juga engkau beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.”
Jibril 'alaihis salam bertanya lagi, “Beritahukan kepadaku tentang Islam!.” Beliau menjawab, “Hendaknya engkau bersaksi tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah jika engkau mampu.”
Dalam hadits tersebut, beliau menafsirkan iman dengan amal batin. Itu menunjukkan bahwa iman pada dasarnya adalah keyakinan atau amalan hati. Lalu beliau menafsirkan Islam dengan amal zhahir, karena ikrar dua kalimat syahadat walaupun hanya ucapan saja, tapi dia amal yang nampak dan terlihat pengaruhnya berupa ibadah kepada Allah semata dan mentaatinya. Shalat juga perkara zhahir yang dapat disaksikan, begitu juga shaum. Sementara zakat, memberikannya juga merupakan perkara zhahir. Begitu juga haji, pelaksanaannya terlihat dan nampak.
Walaupun begitu, ada juga hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang menjelaskan iman dengan makna Islam. Misalnya dalam hadits Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma tentang utusan Abdil Qais, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Aku perintahkan kepada kalian empat perkara: Aku perintahkan kalian untuk beriman kepada Allah. Tahukan kalian apa itu iman kepada Allah? Yaitu bersyahadat bahwa tiada tuhan (yang hak) kecuali hanya Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, kalian mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menyerahkan seperlima dari harta ghanimah.” Beliau menyebut semua ini sebagai iman yang disebutkan di dalamnya dua kalimat syahdat, shalat dan zakat. Berarti dalam hal ini, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menafsirkan iman dengan penafsiran Islam.
Kesimpulannya, bahwa Islam ditafsirkan secara global berarti amal zhahir: dua kalimat syahadat, shalat, zakat, shaum, dan haji. Semua amal-amal zhahir lainnya Masuk di dalamnya. Sementara rukun Islam yang lima menduduki semacam kerangka dasar yang bangunan Islam berdiri tegak di atasnya, tidak sempurna Islam kecuali dengan kelimanya.
Sedangkan iman adalah perkataan, perbuatan, dan i’tiqad (keyakinan). Perkataan hati dan lisan, amalan hati dan anggota badan. Ucapan dengan lisan, antara lain dzikir, membaca Al-Qur’an, berdoa, menyuruh kepada kebaikan dan mendakwahkannya, melarang keburukan dan memperingatkannya, mengajar dan menasihati orang sesat, mengucapkan salam dan menjawabnya, serta yang semisalnya. Sedangkan amalan, masuk di dalamnya amalan hati dan amalan anggota badan. Amalan hati: Mencintai dan membenci karena Allah, ridha terhadap takdir-Nya, bersabar atas ujian dari-Nya, takut dan berharap kepada-Nya, bertawakkal dan bertaubat kepada-Nya, dan amal-amal semisalnya. Semua itu disebut amal hati. Sedangkan amal anggota badan: ruku’, sujud, berdiri dan duduk shalat, thawaf, berjihad, haji, dan semisalnya. [PurWD/voa-islam.com]

Selasa, 04 Januari 2011

Menjelaskan Kebatilan Doa Bersama Pemeluk Lintas Agama

Oleh: Badrul Tamam
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan nikmat teragung kepada kita, hamba-hamba-Nya yang beriman. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada utusan Allah untuk semesta alam, beserta keluarga dan para sahabatnya.
Allah telah menutus Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dengan membawa petunjuk dan agama yang benar untuk Dia menangkan atas semua agama yang ada. Allah juga memerintahkan beliau shallallahu 'alaihi wasallam untuk mendakwahkannya baik secara umum atau khusus. Umum maknanya, kepada semua kalangan, bangsa, dan pemeluk agama. Khusus, maknanya kepada ahli ktiab dari Yahudi dan Nasrani.
Allah Ta’ala berfirman,
 قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إنِّي رَسُولُ اللَّهِ إلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ لا إلَهَ إلاَّ هُو يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Katakanlah: "Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang umi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk".” (QS. Al-A’raf: 158)
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلاَّ نَعْبُدَ إلاَّ اللَّهَ وَلا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ فَإن تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)".” (QS. Ali Imran: 64)
Allah Subhanahu wa Ta'ala memperingatkan utusan-Nya tadi agar berhati-hati terhadap segala usaha orang kafir dari kalangan ahli kitab dan musyrikin untuk menyesatkannya dari petunjuk yang dibawanya, baik secara umum ataupun khusus.
Allah berfirman,
قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ  لا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ  وَلا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ  وَلا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ  وَلا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ  لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
Katakanlah: "Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah.Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku".” (QS. Al-Kaafirun 1-6)
Allah memperingatkan secara khusus terhadap berbagai tipu daya dari Ahli Kitab,
وَأَنزَلْنَا إلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْـحَقِّ مُصَدِّقًا لِّـمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ الْكِتَابِ وَمُهَيْمِنًا عَلَيْهِ فَاحْكُم بَيْنَهُم بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ وَلا تَتَّبِعْ أَهْواءَهُمْ عَمَّا جَاءَكَ مِنَ الْـحَقِّ   - - - وَاحْذَرْهُمْ أَن يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنزَلَ اللَّهُ إلَيْكَ
Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. - - sampai - - Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.” (QS. Al-Maidah: 48-49)
Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan perintah Tuhan-nya ini, beliau menyeru sanak keluarganya terdekat dan manusia secara umum. Bahkan, dalam keterangan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwa beliau shallallahu 'alaihi wasallam telah menulis surat kepada penguasa Romawi dan Persia, kepada raja Najasyi dan segenap pungasa lalim lainnya. Isi surat beliau berisi dakwah agar menyembah kepada Allah semata dan mengakui beliau sebagai utusan Allah kepada mereka. Salah satu contohnya adalah surat beliau kepada Heraklius, penguasa Romawi:
Bismillahirrahmanirrahim (Dengan menyebut nama Allah Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang). Surat ini dari Muhammad, hamba Allah dan Rasul Allah, kepada Heraklius, penguasa Romawi. Salam kesejahteraan tercurah pada orang yang mengikuti jalan yang lurus. Adapaun selanjutnya, aku benar-benar menyeru Anda memeluk Islam. Masuk Islam-lah, pasti Anda selamat. Allah pasti akan menganugerahi Anda pahala dua kali lipat. Namun kalau Anda menolak, maka Anda bertanggung jawab akan dosa orang-orang Arison. Dan :
يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَنْ لَا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
Hai Ahli kitab! Mari kita datang pada persamaan antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah sesuatu selain Allah, dan kita tidak mempersekutukan Allah dengan apapun, juga kita tidak mengangkat di antara kita sebagai Tuhan selain Allah. Kemudian, jika mereka berpaling, maka katakan 'persaksikanlah bahwa kami adalah Muslim.” (QS. Ali Imran: 64)
Jalan ini pula yang telah ditempuh para sahabat dan tabi’in. mereka menaklukkan hati musuh sebelum menjebol benteng mereka sehingga memasukkan mereka ke dalam Islam dengan berbondong-bondong. Kemudian para ulama salaf sesudah mereka mengikuti langkah-langkah mereka ini. Mereka hanya mengenal dakwah kepada Allah dengan hujjah dan argumentasi yang jelas. Jika musuh menolak, maka pedang dan kekuatanlah yang bertindak, “Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.” (QS. Al-Anfal: 39). Mereka tidak mengenal metode baru dalam ber-Islam yang mengakui kebenaran agama lain dan berupaya mengadakan kegiatan keagamaan bersama-sama, seperti doa bersama, saling mengucapkan selamat atas hari besar antar umat beragama, dan saling menghadiri dan memeriahkannya.
Fenomena Doa Bersama Antar Lintas Agama
Prinsip Islam di atas tentu sangat berbeda dengan gerakan pluralisme yang sedang trend dan menjangkiti sebagian umat Islam. Bukannya mendakwahi pemeluk agama kufur untuk masuk Islam biar selamat di ahirat, malah bersama-sama dengan mereka melaksanakan ibadah bareng di gereja atau tempat lainnya. Pastinya, orang-orang kafir tersebut semakin terdukung dengan keyakinan agamanya.
Pada acara haul setahun meninggalnya ‘Bapak Pluralisme Indonesia’ KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada akhir Desember lalu, para tokoh berbagai agama menggelar doa bersama, tahlilan dan yasinan di Gereja GKJW Jombang. Acara doa bersama yang dihadiri oleh ratusan umat lintas agama Islam, Kristen, Budha, Hindu dan aliran kepercayaan itu mengambil tajuk ‘Gus Dur Memorial Lecture’.
Menurut penuturan Ketua Panitia Aan Anshori yang juga Ketua Lembaga Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LBH NU), rangkaian acara tersebut diawali dengan pembukaan dan sambutan oleh Ketua Majelis Daerah (MD) GKJW Surabaya Barat, Pendeta Sunardi. Kemudian, dilanjutkan dengan pembacaan doa secara maraton dari berbagai agama secara bergantian.
“Pertama pembacaan Yasin dan Tahlil disambung dengan doa dari agama Kristen, Hindu, Buddha dan Aliran kepercayaan. Semua ditujukan untuk Gus Dur,” kata Aan.
Sedangkan di Semarang, puluhan aktivis lintas agama dari NU, Kristen, Katolik, Budha, Hindu, Konghuchu dan Ahmadiyah menggelar doa bersama dan peringatan satu tahun meninggalnya Gus Dur di Monumen Tugu Muda Semarang, Kamis malam (30/12/2010).
Selain doa yang dikirim untuk arwah Gusdur, juga diisi dengan lantunan shalawat dan orasi kemanusiaan yang disampaikan oleh masing-masing perwakilan dari lintas agama.
Kebatilan Doa bersama Lintas Agama
Setiap muslim wajib meyakini bahwa agama Islam saja yang benar, yang diridhai  dan di terima oleh Allah Ta’ala. Sedangkan orang yang beragama selain Islam, maka seluruh amalnya tertolak dan pada hari kiamat tergolong sebagai orang-orang yang merugi.
 Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ  
Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran: 19) Allah mengabarkan bahwa agama yang benar dan diterima oleh-Nya adalah Islam.
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآَخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran: 85)
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,
إِنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ لَيُؤَيِّدُ هَذَا الدِّينَ بِالرَّجُلِ الْفَاجِرِ
Sesungguhnya tidak akan masuk surga kecuali jiwa yang muslim. Dan sesungguhnya Allah akan menguatkan dien (agama) ini dengan seorang laki-laki yang fajir.” (Muttafaq ‘alaih)
Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menguatkan makna ini dengan sabdanya,
وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ
Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tak seorangpun dari umat ini yang beragama Yahudi dan tidak pula Nasrani yang pernah mendengar tentangku lalu dia mati dan tidak beriman kepada risalah yang aku bawa, kecuali dia menjadi penghuni neraka.” (HR. Muslim)
Sedangkan amal kebaikan orang kafir tidak bermanfaat bagi mereka sedikitpun di akhriat. Allah berfirman:
وَمَا مَنَعَهُمْ أَنْ تُقْبَلَ مِنْهُمْ نَفَقَاتُهُمْ إِلَّا أَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ
"Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya." (QS. Al Taubah: 54)
وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآَنُ مَاءً حَتَّى إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا وَوَجَدَ اللَّهَ عِنْدَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ
"Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apa pun. Dan di dapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya." (QS. Al Nuur: 39)
وَقَدِمْنَا إِلَى مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا
"Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan." (QS. Al Furqaan: 23)
Dari Aisyah radliyallah 'anha berkata: "Aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, 'Ya Rasulallah, Ibnu Jad'aan sewaktu Jahiliyah telah menyambung silaturahim dan memberi makan orang miskin, apakah hal itu bermanfaat baginya?" Beliau shallallahu 'alaihi wasallam menjawab, "tidak bermanfaat baginya karena tak pernah sehari pun dia berucap, "Ya Allah Tuhanku, ampunilah dosa kesalahanku pada hari pembalasan." (HR. Muslim)
Imam an Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menerangkan makna hadits ini, bahwa apa yang telah dikerjakannya berupa menyambung silaturahim, memberi makan, dan berbagai kemuliaan lainnya tidak memberikan manfaat baginya di akhirat, dikarenakan dia seorang kafir."
Al Qadli 'Iyadh  rahimahullah berkata: "Telah terjadi ijma' bahwa amal-amal baik orang-orang kafir tidak memberikan manfaat bagi diri mereka, mereka juga tidak dibalas dengan diberi nikmat dan tidak pula diringankan adzab. Tetapi siksa sebagian mereka lebih dahsyat dari sebagian lainnya sesuai dengan kejahatan mereka." (Syarh Shahih Muslim)
Sedangkan doa bersama yang dilakukan aktifis lintas agama pada acara peringatan setahun meninggalnya “Bapak Pluralisme Indonesia” KH. Abdurrahman Wahid sangat bertentangan dengan dengan prinsip dasar Islam di atas.
Doa bersama berarti mengakui kebenaran ajaran, ibadah, dan doa yang mereka panjatkan kepada tuhan yang mereka angkat selain Allah. Padahal dengan tegas Allah menyebutkan,
وَالَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ لَا يَسْتَجِيبُونَ لَهُمْ بِشَيْءٍ إِلَّا كَبَاسِطِ كَفَّيْهِ إِلَى الْمَاءِ لِيَبْلُغَ فَاهُ وَمَا هُوَ بِبَالِغِهِ وَمَا دُعَاءُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ
Dan berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah tidak dapat memperkenankan sesuatu pun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membukakan kedua telapak tangannya ke dalam air supaya sampai air ke mulutnya, padahal air itu tidak dapat sampai ke mulutnya. Dan doa (ibadah) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka.” (QS. Al-Ra’du: 14)
Doa bersama berarti mengakui kebenaran ajaran, ibadah, dan doa yang mereka panjatkan kepada tuhan yang mereka angkat selain Allah.
Teladan Nabi Ibrahim dalam Berislam
Seorang muslim seharusnya mencontoh dan mengikuti jejak Nabiyullah Ibrahim 'alaihis salam dalam memegang prinsip berislam. Beliau hidup pada masyarakat yang plural namun tidak lantas menjadi pluralism yang mengakui kebenaran keyakinan non-muslim. Allah Ta’ala berfirman,
قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآَءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ
Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran) mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (QS. Al-Mumtahanah: 4)
Dalam ayat di atas, degan tegas, Nabi Ibrahim 'alaihis salam dan kaumnya yang beriman kepada beliau menyatakan kebatilan agama orang-orang kafir yang menyembah selain Allah. Beliau berlepas diri dari mereka, tuhan yang mereka sembah selain Allah, dan juga berlepas diri dari ibadah mereka. Beliau menyatakan ingkar beliau terhadap keyakinan mereka tersebut. Tidak cukup itu saja, beliau menyatakan permusuhan dan kebencian terhadap mereka dengan kekafiran mereka tersebut sehingga mereka beriman kepada Allah semata.
Karena pentingnya prinsip berislam ini, Allah Ta’ala mengulang perintah meniti jejak beliau dan mencontohnya,
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيهِمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ
Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari kemudian.” (QS. Al-Mumtahanah: 6)
Syaikh Abdurrahman bin Nashir al-Sa’di rahimahullaah, menyebutkan bahwa mengikuti contoh Nabi Ibrahim dan pengikutnya tersebut sangat berat kecuali bagi mereka yang berharap pahala dari Allah dan keselamatan pada hari akhir. Tentu sebaliknya, bagi orang yang tujuan hidupnya dunia dan tidak takut akan hari pembalasan, amat sangat berat mengikuti teladan yang baik dalam beriman dan bertauhid serta melaksanakan tuntutan-tuntutannya.
Ini sangat berbeda dengan kegiatan aktifis pluralism yang malah bersama-sama orang-orang kafir beribadah dan berdoa dengan ajaran agamanya masing-masing. Bukannya bara’ (berlepas diri dan benci) dengan orang kafir, ibadah mereka dan tuhan yang mereka sembah selain Allah, tapi malah mendukung, menyokong, dan meridhai yang mereka lakukan. Wal’yadhu billah (Semoga Allah menyelamatkan kita dari kesesatan ini)!.
Nabi Ibrahim dan pengikutnya berlepas diri dari orang kafir, tuhan yang mereka sembah selain Allah, dan juga berlepas diri dari ibadah mereka.
Beliau menyatakan ingkar beliau terhadap keyakinan mereka tersebut.
Tidak cukup itu saja, beliau menyatakan permusuhan dan kebencian terhadap mereka dengan kekafiran mereka tersebut sehingga mereka beriman kepada Allah semata.
Doa Bersama Bentuk Sinkretisme  
Sesungguhnya aktifitas doa bersama lintas agama muncul dari peradaban Barat yang mengesahkan aktivitas sinkretisme (percampuran akidah maupun syariat berbagai agama) yang didasarkan pada paham kufur pluralisme.  Sebaliknya, Islam menolaknya. Sebab, antara yang hak dan yang batil serta antara keimanan dan kekufuran tidak dapat dipertemukan dan disatukan sampai kapan pun dan dengan alasan apa pun.
Allah Ta’ala berfirman,
وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 42)
Seorang muslim tidak boleh mencampur adukkan antara hak dan batil, dalam hal ini doa kepada Allah dan doa kepada selain-Nya. Seharusnya dia menyampaikan ini hak dan itu batil agar orang yang mencari petunjuk mengetahuinya lalu mengikutinya. Sedangkan orang yang sebelumnya tersesat agar ia kembai ke jalan yang benar. Adapun penentang agar mereka mendapatkan bantahan dengan argument yang jelas.
Sementara kaum muslimin yang dalam kegiatan doa bersama pasti tidak akan menyatakan kebenaran agamanya dan kebatilan agama yang lain, walaupun dia mengetahuinya. Ini menurut penjelasan Syaikh al-Sa’di termasuk bentuk mencampuradukkan kebenaran dan kebatilan sehingga keduanya tidak nampak perbedaannya. Juga termasuk menyembunyikan kebenaran yang diketahuinya karena tidak menjelaskan kepada orang-orang kafir tentang kesalahan keyakinan mereka. Wallahu Ta’ala a’lam. [PurWD/voa-islam.com]

Minggu, 26 Desember 2010

Dalam Islam, Madonna Menemukan Kedamaian

Kelahiran dan kematian putrinya menjadi titik perubahan dalam hidupnya. Ketika tahu dirinya hamil, Madonna Johnson tahu bahwa ia akan menjadi orang tua tunggal. Jika karena bukan rasa cinta, pengabdian dan dukungan dari ibunya, Madonna mungkin tidak akan pernah bisa melewati semua persoalan hidupnya.

Namun Madonna harus kehilangan putri yang baru dilahirkannya. Pada usia 5 bulan, bayinya meninggal akibat "Sudden Infant Death Syndrome" (SIDS) yang dalam dunia kedokteran dikenal sebagai kematian tiba-tiba pada balita yang tidak diketahui penyebabnya. Kematian putrinya yang mendadak, membuat Madonna sangat berduka.

"Saya belum pernah mengalami rasa sakit seperti itu, panik dan merasa sangat hampa. Tapi saat pemakaman, saya mengatakan pada orang-orang bahwa saya percaya sepenuh hati Tuhan tidak akan memberikan rasa sakit jika Dia tidak memiliki sesuatu yang luar biasa untuk saya di masa depan, apa yang harus saya lakukan adalah tetap berada di jalan yang benar dan Tuhan akan menunjukkannya begitu saya siap," ujar Madonna mengenang saat pemakaman bayinya.

Ia mengungkapkan, ketika itu teman-temannya mengatakan bahwa ia akan bertemu dengan putrinya lagi kelak. Madonna menanyakan bagaimana orang tahu bahwa ia akan masuk surga? Hanya karena ia seorang Kristiani, tidak ada jaminan ia masuk surga apalagi ia bukan seorang Kristiani yang taat. Begitu banyak pertanyaan Madonna yang tak terjawab. Tanpa sadar ia mulai mempertanyakan soal "satu agama yang benar" yang bisa menjaminnya masuk surga untuk bertemu lagi dengan putrinya.

Madonna sejenak melupakan pertanyaan itu. Ia mendapat pekerjaan di sebuah bar di Indianapolis dan bertemu seorang perempuan yang kemudian menjadi sahabat baiknya. Temannya itu memiliki sejumlah bisnis, tapi bisnisnya tidak terlalu sukses. Suatu hari, temannya itu menanyakan apakah Madonna mau pergi ke Malaysia. Ia mengatakan butuh tenaga Madonna untuk membeli busana model Malaysia, membuat foto-fotonya dan mencari sesesorang yang bisa menangani ekspor impor. Tanpa pikir panjang, Madonna menerima ajaka temannya itu.

"Saya tiba di Kuala Lumpur di pertengahan bulan Ramadan. Saya belum pernah mendengar soal agama Islam dan tidak tahu bahwa Malaysia adalah negara Muslim. Saya melihat hampir semua perempuan menutupi kepalanya dengan kerudung bahkan dalam cuaca yang sangat panas. Saya juga menyaksikan bagaimana orang-orang berusaha bersikap baik pada saya," tutur Madonna.

"Seorang sahabat yang sangat spesial menjelaskan pada saya bahwa Malaysia adalah negara Islam, dan Muslim meyakini jika mereka berbuat baik pada orang lain, Allah akan senang dan akan memberikan pahala bagi mereka di Hari Akhir nanti," sambungnya menirukan penjelasan sahabat spesialnya.

Di sisi lalin Madonna melihat sisi negatif Islam, seperti pandangan orang-orang yang sebenarnya tidak banyak tahu tentang Islam. Ia lalu membeli beberapa buku Islam, termasuk Al-Quran dan mulai mempelajari Islam. Banyak pertanyaan yang diajukannya tentang ajaran Islam, misalnya; mengapa perempuan harus menutup seluruh tubuhnya kecuali tangan dan wajah, mengapa muslim sangat bahagia dan mau berpuasa sepanjang siang hari, mengapa ada orang mau berlapar-lapar dan itu membuat mereka bahagia? Madonna merasa tidak ada orang yang bisa berbahasa Inggris dengan baik untuk menjelaskan jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya itu, sehingga Madonna memilih untuk mencarinya dalam Al-Quran.

"Semakin saya mendalami agama Islam, saya makin sering bertanya-tanya apakah ini jalan untuk bertemu dengan putri saya, apakah agama ini akan membawa saya ke surga?" imbuh Madonna.

Ganjalan terbesar bagi Madonna tentang Islam adalah perbedaan konsep Yesus (Nabi Isa) dalam Kristen dan Islam. Ia membayangkan betapa sulitnya menjelaskan pada keluarganya soal perbedaan itu. "Saya punya persoalan di sini, haruskah saya mengambil tantangan ini ... menjadi seorang muslim dan berjalan menuju surga? Atau saya menolak kebenaran yang telah saya yakini dalam hati hanya karena takut akan penentangan dari keluarga dan teman-teman saya ... dan hanya untuk tinggal di neraka selama-lamanya?" hati Madonna masih risau.

Pikiran apakah ia seharusnya segera masuk Islam atau tidak membuatnya merasa gelisah setiap hari. Bagi Madonna, keputusan itu tidak mudah. Islam bukan agama paruh waktu, seorang muslim sejati tidak mempratekkan Islam satu kali seminggu. Islam adalah agama yang menyeluruh dengan tantangan dan perjuangan yang berat, tapi juga memberikan banyak keindahan. "Makin banyak Anda belajar dan memahami (Islam), semakin Anda menyadari bahwa Anda hanya harus memulai sebuah langkah, yang membuat Anda harus berusaha keras dan belajar lebih banyak lagi," ungkap Madonna.

Dan sampailah ia pada suatu hari dimana ia dengan mantap mengatakan,"Ok, saya yakin, saya akan masuk Islam" dan sejak itu segala keresahan dan kegundahannya sirna. "Alhamdulillah. Semua rasa pedih yang saya alami di masa lalu, termasuk rasa sakit akibat kematian putri saya, semuanya sirna. Tak ada lagi mimpi buruk dan saya merasakan kedamaian yang luar biasa," tandas Madonna.

Madonna mengunjungi PERKIM, sebuah organisasi muslim di Malaysia dan ia di sana ia mengucapkan dua kalimat syahadat. "Hati saya diliputi kedamaian dan rasa cinta pada Allah Swt. Alhamdulillah," tukasnya.

"Tentu saja tantangan masih menghadang. Menjadi seorang muslim bukan berarti saya tidak menghadapi masalah. Tapi menjadi seorang muslim, saya punya solusi atas semua persoalan yang menghampiri saya, dengan mengikuti jalan kebenaran, jalan Islam. di ujung jalan ini, terbentang surga, ada putri saya dan banyak kenikmatan lainnya."

"Segala puji bagi Allah Swt. yang telah membawa saya ke dalam kebenaran dan atas rahmat-Nya yang telah menjadikan saya seorang muslim," tandas Madonna. [eramuslim/ln/oi]

Rabu, 10 November 2010

Menyikapi Ajakan Kemusyrikan Obama di Istiqlal: 'Lakum Dinukum Waliyadin'

Oleh: Hartono Ahmad Jaiz
Secarik kertas  berisi tulisan tangan Presiden Amerika Serikat Barack Obama tentang kesan khusus atas kunjungannya ke Masjid Istiqlal diterima oleh Imam Besar Masjid Istiqlal KH Mohammad Ali Mustofa Yakub, Rabu 10 November 2010.
Bagaimanapun, tulisan tangan seorang Presiden Amerika yang dia sendiri mengaku sebagai Kristiani itu walau tampaknya mengajak kepada suatu “kebaikan” namun entah disengaja atau tidak, di dalamnya ada tawaran kemusyrikan. Satu bentuk keyakinan yang sangat dilarang oleh Islam, bahkan puncak kemungkaran.
Hal itu tercermin dalam akhir tulisan tangan Presiden Obama: “…. I hope my visits promotes greater understanding between peoples of different countries and different faith for we are all children of God."
Baris terakhir termaktub “we are all children of God,” yang kurang lebih terjemahnya adalah “kita semua adalah anak-anak Allah.” Kalimat ini  adalah ajakan kepada kemusyrikan, karena dalam Islam, Allah Ta’ala berfirman dengan jelas:
“Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia" (Qs Al-Ikhlash 1-4).
Penawaran dengan menyebut “we are all children of God” itu mengingatkan peristiwa yang diajukan oleh kaum kafir Quraisy untuk apa yang kurang lebihnya sekarang disebut “doa bersama antaragama”, namun langsung Allah Ta’ala menurunkan surat Al-Kafirun, yang isinya menolak tegas-tegas penawaran dari kaum kafir Quraisy itu.
“Katakanlah: "Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu semba. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah, dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku." (QS Al-Kafirun 1-6).
Tulisan tangan Obama itu diterima Imam Besar Masjid Istiqlal KH Mohammad Ali Mustofa Yakub. Berikut isi lengkap tulisan Obama:
"I am honored to have had an opportunity to visit this magnificent mosque, which stands as a symbol of the role of Islam in guiding the lines of millions of Indonesians. I hope my visits promotes greater understanding between peoples of different countries and different faith for we are all CHILDREN OF GOD."
Terjemahannya kurang lebih demikian:
"Kehormatan bagi saya karena mendapat kesempatan untuk dapat mengunjungi masjid yang sangat luar biasa ini, Istiqlal adalah simbol peranan Islam dalam menuntun kehidupan jutaan rakyat Indonesia. Saya berharap kunjungan saya makin meningkatkan saling pengertian di antara orang-orang dari berbagai negara dan keyakinan, sebab kita semua adalah ANAK-ANAK TUHAN."

Bagaimana umat Islam menyikapinya?

Bagaimana cara menyikapi setelah kita tahu ada ayat “lakum dinukum waliyadin” ِ(bagimu agamamu, dan bagikulah, agamaku)?
Imam Ibnu Katsir mengaitkan ayat itu dengan sikap Nabi Ibrahim alaihissalam dan para pengikutnya terhadap orang-orang musyrikin:
"Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (Qs Al-Mumtahanah 4).
Walaupun tulisan Obama itu berkaitan dengan kunjungan di Masjid Istiqlal, namun isinya pada hakikatnya adalah mengajak kepada kemusyrikan. Karena sebagaimana Allah Ta’ala telah jelaskan:
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu” (QS Al-Baqarah 120).
Bagi Umat Islam, lafal “insya Allah” ataupun “assalamu’alaikum” yang diucapkan Obama ketika berkunjung ke Indonesia, tidak lantas membuat silau akidah. Umat Islam tetap lebih percaya kepada apa yang difirmankan Allah dan Rasul-Nya, di antara: “lakum dinukum waliyadin.” ِBagimu agamamu, dan bagikulah agamaku, wahai Mister Obama.(sumber: voa-islam.com)

Selasa, 02 November 2010

Bagaimana Mensikapi Musibah dan Bencana?

Tiba-tiba kereta senja utama jurusan Jakarta - Semarang, yang berhenti di stasiun Pemalang ditabrak kereta Argo Anggrek, yang menuju Surabaya. Tidak sedikit yang meninggal, sekitar 35 orang yang meninggal, dan puluhan lainnya yang luka.
Lalu, banjir bandang dan longgsor di Wasior-Papua, yang mengakibatkan 100 orang lebih yang meninggalk, dan banyak yang hilang, dan bangunan hancur. Begitu dahsyatnya air bah, yang menimbulkan kerusakan di daerah itu. Belum selesai banjir dan longsor di Wasior, Senin, lalu kota Jakarta lumpuh total, dan di mana-mana hanya genangan air. Selama mulai pukul 18.00 malam, sam;pai menjelang pukul 3.00 dini hari, jalan-jalan mulai agak longgar, dan orang-orang dapat kembali ke rumah masing-masing. Begitu luar biasanya akibat dari banjir yang melanda Jakarta, melumpuhkan seluruh jaringan transportasi.
Pemerintah belum lagi selesai mengevakuasi dan menyelamatkan pendududk di Wasior, dan membenahi akibat banjir di Jakarta, datang gempa dan tsunami di kepulauan Mentawai, yang mengakibatkan ratusan orang tewas, dan ratusan lainnya hilang.
Sementara wilayah yang terkena gempa dan tsunami itu sudah arata dengan tanah.
Tak lama dari peristiwa di kepulauan Mentawai itu, terjadinya peristiwa yang tak kalah dahsyatnya,yaitu meletus gunung Merapi di Jawa Tengahm,yang letaknya di dekat kota Slemen-Yogyakarta. Banyak yang meninggalkan awan panas dan lahar.
Peristiwa musibah dan bencana susul menyusul tanpa henti. Inilah yang menyebabkan mengapa Indonesia sejak tahun 2004, tak pernah lepas dari musibah dan bencana. Semuanya di mulai dari peristiwa yang maha dahsyat, sam;pai mengundangt simpati dunia, yaitu peristiwa gempa dan tsunamii di Aceh.
Maka dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi itu, sejatinya apa maknanya dan bagaimana mensikapinya terhadap semua peristiwa itu?
Allah berfirman :
“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa , pastilah Kami akan melimp;ahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. (QS : al-A’raf : 96)
Ayat diatas menyatakan Allan Ta'ala akan membukakan pintu keberkahan dari langit dan bumi, yatiu bila penduduk sebuah negeri itu beriman dan bertaqwa. Kuncinya mendapatkan keberkahan itu hanya iman dan taqwa. Sebaliknya Allah akan menurunkan azabnya , ketika manusia itu mendustakan ayat=ayatnya.
Firman Allah :
“Maka apakah penduduk negeri –negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?”. (QS : al-A’raf : 97)
Peristiwa-peristiwa bencana alam itu sering kali terjadi di malam hari, saat orang sedang menikmati malamnya, dan kemudian Allah mendatangkan musibah.
Firman Allah :
“Atau apakah penduduk negeri-negeri itu mersa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu siang hari”. (QS : al-A’raf : 98)
Peristiwa bencana juga dapat terjadi di siang hari, di mana manusia sedang melakukan aktivitasnya. Kemudian, Allah menurunkan azabnya.
Firman Allah :
Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga). Tiadalah yang meras aman dari azab Allah kecuali orang-orang yangl merugi”. (QS : al-A’raf : 99).
Maka hakekatnya manusia merasa aman dari azab Allah, lalu mereka berbuat lalai dan kerusakan dan kemaksiatan. Inilah yang mengakibatkan turunnya azab .
Friman Allah :
“Dari apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya bahwa kalau Kami menghendaki , tentu Kami azab mereka karena dosa-dosanya, dan Kami kunci hati mati hati mereka , sehingga tidak mendengar (penjelasan) lagi?” . (QS : al-A’raf : 100)
Begitu banyak negeri-negeri di masa lalu, yang dihancurkan akbiat kelalaian penduduknya, dan terjadi di zaman umat nabi-nabi terdahulu yang tidak mau beriman.
Firman Allah :
“Negeri-negeri (yang telah Kami binasakan) itu, Kami ceritakan sebagai an dari berita-beritanya kepadamu. Dan sungguh telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, maka mereka (juga) tidak beriman kepada apa yang dahulunya mereka telah mendustakannya.Demikianlah Allah mengunci mati hati mereka orang-orang kafir”. (QS : al-A’raf : 101)
Namun, begitu masih tetap manusia yang tidak mau taat dan tunduk kepada Allah dan mendustakan agama-Nya.
Firman Allah :
“Dan Kami tidak mendapati kebanyakan mereka memenuhi janji, Sesungguhnya Kamki mendapati kebanyakan mereka orang-orang yang fasik”. (QS : al-A’raf : 102).
Itulah gambaran Allah Azza Wa Jalla tentang hakikat manusia,. Peristiwa-peristiwa yang membicnasakan manusia telah berulangkali terjadi, tetapi peringatan dari Allah itu, tetap tidak berarti apa-apa, dan manusia tetap ingkar.
Bagaimana mensikapi terjadi berbagai peristiwa alam, termasuk terjadinya berbagai musibah yang ada ini?
[sumber: http://www.eramuslim.com/suara-kita/dialog/bagaimana-mensikapi-musibah-dan-bencana.htm]

Kemuliaan dan Keutamaan Sepuluh Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

Oleh: Badrul Tamam
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan nikmat iman dan Islam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi dan utusan-Nya kepada seluruh umat manusia dengan membawa cahaya Islam, juga kepada keluarga dan para sahabatnya.
Bulan Dzulhijjah sebentar lagi menghampiri kita. Pada sepuluh hari pertamanya terdapat banyak kemuliaan dan keutamaan. Hari-hari tersebut disediakan oleh Allah sebagai musim ketaatan dan kesempatan beramal shalih yang bersifat tahunan. Maka hendaknya seorang muslim memperhatikan keberadaannya, memanfaatkannya dengan melaksanakan berbagai ibadah yang disyariatkan, menjaga perkataan dan amal yang shalih agar mendekatkan dirinya kepada Allah Ta’ala dan membantunya dalam menghadapi kehidupan ini dengan jiwa yang tenang dan semangat yang berkobar.
10 hari pertama dari bulan Dzul Hijjah merupakan hari-hari yang sangat mulia dan penuh barakah. Bukti kemuliaan ini, Allah Ta’ala bersumpah dengannya dalam Al-Qur’an al-Karim.
وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ
Demi fajar, dan malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1-2)
Imam al-Thabari dalam menafsirkan “Wa layaalin ‘asr” (Dan malam yang sepuluh), “Dia adalah malam-malam sepuluh Dzulhijjah berdasarkan kesepakatan hujjah dari ahli ta’wil (ahli tafsir).” (Jaami’ al Bayan fi Ta’wil al-Qur’an: 7/514)
Penafsiran ini dikuatkan oleh Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat ini, “Dan malam-malam yang sepuluh, maksudnya: Sepuluh Dzulhijjah sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Abbas, Ibnu Zubair, Mujahid, dan lebih dari satu ulama salaf dan khalaf.” (Ibnu Katsir: 4/535)
Kemuliaan sepuluh hari ini juga disebutkan dalam Surat Al-Hajj dengan perintah agar memperbanyak menyebut nama Allah pada hari-hari tersebut. Allah Ta’ala berfirman,
وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ
Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak.” (QS. Al-Hajj: 27-28)
Imam Ibnu Katsir dalam menafsirkan ayat ini menukil riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallaahu 'anhuma,  “al-Ayyam al-Ma’lumat (hari-hari yang ditentukan) adalah hari-hari yang sepuluh.” (Tafsir Ibnu Katsir: 3/239)
Maka dapat disimpulkan bahwa keutamaan dan kemuliaan hari-hari yang sepuluh dari Dzulhijjah telah datang secara jelas dalam Al-Qur’an al-Karim yang dinamakan dengan Ayyam Ma’lumat karena keutamaannya dan kedudukannya yang mulia.
Sedangan dari hadits, terdapat keterangan yang menunjukkan keutamaan dan kemuliaan sepuluh hari pertama dari bulan Dzulhijjah ini, di antaranya sabda Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam:
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ
"Tidak ada satu amal shaleh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal shaleh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah)." Para sahabat bertanya: "Tidak pula jihad di jalan Allah?" Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam menjawab: "Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun." (HR. Abu Daud dan  Ibnu Majah).
Karenanya dianjurkan atas orang Islam pada hari-hari tersebut untuk bersungguh-sungguh dalam ibadahnya, di antaranya shalat, membaca Al-Qur’an, dzikrullah, memperbanyak doa, membantu orang-orang yang kesusahan, menyantuni orang miskin, memperbaharui janji kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Masih ada satu amalan lagi yang utama pada hari-hari tersebut, yaitu berpuasa sunnah di dalamnya.
Terdapat dalam Sunan Abu dawud dan lainnya, dari sebagian istri Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam, dia berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ تِسْعَ ذِي الْحِجَّةِ
“Adalah Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam berpuasa pada tangga 9 Dzulhijjah.” (HR. Abu Dawud no. 2437 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Dawud no. 2081)
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Munajjid –Salah seorang ulama besar Saudi Arabia- berkata, “Di antara musim ketaatan yang agung adalah sepuluh hari perama dari bulan Dzulhijjah, yang telah Allah muliakan atas hari-hari lainnya selama setahun. Dari Ibnu Abbas radhiyallaahu 'anhu, dari Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ
"Tidak ada satu amal shaleh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal shaleh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah)." Para sahabat bertanya: "Tidak pula jihad di jalan Allah?" Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam menjawab: "Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun." (HR. Abu Daud dan  Ibnu Majah).
Hadits ini dan hadits-hadit lainnya menunjukkan bahwa sepuluh hari ini lebih utama dari seluruh hari dalam setahun tanpa ada pengecualian darinya, sehingga sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadlan. Syaikh Munajjid menambahkan, urgensi sepuluh hari pertama ini diperkuat dengan beberapa bukti di bawah ini:
1. Allah Ta’ala telah bersumpah dengannya. Dan bersumpahnya Allah dengan sesuatu menjadi dalil urgensinya dan besarnya manfaat. Allah Ta’ala berfirman,
وَالْفَجْرِ وَلَيَالٍ عَشْرٍ
Demi fajar, dan malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1-2)
Ibnu Abbas, Ibnu al-Zubair, Mujahid, dan beberapa ulama salaf dan khalaf berkata: Bahwasanya dia itu adalah sepuluh hari pertama Dzil Hijjah.
Ibnu Katsir membenarkan pendapat ini (Tafsir Ibni Katsir: 8/413)
2. Sesungguhnya Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam pernah bersaksi bahwa hari-hari tersebut adalah seutama-utamanya hari-hari dunia sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadits shahih.
3. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam menganjurkan untuk memperbanyak amal shalih di dalamnya. Sesungguhnya kemuliaan masa diperoleh oleh setiap penduduk negeri, sementara keutamaan tempat hanya dimiliki oleh jama’ah haji di Baitul Haram.
4. Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam juga memerintahkan untuk memperbanyak tasbih, tahmid, dan takbir pada sepuluh hari tersebut. Dari Ibnu Umar radhiyallaahu 'anhuma, dari Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda,
مَا مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ وَلَا أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعَمَلُ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوا فِيهِنَّ مِنْ التَّهْلِيلِ وَالتَّكْبِيرِ وَالتَّحْمِيدِ
Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal shalih di dalamnya lebih dicintai oleh-Nya daripada hari yang sepuluh (sepuluh hari pertama dari Dzulhijjah), karenanya perbanyaklah tahlil, takbir, dan tahmid di dalamnya.” (HR. Ahmad 7/224, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan isnadnya).
5. Di dalamnya terdapat hari Arafah. Hari 'Aradah adalah hari yang disaksikan yang di dalamnya Allah menyempurnakan ajaran dien-Nya sementara puasanya akan menghapuskan dosa-dosa selama dua tahun. 
6. Di dalamnya terdapat ibadah udhiyah (berkurban) dan haji.
Dalam sepuluh hari ini juga terdapat yaum nahar (hari penyembelihan) yang secara umum menjadi hari teragung dalam setahun. Hari tersebut adalah haji besar yang berkumpul berbagai ketaatan dan amal ibadah padanya yang tidak terkumpul pada hari-hari selainnya.
Sesungguhnya siapa yang mendapatkan sepuluh hari bulan Dzulhijjah merupakan bagian dari nikmat Allah yang besar atas hamba. Hanya orang-orang shalih yang bersegera kepada kebaikan lah yang bisa menghormatinya dengan semestinya. Dan kewajiban seorang muslim adalah merasakan nikmat ini, memanfaatkan kesempatan emas ini dengan memberikan perhatian yang lebih, dan menundukkan dirinya untuk menjalankan ketaatan. Sesungguhnya di antara karunia Allah Ta’ala atas hamba-Nya adalah menyediakan banyak jalan berbuat baik dan meragamkan berbagai bentuk ketaatan agar semangat seorang muslim kontinyu dan tetap istiqamah menjalankan ibadah kepada Tuhannya.
Sesungguhnya siapa yang mendapatkan sepuluh hari bulan Dzulhijjah merupakan bagian dari nikmat Allah yang besar atas hamba.
Hanya orang-orang shalih yang bersegera kepada kebaikan lah yang bisa menghormatinya dengan semestinya.
Syaikh Munajjid rahimahullaah menjelaskan, ada beberapa amal istimewa yang harus selayaknya dikerjakan oleh seorang muslim pada sepuluh hari pertama bulan Dzul Hijjah, di antaranya:
1. Berpuasa. Seorang muslim disunnahkan berpuasa pada tanggal 9 Dzulhijjah karena Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam sangat menganjurkan untuk beramal shalih pada sepuluh hari ini, dan puasa salah satu dari amal-amal shalih tersebut. Terlebih lagi, Allah Ta’ala telah memilih puasa untuk diri-Nya sebagaimana terdapat dalam hadits Qudsi, Allah Ta’ala berfirman,
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
Semua amal anak Adam untuk dirinya kecuali puasa, sungguh puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. al-Bukhari no. 1805)
Dan sungguh Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam melaksanakan puasa 9 Dzulhijjah. Dari Hunaidah bin Khalid, dari istrinya, dari sebagian istri Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ تِسْعًا مِنْ ذِي الْحِجَّةِ وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ أَوَّلَ اثْنَيْنِ مِنْ الشَّهْرِ وَخَمِيسَيْنِ
Adalah Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam melaksanakan puasa 9 Dzulhijjah, hari ‘Asyura, dan tiga hari setiap bulan serta senin pertama dari setiap bulan dan dua hari Kamis.” (HR. Al-Nasai dan Abu Dawud. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani Shahih Abi Dawud: 2/462)
2. Bertakbir. Disunnahkan membaca takbir, tahmid, tahlil, dan tasbih selama sepuluh hari tersebut. Dan disunnahkan mengeraskannya di masjid-masjid, rumah-rumah, dan di jalan-jalan. Dan setiap tempat yang dibolehkan untuk dzikrullah disunnahkan untuk menampakkan ibadah dan memperlihatkan pengagungan terhadap Allah Ta’ala. Kaum laki-laki mengeraskannya sementara kaum wanita melirihkannya.
Allah Ta’ala berfirman,
لِيَشْهَدُوا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَّعْلُومَاتٍ عَلَى مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ
“Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada mereka berupa binatang ternak.” (QS. Al-Hajj: 28) Menurut Juhmur ulama, makna al-ayyam al-ma’lumat adalah sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, sebagaimana yang diriwatkan dari Ibnu Abbas radhiyallaahu 'anhuma, “Al-Ayyam al-Ma’lumat: Hari sepuluh."
Salah satu bentuk kalimat takbirnya adalah:
 الله أكبر، الله أكبر، لا إله إلا الله، والله أكبر ولله الحمد
Dan masih ada lagi bentuk takbir yang lain.
3. Melaksanakan haji dan umrah. Sesungguhnya di antara amalan yang paling utama untuk dikerjakan pada sepuluh hari ini adalah berhaji ke Baitullah al-Haram. Maka siapa yang diberi taufik oleh Allah untuk melaksanakan haji ke Baitullah dan melaksanakan manasiknya sesuai dengan ketentuan syariat, maka dia mendapatkan janji –Insya Allah-  dari sabda Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam, Haji yang mabrur ridak ada balasannya kecuali surga.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
4. Melaksanakan amal-amal shalih secara umum. Sesungguhnya amal shalih dicintai oleh Allah Ta’ala. Dan ini pasti akan memperbesar pahala di sisi Allah Ta’ala. Maka barangsiapa yang tidak memungkinkan melaksanakan haji, maka hendaknya dia menghidupkan waktu-waktu yang mulia ini dengan ketaatan-ketaatan kepada Allah Ta’ala berupa shalat, membaca Al-Qur’an, dzikir, doa, shadaqah, berbakti kepada orang tua, menyambung tali persaudaraan, memerintahkan yang baik dan melarang yang munkar, dan berbagai amal baik dan ketaatan.
5. Berkurban. Di antara amal shalih pada hari yang kesepuluhnya adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan menyembelih hewan kurban yang gemuk dan bagus, dan berinfak di jalan Allah Ta’ala.
6. Taubat Nasuha. Di antara yang sangat ditekankan pada sepuluh hari ini adalah bertaubat dengan benar-benar (taubatan nasuha), meninggalkan perbuatan maksiat dan melepaskan diri dari seluruh dosa.
Taubat adalah kembali kepada Allah Ta’ala dan meninggalkan apa saja yang dibenci-Nya yang nampak maupun yang tersembunyi sebagai bentuk penyesalan atas perbuatan buruk yang telah lalu, meninggalkan seketika itu juga, bertekad untuk tidak mengulanginya, dan beristiqamah di atas kebenaran dengan melaksanakan apa-apa yang dicintai oleh Allah Ta’ala.
Semoga kita tergolong sebagai hamba-hamba Allah yang bisa kontinyu dan istiqamah dalam beribadah kepadaNya. Memanfaatkan setiap kesempatan yang telah disediakan untuk memanen pahala. Sehingga kita datang kepada Allah dengan membawa bekal yang cukup dan memiliki modal yang memadai untuk memasuki surga-Nya yang Mahaindah dan menyenangkan. [PurWD/voa-islam.com]

Sabtu, 30 Oktober 2010

Hukum Bekerja di Tempat yang Mengharuskan Mencukur Jenggot

Oleh: Badrul Tamam
Memanjangkan jenggot telah menjadi tradisi orang-orang terdahulu dan menjadi sunnah para Nabi serta disepakati semua syariat. Dan pada syariat umat ini, memanjangkan jenggot termasuk sunnah Nabinya shallallaahu 'alaihi wasallam dan satu bagian perkara fitrah yang dilestarikan.
Memelihara jenggot wajib hukumnya bagi kaum lelaki, berdasarkan alasan-alasan berikut ini:
1. Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam memerintahkan untuk memelihara jenggot, dan perintah itu menunjukkan wajibnya. Sementara tidak ada indikasi yang memalingkannya kepada istishab (anjuran). Di antara hadits yang menunjukkan perintah ini:
Sabda Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam,
خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ وَفِّرُوا اللِّحَى وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ
Selisihilah kaum musyrikin, peliharalah jenggot dan potonglah kumis.” (HR. Muttafaq ‘alaih)
جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى خَالِفُوا الْمَجُوسَ
Cukurlah kumis dan peliharalah jenggot. Selisihilah orang-orang Majusi.” (HR. Muslim)
2. Mencukur jenggot merupakan perbuatan menyerupai orang-orang kafir, sebagaimana dijelaskan dalam dua hadits di atas.
3. Mencukur jenggot termasuk perbuatan merubah ciptaan Allah dan mentaati syetan yang mengatakan:
وَلَآَمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ
Dan akan aku suruh mereka (merubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merubahnya.” (QS. Al-Nisa’: 119)
4. Memotong jenggot termasuk perbuatan menyerupai kaum wanita. Padahal, “Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam melaknat  laki-laki yang menyerupai kaum wanita.” (HR. Al-Bukhari dan al-Tirmidzi)
Karena itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullaah berkata, “Diharamkan bagi laki-laki mencukur jenggotnya.”
Ibnu Hazm dan selainnya menukil ijma’ tentang haramnya mencukur jenggot. (Lihat: Maratib al-Ijma’ dan Radd al-Mukhtar: II/116)
Sesudah jelas hukum tentang memanjangkan jenggot dan larangan mencukurnya, maka perintah atasan dalam tempat kerja untuk mencukur jenggot tidak boleh dipatuhi. Sebabnya, perintah itu bertentangan dengan ketetapan syariat.
Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda dalam hadits shahih,
إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ
Sesungguhnya ketaatan dalam hal yang ma’ruf.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan bersabda lagi,
لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق
Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan kepada sang Khaliq.” (HR. Ahmad dan Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf)
Imam al-Tirmidzi dalam Sunan-nya membuat bab tentang “Apa yang menerangkan tentang tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam kemaksiatan terhadap Khaliq” dengan menyebutkan satu hadits dari Ibnu Umar radhiyallaahu 'anhuma, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda, “Mendengar dan taat wajib atas pribadi muslim dalam perkara yang dia suka dan benci selama tidak diperintahkan bermaksiat. Jika diperintahkan bermaksiat, maka tidak boleh mendengar dan taat.”
Nasihat Syaikh Bin Bazz
Syaikh Abdul Aziz bin Bazz dalam salah satu fatwanya, melarang pekerjaan apapun yang mensyaratkan kemaksiatan kepada Allah, di antaranya mencukur/memotong jenggot. Syarat batil tersebut tidak boleh disetujui, baik dalam kemiliteran atau perkerjaan-pekerjaan lainnya. Bahkan, beliau menganjurkan untuk meninggalkan pekerjaan tersebut dan mencari pekerjaan lain yang telah Allah 'Azza wa Jalla bolehkan. Tidak boleh tolong menolong dalam kemaksiatan dan permusuhan, karena Allah Ta’ala telah berfirman,
وَتَعَاوَنُواْ عَلَى الْبرِّ وَالتَّقْوَى وَلاَ تَعَاوَنُواْ عَلَى الإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al-Maidah: 2)
Beliau menasihati kepada orang yang dihadapkan persoalan seperti ini agar bertakwa kepada Allah dan tidak menerima syarat untuk mencukur jenggot. Sesungguhnya pintu rizki sangat banyak –bihamdillah- tidak tertutup, tapi terbuka. Dan Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا
Dan siapa yang bertakwa kepada Allah, pasti Allah menjadikan jalan kelaur untuknya.” (QS. Al-Thalaq: 2)
Nasihat Kepada Penguasa
Kemudian Syaikh Ibnu Bazz rahimahullaah menujukan nasihatnya kepada para penguasa dan pejabat yang biasa menerapkan aturan untuk mencukur jenggot bagi para pegawainya. Sesungguhnya kewajiban para penguasa dan pejabat di negeri-negeri Islam adalah bertakwa kepada Allah dan tidak mewajibkan apa yang Allah haramkan atas manusia. Hendaknya mereka berhukum kepada syariat Allah setiap aturan yang mereka buat dan perintah yang mereka tetapkan, karena Allah Ta’ala berfirman,
فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّىَ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسْلِيمًا
Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. Al-Nisa’: 65)
Dan berfirman juga,
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ
Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Maidah: 50)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللّهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. Al-Nisa’: 59)
Yang wajib adalah taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Apa saja yang menjadi sengketa (problem) di tengah-tengah manusia harus dikembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya. Lalu apa saja yang Allah sebutkan dalam kitab-Nya yang mulia atau disebutkan dalam Sunnah yang suci dari Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam wajib diambil dan diterapkan.
Dan seperti ini juga kewajiban bagi para pejabat dalam masalah jenggot, riba, menerapkan hukum di tengah-tengah manusia, dan pada semua perkara. Mereka wajib berhukum kepada syariat Allah, dan itu –demi Allah- adalah jalan kemuliaan mereka, jalan keberuntungan, dan jelan keselamatan mereka di dunia dan akhirat. Mereka tidak akan meraih kemuliaan yang dan keridhaan Allah yang sempurna kecuali dengan mentaati-Nya Subhanahu wa Ta'ala dan mengikuti syariat-Nya. Semoga Allah menunjuki kami dan mereka semua kepada apa yang diridlai-Nya. (Sumber: www.binbaz.org.sa) [PurWD/voa-islam.com]

Rabu, 27 Oktober 2010

KH Syukron Ma'mun: Indonesia Banyak Bencana Karena Banyak Korupsi

Jakarta (voa-islam.com) - Berbagai bencana terus melanda Indonesia. Tsunami di Mentawai yang menewaskan ratusan orang dan letusan Gunung Merapi yang menewaskan belasan orang, terjadi hampir bersamaan.

Hal ini dinilai sebagai peringatan dari Sang Pencipta agar penduduk Indonesia mau bertobat. "Pemimpin korupsi dan tebang pilih dalam menegakkan hukum. Ini yang harus dikoreksi," ujar pemimpin Pondok Pesantren Daarul Rahman, Syukron Ma'mun dalam tausyiahnya di acara silaturahim akbar Ponpes dan Madrasah Diniyah se-Jakarta Selatan di Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta Selatan, Rabu (27/10/2010).
..."Pemimpin korupsi dan tebang pilih dalam menegakkan hukum. Ini yang harus dikoreksi," ujar pemimpin Pondok Pesantren Daarul Rahman, Syukron Ma'mun...
Syukron sepakat bahwa semua bencana terjadi karena merupakan fenomena alam. Namun semua bencana tersebut juga merupakan teguran dari Allah.

"Saya tidak menafikan perkataan para ilmuwan. Tetapi siapa yang punya lempengan, punya laut, punya gunung? Semua milik Allah, semua tidak akan terjadi tanpa digerakkan pemiliknya," terang dia yang diamini para jamaah.

Syukron pun meminta agar seluruh penduduk Indonesia melakukan koreksi diri. Bukan hanya presiden atau pemimpin, rakyat pun diminta mengkoreksi diri dan bertobat. "Kiai-kiai juga harus dikoreksi," pesannya.

Sementara itu ustadz Arifin Ilham yang juga hadir, terus  mengajak rakyat Indonesia untuk terus berzikir agar negeri ini bebas dari bencana.

"Jadikan semuanya sebagai tempat berzikir. Kantor kita pun adalah tempat berzikir," pesan Arifin.
Senada dengan KH Syukron Ma'mun, Ketua PP Muhammadiyah Din Syamsudin juga menuding budaya korupsi yang tak terbendung di Indonesia berujung pada laknat Ilahi. Indonesia akan menerima laknat sepanjang budaya korupsi tak dibabat habis.

"Kita setengah hati memberantas korupsi. Budaya korupsi ini mendatangkan laknat pada bangsa ini," ujar Din Syamsuddin di gedung DPD, Jakarta, Rabu (27/10/2010).

Merujuk hadis nabi, laknat penyuap dan yang disuap ini termasuk tindakan maksiat yang dibenci sang pencipta. "Kalau nggak salah, sejak tahun 2000 sering terjadi bencana. Hal ini jangan dipandang sebagai sesuatu yang rutinitas," ungkapnya seraya mengkhawatirkan, terjadinya bencana sebagai peringatan atas tindakan maksiat yang tumbuh di Indonesia.

"Jangan-jangan kita terjebak dalam perbuatan syirik yang tidak kita ketahui atau membiarkan kemaksiatan di sekitar kita," kata Din dengan mimik serius. "Kita sering menyekutukan Allah meminta kepada selain Allah, termasuk pula syirik dalam arti kita ada perasaan sering bisa dalam hidup ini merasa berkuasa sementara ada Allah," tegas Din.
Mbah Maridjan: Pemimpin Harus Benar Agar Alam Tentram
Sementara itu, Mantan Ketum PBNU Hasyim Muzadi ingat betul dengan sosok Mbah Maridjan. Meski memiliki cukup harta, hidup abdi dalem Kraton Yogyakarta itu tetap bersahaja. Hal itu yang selalu dikagumi Hasyim. Salah satu yang diingatnya yakni pesan juru kunci Merapi untuk para pemimpin negeri ini.
...'Pak Hasyim dan para pembesar harus benar dan bertindak sebenarnya, agar alam tenteram," kata Hasyim dalam siaran pers, Rabu...
"Panjenengan sak konco poro piageng, kedah 'temen lan sak temene' mugi ndonyane tenterem. Yang dalam bahasa Indonesia artinya: 'Pak Hasyim dan para pembesar harus benar dan bertindak sebenarnya, agar alam tenteram," kata Hasyim dalam siaran pers, Rabu (27/10/2010).

Pesan itu disampaikan Maridjan saat mereka bertemu pada 2006 lalu, saat itu Gunung Merapi memang tengah 'menghangat'. Awan panas beberapa kali dimuntahkan Merapi.

"Mbah Maridjan terakhir saya jumpai di rumahnya pada tahun 2006 lalu, ketika Merapi disangka meletus tapi ternyata gempa yang menghancurkan sekitar Merapi," kenang Hasyim.

Saat pertemuan itu, Hasyim juga sempat memberi kenang-kenangan kepada Maridjan yakni seperangkat alat salat. Saat itu Maridjan di tengah kehidupan sederhananya terlihat gembira.

"Karena beliau Ketua Ranting NU desa setempat, saya juga memberi beliau jaket bertuliskan NU," tambah Sekjen ICIS ini. Hasyim juga ingat, saat itu Maridjan sudah menjadi model iklan Jamu Kuku Bima, namun uangnya digunakan untuk membangun masjid.

"Rumah baru diperbaiki setelah beliau jadi iklan jamu kuku Bima, dan itupun digunakan untuk membangun masjid," terang pengasuh Pondok Pesantren Al Hikam Depok ini.
(Ibnudzar/dto)

Nasihat Syaikh Bin Baz Untuk Kemenangan Negeri-negeri Umat Islam

Oleh: Badrul Tamam
Syaikh Abdul Aziz bin Bazz rahimahullaah berkata tentang hakikat jihad: “Sesungguhnya jihad yang benar telah Allah sebutkan dalam beberapa ayat-Nya. Allah juga menyebutkan pahala yang akan diraih orang yang berjihad berupa kemenangan di dunia dan kebahagiaan di akhirat. Allah juga menyebutkan beberapa sifat mujahidin yang membedakan mereka dari yang lainnya.
Allah Ta’ala berfirman,
انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau pun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Taubah: 41)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بَطَرًا وَرِئَاءَ النَّاسِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَاللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud ria kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Anfal: 45-47)
Wahai orang beriman, perhatikanlah sifat-sifat agung para mujahidin yang sebenarnya ini sehingga jelas bagi engkau kondisi kaum muslimun saat ini dan kondisi para mujahidin terdahulu. Supaya engkau mengetahui rahasia kemenangan mereka dan kekalahan orang-orang sesudahnya. Karena sesungguhnya tidak ada jalan yang bisa menghantarkan kepada kemenangan di dunia dan kebahagiaan di akhirat kecuali bersikap dengan akhlak yang telah Allah perintahkan, mendakwahkannya, dan menggantung pertolongan kepadanya. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menjelaskan dalam Kitab-Nya, yang telah disebutkan sebelumnya dan juga ayat-ayat yang lainnya. Allah 'Azza wa Jalla berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ وَأُخْرَى تُحِبُّونَهَا نَصْرٌ مِنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ
Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Shaff: 10-13)
Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta'ala mengumpulkan beberapa sebab kemenangan dan mengembalikannya kepada dua dasar pokok: pertama, Iman kepada Allah dan Rasul-Nya. kedua, berjihad di jalan-Nya. Lalu Allah menyebutkan hasil yang diraih, yaitu mendapatkan keberuntungan di akhirat berupa surga, pertolongan di dunia, dan kemenangan yang dekat. Dan Allah mengabarkan bahwa kaum muslimin menyukai pertolongan dan kemenangan, “Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya)".
Sebab kemenangan kembali kepada dua dasar pokok: Pertama, Iman kepada Allah dan Rasul-Nya. Kedua, berjihad di jalan-Nya.
Kemudian Syaikh Bin Bazz menyampaikan kunci kemenangan yang akan diraih oleh negeri-negeri muslim. Yaitu apabila presiden dan pemimpinnya dalam pemerintahan mereka benar-benar mengharapkan pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat serta kebahagiaan di dunia dan akhriat, maka Allah telah menjelaskan jalannya dan menunjukkan sarana dan sebab yang menghantarkan ke sana. Yaitu mereka harus bertaubat kepada Allah dengan sebenar-benarnya taubat atas kesalahannya yang lalu, berupa peremehan mereka dan tidak melaksanakan hak Allah dan hak para hamba-Nya yang diwajibkan atas mereka. Dan hendaknya mereka benar-benar dalam beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menjalankan syariat-Nya, berpegang dengan tali-Nya, berjihad terhadap musuh dalam satu barisan dengan memanfaatkan segenap kekuatan yang telah Allah berikan, meninggalkan prinsip-prinsip yang menyelisihi syariat Allah dan ajaran dien-Nya.
Hendaknya mereka hanya bergantung kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala semata, bukan kepada yang lainnya berupa kekuatan militer timur dan barat.
Hendaknya mereka hanya bergantung kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala semata, bukan kepada yang lainnya berupa kekuatan militer timur dan barat.
Mereka harus melaksanakan usaha-usaha dan menyiapkan kekuatan yang dimampui dengan segenap sarana yang dibolehkan syariat, dan hendaknya mereka bersikap independen (berdiri sendiri) dan jangan cenderung/berpihak kepada blok kafir di Timur dan di Barat. Mereka harus istimewa dengan imannya kepada Allah dan Rasul-Nya, berpegang teguh dengan agaman-Nya dan komitmen dengan syariat-Nya.
Adapun persenjataan dan berbagai persiapan, tidak mengapa mendapatkannya dari berbagai jalan dan sarana yang tidak bertentangan dengan syariat yang suci. Semoga Allah menyatukan kekuatan kaum muslimin dan memperbaiki hubungan antar sesama mereka, menjaga para pemimpinnya, memuliakan agama-Nya dan menghinakan musuh-musuh-Nya, mengembalikan hak-hak kaum muslimin kepada diri mereka, dan menghancurkan segala prinsip dan undang-undang serta tradisi yang berseberangan dengan Islam.
Misi Jihad fi sabilillah
Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam pernah bersabda kepada Ali bin Abi Thalib ketika mengutusnya ke Khaibar:
فَوَاللَّهِ لَأَنْ يُهْدَى بِكَ رَجُلٌ وَاحِدٌ خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ
Demi Allah, Kalaulah Allah memberi petunjuk satu orang melalui dirimu itu lebih baik bagimu daripada mendapatkan unta merah.” (Muttafaq ‘alaih)
Dalam hadits ini dan hadits yang semakna menjadi peringatan bagi para dai (penyeru kepada Allah) dan mujahidin di jalan-Nya, bahwa maksud dari jihad dan dakwah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah menunjuki manusia dan mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya, menarik mereka dari kehinaan kesyirikan dan pengabdian kepada sesama makhluk kepada kemulian iman, ketinggian Islam, dan menyembah hanya kepada tuhan yang Hak dan Esa yang tidak boleh ada peribadatan yang dipersembahkan kepada selain-Nya dan tak seorangpun yang berhak atasnya kecuali Dia Subhanahu wa Ta'ala.
Tujuan dan misi jihad bukan menumpahkan darah, merampas harta, menawan kaum wanita dan anak-anak. Sesungguhnya semua itu bukan tujuan awal, tapi hanya sebagai tuntutan. Yaitu ketika orang-orang kafir menolak kebenaran dan bangga dengan kekafirannya, tidak mau tunduk dan membayar jizyah (upeti). Kalau seperti ini keadaannya, maka Allah mensyariatkan kepada kaum muslimin untuk memerangi mereka, merampas harta mereka sebagai ghanimah, memperbudak wanita dan anak-anak mereka untuk dijadikan sebagai sarana ketaatan kepada Allah dan mengajarkan kepada mereka syariat-Nya, menyelamatkan mereka dari adzab dan kesengsaraan.
Semua itu juga sebagai hiburan bagi kaum muslimin setelah menghadapi sengitnya pertempuran dan perlawanan musuh, dan menjadikan mereka sebagai batu sandungan akan serangan musuh dalam menghalangi jalan penyebaran Islam.
Tidak diragukan lagi hal ini termasuk keindahan Islam yang diakui oleh orang yang jujur dan adil, baik dari kalangan dalam atau luar Islam. Semua itu termasuk bagian dari rahmat Allah, Mahabijaksana dan Mahatahu, yang telah menjadikan agama ini sebagai agama rahmat, mengajarkan berbuat baik dan adil serta toleransi yang relevan dijalankan kapan dan di mana saja, yang tidak tertandingi oleh undang dan aturan manusia. Dan kalau saja para ahli dan tokoh bersatupadu untuk membuat aturan yang semisal atau yang lebih baik, niscaya mereka tak akan mampu membuatnya. Maha suci Allah, Dzat Mahaadil dan Mahabijaksana, Yang membuat syariat dapat diterima oleh akal sehat dan fitrah yang lurus. Wallahu a’ala (PurWD/voa-islam.com)
*Diringkaskan dari situs www.darmm.com

Minggu, 17 Oktober 2010

Dilema TKW di Mancanegara, Pilihan Atau Keterpaksaan?

Para TKW (tenaga kerja wanita) alias BMI (Buruh Migrant Indonesia) dibangga-banggakan sebagai pahlawan devisa dan komoditas pengurang angka pengangguran di negaranya. Tapi anehnya, mereka justru sering mendapat perlakuan diskriminasi.
Datang dari berbagai desa di seluruh penjuru Indonesia, para TKW mengadu nasib ke mancanegara dengan kemampuan dan keterampilan seadanya. Dari wajah-wajah lugu mereka nampak oleh kobaran semangat dan tekad sekuat baja. Segala ketakutan dan kekhawatiran mereka tepis jauh-jauh. Dalamnya kesedihan berpisah dengan orang-orang tercinta pun mereka pinggirkan. Semua demi lembaran kertas yang bernama ‘uang.’ Mereka mengais rezeki hingga jauh ke negeri orang, demi orang-orang yang mereka kasihi, dan demi keluarga yang mereka cintai. Dari mereka ada yang harus meninggalkan suami tercinta, anak-anak tersayang, ibu dan bapak serta kakak maupun adik-adik yang mereka hormati.
Meski negara memberi penghormatan dengan sebutan “Pahlawan Devisa,” namun tidak banyak orang bisa menerima keberadaannya. Tidak sedikit pula yang memandang remeh, bahkan menyudutkan mereka atas nama agama.
Selain diremehkan, para ‘pahlawan devisa’ itu kerap dkirampas haknya tanpa bisa berbuat apa-apa selain  dituntut mawas diri, cerdas, dan sabar menahan kecewa saat mendapat masalah pelik di negara rantau. Dalam situasi haru-biru itu, mereka hanya mempunyai airmata. Hanya ada satu tekad yang bisa membuat mereka tegar melewati masa-masa sendiri ditanah rantau, demi ‘baktinya’ terhadap orang-orang yang mereka cintai, dengan harapan menggunung pada Allah yang akan menjaganya.
Tak sedikit orang yang memandang TKW adalah wanita matre yang tidak bersyukur, namun apakah penilaian tersebut benar adanya? Apakah menjadi TKW itu sebuah pilihan? Simaklah penuturan para TKW di Hong Kong kepada Yuliana PS, reporter voa-islam.com di Hong Kong:

Binti, 30 tahun, asal Jawa Tengah: “Pemerintah jangan menelantarkan TKW di negara orang”

Tak satupun wanita yang bercita-cita menjadi TKW, termasuk saya. Namun karena sulitnya ekonomi di negara sendiri, maka saya terpaksa berangkat keluar negeri, walau harus menelan kenyataan pahit sebagai buruh migrant.
Mau bertahan hidup di negara sendiri sangat tidak mungkin, biaya hidup yang tinggi mengharuskan kita mencari pekerjaan keluar negeri. Saya punya orangtua yang harus saya bantu. Saya juga punya tanggungjawab terhadap orang-orang di sekitar saya. Jika saya hanya mengandalkan penghasilan di negara sendiri, jelas tidak cukup.
Tapi perjalanan dari Indonesia sampai ke negeri tujuan kerja, para TKW menemui berbagai ujian berat. Sejak di Indonesia, sebelum berangkat ke negara tujuan, terlebih dahulu dididik di kantor PJTKI. Kehidupan di kantor PJTKI sangat menderita. Makanan yang kami terima tidak layak dimakan manusia, tidak ada gizinya sama sekali, itu pun harus berebut sesama calon TKW dan harus bersabar antre jatah makan.
....di Indonesia, sebelum berangkat ke negara tujuan, kami dididik di kantor PJTKI. Kehidupan di kantor PJTKI sangat menderita. Makanan yang kami terima tidak layak dimakan manusia.....
Setelah di Hong Kong dan berkali-kali menghadiri seminar yang membahas tentang buruh migrant, saya baru tahu fakta yang cukup mengejutkan. Ternyata menjadi TKI itu bukan murni kemauan rakyat jelata, tapi program pemerintah sendiri. Dengan matangnya, pemerintah menyusun target mengurangi angka pengangguran, dengan cara mengirimkan rakyatnya agar menjadi TKI.
Saya berharap kepada pemerintah, jangan kirim kami secara murah lalu menelantarkan kami di negara orang, dan menghabiskan biaya pendidikan bagi bangsa, agar rakyat Indonesia bisa mendapat hak belajar tanpa dibebani biaya.

Eli, 30 tahun, asal Cilacap: “Justru di Indonesia, TKW Diperlakukan Seperti Budak ”

Alasan saya datang ke Hong Kong karena ekonomi. Tingginya biaya pendidikan anak, memaksa saya harus rela meninggalkannya, agar anak saya tidak putus sekolah karena biaya. Terpaksa saya menjadi TKW karena minimnya ketrampilan yang saya miliki tidak memungkinkan untuk mendapatkan kerja dengan gaji cukup.
Menjadi TKW bukan pilihan saya, apalagi dengan sederet penderitaan yang harus kutanggung mulai dari Indonesia. Sebelum berangkat ke Hong Kong lebih dulu harus rela menjalani serangkaian training di kantor PJTKI. Anehnya staf PJTKI  di Indonesia itu sangat gila hormat, menuntut kita menunduk dan taat pada mereka, kami layaknya budak, lucu sekali, padahal orang Hong Kong yang menjadi bos kami, menggaji kami, tidak separah orang Indonesia cara menghormatinya.
....staf PJTKI di Indonesia itu sangat gila hormat, menuntut kita menunduk dan taat pada mereka, kami layaknya budak....
Orang-orang Hong Kong jelas lebih berpendidikan, makanya tidak haus kehormatan terhadap kami. Masalah pelik yang harus kami hadapi selama di Hong Kong tidak sepenuhnya karena orang Hong Kong, tapi karena perlakuan pemerintah yang sering tidak menggubris pengaduan masalah kami, sehingga kami sering melakukan demonstrasi ke KBRI.
Mudah-mudahan ke depan pemerintah kita lebih bisa memperhatikan kami yang di sini, nyawa kami adalah tanggungjawab pemerintah juga.

Ana, TKW asal Cilacap: “Misionaris Kristen mengancam akidah TKW”

Enam tahun menjadi TKW karena desakan ekonomi. Dengan berat hati aku meninggalkan keluarga dan kehilangan masa muda. Penyediaan lapangan pekerjaan dari pemerintah yang tidak memadai memaksa saya menjadi TKW.
Kendala terberat yang kualami di Hong Kong adalah saat berhadapan dengan para evangelis salibis yang berkedok manis namun sejatinya ingin memurtadkan kami di Hong Kong. Iman mana yang tidak goyah bila di negara yang mayoritas tidak mengenal agama ini kami tidak ada ustadz yang selalu ada membantu.
....Kendala terberat yang kualami di Hong Kong adalah saat berhadapan dengan para evangelis salibis yang ingin memurtadkan kami di Hong Kong. Iman mana yang tidak goyah bila di negara yang mayoritas tidak mengenal agama ini....
Saya berani katakan, isu pemurtadan di Hong Kong bukan isapan jempol, bisa dibuktikan di lapangan, mereka para salibis mudah di temui di hari Minggu maupun hari biasa ditempat mangkal TKI. Saya berharap pemerintah benar-benar mampu bekerja dan mengentaskan rakyatnya dari belenggu kemiskinan, agar kami para wanita tidak harus keluar negeri.
Demikianlah penuturan TKW mengenai alasannya keluar negeri. Para wanita itu yang tidak ingin orang-orang di sampingnya terlantar biaya pendidikannya, tidak ingin keluarganya berpangku tangan terhadap negara yang semakin kacau dan tidak bisa menjamin kehidupan warganya.
Bagi pihak-pihak yang menganggap rendah kasta TKW dan selalu menyalahkan TKW, adakah solusi nyata bagi masalah mereka? Mereka butuh solusi nyata, bukan hanya tuduhan yang menyudutkan. [yulianna/voa-islam.com]
 

Media Dakwah Copyright © 2010 LKart Theme is Designed by Lasantha