Tampilkan postingan dengan label artikel buletin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel buletin. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Juni 2012

Shaum: Dulu dan Sekarang

Oleh : Abu Akyas

Marhaban Ya Ramadhan. Alhamdulillah kita akan berjumpa lagi dengan Ramadhan , bulan yang penuh berkah. Mari sejenak membaca kembali ayat berikut ini, untuk mengenang ibadah shaum, dulu dan sekarang.  “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu melaksanakan shaum sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa”. (Q.S. Al-Baqarah:183). Ayat shaum ini menyiratkan bahwa umat-umat nabi terdahulu sebelum Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga diwajibkan menunaikan ibadah shaum.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan, sejak Nabi Nuh hingga Nabi Isa ‘alaihimassalam shaum wajib dilakukan tiga hari setiap bulannya. Bahkan, Nabi Adam ‘alaihissalam, diperintahkan untuk tidak  memakan buah tertentu di surga, yang ditafsirkan sebagai bentuk shaum pada masa itu. “Janganlah kamu mendekati pohon ini yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim”. (Q.S. Al-Baqarah: 35). Begitu pula Nabi Musa ‘alahissalam bersama kaumnya bershaum empat puluh hari. Dalam surat Maryam dinyatakan Nabi Zakaria dan Maryam sering mengamalkan shaum. Nabi Daud ‘alaihissalam sehari shaum dan sehari berbuka pada tiap tahunnya.
Jika kita mengamati dunia binatang, ternyata mereka melakukan “puasa” demi kelangsungan hidupnya. Selama mengerami telur, ayam harus berpuasa. Demikian pula ular, berpuasa baginya untuk menjaga struktur kulitnya agar tetap keras terlindung dari sengatan matahari dan duri hingga ia tetap mampu melata di bumi. Ulat-ulat pemakan daun pun berpuasa, jika tidak ia tak akan lagi menjadi kupu-kupu dan menyerbuk bunga-bunga.
Jika berpuasa merupakan Sunnah Thobi’iyyah (sunnah kehidupan) sebagai langkah untuk tetap survive, mengapa manusia tidak? Terlebih lagi jika kewajiban shaum diembankan kepada umat Islam, tentu saja memikili makna filosofis dan hikmah tersendiri. Karena, ternyata shaum bukan hanya menahan dari segala sesuatu yang merugikan diri sendiri atau orang lain, melainkan merefleksikan diri untuk turut hidup berdampingan dengan orang lain secara harmonis, memusnahkan kecemburuan sosial serta melibatkan diri dengan sikap tepa selira dengan menjalin hidup dalam kebersamaan, serta melatih diri untuk selalu peka terhadap lingkungan.
Rahasia-rahasia tersebut ternyata ada pada kalimat terakhir yang teramat singkat pada ayat 183 surat Al-Baqarah tersebut di atas. Allah Azza wa Jalla mengakhiri ayat tersebut dengan “agar kalian bertakwa”. Syekh Musthafa Shodiq Al-Rafi’ie (w. 1356 H/1937 M) dalam bukunya wahy al-Qalam mentakwil kata “takwa” dengan ittiqa, yakni memproteksi diri dari segala bentuk nafsu kebinatangan yang menganggap perut besar sebagai agama, dan menjaga humanisme dan kodrati manusia dari perilaku layaknya binatang, karena pada aspek tertentu, manusia sama saja dengan binatang.
Dengan shaum, manusia dapat menghindari diri dari bentuk yang merugikan diri sendiri dan orang lain, sekarang atau nanti. Generasi kini atau esok. Dalam ibadah shaum, Islam memandang sama derajat manusia. Mereka yang memiliki dolar, atau yang mempunyai sedikit rupiah, atau orang yang tak memiliki sepeser pun, tetap merasakan hal yang sama: lapar dan haus.
Jika shalat mampu menghapus citra arogansi individual manusia diwajibkan bagi insan muslim, haji dapat mengikis perbedaan status sosial dan derajat umat manusia diwajibkan bagi yang mampu, maka shaum adalah kefakiran total insan bertakwa yang bertujuan mengetuk sensitifitas manusia dengan metode amaliah (praktis), bahwasanya kehidupan yang benar berada di balik kehidupan itu sendiri.
Dan kehidupan itu mencapai suatu tahap paripurna manakala manusia memiliki kesamaan rasa, atau manusia “turut merasakan” bersama, bukan sebaliknya. Manusia mencapai derajat kesempurnaan (insan kamil) tatkala turut merasakan sensitifitas satu rasa sakit, bukan turut berebut melampiaskan segala macam hawa nafsu. Dari sini shaum memiliki multifungsi.
Setidaknya ada tiga fungsi shaum: tazhib, ta’dib dan tadrib. Shaum adalah sarana untuk mengarahkan (tahzib), membentuk karakteristik jiwa seseorang (ta’dib), serta medium latihan untuk berupaya menjadi manusia yang kamil dan paripurna (tadrib), yang pada esensinya bermuara pada tujuan akhir shaum: takwa. Takwa dalam pengertian yang lebih umum adalah melaksanakan segala perintah Allah dan meninggalkan segala larangan-Nya. Takwa dan kesalehan sosial adalah dua wajah dari satu keping mata uang yang sama, mengintegral dan tak dapat dipisahkan.
Ada sejenis kaidah jiwa, bahwasanya “cinta” timbul dari rasa sakit. Di sinilah letak rahasia besar sosial dari hikmah shaum. Dengan jelas dan akurat, Islam melarang keras segala bentuk makanan, minuman, aktivitas seks, penyakit hati dan ucapan merasuki perut dan jiwa orang yang shaum.
Dari lapar dan dahaga, betapa kita dapat merasakan mereka yang berada di garis kemiskinan, manusia papa yang berada di kolong jembatan, atau kaum tunawisma yang kerap berselimutkan dingin di malam hari atau terbakar terik matahari di siang hari. Ini adalah suatu sistem, cara praktis melatih kasih sayang jiwa dan nurani manusia. Adakah cara yang paling efektif untuk melatih cinta?

Minggu, 23 Oktober 2011

KARAKTERISTIK ”SANG MASA”

 Tidak akan datang kiamat sehingga waktu semakin berdekatan (semakin singkat), setahun seperti sebulan, sebulan seperti sejum'at, sejum'at seperti sehari, sehari seperti sejam, dan sejam terasa hanya sekejap.
Begitulah tabiat waktu, ia berjalan sangat cepat, laksana berjalannya awan, berhembusnya angin. Manusia tanpa sadar dalam suka ria telah menempuh jalan menuju kepada kematianya. Apabila akhir umur adalah kematian maka sama saja berumur pendek atau panjang.
Waktu berlalu takkan terulang kembali, hari-hari akan musnah, saat-saatpun akan sirna dan detik demi detikpun berlalu. Dan ketika seorang mau menyadari sesuatu yang paling berharga dalam kehidupan adalah waktu, ia lebih berharga dari uang, emas, mutiara maupun batu permata.
Bahwa yang dimaksud dengan berdekatnya zaman ialah sedikitnya barakah pada zaman (kesempatan) itu. Pada waktu itu manusia merasakan kelezatan hidup, keamanan yang merata, dan keadilan yang menyeluruh. Karena manusia itu bila hidup dalam kesenangan, mereka merasa hanya sebentar, walaupun sebenarnya waktunya sudah lama. Dan sebaliknya mereka merasakan penderitaan dan kesengsaraan itu lama sekali walaupun sebenarnya saat penderitaan dan kesengsaraan itu hanya sebentar.
Berdekatan atau hampir mirip kondisi masyarakat pada waktu itu karena sedikitnya kepeduliaan mereka terhadap agama. Sehingga, sudah tidak ada lagi orang yang menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar karena telah merajalelanya kefasikan dan eksisnya ahli kefasikan. Hal ini terjadi ketika manusia sudah tidak mau menuntut ilmu tentang agama dan ridha dengan kejahilan terhadap agama itu.
Sebab, keadaan sebagaimana dalam berilmu itu bertingkat-tingkat, tidak sama, sebagaimana firman Allah: ”Dan di atas semua yang punya ilmu itu ada lagi Yang Maha Mengetahui". (QS. Yusuf: 76). Sedang tingkat manusia dalam kejahilan itu setara. Yakni bila semua mereka itu bodoh maka peringkat mereka sama saja. Bahwa yang dimaksud ialah hubungan antar manusia pada zaman itu terasa begitu dekat karena canggihnya alat-alat transportasi, baik lewat darat, udara (maupun laut) yang demikian cepat sehingga jarak yang jauh terasa begitu dekat
Pada kenyataannya, barakah pada waktu (masa), rizki, dan tanaman itu hanya diperoleh dengan iman yang kuat, mengikuti perintah Allah, dan menjauhi larangan-Nya. Wallahu a’lam (aan)

SITUA OJAK HUTAGAOL


Menemukan Kebenaran dalam Islam

ISLAM adalah agama hakiki yang dapat dikaji dan didiskusikan. Islam juga tak berseberangan dengan alam rasional sehingga kebenaran dapat ditemukan dalam Islam. Nama saya sekarang H. Abdul Razak Hutagaol (43), tapi sebelum Islam saya dikenal dengan nama Situa Oak Hutagaol. Saya seorang aktivis Gereja HKBP (Huria Kristen Batak Protestan) Tanjung Priok, Jakarta Utara. Saya menjadi muslim pada tanggal 16 September 1997 di Masjid Syuhada, Yogyakarta. Alhamdulillah, sebulan kemudian saya menunaikan ibadah umrah. Bahkan, setahun kemudian saya diberi kemudahan oleh Allah bisa menunaikan ibadah haji.
Keluarga kami sangat taat beragama. Papi saya adalah seorang akhvis gereja sehingga saya dan seluruh keluarga selalu mempelajari agama. Teringat ketika masih kecil, papi sering menyuruh saya untuk datang ke gereja. Bahkan kalau tak mau, ia sering memarahi saya.
Proses awal saya masuk Islam, melalui pengkajian pendalaman terhadap Alkitab (Bibel) yang saya bandingkan dengan kitab suci Al-Qur'an. Temyata Al-Qur'an lebih konsisten, baik dalam redaksi maupun ajarannya.
Saya, ketika itu, begitu bangga menjadi umat kristiani. Bahkan, saya sering mengejek umat Islam dengan kata-kata kotor. Bagi saya waktu itu, Islam tak lebih sebagai agamanya orang-orang miskin yang kotor dan menjijikkan. Tapi, setelah saya mengenal Islam lebih jauh dan mulai bersahabat dengan orang Islam, baru saya mengerti bahwa Islam adalah agama yang suci.
Saya juga teringat pada awal masuk Islam, ada kejadian aneh yang saya alami -- mungkin sebagian orang tidak percaya. Ceritanya terjadi ketika saya sedang mengalami kesulitan ekonomi. Ada suara aneh dan sangat kasar menyuruh saya untuk membaca Al-Qur'an dan melakukan shalat. Perintah ini jelas sekali terdengar sampai tiga kali berturut-turut.

Jumat, 29 Juli 2011

Tayangan Perusak Iman

Berhati-hatilah saat menonton sebuah tayangan, meskipun yang bernuansa religius. Tidak semua tayangan religius itu pasti baik. Kadangkala madharat atau bahaya yang ada di dalamnya justru lebih banyak dari tayangan biasa. Seperti saat ini misalnya, kaum pluralis tengah getol mengusung ide-ide pluralisme melalui film atau tayangan bernuansa religi. Sebuah film mereka poles sedemikian rupa agar terkesan religius, tapi sesungguhnya di dalamnya diajarkan paham pluralisme yang menyesatkan.
Seperti kita tahu, pluralisme adalah paham yang getol menyuarakan toleransi antar umat beragama dan penghormatan terhadap keberagaman kepercayaan. Sayangnya keberagaman dan toleransi yang diajarkan paham pluralisme adalah toleransi yang kebabalasan. Semangat untuk bertoleransi melebihi batas hingga menyentuh urusan keyakinan. Saking tolerannya, paham ini sampai menganggap bahwa semua agama benar. Semua agama menuju tuhan yang satu, meski cara menyembahnya berbeda-beda. Jadi bukan masalah jika ada yang berpindah-pindah agama, atau tetap memilih satu agama dengan meyakini bahwa agama orang lain juga benar.

Minggu, 03 Juli 2011

Misteri Shodaqoh

Katakanlah: "Sesungguhnya Tuhanku melapangkan rezki bagi siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya dan menyempitkan bagi (siapa yang dikehendaki-Nya)." Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan, maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah Pemberi rezki yang sebaik-baiknya.(QS. Saba’: 39)

Satu hal yang kadang sulit bagi kita yakni merelakan apa yang kita berikan kepada orang lain. Padahal dengan tegas Allah berjanji akan memberikan rizki kepada para hambanya, dengan memberi balasan atas amal yang dikerjakan. Barang siapa yang menyedekahkan hartanya dengan diliputi rasa kekhawatiran akan menjadi fakir, maka seolah-olah ia tidak membenarkan janji Allah dan RasulNya.
Dalam sebuah riwayat, Abu Hurairah pernah menceritakan Rasulullah SAW sedang menasehati Bilal: ”Sedekahkan hartamu wahai Bilal. Kamu jangan khawatir kalau Allah sang penguasa Arsy sampai mengurangi hartamu (fakir)”. (HR Thabarani)

Hiasan Bisikan Setan
Memang setan tak akan pernah menyerah untuk selalu meniupkan rasa takut dan khawatir kepada orang yang senantiasa shadaqah.
"Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. Dan Allah Maha Luas (karuniaNya) lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah: 268)
Menafsirkan ayat mulia ini, Ibnu Abbas  berkata: "Dua hal dari Allah, dan dua hal dari setan. Dan dua hal dari Allah adalah, "Allah menjanjikan untukmu ampunan daripadaNya," yakni atas maksiat yang kamu kerjakan, "dan karunia" berupa rizki. Sedang dua hal dari setan: "Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan." Setan itu berkata, 'Jangan kamu infakkan hartamu, peganglah untukmu sendiri karena kamu membutuhkannya'. "Dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir).
Imam Ibnu Qayim Al-Jauziyah dalam menafsirkan ayat yang mulia ini berkata: "Demikianlah, peringatan setan bah-wa orang yang menginfakkan hartanya, bisa mengalami ke-fakiran bukanlah suatu bentuk kasih sayang setan kepa-danya, juga bukan suatu bentuk nasihat baik untuknya. Ada-pun Allah, maka Ia menjanjikan kepada hambaNya ampunan dosa-dosa daripadaNya, serta karunia berupa penggantian yang lebih baik daripada yang ia infakkan, dan ia dilipatgan-dakanNya baik di dunia dan di akhirat." 

Selaksa Manfaat
Banyak pundi-pundi amal yang dapat kita dulang dari sebuah shadaqah, berikut ini diantara manfaat yang dapat kita peroleh dari shadaqah, tentunya tidak sebatas yang kami sebutkan berikut, tapi lebih dari itu.
Pertama, diturunkannya barokah dari harta seseorang. Barokah maknanya adalah tambah atau tetapnya kebaikan. Dengan harta yang disedekahkan akan menambah amal shalih seseorang, untuk menyantuni fakir miskin anak yatim sekaligus sebagai tambahan amal shalih. Dengan begini tetaplah kebaikan dalam dirinya. Abu Hurairah meriwayatkan: Rasulullah SAW pernah bersabda: “Wahai manusia bersedekahlah apa yang telah dikaruniakan kepadamu” kemudian Rasullullah melanjutkan sabdanya, sesungguhnya berkah Allah (rezeki) tidak terbatas, senantiasa mengalir, dan tidak sesuatupun yang bisa menguranginya, baik diwaktu malam atau siang. (HR Muslim)
Kedua, rizki semakin melimpah atau sebagai pembuka pintu rizki. Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Abu Hurairah  bahwasanya Nabi  bersabda: "Tidaklah para hamba berada di pagi hari kecuali didalamnya terdapat dua malaikat yang turun. Salah satunya berdo'a, 'Ya Allah, berikanlah kepada orang yang berinfak ganti (dari apa yang ia infakkan)'. Sedang yang lain berkata, 'Ya Allah, berikanlah kepada orang yang menahan (hartanya) kebinasaan (hartanya)'."
Ketiga, diturunkan hujan dari langit yang menumbuhkan berbagai macam tumbuhan.
Abdullah bin Umar bercerita : Rasulullah SAW mendatangi kami kemudian berkhutbah : “…suatu kaum yang enggan berzakat dan mereka tidak merasakan turun hujan dari langit dan seandainya tidak ada binatang ternak niscaya mereka tidak diturunkan hujan…(HR Muslim).
Hadits di atas menyatakan keengganan kita mengeluarkan zakat menimbulkan tertahannya hujan sehingga mengakibatkan paceklik, kelaparan, hidup serba susah dan berkurangnya kebaikan dimuka bumi.
Keempat, menolak terjadinya bencana atau musibah. Sahabat Anas RA berkata: Bersegeralah kalian mengeluarkan shadaqah, karena musibah tidak mampu melampaui shadaqah. Bisa jadi silih bergantinya musibah yang menerpa negeri ini karena keengganan orang-orang untuk mengeluakan shadaqah.
Kelima, dapat menyembuhkan penyakit. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW pernah bersabda: “Hendaklah kalian mengobati sakit kalian dengan shadaqah. (Hadits Hasan Shahih at-Targhib Li al-Bani)
Keenam, dapat menghapus dosa seseorang. Rafi’ bin Khujaj meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda: shadaqah dapat menutup tujuh puluh pintu kejahatan. Dalam sabdanya yang lain: Shadaqah dapat menghapus dosa sebagaimana air bisa memadamkan api.

Segala amalan yang kita perbuat, amal baik ataupun amal buruk, semuanya akan terpulang kepada kita. Demikian juga jika kita berbicara soal harta yang kini ada dalam genggaman kita dan kerapkali membuat kita lalai. Demi Allah, semua ini datangnya dari Allah yang Maha Pemberi Rizki dan Maha Kaya. Dititipkanya harta kepada kita tiada lain supaya kita bisa beramal dan bershadaqah dengan penuh keikhlasan semata-mata karena Allah. Kemudian pastilah kita akan mendapatkan balasan pahala dari pada-Nya, baik ketika di dunia ini maupun saat menghadap-Nya kelak. Wallahu a’lam. [aan]

Selasa, 01 Februari 2011

DIKALA UJIAN DAN MUSIBAH MELANDA

Hakekat Kesabaran
Sabar, secara bahasa berarti mencegah atau menahan. Menurut syariat, sabar berarti menahan jiwa dari rasa keluh kesah, menahan lisan dari mengeluh, dan menahan anggota badan dari menampar-nampar pipi, merobek-robek pakaian atau pun ungkapan-ungkapan kesedihan lain.

Macam-Macam Kesabaran
Ditinjau dari obyeknya maka kesabaran itu terbagi menjadi tiga; Sabar dalam melaksanakan perintah-perintah Alloh, sabar dalam meninggalkan larangan-larangan Alloh dan sabar terhadap musibah-musibah yang ditakdirkan oleh Alloh Ta’ala.
Ditinjau dari sisi lain, sabar dibagi menjadi dua; Sabar ikhtiyari (dapat memilih) dan sabar idhthiroori (tidak ada pilihan lain). Jenis sabar terhadap perintah-perintah dan larangan-larangan Alloh adalah termasuk pada jenis sabar ikhtiyari, karena pelakunya dapat memilih dan mengusahakannya. Sedang sabar terhadap musibah adalah termasuk jenis sabar idhthiroori, karena pelakunya tidak memiliki pilihan selainnya. Yakni ketika mendapatkan musibah maka tidak ada pilihan lain bagi dia kecuali harus bersabar. Apabila tidak bersabar, maka dia justru mendapat dua keugian, yakni musibah itu sendiri dan tidak mendapatkan pahala dengan musibah tersebut. Sabar jenis pertama lebih utama daripada jenis sabar yang kedua. Itulah sebabnya sabarnya nabi Yusuf terhadap godaan istri tuannnya itu lebih utama dari pada sabarnya beliau ketika dibuang ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya.

Hakekat Ujian dan Musibah
Dengan menyadari hakekat sebenarnya dari ujian dan musibah, maka kita diharapkan memiliki cara pandang yang benar tentang ujian dan musibah. Sehingga hal itu dapat mengantarkan pada keyakinan dan sikap yang benar.
  • Meyakini bahwa semuanya datang dari Alloh.
Alloh berfirman yang artinya, “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfudzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Alloh.” (Al Hadid: 22)
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun’.” (Al Baqoroh: 155-156)
Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Ketahuilah, sesungguhnya apabila umat ini seluruhnya berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu maka mereka tidak akan bisa memberi manfaat kecuali yang telah Alloh tetapkan untukmu. Dan apabila mereka berkumpul untuk menimpakan bahaya kepadamu, maka niscaya mereka tidak akan mampu menimpakan kemudhorotan itu kecuali apa yang telah Alloh tetapkan untukmu.” (HR. Tirmidzi)
Dengan meyakini bahwa semua itu adalah dari Alloh Azza wa Jalla semata maka seorang mukmin akan mengembalikan semua urusannya kembali kepada Alloh, disertai keyakinan bahwa di dalamnya pasti terkandung hikmah dan pelajaran. Seorang mukmin tidak akan menjadi stres dengan adanya musibah yang menimpa dia.
  • Disebakan karena dosa dan kesalahan kita sendiri.
Alloh berfirman yang artinya, “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (Al A’rof: 23)
“Dan Kami tidaklah menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. “ (Hud: 11)

  • Pelajaran atas banyaknya dosa dan maksiat yang kita lakukan.
Alloh berfirman yang artinya, “Dan sesungguhnya Kami telah membinasakan negeri-negeri di sekitarmu dan Kami telah mendatangkan tanda-tanda kebesaran Kami berulang-ulang supaya mereka kembali (bertaubat).” (Al ahqof: 27)
Ibnul Jauzi berkata, “Sebesar apa pun musibah yang datang menimpa, hal itu masih belum sebanding dengan dosa yang telah mereka kerjakan”.
  • Bukti kecintaan pada seorang hamba.
Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Sesungguhnya besarnya pahala sebanding dengan besarnya ujian. Bila Alloh suka kepada suatu kaum maka mereka akan diuji. Jika mereka ridho maka Alloh ridho dan bila dia marah maka Alloh pun akan marah padanya.” (HR. Tirmidzi)
  • 5. Menghapus sebagian dosa orang mukmin.
Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Tidaklah musibah yang menimpa seorang muslim melainkan Alloh akan menghapus dosanya, sekalipun musibah itu hanya tertusuk duri.” (HR. Bukhori)
“Ujian akan terus datang kepada seorang mukmin atau mukminah mengenai jasadnya, hartanya, dan anaknya sehingga ia menghadap Alloh tanpa membawa dosa.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Sebagian salaf berkata, “Kalaulah bukan karena musibah yang menimpa pastilah kita memasuki negeri akhirat sebagai orang-orang yang pailit”.
  • 6. Ujian atas keimanan.
Alloh berfirman yang artinya, “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Kapankah datang pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (Al Baqoroh: 214)

Rosululloh shollallohu’alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Diantara orang-orang sebelum kalian, ada yang digalikan sebuah lubang untuknya. Ia dimasukkan ke dalamnya, didatangkan sebuah gergaji lalu diletakkan di atas kepalanya dan ia pun dibelah menjadi dua. Ada juga yang disisir dengan sisir besi sampai mengelupas kulit dan dagingya. Tetapi semua itu tidak menghalangi mereka dari din mereka…” (HR. Bukhori)
Masya Alloh…!!! Lalu bagaimana dengan kita? Maka sungguh betapa lemahnya keimanan kita. []

Selasa, 23 November 2010

Facebook dan Asmara Kaum Remaja

Jakarta. Addakwah.Com. Facebook memiliki pengaruh dalam hubungan asmara anak-anak muda. Majalah Seventeen merilis hasil penelitian yang menggambarkan hubungan antara jejaring sosial itu dengan percintaan.

"Remaja sangat sosial, dan Facebook memegang peran besar dalam kehidupan cinta mereka," kata Ann Shoket, pemimpin redaksi majalah Seventeen, seperti dikutip Mashable.

Penelitian itu melibatkan 10.000 laki-laki dan perempuan berusia 16 hingga 21 tahun yang mengikuti jajak pendapat.

Hasilnya menunjukkan, dalam seminggu pertemuan dengan orang baru, 79 persen orang mengkliknya sebagai teman. Dan, setelah menambahkan seorang teman baru, 60 persen orang melacak profil orang yang mereka sukai sehari sekali. Sebanyak 40 persen mengecek calon pacar mereka beberapa kali sehari.

Bahkan, bertolak belakang dengan kepercayaan bahwa jejaring sosial mengganggu komunikasi interpersonal, 72 persen mengatakan berbicara dengan seseorang secara online membuat anda dekat dengan mereka dalam kehidupan nyata.

Berdasarkan jajak pendapat Seventeen, 10 persen orang dicampakkan melalui facebook. Sebanyak 10 persen mengubah status hubungan mereka menjadi "single" untuk memutus pacar mereka.

Laporan itu juga menggambarkan "penderitaan" Facebook setelah pengguna putus cinta. Sebanyak 27 persen orang mengubah koneksi mereka dengan mantan setelah putus cinta dengan memblokir, menyembunyikan News Feed mantan atau tidak berteman.

Yang mengejutkan, 73 persen responden tetap berteman dengan mantan di Facebook.

Penelitian itu juga menunjukkan, perempuan lebih menghakimi. Sebanyak 43 persen perempuan akan memutuskan tidak mengencani seseorang berdasarkan profil Facebook mereka, dibandingkan dengan 33 persen laki-laki.

Kaum Adam juga cenderung lebih menutup status hubungan mereka. Sebanyak 17 persen laki-laki tidak membagi status hubungan mereka, dibandingkan dengan 12 persen perempuan.

Kaum Hawa berpikir mengubah status hubungan mereka itu menarik. Sebanyak 50 persen perempuan memperoleh keluhan karena perubahan status itu, sepertiga laki-laki setuju, 24 persen laki-laki menganggap itu tidak perlu, dibandingkan dengan 17 persen perempuan.
smb; antaranews.com

Jangan Fitnah Mbah Petruk!!! Mengungkap Jatidiri Pamomong Gunung Merapi

Nama “Mbah Petruk” mendadak menjadi terkenal ke seantero negeri pasca letusan Merapi yang mewarnai November 2010 bak selebritis baru yang sedang menanjak karirnya . Apalagi setelah salah seorang warga bernama Suswanto, 43 tahun, berhasil memotret asap solvatara gunung Merapi yang menyerupai kepala Petruk. Selama ini mitos Mbah Petruk sering dikaitkan dengan pemuka jin ini bertugas memberi wangsit mengenai waktu meletusnya Gunung Merapi, termasuk juga memberi kiat-kiat tertentu kepada penduduk agar terhindar dari ancaman bahaya lahar panas Merapi. Dipundak jin inilah, menurut isu yang sempat beredar, keselamatan penduduk tergantung.

Tentu saja tanggapan atas mitos Mbah Petruk cukup beragam. Jika ilmuwan vulkanologi menyatakan awan mirip Petruk tidak berarti apa-apa, Ponimin (50) yang disebut-sebut “sakti” seperti Mbah Maridjan, punya penafsiran sendiri. Menurutnya, hidung Petruk yang menghadap Yogyakarta mengandung arti Merapi mengincar Yogyakarta. (detiknews,13/11/2010). Permadi, seorang paranormal, dalam sebuah infotainmen “Silet” di sebuah televisi siaran swasta nasional memiliki pendapat yang hampir serupa dengan Ponimin. Lain lagi dengan Sultan Hamengkubuwana, Gubernur Yogyakarta saat ditemui di Kepatihan (2/11/2010) mengungkapkan: “ Itu kan kata mereka. Kalau aku bilang itu Bagong, bagaimana? Atau itu Pinokio, karena hidungnya panjang”. (Tempointeraktif.com, 2/11/2010). Spekulasi terus bermunculan akibat photo ini. Belum lagi juga muncul photo lain dari asap Merapi yang membentuk tulisan Arabic “Allah”.
SIAPAKAH MBAH PETRUK ?
Tidak diragukan bahwa nama Mbah Petruk telah menjadi sebuah mitos yang tidak terpisah dari warga yang mendiami wilayah sekitar Gunung Merapi. Tokoh ini sering dikaitkan sebagai penguasa gaib Merapi yang “bertanggungjawab” terhadap dunia “gaib” Merapi. Cerita tentang “kekuasaan” Mbah Petruk” ini secara umum berkembang di sekitar lereng Merapi terutama di wilayah yang masuk Daerah Istimewa Yogyakarta. Masyarakat Cepogo dan Selo yang menjadi “basis kerja” Mbah Petruk pada “masa lalu” justru memiliki versi yang cenderung berbeda.
Berdasarkan cerita Versi warga Cepogo bagian atas, nama asli Mbah Petruk sebenarnya adalah Kyai Handoko Kusumo. Kyai Handoko ini merupakan penyebar Islam di Merapi pada sekitar era 1700-an. Wilayah geraknya lebih banyak meliputi Cepogo bagian atas dan tidak menutup kemungkinan juga di wilayah yang lain. Dalam cerita tutur digambarkan bahwa ia memiliki bentuk badan yang agak bungkuk. Kyai Handoko Kusumo adalah seorang keturunan Arab. Bentuk hidungnya yang lebih mancung dari kebanyakan orang Jawa itulah yang membuat dirinya dikenal dengan nama Mbah Petruk oleh Masyarakat setempat. Petruk dalam mitologi Jawa merupakan tokoh wayang punakawan yang memiliki bentuk hidung sangat mancung. Meskipun demikian menghubungkan Mbah Petruk dengan tokoh pewayangan Petruk jelas merupakan sebuah kekeliruan.
Mbah Petruk ini adalah seorang ulama yang dimungkinkan merupakan murid generasi kedua dari Sunan Kalijaga. Sebagai seorang ulama ia memiliki level setingkat ulama lain yang semasa dengan kehidupannya seperti Mbah Ragasari yang dimakamkan di Tumang dan juga dai yang lain bernama Hasan Munadi. Juru kunci Merapi pada era Mbah Petruk ini bernama Kyai Rohmadi, seorang muslim pula, yang oleh penduduk setempat dikenal dengan nama Mpu Permadi. Hanya saja agak berbeda dengan Mbah Petruk, Mpu Permadi memiliki gaya keislaman yang lebih dekat dengan dunia klenik, terutama pengamalan terhadap kitab Mujarobat (semacam primbon). Mpu Permadi ini nampaknya telah terpengaruh dengan mistisme Persia yang bersumber dari kitab Syamsul Ma’arif Kubro yaitu sebuah kitab yang menggabungkan dunia perdukunan Persia dan mistisme Syiah. Kitab ini boleh dikatakan sebagai sumber dari hampir semua kitab Mujarobat yang banyak beredar di masyarakat. Isinya berupa kumpulan mantra, penggunaan azimat, wifiq, dan lain sebagainya. Makam Mpu Permadi dapat ditemui di Watu Bolong.
Dalam versi masyarakat Selo, Mbah Petruk seringkali disebut-sebut sebagai anak seorang pejabat atau versi lain Wedana. Pada era ini Selo merupakan wilayah dari kawedanan Ampel yang membawahi Ampel, Cepogo, Paras, dan Selo. Versi ini tidak bertentangan dengan versi cerita cerita warga Cepogo. Hal ini tidak mengherankan, sebab salah satu fenomena penyebaran Islam adalah melalui perkawinan, termasuk membangun kedekatan dengan menikahi putri-putri penguasa setempat. Namun demikian secara umum, masyarakat sekitar Merapi telah mafhum bahwa Mbah Petruk merupakan salah seorang penyebar agama Islam di sekitar daerah itu. Pada masa tuanya, Mbah Petruk diperkirakan meninggal di Gunung Bibi dan jasadnya tidak pernah diketahui. Hal inilah yang memunculkan anggapan spekulatif bahwa dirinya telah moksa. Perlu diketahui Gunung Bibi sampai hari ini masih merupakan kawasan “berbahaya” karena masih dihuni hewan-hewan liar termasuk oleh ular-ular python raksasa. Tidak mengherankan jika penduduk sekitarnya selalu menahan KTP para pendaki yang hendak naik ke Gunung Bibi, alasannya agar bisa segera memberitahu keluarganya bila pendatang yang bersangkutan tidak kembali turun dari gunung. Fenomena ini bisa saja menjelaskan hal tersebut disamping adanya kemungkinan lain yang logis.
TANTANGAN DAKWAH MBAH PETRUK
Sesuai dengan pendapat Karel Steenbrink, sampai sekitar tahun 1700-an, daerah di sekitar Merapi masih merupakan kawasan yang penduduknya menganut Agama Hindhu. Namun catatan yang lain menyebutkan bahwa pada era Perang Jawa (1825-1830), ulama dan sekaligus penasihat spiritual Pangeran Diponegoro yang bernama Kyai Mojo telah memobilisasi pasukan yang berasal  dari lereng Merapi. Hal ini menunjukkan bahwa proses Islamisasi di kawasan ini telah berjalan.
Pada era awal dakwah di lereng Merapi, tantangannya tidaklah mudah. Aliran yang berkembang di lereng Merapi pada masa ini menunjukkan adanya sinkretisme antara agama Kapitayan dan aliran Bhairawa Tantra. Di Jawa aliran ini memang telah menyatu dengan mantra-mantra Jawa Kuno dan kepercayaan terhadap para tukang tenung. Penobatan raja-raja Jawa dilakukan melalui percampuran ritual tantra disertai dengan berbagai sihir dan ajaran rahasia.  (Prijohutomo, II, 11953: 105).
Agama Kapitayan adalah keyakinan masyarakat Jawa sebelum proses Indianisasi yang meliputi perkembangan agama Hindhu dan Budha. Ajarannya yang hanya mengenal satu Tuhan memiliki sejumlah kemiripan dengan monotheisme. Ritualnya adalah menyembah Hyang Taya yaitu pencipta alam semesta yang memiliki sifat tan kinaya ngapa (tidak dapat diperkirakan oleh akal pikiran manusia). Ibadahnya disebut sembahyang dilakukan sebanyak 3 waktu dalam sehari yaitu saat matahari terbit, matahari diatas kepala, dan matahari terbenam. Kepercayaan ini memiliki tempat peribadatan yang bangunan berbentuk segi empat bernama langgar. Untuk memasuki langgar seorang penganut Kapitayan harus dalam keadaan bersih dan melepas alas kaki yang dikenakannya. Dalam Kapitayan sendiri terdapat dua cara pandang yang saling berbeda yaitu Tu dan To. Penganut pandangan Tu melakukan ritual agamanya dengan tanpa perantaraan (tawasul). Mereka menyembah penciptanya dengan mengandalkan ketaatan diri kepada pencipta dan tanpa membutuhkan wujud materi yang digunakan untuk sesaji. Sedangkan penganut pandangan To membutuhkan persembahan berupa sesaji dalam rangkaian peribadatannya. Dalam mitologi pewayangan Jawa karakter berpandangan Tu diejawantahkan dengan Semar Badranaya yang menjadi pamomong para satriya berwatak mulia. Sedangkan karakter To dengan disimbolkan dengan tokoh Togog yang menjadi pamomong para bhuta dan danawa yang berwatak candala.
Sedangkan Bhairawa Tantra merupakan bentuk sinkretisme dari Siwa-Budha. Awalnya keyakinan ini hanya berkembang di elit politis Keraton Jawa saja dan berfungsi untuk menjaga kewibawaan penguasa. Cara pandang utama dari aliran ini adalah dengan memperturutkan hawa nafsu maka kecenderungan jiwa pada akhirnya akan lebih mudah diarahkan untuk menjauhi nafsu-nafsu tersebut. Menurut ajaran ini, orang hendaknya jangan menahan nafsu, bahkan sebaiknya manusia itu memperturutkan hawa nafsu. Sebab bila manusia terpuaskan nafsunya, maka jiwanya akan menjadi merdeka. (Prijohutomo, I, 1953: 89). Bentuk ritualnya meliputi apa yang dikenal dengan sebutan ma-lima atau pancamakara. Ritual Ma-lima tersebut terdiri dari  matsiya (ikan), mamsa (daging), madya (minuman keras), mudra (ekstase melalui tarian yang terkadang bersifat erotis atau melibatkan makhluk halus hingga “kerasukan”), dan maithuna (seks bebas). (Rasjidi, 1967: 68; Soekmono, 1988: 33-34). Dalam bentuk yang paling esoterik, pemujaan yang bersifat Tantrik memang memerlukan persembahan berupa manusia. Ritualnya meliputi persembahan berupa meminum darah manusia dan memakan dagingnya. (Munoz, 2009: 253, 448). Juga ritual seks bebas dan minum minuman keras yang dilakukan ditempat peribadatan berupa lapangan (padang) bernama Lemah Citra atau Setra. Ritual tersebut dilakukan untuk mendapatkan cakti. Oleh karena itu aliran ini juga sering disebut sebagai saktiisme. Pada era selanjutnya dapat dijumpai sisa-sisanya dalam apa yang disebut dengan istilah kasekten. (Koentjoroningrat, 2007:347).
Proses Indianisasi di Pulau Jawa dengan produk berupa Hindhuisme dan Budhisme memang memberi nilai tambah dalam bidang teknis seperti arsitektur dan seni, namun bersifat destruktif terhadap keyakinan awal masyarakat Jawa yang telah monotheis. Kasus serupa juga terjadi di Sunda, Kidung Jatiniskala telah menunjukkan bahwa masyarakat Sunda Kuno telah memiliki kecenderungan kepada kepercayaan terhadap Sang Pencipta yang mirip konsepsi Tauhid dalam Islam. Belum lagi jika kita mau meneliti lebih lanjut terhadap Agama Sunda Wiwitan.
Salah satu wujud ritual yang terpengaruh oleh pembauran antara Agama Kapitayan yang bersifat To dan Bhairawatantra yang dijalankan di Merapi adalah pengorbanan manusia untuk menolak mara bahaya dan bencana. Pengorbanan ini dilakukan dengan menceburkan manusia ke dalam kawah Merapi. Bentuk pengorbanan dengan menggunakan manusia ini sebenarnya lebih banyak dipengaruhi oleh ajaran Bhairawatantra yang merupakan sinkretisme antara Hindhu dan Budha ini. Bentuk pengorbanan yang hampir sama masih kita jumpai dalam tradisi tutur yang berkembang di sekitar Gunung Bromo. Di Gunung Bromo juga terdapat tradisi mempersembahkan hasil bumi ke kawah Bromo yang merupakan perkembangan dari ritual ini. Berdasarkan tradisi tutur pula dapat diketahui bahwa penduduk Gunung Bromo sebenarnya merupakan pelarian dari Majapahit, sebuah kerajaan Jawa Hindhu-Budha yang bercorak Bhairawatantra.
Pada era dakwah Mbah Petruk bentuk pengorbanan ini mulai diperhalus dengan menggantinya dengan kepala kerbau. Kepala kerbau tersebut di tanam di Pasar Bubrah yang merupakan puncak Gunung Merapi Purba dan juga dimasukkan ke kawah Merapi. Tentu saja proses subsitusi korban manusia dengan kepala kerbau ini bukan sebuah jalan yang mudah. Butuh pendekatan yang luar biasa untuk jaman dimana tradisi masyarakat masih dipengaruhi oleh pengruh yang kuat dari Hindhu Budha. Namun pembelokan melalui natifisasi telah membelokkan perkembangan ini sehingga proses dakwah yang seharusnya berjalan justru berjalan stagnan dan generasi selanjutnya kehilangan sisi periwayatan ini.
Praktik mistik yang lain yang masih eksis di lereng Merapi adalah ritual telanjang yang dilakukan di Candi Lumbung pada setiap awal bulan Suro. Ritus ini dilakukan tengah malam selepas pukul 00.00 WIB dengan bertelanjang bulat mengelilingi Candi Lumbung sambil membaca mantra-mantra khusus di bawah panduan seorang pemimpin upacara. (Liberty, 11-20/1/2008: 67). Ritual ini juga masih memiliki kemiripan sebagai sisa ritual Bhairawa Tantra. Di daerah sekitar Merapi bekas-bekas setra (tempat pengorbanan manusia dan area persetubuhan masal dalam ritus bairawa) yang lain juga dapat ditemukan. Sampai sekitar tahun 2006, tempat pemujaan berupa Setra masih dapat ditemui di Bon Bimo. Namun di tempat petilasan itu saat ini telah didirikan sebuah masjid oleh masyarakat setempat. Cerita yang beredar di masyarakat saat tempat itu hendak didirikan masjid, batu yang menjadi “altar” penyembelihan gadis perawan di Bon Bimo tersebut pada waktu malam mengeluarkan suara tangisan yang bisa didengarkan hampir oleh setiap penduduk sekitarnya. Namun masyarakat telah memilih Islam dan sebuah masjid berdiri atas kehendak warga desa di tempat itu.
KAPITALISASI INDUSTRI PARIWISATA
Tradisi seperti penanaman kepala kerbau atau binatang ternak lain ini sebenarnya sudah mulai ditinggalkan oleh masyarakat seiring dengan perkembangan dakwah Islam. Perhelatan ritual ini saat ini hanya dilakukan oleh sebagian orang dan tidak jarang atas sponsor Pemerintah Daerah dengan motif “memeras kocek” wisatawan. Kyai Muhammad Solikhin, peneliti dan pamomong masyarakat Desa Pedut, Cepogo misalnya mencontohkan bahwa pada saat gempa 2006, masyarakat di desanya masih melakukan penyembelihan Kambing dan kepalanya ditanam di sejumlah perempatan desa. Namun dalam gempa tahun 2010 ini tradisi bersifat bairawi tersebut telah ditinggalkan. Ketika terjadi gempa, masyarakat lantas berlindung ke masjid. Nampaknya mitos keliru tentang Mbah Petruk dan ritual yang mengikutinya memang sengaja hendak dipelihara dan dilestarikan demi sebuah kepentingan.
Dengan berlindung dibalik slogan “kearifan lokal” pemerintah daerah setempat berupaya mengkomersialisasikan ritual yang sebenarnya mulai ditinggalkan tersebut. Dalam cara pandang ini kebudayaan dianggap sebagai sebuah bentuk stagnasi sebuah periode sejarah. Kebudayaan ditempatkan sebagai obyek mati yang tidak bersifat dinamis dalam merespon perkembangan kebudayaan manusia. Komersialisasi demikian hakikatnya adalah pengembangan budaya bertopeng kapitalisme yang bergerak sebagai “monster” dalam ranah penghancuran kearifan lokal sebenarnya. Di satu sisi mampu meningkatkan pendapatan daerah dan masyarakat, namun juga mengorbankan aspek moralitas dan mentalitas manusia yang menjadi modal utama menjalani kehidupan dalam sebuah tuntunan baik. Isu “kearifan lokal” bukan berarti mengangkat “kebudayaan asli” melainkan menempatkan kebudayaan pada sebuah pemberhentian sampai mengalami titik jenuh. Pandangan yang digunakan bukan lagi menggunakan gaya ketimuran, melainkan berdasarkan paham yang diimpor dari kacamata materialisme Barat dalam melihat timur. Padahal cara pandang ini sebenarnya sangat aneh sebab merupakan cara pandang lama yang telah banyak ditinggalkan. Anehnya, pola ini malah diamalkan diIndonesia pada hari ini. Van Peursen, pakar strategi kebudayaan, menyebutkan cara pandang terhadap kebudayaan hari ini telah bergeser, dimana setiap orang merupakan kekuatan pembentuk kebudayaan. (Van Peursen, 1976:12).
Terkait Mbah Petruk, sudah saatnya umat Islam melanjutkan perjuangannya yang belum selesai dan menanti sentuhan berkelanjutan. Dakwah adalah sebuah amanah dari risalah kenabian yang dibebankan pada pundak kita. Jadi, demi kepentingan apa pun, jangan pernah memfitnah Mbah Petruk. Selamat berjuang. Wallahu a’lam.
(Makalah ini disusun berdasarkan investigasi terhadap tradisi lesan yang berkembang dalam masyarakat Selo dan Cepogo dimana Mbah Petruk merupakan ulama yang paling banyak beraktivitas di kedua tempat ini dibandingkan di wilayah lain di sekitar lereng Merapi. Investigasi ini melibatkan tokoh masyarakat setempat diantaranya adalah Kyai Muhammad Solikhin, “pamomong” masyarakat Pedhut, Cepogo yang juga merupakan seorang peneliti dan penulis buku yang cukup produktif tentang kebudayaan Jawa). 
Penulis: Susiyanto
(Peneliti Pusat Studi Peradaban Islam (PSPI) & Mahasiswa Pasca Sarjana Peradaban Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta)
Sumber; www.susiyanto.wordpress.com 

Rabu, 10 November 2010

Astagfirullah!! Tifatul Membungkuk Bersalaman dengan Istri Obama

Jakarta (voa-islam.com) — Situs microblogging Twitter langsung heboh ketika ketika siaran langsung stasiun televisi swasta menyiarkan tayangan di mana Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring, yang juga mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera, berjabatan tangan dengan Ibu Negara Michelle Obama di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (9/11/2010) sore.
Pada Selasa sore, Presiden AS Barack Obama dan Michelle berkunjung ke Istana Merdeka. Setibanya di Istana Merdeka, Obama dan Michelle menyalami para anggota Kabinet Indonesia Bersatu Kedua dan pemimpin lembaga tinggi negara lainnya.
Kehebohan terjadi karena Tifatul selama ini berpegang teguh tak berjabat tangan dengan wanita yang bukan mahramnya. Soal "insiden" itu, Tifatul punya dalih sendiri.
..."Sdh ditahan 2 tangan, eh Bu Michele-nya nyodorin tangannya maju banget...kena deh," begitu tweet Tifatul...
"Sdh ditahan 2 tangan, eh Bu Michele-nya nyodorin tangannya maju banget...kena deh," begitu tweet Tifatul pada akun Twitter-nya, @tifsembiring.
Anehnya, di televisi tampak Tifatul agak membungkuk badan sambil menyalami Ibu Negara AS Michele Obama bersama rombongan saat tiba di Istana Negara.

Tifatul Menikmati Salamannya?

Mantan presiden PKS itu menjawab dalam twitternya tanggal 9 November sekitar pukul 22.00 sekitar dua jam setelah kritik para twitter dan facebooker dimuat di media massa online, termasuk tribunnews.com

"Hmmm saya mulai faham poinnya, intinya ngiri aja..." jawab Tifatul di twitternya. Kontan saja jawaban seperti itu mengundang respon para twitter lagi.

Ada yang mengkritik lagi dan mengatakan bahwa Pak Tifatul sedang mabuk, menjabat tangan bukan mahram kan haram."Kok Bapak berfikir demikian. Berarti Bapak menikmati dong salaman dengan Michele Obama," kata twitter lagi. Tapi ada juga twitter yang mendukung sikap Tifatul karena itu acara resmi dan kesempatan langka.

..."Kok Bapak berfikir demikian. Berarti Bapak menikmati dong salaman dengan Michele Obama," kata twitter lagi...
Kejadian jabat tangan itu tampak seperti tak terelakkan oleh Tifatul Sembiring. Ketika Presiden SBY diperkenalkan satu persatu rombongan yang dibawa Obama. Kemudian gantian Presiden SBY memperkenalkan anggota Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) kepada Obama dan Michele. Tifatul berdiri di dekat Gubernur Lemhanas Muladi.

Saat Obama menjabat tangannya, senyum dan sapa Obama menyapa hangat. Michele Obama pun lantas gantian menyodorkan tangan untuk berjabat tangan dengan Tifatul. Walhasil, terjadilah peristiwa aksi jabat tangan Tifatul dengan perempuan yang bukan mahramnya.

Dan karena ini menjadi pembicaraan hangat saking anehnya, berita juga dimuat di The Washington Post tanggal 9 November 2010 dengan judul Minister admits reluctant Michelle Obama handshake.

Tifatul mengaku tak ada pilihan lain selain menjabat tangan Michele Obama. Dengan demikian apakah selanjutnya Tifatul juga tidak bisa menolak saat ada wanita yang bukan mahramnya mengajak berjabat tangan? (LieM/dbs)

Kamis, 19 Agustus 2010

Awas!! Jangan Terkecoh 'Islam Palsu' Buatan Kristen Advent

Jangan mudah terkecoh, waspadalah terhadap ajaran Islam yang diembel-embeli nama lain, misalnya: Islam Hanif, Islam Jama’ah, Islam Murni, Islam Liberal, Islam Progresif, Islam Liberal, dan sebagainya, karena Islam yang benar dan diridhai Allah SWT adalah “Islam” (tanpa embel-embel apapun) yang mengamalkan Al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW. Islam aneh-aneh ini adalah ajaran sesat yang tujuannya adalah merusak Islam.
Saat ini, di Bandung marak gerakan pemurtadan (kristenisasi) yang bermuara pada ajaran Islam Hanif yang digagas Robert Walean. Menurut Suryana Nurfatwa, Ketua Gerakan Reformis Islam Jawa Barat (Garis) Jawa Barat, dalam kasus pemurtadan di Garut dan Babakan Ciparay Bandung, semua pelakunya mengaku dari gereja Advent Hari Ketujuh. Modus dan buku-buku yang digunakan sama, yakni menyebarkan diktat yang ditulis oleh Robert Walean.
Dr Robert Paul Walean adalah aktivis Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK). Pria asal Minahasa 70 tahun yang kini tinggal di Koja, Tanjung Priok Jakarta Utara merekayasa agama ‘Islam Hanif’ sebagai trik penginjilan terselubung untuk memurtadkan umat Islam.
Untuk menyebarkan Islam Hanif, Walean menulis buku Alkitab Menubuatkan Islam Hanif Akan Masuk Surga (32 halaman). Sebelum membeberkan ajaran Islam Hanif, Walean meyakinkan pembaca bahwa buku yang ditulisnya sesuai dengan Al-Qur’an, lalu ia mewajibkan umat Islam menjadi pengikut Islam Hanif. Walean menegaskan:
“Islam Hanif bukan ajaran Kristen. Islam Hanif adalah ajaran yang ada dalam Al-Qur’an” (hlm. 5).
“Tujuan pekabaran bukan untuk mengkristenkan, tapi untuk membawa orang agar diselamatkan di akhirat nanti. Baiklah umat Islam tetap menjadi Islam, tapi harus menjadi Islam Hanif” (hlm. 10).
Setelah mengelabui pembaca, Walean mulai memasukkan doktrin Kristen Advent yang dikamuflase dengan ayat-ayat Al-Qur’an:
“Ajaran Islam Hanif berpatokan pada Kitab Al-Qur’an dan Kitab-kitab sebelumnya. Ayat utama ajaran Islam Hanif adalah pada Al-Qur’an surat An-Nahl 123: “Kemudian Kami wahyukan kepadamu Muhammad: “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif.”
Jadi, agama Islam yang benar adalah agama Nabi Ibrahim yang hanif... Cara ibadahnya tertulis pada ayat 124 surat yang sama (An-Nahl): “Sesungguhnya diwajibkan (menghormati) hari Sabtu atas orang-orang yang berselisih padanya. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar akan memberi putusan di antara mereka di hari kiamat terhadap apa yang telah mereka perselisihkan itu.” (hlm. 14-15).
...Walean memasukkan doktrin Kristen Advent yang dikamuflase dengan ayat-ayat Al-Qur’an…
Dalam uraian tersebut Walean sengaja mengacaukan istilah ”Islam Hanif.” Darimana Walean memungut nama agama ”Islam Hanif?” Padahal Al-Qur’an surat An-Nahl 123 yang dijadikan dalil itu sama sekali tidak menyebutkan kata “Islam Hanif.” Kata “hanif” dalam ayat tersebut jelas bukan menunjuk pada sebuah nama, tapi sifat yaitu sifatnya Nabi Ibrahim. Perhatikan baik-baik, dalam ayat tersebut tertulis dengan jelas “Ibrahim seorang yang hanif” (ibrohiima haniifan). Nabi Ibrahim disebut hanif karena memiliki ketulusan dan keikhlasan dalam beribadah kepada Allah, sesuai dengan penggalan ayat berikutnya, bahwa beliau adalah orang yang tidak mempersekutukan Allah.
Jika konsekuen ingin mengikuti agama Nabi Ibrahim, seharusnya Walean tidak beragama Islam Hanif maupun Kristen Advent. Karena Nabi Ibrahim mewasiatkan agar anak-anaknya berpegang teguh memeluk agama Islam (tanpa embel-embel Islam Hanif).
“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam” (Qs. Al-Baqarah 132).
Mengaku sebagai pengikut Nabi Ibrahim yang mengamalkan ajaran Al-Qur’an, tapi masih setia menjadi Kristen Advent, menambah daftar penipuan Walean. Bukankah Al-Qur’an sejara tegas menyatakan Nabi Ibrahim bukan seorang Kristen (Nasrani)?
“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang hanif (lurus) lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik” (Qs Ali Imran 67).
Doktor Robert Paul Walean semakin terperosok dalam kesalahan fatal, ketika mengajarkan bahwa ibadahnya Nabi Ibrahim adalah hari Sabtu (Sabat) berdasarkan Al-Qur'an surat An-Nahl 124. Lagi-lagi Walean ceroboh dalam membaca. Ayat ini sama sekali tidak menyebutkan Nabi Ibrahim beribadah pada hari Sabtu. Bukankah dalam ayat tersebut termaktub dengan jelas bahwa syariat Sabat itu pernah diwajibkan kepada umat Yahudi? Perhatikan baik-baik kutipannya: Sesungguhnya diwajibkan menghormati hari Sabtu atas orang-orang Yahudi yang berselisih padanya.”
Dr Robert Walean adalah orang yang miskin wawasan agama, baik agama Islam maupun Kristen...
Dengan ajaran kebaktian hari Sabtu (Sabat) yang diklaim mengikuti teladan Nabi Ibrahim, jelaslah bahwa Walean adalah orang yang miskin wawasan agama, baik agama Islam maupun Kristen. Buktinya, dalam Bibel pun tidak ada ayat yang menyebutkan Nabi Ibrahim (Abraham) menjalankan hukum Sabat. Bukankah hukum Sabat diberlakukan pada masa Nabi Musa? Baca baik-baik kitab Perjanjian Lama berikut: Ulangan 5:1-12; bandingkan: Keluaran 16:23, 20:8-11, 35:2-3, 35:15, dan Imamat 16:31, 19:30.
Dengan penyimpanan yang disengaja, maka tak diragukan lagi bahwa Walean bukanlah pengagum Nabi Ibrahim, tapi pengkhianat sejati dan pembenci Nabi Ibrahim. Al-Qur’an mengingatkan bahwa para pembenci agama Ibrahim adalah orang bodoh yang memperbodohi dirinya sendiri.
“Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri.” (Qs. Al-Baqarah 130).
...Di balik tipuan nama agama ‘Islam Hanif” itu, Walean menyusupkan doktrin Kristen Advent yang dijustifikasi dengan ayat-ayat Al-Qur'an secara menyimpang…
DOKTRIN KRISTEN DALAM “ISLAM HANIF” AJARAN WALEAN
Di balik tipuan nama agama ‘Islam Hanif” itu, Walean mengajarkan doktrin-doktrin Kristen Advent yang dijustifikasi dengan ayat-ayat Al-Qur'an yang ditafsirkan secara menyimpang. Inilah beberapa doktrin Kristen yang disusupkan Walean dalam agama Islam Hanif:
1. Doktrin Soteriologi (Keselamatan) Melalui Penebusan Dosa
“Perlu diketahui bahwa di setiap pembuka surat Al-Qur’an tercantum ‘Bismillahiir Rahmaniir Rahiim’ yang artinya dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Bahkan di setiap kegiatan kita dianjurkan untuk menyebutkan demikian. Jadi sesungguhnya intisari Al-Qur’an adalah untuk menyatakan bahwa Allah adalah Allah yang Rohmaniir Rahiim. Sedangkan konsep keselamatan melalui penebusan adalah membuktikan bahwa Allah adalah Allah yang Rohmaniir Rohiim. Karena kita tidak disiksa” (Islam Hanif Akan Masuk Surga , hlm. 25).
2. Doktrin Kematian Yesus Kristus untuk Menebus Dosa
“Satu-satunya cara Allah membuktikan Dia adalah Allah yang Maha Kasih lagi Maha Penyayang dan tidak merubah hukum-Nya, adalah dengan cara Allah sediakan pengganti/Jurusyafaat. Siapakah Jurusyafaat itu? Kata Jurusyafaat sama dengan Perantara atau Juruselamat yaitu Almasih. Ada lebih 25 kali kata Almasih dalam Al-Qur’an yang ditujukan kepada Isa Putra Maryam. Isa Almasih adalah satu-satunya utusan Allah yang pantas menjadi pengganti (penebus) dosa umat manusia karena Dia sendiri tidak pernah berdosa. Satu-satunya utusan Allah yang tidak pernah berdosa adalah Isa Putra Maryam. Kalau dia pernah berdosa tentu tidak pantas menebus dosa orang lain. Ganjaran yang setimpal untuk dosa adalah harus mati di neraka. Maka untuk menggantikan (menebus) kematian umat manusia di neraka, Isa Almasih telah mati dan sudah dibangkitkan dan diangkat Allah.” (Islam Hanif Akan Masuk Surga, hlm. 26-27).
3. Doktrin Kristen Advent Sebagai Jemaat yang Benar
Dalam diktat berjudul “Kebenaran Yang Terungkap dari Al-Qur’an dan Alkitab,”  Walean menyatakan bahwa satu-satunya kebenaran adalah Gereja Jemaat Advent:
“KESIMPULAN. Kita patut dan sepantasnya bangga dan bersyukur kepada Allah karena kita berada dalam Gereja/Jemaat yang benar, yang telah dinubuatkan dalam Alkitab. Tidak ada lagi gereja lain yang dinubuatkan dalam Alkitab selain GMAHK (Wahyu 10:9-10) yang mempunyai tanda/ciri khusus Gereja yang sisa di akhir zaman yaitu: Menuruti 10 hukum Allah dan memiliki Kesaksian Yesus yaitu Roh Nubuat (Wahyu 1217, 19:10).
…Umat Islam harus waspada, jangan terkecoh oleh tipuan Pendeta Robert Walean yang merekayasa doktrin-doktrin Kristen Advent dalam agama palsu bernama “Islam Hanif…
Maka meskipun Jemaat GMAHK mempunyai banyak kekurangan yang perlu ditegur dan perlu diperbaiki, janganlah kita keluar dari GMAHK karena Gereja inilah yang benar dan akan menjadi perhatian Kristus yang paling utama sampai akhir zaman. Tugas Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh adalah: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman” (Matius 28:19-20). (hlm. 148).
Secara institusi, metode penginjilan berkedok Islam Hanif yang dipraktikkan oleh Walean itu didukung secara resmi oleh Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK) DKI Jakarta. Dalam surat pernyataan resmi di atas kop surat GMAHK DKI Jakarta, Pendeta L. Situmorang selaku Ketua GMAHK DKI Jakarta membuat pernyataan di atas materai bahwa ia mempercayai seperti apa yang dituliskan oleh Robert Walean.
Jadi, umat Islam harus waspada, jangan terkecoh oleh tipuan Pendeta Robert Walean yang merekayasa doktrin-doktrin Kristen Advent dalam agama palsu bernama “Islam Hanif” yang menyelewengkan ayat-ayat Al-Qur'an. Tangkap dan laporkan para penginjil dan siapapun kepada pihak yang berwajib, adili sesuai hukum yang berlaku. [a ahmad Hizbullah/si]

Sabtu, 19 Juni 2010

Larangan Meniup Minuman dan Bahayanya


Makan dan minum bagi seorang muslim sebagai sarana untuk menjaga kesehatan badannya supaya bisa manegakkan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Karenanya dia berusaha agar makan dan minumnya mendapatkan pahala dari Allah. Caranya, dengan senantiasa menjaga kehalalan makanan dan minumanya serta menjaga adab-adab yang dituntunkan Islam.
Makan dan minum seorang muslim tidak  sebatas aktifitas memuaskan nafsu, menghilangkang lapar dan dahaga semata. Karenanya, seorang muslim apabila tidak lapar maka dia tidak makan dan apabila tidak haus, dia tidak minum. Hal ini seperti yang diriwayatkan dari seorang sahabat,
نَحْنُ قَوْمٌ لاَ نَأْكُلُ حَتَّى نَجُوْعَ وَإِذَا أَكَلْنَا لاَ نَشْبَعُ
Kita (kaum muslimin) adalah kaum yang hanya makan bila lapar dan berhenti makan sebelum kenyang.
Dari sini, maka seorang muslim dalam makan dan minumnya senantiasa memperhatikan adab Islam yang telah dicontohkan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam agar bernilai ibadah. Dan di antara adabnya adalah tidak bernafas dan meniup minuman. Hal ini didasarkan pada beberapa hadits, di antaranya dari Abu Qatadah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika kalian minum maka janganlah bernafas dalam wadah air minumnya.” (HR. Bukhari no. 5630 dan Muslim no. 263)
Dari Ibnu Abbas, “Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang untuk bernafas atau meniup wadah air minum.” (HR. Al-Tirmidzi no. 1888 dan Abu Dawud no. 3728, dan hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani)
Dan juga hadits Abu Sa'id al-Khudri radliyallah 'anhu, Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melarang untuk meniup di dalam air minum." (HR. al-Tirmidzi no. 1887 dan beliau menyahihkannya)
Dalam Syarah Shahih Muslim, Imam Nawawi mengatakan, “Larangan bernafas dalam wadah air minum adalah termasuk etika karena dikhawatirkan hal tersebut mengotori air minum atau menimbulkan bau yang tidak enak atau dikhawatirkan ada sesuatu dari mulut dan hidung yang jatuh ke dalamnya dan hal-hal semacam itu."
Dalam Zaadul Ma'ad IV/325 Imam Ibnul Qayyim mengatakan, “Terdapat larangan meniup minuman karena hal itu menimbulkan bau yang tidak enak yang berasal dari mulut. Bau tidak enak ini bisa menyebabkan orang tidak mau meminumnya lebih-lebih jika orang yang meniup tadi bau mulutnya sedang berubah. Ringkasnya hal ini disebabkan nafas orang yang meniup itu akan bercampur dengan minuman. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melarang dua hal sekaligus yaitu mengambil nafas dalam wadah air minum dan meniupnya.
Apa Hikmahnya?
Apa hikmahnya, sering menjadi pertanyaan kita sebelum mengamalkannya. Padahal dalam menyikapi tuntunan Islam hanya sami'na wa atha'na (kami mendengar dan kami taat), tanpa harus terlebih dahulu mengetahui hikmahnya. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Umar bin al-Khathab sesudah mencium hajar Aswad, "Sesungguhnya aku tahu engkau hanya seonggok batu yang tidak bisa menimpakan madharat dan tidak bisa mendatangkan manfaat. Kalau seandainya aku tidak melihat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menciummu, pasti aku tidak akan menciummu." (HR. Al-Bukhari no. 1494 dan Muslim no. 2230)
Namun yang jelas bahwa setiap yang disyariatkan dan dituntunkan oleh Islam pasti mendatangkan kebaikan dan setiap yang dilarangnya pasti mendatangkan madharat. Dan apabila seorang muslim mengetahui hikmah dari sebuah syariat, maka dia akan semakin mantap dalam mengamalkannya. Dan apabila belum mampu menyingkapnya, maka keterangan dari Al-Qur'an dan Sunnah sudah mencukupi.
Di antara hikmah larangan meniup minuman yang masih panas adalah karena nanti struktur molekul dalam air akan berubah menjadi zat asam yang membahayakan kesehatan.
Sebagaimana yang diketahui, air memiliki nama ilmiah H20. ini berarti di dalam air terdapat 2 buah atom hidrogen dan satu buah atom oksigen yang mana 2 atom hidrogen tersebut terikat dalam satu buah atom oksigen. Dan apabila kita hembus napas pada minuman, kita akan mengeluarkan karbon dioksida (CO2). Dan apabila karbon dioksida (CO2) bercampur dengan air (H20), akan menjadi senyawa asam karbonat (H2CO3). Zat asam inilah yang berbahaya bila masuk kedalam tubuh kita.
senyawa H2CO3 adalah senyawa asam yang lemah sehingga efek terhadap tubuh memang kurang berpengaruh tapi ada baiknya kalau kita mengurangi masuknya zat asam kedalam tubuh kita karena dapat membahayakan kesehatan. (Dikutip Dari : Apa Aja: Bahaya Meniup Minuman Panas Kerja Sama Dengan blog-apa-aja.blogspot.com)
Dari sini juga semakin jelas hiikmah dari larangan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam agar ketika minum seteguk demi seteguk, jangan langsung satu gelas sambil bernapas di dalam gelas. Hal ini karena ketika kita minum langsung banyak, maka ada kemungkinan kita akan bernapas di dalam gelas, yang akan menyebabkan reaksi kimia seperti di atas.
Oleh: Badrul Tamam

Rabu, 16 Juni 2010

Menggapai Keteguhan

Manusia yang bahagia adalah manusia yang berpegang teguh kepada agama Allah subhanahu wata’ala dan kembali kepada-Nya. Seseorang yang berpegang teguh terhadap agamanya dialah mukmin yang benar keimanannya. Dan seorang mukmin yang benar keimanannya dia akan senantiasa konsisten dengan agamanya dalam posisi sempit maupun lapang. Allah subhanahu wata’ala telah berfirman yang artinya, "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang- orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta." (QS. al-Ankabut: 2-3).

Dalam ayat yang lain Allah subhanahu wata’ala berfirman yang artinya,
"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepada mu (cobaan) sebagaimana halnya orang- orang terdahulu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat". (QS. Al-Baqarah: 214).

Dan firman-Nya yang artinya,
“Dan Kami coba mereka dengan (nikmat) yang baik-baik dan (bencana) yang buruk-buruk, agar mereka kembali (kepada kebenaran)". (QS. Al-A'raf: 168).

Sesungguhnya dalam pergantian kondisi sempit dan lapang, senang dan susah, akan membuka jati diri dan watak hati yang sebenarnya. Dengan pergantian kondisi-kondisi itu pula tampak jelaslah golongan orang-orang yang beriman dan terbongkarlah topeng kepalsuan golongan penipu (orang-orang munafik). Maka barangsiapa yang mengetahui hikmah pergantian kondisi dan perjalanan taqdir, ia tidak akan menemukan celah dalam hatinya untuk berputus asa. Meskipun jalan-jalan menjadi gelap, munculnya problematika hidup yang senantiasa datang silih berganti dan senantiasa dirundung musibah, semua itu tidaklah membuatnya lemah dan berpatah arang. Namun sebaliknya, akan semakin menambah keteguhan hatinya. Kepada Allah subhanahu wata’ala lah manusia kembali. Dengan keimanannya seorang mukmin berpegang teguh dan dengan taqdir Allah subhanahu wata’ala dia berpasrah diri.

Sesungguhnya di antara perkara yang diseru oleh Islam dan senantiasa diagung-agungkan oleh Al-Qur'an adalah berpegang teguh di atas agama Allah subhanahu wata’ala dan istiqomah di atasnya. Teguh di atas agama Allah subhanahu wata’ala yakni istiqomah di atas petunjuk, berpegang teguh dengan ketaqwaan, membatasi diri dengan hanya menempuh jalan kebenaran dan kebaikan, menjauhkan diri dari dosa-dosa, maksiat-maksiat serta memalingkan diri dari seruan hawa nafsu dan syetan. Islam sangat memperhatikan dan mengagung kan perkara keteguhan hati karena sesungguhnya keteguhan hati di atas agama Allah subhanahu wata’ala merupakan sebuah bukti kuat yang menunjukkan kesempurnaan iman, bagusnya Islam, dan baiknya prasangka kepada Allah subhanahu wata’ala.

Tidaklah Allah subhanahu wata’ala menyia-nyiakan keimanan dan keteguhan seorang hamba, melainkan Allah subhanahu wata’ala telah menyediakan balasan baginya di dunia berupa pertolongan dan konsisten di jalan Islam serta menganugerahkan kenikmatan abadi di akhirat kelak. Allah subhanahu wata’ala telah mejelaskannya dalam firman-Nya yang artinya, "
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong dan meneguhkan kedudukanmu. Dan orang-orang yang kafir maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menghapus amal-amal mereka". (QS. Muhammad:7-8).

Itulah balasan yang dijanjikan Allah subhanahu wata’ala bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal shalih.

Sesungguhnya konsisten di atas agama Allah subhanahu wata’ala merupakan akhlaq yang sangat mulia. Sesungguhnya konsisten di jalan Islam dan terus-menerus berada di atas manhaj yang benar merupakan sebuah nikmat yang sangat agung yang diberikan Allah subhanahu wata’ala kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Alangkah indahnya kehidupan orang-orang yang beriman kepada Allah, karena Allah subhanahu wata’ala telah memerintahkan para Malaikat-Nya yang mulia agar memberi keteguhan kepada ahli keimanan. Sebagai mana yang telah difirmankan Allah subhanahu wata’ala yang artinya,
"(Ingatlah) ketika Tuhanmu mewahyu kan kepada para malaikat, "Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman". Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggal lah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka". (QS. Al-Anfal:12).

Ketahuilah wahai saudaraku seiman, -semoga Allah melimpahkan kepada kita surga yang penuh dengan kenikmatan- bahwasanya Allah subhanahu wata’ala telah menggariskan bagi kita banyak jalan, barangsiapa menitinya niscaya Allah subhanahu wata’ala akan memberikan kepadanya keteguhan di jalan Islam.

1. Keimanan yang benar, agama yang kuat, dan senantiasa berusaha menegakkan agama Allah subhanahu wata’ala. Seorang insan, setiap kali ia kuat keimanan dan agamanya, jujur kepada Tuhannya, maka setiap kali itu pula bertambahlah keteguhannya, kuat tekadnya, dan semakin mantaplah argumentasinya. Allah subhanahu wata’ala telah berfirman dalam surat Ibrahim ayat 27 yang artinya,
"Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat".
Juga dijelaskan di dalam hadits Rasulullahshallallahu’alaihi wasallam, beliau bersabda, "Seorang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada seorang mukmin yang lemah. Dan dalam setiap keduanya ada kebaikan". (HR. Muslim).

2. Kata yang teguh dan benar. Allah subhanahu wata’ala berfirman yang artinya,
"Allah meneguhkan iman orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh di dunia dan di akhirat". (QS. Ibrahim: 27).
Makin benar dan baik perkataan dan perbuatan seorang hamba, maka keteguhannya semakin tinggi.

3. Berdo'a dan bersandar kepada Allah. Memohon kepada Allah subhanahu wata’ala dan bersandar kepada-Nya merupakan faktor penyebab yang paling kuat untuk menolak sesuatu yang dibenci dan meraih sesuatu yang didamba-dambakan. Ia juga merupakan faktor yang paling kuat untuk meraih keteguhan di atas agama Allah. Tentunya dengan syarat seseorang yang berdo'a itu ikhlas dalam doanya.

4. Yakin dan ridha terhadap takdir Allah subhanahu wata’ala. Begitu pula rasa yakin dan ridha terhadap Qadha dan Qadar Allah merupakan salah satu sebab yang paling agung yang menolong seseorang untuk tetap teguh di atas Agama Allah. Berkata Alqomah bin Qais radhiyallahu’anhudi dalam menafsirkan firman Allah subhanahu wata’ala yang artinya,
"Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah maka Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu". (QS. At-Taghabun:11). Dia berkata, "Ia adalah seorang laki-laki yang ditimpa musibah maka ia tahu bahwasanya musibah itu dari sisi Allah I lalu ia ridha dan pasrah (berserah diri).

5. Mentadabburi (menghayati) Al-Qur'an. Wahai hamba Allah, ketauhilah bahwa materi pokok dari konsisten di jalan Islam adalah Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Allah subhanahu wata’ala berfirman yang artinya,
"Katakanlah, "Ruhul Quddus (Jibril) menurun kan Al-Qur'an itu dari tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan hati orang-orang yang beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". (QS. An-Nahl: 102).

6. Meneladani orang-orang shalih dan para da'i terdahulu. Allahsubhanahu wata’ala telah berfirman yang artinya,
"Dan semua kisah tentang rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman". (QS. Hud: 120).

7. Berinfaq di jalan Allah. Allah subhanahu wata’ala berfirman yang artinya,
"Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya untuk mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan hati mereka". (QS. Al-Baqarah: 265).

8. Cinta Allah dan Rasul-Nya.

9. Cinta dan benci karena Allah.

10. Benci terhadap kekafiran.

11. Saling menasihati dengan kebenaran.

12. Saling menasihati dengan kesabaran.

13. Saling menasihati dengan kasih sayang.
Sesungguhnya kemuliaan umat ini dan ketinggian derajat penyeru kebenaran (ahlul haq) tidak akan terwujud kecuali dengan berpegang teguh terhadap ajaran agama Islam, baik dalam masalah aqidah maupun syariat. Berpegang teguh pada kebenaran dan keadilan, berteguh hati dalam kondisi apa pun juga, serta jujur kepada Allah. Allahsubhanahu wata’ala telah berfirman yang artinya, "
”‘Dan janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah (pula) bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman". (QS. Ali Imran: 139).

Allah subhanahu wata’ala juga telah berfirman yang artinya,
"Dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan seperti kamu (ini). (QS. Muhammad: 38).

Kita memohon kepada Allah subhanahu wata’ala agar Ia menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang tetap teguh di atas agama-Nya serta menjaga kita dengan penjagaan-Nya.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu’alaihi wasallam, keluarga dan sahabatnya. (Zainal Abidin)

Sumber:
- Ats-Tsabat 'Ala ad-Din wa atsaruhu Fi Hayatil Ummah, Muhammad Ibn Ahmad Sayyid Ahmad,
- Ats-Tsabat 'Alal Islam Edisi Indonesia (Konsisten di Jalan Islam, Syaikh Salim bin Ied Al-Hilali.

Tameng Ibu Dari Neraka

Islam memberikan apresiasi yang tinggi kepada sosok ibu, hal ini terbaca dari perintah berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tua di mana salah satunya adalah ibu dan ibu lebih dikedepankan dalam kebaikan kepada kedua orang tua, terbukti Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam mengulang jawaban kepada laki-laki yang bertanya, siapa yang paling berhak mendapatkan perlakuan baiknya? “Ibumu” sebanyak tiga kali, baru pada kali keempat beliau menjawab, ”Bapakmu”. Sisi lain yang membuktikan bahwa Islam menghargai ibu adalah apa yang penulis paparkan di bawah ini.
Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Said al-Khudri radiyallaahu ‘anhu berkata, para wanita datang kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, mereka berkata, “Ya Rasulullah, kaum laki-laki lebih banyak mengambil waktumu daripada kami, sisihkanlah satu hari dari dirimu untuk kami.” Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam menjanjikan satu hari pertemuan, beliau memerintahkan dan menasihati mereka, di antara yang beliau sabdakan kepada mereka, “Tidak ada seorang wanita dari kalian yang ditinggal wafat oleh tiga orang anaknya kecuali hal itu merupakan perlindungan baginya dari api neraka.” Seorang wanita berkata, “Dan dua anak?” Beliau menjawab, “Dan dua anak.” Dalam riwayat Abu Hurairah, “Tiga anak yang belum mencapai usia baligh.”
Penjelasan hadits
“Tidak ada seorang wanita dari kalian.” Ini adalah sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam yang beliau tujukan kepada kaum wanita yang hadir di majlis yang diadakan oleh mereka dengan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam sebagai pembicara setelah sebelum telah terjadi kesepakatan. Sudah barang tentau sabda ini bukan khusus untuk yang hadir semata, namun ia untuk mereka dan para wanita yang hadir sesudah mereka.
“Yang ditinggal wafat oleh tiga orang anaknya.” Yakni anaknya meninggal semasa ibu masih hidup, anak mendahului ibu berpulang ke hadirat Allah Subhanahu waTa’ala. Dan kata, “Anak.” mencakup anak laki-laki dan anak perempuan. Namun anak di sini adalah anak yang wafat dalam usia belum mencapai dewasa, anak yang meninggal dalam usia dia sebagai anak. Di samping itu jumlah anak yang meninggal adalah tiga dan setelah ditawar oleh seorang wanita yang hadir, jumlahnya berkurang menjadi dua.
“Kecuali hal itu merupakan perlindungan baginya dari api neraka.” Yang di maksud dengan hal itu adalah apa yang disebutkan sebelumnya, yaitu empat perkara. Pertama, terjadinya wafat anak bagi seorang ibu. Kedua, wafat terjadi dalam hidup ibu. Ketiga, anak ibu yang wafat adalah dua. Keempat, dua anak yang wafat ini masih berusia anak-anak. Jika empat perkara ini terpenuhi, maka terwujudlah janji yang terucap oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam yaitu terlindunginya ibu dari api neraka.
Seorang wanita berkata, “Dan dua anak?” Beliau menjawab, “Dan dua anak.” Para wanita patut berterima kasih kepada wanita ini, karena keberaniannya menawar dan tawarannya diterima. Sepertinya yang membuat wanita ini berkata demikian adalah kenyataan bahwa angka tiga adalah banyak, bilangan itu tidak mudah terwujud, yang lebih dekat dan mungkin adalah angka dua.
Penulis berkata, anak bagi ibu adalah belahan jiwa dan buah hati, tidak ada yang lebih berarti, tidak ada yang lebih bernilai dalam kehidupan ibu melebihi anak, seorang ibu rela kehilangan apa yang dia miliki, mengorbankan apa yang mungkin dikorbankan demi anak. Seandainya ibu diminta memilih menjadi wanita termiskin di dunia dengan anak di sisinya atau menjadi wanita terkaya dengan anak yang diambil oleh yang Mahakuasa, niscaya dia akan memilih yang pertama. Anak adalah kebahagiaan bagi ibu. Perginya anak adalah duka mendalam bagi ibu, lebih-lebih anak yang masih kecil.
Tidak mengherankan karena untuk bisa menghadirkan anak ke dunia ibu harus menjalani empat penderitaan besar yang tidak bisa dia bagi kepada orang lain sekalipun dia adalah orang yang paling dekat kepadanya, suaminya. Mengandung selama sembilan bulan dalam keadaan wahnan ala wahnin, kelemahan di atas kelemahan, kelemahan seorang wanita di tambah dengan kelemahan kehamilan. Selama sembilan bulan dia membawa ke mana pun dan di mana pun. Selama itu keberadaan anak ini benar-benar membatasi segala aktifitasnya. Namun ibu menjalaninya dengan hati yang lapang dan jiwa yang tersenyum, justru di sanalah kebahagian terpancar.
Setelah melewati masa sembilan bulan, tiba masa untuk melahirkan. Sebuah proses berat lagi menyakitkan bagi seorang ibu dengan nyawa sebagai taruhannya. Maka sebagai wujud penghargaan kepada ibu yang melahirkan, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam memberi gelar syahadah (wafat dengan pahala sebagai syahid) kepada wanita yang wafat dalam masa melahirkan ini. Selesai melahirkan tugas dan beban baru yang tidak bisa dikatakan ringan langsung tersemat di pundak ibu, dia harus memberi makan kepada anaknya melalui ASI selama dua tahun yang di sambung dengan makanan lainnya plus mengasuh dan merawatnya.
Maka lumrah jika Allah Subhanahu waTa’ala mengambil buah hati darinya, dia akan bersedih dengan kesedihan yang sangat mendalam, lebih-lebih jika yang diambil oleh Allah Subhanahu waTa’ala tidak seorang melainkan dua orang dan dua orang ini masih berusia anak-anak, dalam masa ini keterkaitan hati ibu kepadanya masih sangat kuat, jalinan emosi antara anak dengan ibu masih sangat melekat erat, lalu tiba-tiba anaknya pergi dengan kehendak Ilahi Rabbi, bisa dibayangkan bagaimana sedihnya hati ibu. Di sini Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menghibur ibu yang mengalami ujian berat ini dengan menjanjikan perlindungan dan keterjagaan dari api neraka. Terjaga dan terlindungi dari api neraka berarti sebaliknya, meraih surga, sebab hanya dengan ini perlindungan dari api neraka terwujud.
Ada tambahan satu syarat lagi, syarat ini bersifat mendasar, ia merupakan syarat umum yaitu sabar. Mengapa? Sebab wafatnya anak adalah sebuah musibah bagi kedua orang tuanya khusunya ibu dan sebuah musibah akan berakibat baik, di dunia dan di akhirat, jika ia disikapi dan dihadapi dengan sabar. Berbeda perkaranya jika seorang ibu ditinggal wafat anaknya, sekalipun dua atau lebih, lalu dia meratap, berteriak histeris, meraung-raung, memukul pipi, merobek baju dan menyerukan seruan-seruan jahiliyah, ibu seperti ini menurut ijtihad penulis tidak meraih janji yang diucapkan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam di dalam hadits.
Marilah kita banyak mengambil pelajaran berharga dari kisah-kisah teladan para Ibu-ibu kita terdahulu yakni para wanita sahabat radhiyallahu ‘anhunna. Wallahu a’lam.

Awas! Jangan Kalian Dekati Zina

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk,” (QS. Al-Isra’: 32).
Ibnul Qayyim berkata mengenai ayat ini, bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan jalan ke arah zina sebagai seburuk-buruknya jalan dan pelaku perzinahan akan menghuni neraka. Di samping itu, tempat arwah mereka di alam barzah berada di tempat pembakaran yang di bawahnya terdapat api dari neraka. Ketika terbakar oleh api tersebut, mereka menjerit dan mengangkat tubuh, kemudian kembali terbakar lagi. Begitulah gambaran keadaan mereka nanti di hari kiamat. Sebagaimana sabda Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam saat melihatnya di dalam mimpi, di mana mimpi para Nabi adalah wahyu (pasti benarnya).
Dalam ayat lain, Allah menyifati tentang ibadurrahman, para wali Allah Dzat Maha Penyayang,
وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا
Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Barang siapa yang melakukan hal demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina.” (QS. Al-Furqaan: 68-69).
Terdapat riwayat dari Ibnu Mas’ud radliyallaahu 'anhu yang menyatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah mengenai dosa terbesar yang pernah dilakukan oleh manusia. Beliau shallallaahu 'alaihi wasallam menjawab, “Berbuat syirik kepada-Nya padahal Dia-lah yang telah menciptakan manusia.” Ibnu Mas’ud kembali bertanya, “Kemudian apa, Wahai Rasul?” Beliau menjawab, “Berzina dengan istri tetangga.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ibnu Hazm berkata, “Zina adalah perbuatan dosa yang menghalalkan apa yang telah diharamkan oleh Allah. Zina juga merusak keturunan dan memecah-belah hubungan suami-istri. Orang yang berakal atau yang berakhlak tidak akan melakukannya.”
...Zina juga merusak keturunan dan memecah-belah hubungan suami-istri. Orang berakal tidak akan melakukannya...
Diriwayatkan dari Samurah bin Jundub, bahwa Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam bersabda kepada kami, “Sesungguhnya semalam telah datang kepadaku dua orang. Lalu mereka membangunkan aku dari tidurku seraya berkata, ‘Ayo pergi!’ Lalu aku pergi bersama mereka. Maka sampailah kami kepada suatu tempat seperti pembakaran. Tiba-tiba terdengar suara ribut dan gaduh. Kami pun pergi untuk mencari tahu tentang apa yang tengah terjadi. Di dalam tempat pembakaran tersebut ternyata berisikan wanita dan laki-laki telanjang, dan terdapat api menjilat mereka dari bawah. Apabila api itu menyambar, mereka berteriak-teriak meminta tolong.” Pada akhir riwayat dijelaskan, bahwa laki-laki dan wanita telanjang tersebut adalah para pelaku zina. (HR. Bukhari secara ringkas)
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam juga bersabda,
لا يَحِلُّ دَمُ امرِئٍ مُسلِمٍ إلاَّ بِإحْدَى ثَلاثٍ : الثَّيِّبُ الزَّانِي ، والنَّفسُ بالنَّفسِ ، والتَّارِكُ لِدينِهِ المُفارِقُ لِلجماعَةِ
Tidak halal (ditumpahkan) darah seorang muslim yang bersaksi tidak ada ilah yang patut untuk disembah kecuali Allah dan aku adalah utusan-Nya, melainkan karena salah satu dari tiga sebab berikut; pelaku zina yang telah berkeluarga, jiwa dengan jiwa (qishash pembunuhan), dan orang yang meninggalkan agama serta jama’ahnya (murtad).” (HR. Bukhari, Muslim, dan selainnya)
Dalam riwayat al-Nasai dari 'Aisyah radliyallaahu 'anha, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam,
لَا يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلَّا بِإِحْدَى ثَلَاثِ خِصَالٍ زَانٍ مُحْصَنٌ يُرْجَمُ أَوْ رَجُلٌ قَتَلَ رَجُلًا مُتَعَمِّدًا فَيُقْتَلُ أَوْ رَجُلٌ يَخْرُجُ مِنْ الْإِسْلَامِ يُحَارِبُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَرَسُولَهُ فَيُقْتَلُ أَوْ يُصْلَبُ أَوْ يُنْفَى مِنْ الْأَرْضِ
Darah seorang muslim tidak halal (ditumpahkan) kecuali karena salah satu dari tiga sebab berikut; pezina muhsan (sudah menikah) dirajam, seseorang membunuh orang lain dengan sengaja maka dibunuh (diqishash), atau seseorang keluar dari Islam, memerangi Allah ‘azza wajalla dan Rasul-Nya maka dibunuh atau disalib atau diasingkan dari negeri.
Beliau juga pernah bersabda,
ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمْ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ قَالَ أَبُو مُعَاوِيَةَ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ شَيْخٌ زَانٍ وَمَلِكٌ كَذَّابٌ وَعَائِلٌ مُسْتَكْبِرٌ
Tiga golongan yang pada hari kiamat, Allah tidak akan mengajak bicara, tidak menyucikan, dan tidak mau melihat mereka, serta bagi mereka adzab yang pedih, yaitu orang tua yang berbuat zina, raja yang pendusta, dan orang miskin yang sombong.” (HR.Muslim dan Nasai)
Pernah ada seorang pemuda datang kepada Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam seraya berkata, “Ya Rasulallah, izinkan aku melakukan zina!” Maka marahlah para sahabat mendengar pernyataan pemuda tersebut sambil berkata, “Diam kau, diam!”
Lalu Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam berkata kepada pemuda tersebut, “Mendekatlah!” Lalu ia mendekat dan duduk di samping beliau. Nabi bertanya kepada pemuda tersebut, “Apakah engkau rela jika zina itu menimpa ibumu?” Ia menjawab, “Demi Allah, aku tidak rela dan aku akan mencegah hal itu terjadi.” Maka Nabi bersabda, “Siapapun tidak rela zina itu menimpa ibu-ibu mereka. Lalu apakah engkau rela bila hal itu menimpa kepada anak perempuanmu?” Ia menjawab, “Aku tidak rela dan aku akan mencegahnya.” Nabi pun berkata padanya, “Semua orang tua tidak rela jika hal itu terjadi pada anak-anak perempuan mereka. Lalu apakah enhkau rela jika zina itu menimpa saudara perempuanmu?” Lalu ia menjawab, “Tidak, dan aku akan mendcegahnya.” Kemudian Nabi berkata, “Semua orang pun tidak ingin hal itu menimpa suadara perempuannya. Lalu apakah engkau suak hal itu terjadi pada bibimu (saudara perempuan dari bapak)?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, dan aku akan mencegahnya.” Nabi berkata, “Semua orang tidak akan suka jika hal itu terjadi pada bibi-bibi mereka. Lalu apakah engkau rela jika hal itu menimpa bibimu (dari pihal ibu)?” Pemuda itu menjawab, “Tidak, dan aku akan mencegahnya.” Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam berkata padanya, “Begitu juga dengan orang-orang lain, mereka juga tidak rela jika hal itu menimpa bibi-bibi mereka.” Kemudian Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam meletakkan tangan beliau di pundak pemuda itu sambil berdoa, “Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya dan peliharalah kemaluannya.”
Pada akhirnya pemuda itu tidak pernah menengok kepada hal-hal yang dilarang (berzina) setelah kejadian itu.” (HR. Ahmad dalam Musnadnya)
Islam sangat anti dengan perbuatan zina dan secara tegas menghukum para pelaku perzinaan, sebagaimana hal itu hal itu diajarkan di dalam kitab Taurat. Adapun musuh-musuh Islam menganggap hal itu sebagai tindak kekerasan dan penyiksaan. Padahal, Islam mempunyai syarat-syarat yang harus dipenuhi sebelum pelaksanaan hukuman tersebut.
Musthafa shadiq al-Rafi’i, seorang sastrawan, ketika ditanya tentang hikmah diberlakukannya hukum rajam bagi pelaku zina –yang telah menikah- menjawab dalam bukunya “Wahyu Al-Qalam”, 
...Karena pelaku zina dapat menghancurkan rumah tangga, maka dia harus dibunuh menggunakan bebatuan...
“Karena pelaku zina dapat kenghancurkan rumah tangga, maka dia harus dibunuh menggunakan bebatuan. Sebab, tidak ada ajakan dan legalitas untuk melakukan perzinaan. Pria dan wanita bebas menentukan pasangannya dengan menikah. Tidak ada yang berhak melarangnya, sekalipun raja Inggris. Mereka juga berhak membatalkan dan memutuskan ikatan nikah yang disebabkan oleh kebencian atau kesulitan hidup. Bagi laki-laki dengan cara thalaq (cerai) dan bagi wanita dengan cara melalui seorang hakim. Hal ini sangat berlawanan sekali dengan ajaran agama lain –selain Islam- yang mengharamkan thalaq, sebagaimana juga mengharamkan laki-laki menikahi wanita yang telah dicerai, sebagaimana yang terdapat dalam Injil Matius pasal 5 ayai 32 yang menyebutkan, “Barangsiapa yang mengawini wanita yang telah diceraikan, maka ia telah berzina.” Juga dalam Injil Markus pasal 10 ayat 11-12 disebutkan, “Barangsiapa menceraikan istrinya, lalu menikah lagi dengan wanita lain, maka sungguh ia telah berzina. Jika seorang wanita telah diceraikan oleh suaminya, lalu ia menikah lagi dengan lelaki lain, maka dia juga dikatakan telah melakukan zina.
Jadi, tidak ada hukum yang membolehkan perbuatan zina dan berkhianat antara suami-istri, kecuali hukum yang menghancurkan dan merusak di atas bumi ini. Oleh karena itu, Islam mewajibkan hukuman rajam bagi pelaku zina yang telah berkeluarga. Biasanya hal itu dilaksanakan karena pengakuan pelaku zina tersebut, oleh sebab syarat-syaratnya yang sulit untuk dilaksanakan.
Antara zina dengan iman
Rasulullah shallallaahu 'alaihi wasallam pernah bersabda,
لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَسْرِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ 
Tidaklah jadi berzina seorang pezina ketika ingin berzina sementara ia masih beriman. Dan tidaklah jadi minum khamer (minuman keras) seorang peminum khamer ketika akan meminumnya sementara ia masih beriman. Dan tidaklah jadi mencuri seorang pencuri ketika akan mencuri sementara ia masih beriman.” (HR. Bukhari).
...dampak negatif dari perbuatan zina adalah menimbulkan rasa takut di hati pelakunya, stress, dan tidak lapang dada...
Ja’far bin Muhammad ketika ditanya mengenai makna hadits ini menjawab dengan membuat lingkaran di atas tanah sambil berkata, “Ini merupakan lingkaran iman.” Lalu membuat lingkaran lain seraya berkata, “Ini adalah lingkaran Islam. Apabila seorang muslim berzina, maka sungguh ia telah keluar dari lingkaran ini (maksudnya lingkaran iman) dan belum keluar dari lingkaran yang satunya, yaitu Islam.”
Imam Ibnul Qayyim mengatakan, “Perbuatan zina ini menimbulkan akibat atau dampak yang sangat buruk, karena ketika seorang muslim melakukannya, maka pada saat itu bisa dipastikan bahwa agamanya atau imannya menipis. Bahkan, hilang dari jiwanya. Zina juga dapat menyebabkan hilangnya sifat wara’, merusak wibawa, dan menipiskan ghirah keagamaan. Dampak lain darinya adalah seorang yang sering melakukan hal itu akan terbiasa untuk berbohong, menjadi hilang rasa malu yang ada pada dirinya, tidak ada lagi control dalam jiwanya dan cenderung untuk menjadi pengecut.
Di samping itu, dampak negatif dari perbuatan zina adalah menimbulkan rasa takut di hati pelakunya, stress, dan tidak lapang dada. Andai para pezina mengetahui kesenangan (kenikmatan) hidup andai bisa menahan diri dari berbuat zina, niscaya ia akan sadar bahwa ‘iffah adalah lebih baik untuk dirinya. Karena, nanti di surga orang-orang yang mampu menahan diri dari berbuat zina akan mendapat kenikmatan yang lebih, yaitu dengan memperoleh bidadari yang cantik, sekaligus mendapatkan pahala yang besar di sisi Allah Ta’ala.” (Diringkas dari kitab Raudhatul Muhibbin, hal. 358-361).
...Hukuman berat bagi pezina bukan hanya di akhirat. Di dunia mereka terjebak dalam fitnah dan akan terjangkit penyakit kelamin yang hina dan memutus garis keturunan...
Hukuman berat bagi pezina bukan hanya di akhirat, di dunianya mereka akan terjebak dalam fitnah dan akan terkena penyakit-penyakit kelamin yang hina serta mengakibatkan terputusnya garis keturunan. Di samping itu, zina menyebabkan hilangnya rasa kasih sayang dan menyebabkan cepat lenyapnya kenikmatan biologis.
Syaikh Mahmud Mahdi Al-Istambuli dalam bukunya Tuhfatul ‘Arus, menyebutkan tentang cerita seorang pemuda kepadanya. Dia menyatakan berdasarkan ilmu kedokteran modern bahwa perzinahan sangat membahayakan kesehatan. Bahkan pernyakit akibat perzinahan sangat sulit disembuhkan atau tidak bisa dijamin kesembuhannya. Penyakit-penyakiat itu masih tetap mewabah dan merajalela hingga kini.  Wallahu a’lam bil shawab. . . .
Oleh: Purnomo WD
 

Media Dakwah Copyright © 2010 LKart Theme is Designed by Lasantha