Tampilkan postingan dengan label kisah dai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah dai. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 Agustus 2010

Kisah Mualaf Aminah Assilmi: Dia Korbankan Segalanya Demi Islam

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Tak banyak orang yang mengenal Aminah Assilmi. Ia adalah Presiden Internasional Union of Muslim Women yang telah meninggal dunia pada 6 Maret 2010, dalam sebuah kecelakaan mobil di Newport, Tennesse, Amerika Serikat.

Perjalanannya menuju Islam cukup unik. Perjalanan yang patut dikenang. Semuanya berawal dari kesalahan kecil sebuah komputer. Mulanya, ia adalah seorang gadis jemaat Southern Baptist–aliran gereja Protestan terbesar di AS, seorang feminis radikal, dan jurnalis penyiaran.

Sewaktu muda, ia bukan gadis yang biasa-biasa saja, tapi cerdas dan unggul di sekolah sehingga mendapatkan beasiswa. Satu hari, sebuah kesalahan komputer terjadi. Siapa sangka, hal itu membawanya kepada misi sebagai seorang Kristen dan mengubah jalan hidupnya secara keseluruhan.

Tahun 1975 untuk pertama kali komputer dipergunakan untuk proses pra-registrasi di kampusnya. Sebenarnya, ia mendaftar ikut sebuah kelas dalam bidang terapi rekreasional, namun komputer mendatanya masuk dalam kelas teater. Kelas tidak bisa dibatalkan, karena sudah terlambat. Membatalkan kelas juga bukan pilihan, karena sebagai penerima beasiswa nilai F berarti bahaya.

Lantas, suaminya menyarankan agar Aminah menghadap dosen untuk mencari alternatif dalam kelas pertunjukan. Dan betapa terkejutnya ia, karena kelas dipenuhi dengan anak-anak Arab dan ‘para penunggang unta’. Tak sanggup, ia pun pulang ke rumah dan memutuskan untuk tidak masuk kelas lagi. Tidak mungkin baginya untuk berada di tengah-tengah orang Arab. ''Tidak mungkin saya duduk di kelas yang penuh dengan orang kafir!'' ujarnya kala itu.

Suaminya coba menenangkannya dan mengatakan mungkin Tuhan punya suatu rencana dibalik kejadian itu. Selama dua hari Aminah mengurung diri untuk berpikir, hingga akhirnya ia berkesimpulan mungkin itu adalah petunjuk dari Tuhan, agar ia membimbing orang-orang Arab untuk memeluk Kristen. Jadilah ia memiliki misi yang harus ditunaikan. Di kelas ia terus mendiskusikan ajaran Kristen dengan teman-teman Arab-nya.

''Saya memulai dengan mengatakan bahwa mereka akan dibakar di neraka jika tidak menerima Yesus sebagai penyelamat. Mereka sangat sopan, tapi tidak pindah agama. Kemudian saya jelaskan betapa Yesus mencintai dan rela mati di tiang salib untuk menghapus dosa-dosa mereka.''

Tapi ajakannya tidak manjur. Teman-teman di kelasnya tak mau berpaling sehingga ia memutuskan untuk mempelajari alquran untuk menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang salah dan Muhammad bukan seorang nabi. Ia pun melakukan penelitian selama satu setengah tahun dan membaca alquran hingga tamat.

Namun secara tidak sadar, ia perlahan berubah menjadi seseorang yang berbeda, dan suaminya memperhatikan hal itu. ''Saya berubah, sedikit, tapi cukup membuat dirinya terusik. Biasanya kami pergi ke bar tiap Jumat dan Sabtu atau ke pesta. Dan saya tidak lagi mau pergi. Saya menjadi lebih pendiam dan menjauh.''

Melihat perubahan yang terjadi, suaminya menyangka ia selingkuh, karena bagi pria itulah yang membuat seorang wanita berubah. Puncaknya, ia diminta untuk meninggalkan rumah dan tinggal di apartemen yang berbeda. Ia terus mempelajari Islam, sambil tetap menjadi seorang Kristen yang taat.

Hingga akhirnya, hidayah itu datang. Akhirnya pada 21 Mei 1977, jemaat gereja yang taat itu menyatakan, ''Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya.''

Perjalanan setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, seperti halnya mualaf lain, bukanlah perkara yang mudah. Aminah kehilangan segala yang dicintainya. Ia kehilangan hampir seluruh temannya, karena dianggap tidak menyenangkan lagi. Ibunya tidak bisa menerima dan berharap itu hanyalah semangat membara yang akan segera padam. Saudara perempuannya yang ahli jiwa mengira ia gila. Ayahnya yang lemah lembut mengokang senjata dan siap untuk membunuhnya.

Tak lama kemudian ia pun mengenakan hijab. Pada hari yang sama ia kehilangan pekerjaannya.
Lengkap sudah. Ia hidup tanpa ayah, ibu, saudara, teman dan pekerjaan. Jika dulu ia hanya hidup terpisah dengan suami, kini perceraian di depan mata. Di pengadilan ia harus membuat keputusan pahit dalam hidupnya; melepaskan Islam dan tidak akan kehilangan hak asuh atas anaknya atau tetap memegang Islam dan harus meninggalkan anak-anak. ''Itu adalah 20 menit yang paling menyakitkan dalam hidup saya,'' kenangnya.

Bertambah pedih karena dokter telah memvonisnya tidak akan lagi bisa memiliki anak akibat komplikasi yang dideritanya. ''Saya berdoa melebihi dari yang biasanya. Saya tahu, tidak ada tempat yang lebih aman bagi anak-anak saya daripada berada di tangan Allah. Jika saya mengingkari-Nya, maka di masa depan tidak mungkin bagi saya menunjukkan kepada mereka betapa menakjubkannya berada dekat dengan Allah.'' Ia pun memutuskan melepaskan anak-anaknya, sepasang putra-putri kecilnya.

Namun, Allah Maha Pengasih. Ia diberikan anugerah dengan kata-katanya yang indah sehingga membuat banyak orang tersentuh dan perilaku Islami-nya. Dia telah berubah menjadi orang yang berbeda, jauh lebih baik. Begitu baiknya sehingga keluarga, teman dan kerabat yang dulu memusuhinya, perlahan mulai menghargai pilihan hidupnya.

Dalam berbagai kesempatan ia mengirim kartu ucapan untuk mereka, yang ditulisi kalimat-kalimat bijak dari ayat Al-Quran atau hadist, tanpa menyebutkan sumbernya. Beberapa waktu kemudian ia pun menuai benih yang ditanam. Orang pertama yang menerima Islam adalah neneknya yang berusia lebih dari 100 tahun. Tak lama setelah masuk Islam sang nenek pun meninggal dunia.

''Pada hari ia mengucapkan syahadat, seluruh dosanya diampuni, dan amal-amal baiknya tetap dicatat. Sejenak setelah memeluk Islam ia meninggal dunia, saya tahu buku catatan amalnya berat di sisi kebaikan. Itu membuat saya dipenuhi suka cita!''

Selanjutnya yang menerima Islam adalah orang yang dulu ingin membunuhnya, ayah. Keislaman sang ayah mengingatkan dirinya pada kisah Umar bin Khattab. Dua tahun setelah Aminah memeluk Islam, ibunya menelepon dan sangat menghargai keyakinannya yang baru. Dan ia berharap Aminah akan tetap memeluknya.

Beberapa tahun kemudian ibu meneleponnya lagi dan bertanya apa yang harus dilakukan seseorang jika ingin menjadi Muslim. Aminah menjawab bahwa ia harus percaya bahwa hanya ada satu Tuhan dan Muhammad adalah utusan-Nya. ''Kalau itu semua orang bodoh juga tahu. Tapi apa yang harus dilakukannya?'' tanya ibunya lagi.

Dikatakan oleh Aminah, bahwa jika ibunya sudah percaya berarti ia sudah Muslim. Ibunya lantas berkata, ''OK, baiklah. Tapi jangan bilang-bilang ayahmu dulu,'' pesan ibunya. Ibunya tidak tahu bahwa suaminya (ayah tiri Aminah) telah menjadi Muslim beberapa pekan sebelumnya. Dengan demikian mereka tinggal bersama selama beberapa tahun tanpa saling mengetahui bahwa pasangannya telah memeluk Islam.

Saudara perempuannya yang dulu berjuang memasukkan Aminah ke rumah sakit jiwa, akhirnya memeluk Islam. Putra Aminah beranjak dewasa. Memasuki usia 21 tahun ia menelepon sang ibu dan berkata ingin menjadi muslim.
Enam belas tahun setelah perceraian, mantan suaminya juga memeluk Islam. Katanya, selama enam belas tahun ia mengamati Aminah dan ingin agar putri mereka memeluk agama yang sama seperti ibunya. Pria itu datang menemui dan meminta maaf atas apa yang pernah dilakukannya. Ia adalah pria yang sangat baik dan Aminah telah memaafkannya sejak dulu.

Mungkin hadiah terbesar baginya adalah apa yang ia terima selanjutnya. Aminah menikah dengan orang lain, dan meskipun dokter telah menyatakan ia tidak bisa punya anak lagi, Allah ternyata menganugerahinya seorang putra yang rupawan. Jika Allah berkehendak memberikan rahmat kepada seseorang, maka siapa yang bisa mencegahnya? Maka putranya ia beri nama Barakah.

Ia yang dulu kehilangan pekerjaan, kini menjadi Presiden Persatuan Wanita Muslim Internasional. Ia berhasil melobi Kantor Pos Amerika Serikat untuk membuat perangko Idul Fitri dan berjuang agar hari raya itu menjadi hari libur nasional AS. Pengorbanan yang yang dulu diberikan Aminah demi mempertahankan Islam seakan sudah terbalas. ''Kita semua pasti mati. Saya yakin bahwa kepedihan yang saya alami mengandung berkah.''

Aminah Assilmi kini telah tiada meninggalkan semua yang dikasihinya. Termasuk putranya yang dirawat di rumah sakit, akibat kecelakaan mobil dalam perjalanan pulang dari New York untuk mengabarkan pesan tentang Islam.

Senin, 12 Juli 2010

Laskar Pelangi di Pulau Lombok (Catatan Pengalaman menjadi Dai Ramadhan)

Rindu yang Menyesakkan
Pergi dari kampung halaman lebih dari seminggu, seingat saya baru kali ini saya lakukan. Persiapan yang cukup lama. Memberesi pekerjaan yang belum kelar, menyiapkan materi (maklum bukan ustadz beneran) membeli bekal yang harus dibawa dan lain lain. Tiba saatnya untuk berangkat, setelah berpamitan dengan istri dan orang tua, kulangkahkan kaki menuju tempat tujuan. Menjadi dai Ramadhan selama satu bulan di pulau nun jauh. Jadwal pemberangkatan molor banyak, akhirnya bus jurusan Mataram berangkat. Bismillah, bus berjalan pelan, sambil menikmati pemandangan sekitar dari bus aku mainkan kamera jeprat jepret. Tengok kanan kiri siapa tahu ada momen menarik. Sesekali ngemil bekal yang dibawakan istri. Setelah sekian lama berjalan, kantuk mulai menggelayuti.
Cukup lama kelihatannya aku tertidur, tiba tiba handphone-ku menjerit-jerit, "Assalamualaikum…" suara itu menyapa, "Wa'alaikum salam" jawabku. Ternyata anakku menelpon. "Sampai mana pak?" "Astaghfirulloh..." aku mendesah. Menurut istriku, anakku memaksa minta untuk menghubungiku. Baru kali ini saya merasakan Rasa rindu yang begitu menyesakkan dada. Seandainya dua atau tiga jam lagi bisa ketemu mereka itu tidak masalah, hal yang biasa. Tetapi perjalanan baru saja dimulai. Untuk ketemu mereka nunggu 1 bulan lagi. Ya Allah…rindunya "Sudah...sudah ..coba telpon mbah siti dulu.." kataku mengalihkan pembicaraan. Tanpa banyak pembicaraan akhirnya hp saya matikan. Saya tidak ingin tersiksa perasaan rindu di dada.
Sampai pagi HP Off...Pagi hari, bus sampai di pulau Bali. Memasuki pulau ini pemeriksaan KTP cukup ketat. Maklum, ada jenggotnya sedikit sih. Perjalanan menuju tujuan kira-kira sehari semalam. Di Lombok Utara.

Menjadi Dai Ramadhan di seberang memang sudah menjadi pilihan. Yang biasanya setiap hari hilir mudik mendatangi klien, maka untuk bulan ramadhani ini saya penuhi dengan anak-anak desa. Mengajari mengaji iqro, mengarang sedikit kadang “outbond” di tanah lapang ujung kampung yang begitu luas.
Ada sekitar 20an anak yang tiap sore rajin mengikuti pengajian. Saya memberi penilaian kepada mereka: masih sederhana, polos dan lebih dewasa kalau dibandingkan anak-anak di kampungku. Rasa Gotong royong begitu terasa, ada seorang santriku yang pinter, penampilan kerempeng sederhana. Beberapa pertanyaan sempat meluncur dari mulutnya yang membuatku mengernyitkan dahi. setiap kenaikan kelas pasti juara 1. Jadi teringat sama lintang (Remaja jenius yang putus sekolah gara gara gak ada uang) dalam film "Laskar Pelangi". Dan ini kenyataan.

Tamu Istimewa
Dipertengahan Ramadhan, tuan rumah kedatangan saudara dari jauh, (pihak tuan rumah yang saya tempati) tentunya membutuhkan kamar yang lebih. Maka, malam itu saya putuskan menginap di rumah salah satu takmir yang lain, berada di pojok desa. Sesampainya disana, ada telepon.."bahwa ada tamu 2 orang yang sedang mencari saya. wah, tamu istimewa pikirku.." Di Brugak (tempat penerima tamu) sudah menunggu 2 orang pake peci hitam. Satu orang berbadan gemuk putih dan yang satu lagi sudah agak tua, berkulit hitam dan sedikit garang.
Setelah itu terlibat pembicaraan basa basi dan tamu menjelaskan maksud kedatanganya bahwa sebagai abdi negara harus selalu menjaga keutuhan negara, menjaga umat. Tak lupa mereka menanyakan identitas dan kelengkapan yang lain, KTP, surat jalan dan surat tugas. Sambil berbincang ringan mereka menanyakan maksud dan tujuan kesini. Lembaga yang menugaskan dan juga melihat buku panduan ceramah, tak lupa mereka meminta nomor kontak saya. Cukup singkat namun membuat tegang juga. Pagi harinya, pihak tuan rumah karena seorang perangkat desa, seharian penuh diinterogasi. Kenapa dai datang kemari? apa yang dia cari? Sore itu cukup membuat panik beberapa pihak, sebagian teman melihat isi tas saya, jika mungkin ada barang “yang lain”.
Sore hari saya berpamitan untuk pindah rumah, dan juga berbarengan ada tamu dari kecamatan, lalu saya pamit karena ada jadwal ngisi kultum. Tapi kelihatannya ada yang nguntit, dan ternyata benar, ada info kalau malam itu ada yang secara serius mendengarkan kultum istimewa saya dan yang mendengarkan secara khusus pun 2 orang. Yang satunya secara terang-terangan datang kalau dia memang seorang “utusan”.
Malam itu, kepalaku agak berat, dan sedikit pening. Apalagi istriku tadi pagi telpon kalau anakku sakit, oh...terus apa tidak nih? Baru kali ini saya merasakan ketakutan yang amat. Jangan-jangan saya nanti diculik? Tak henti-hentinya saya berdoa. Alhamdulillah akhirnya bisa tidur juga walau sebentar, jam 1 bangun dan terus berdoa akan keselamatan dan kekuatan. Untuk menambah kekuatan, paginya saya ke rumah teman minta masukan, motivasi dan doanya.
Ternyata tidak sampai disitu, masih ada tamu tamu istimewa yang datang kerumah, dengan maksud yang tidak begitu jelas. Mereka menatapku begitu Lekat, membuat diriku jengah. Apapun yang terjadi, mulai hari itu sudah saya putuskan untuk melanjut misi dakwah. Karena daerahnya yang cukup terpencil, di atas perbukitan --seperti daerah persembunyian--, sehingga sosok da'i TPA macam saya patut untuk "diperhatikan".

Ada juga cerita yang lain, pak camat ingin sekali berkunjung kerumah untuk silaturahmi, karena di rumah ini ada saya. Namun hal itu tidak terjadi, karena ada berita kalau isu itu (isu apaan sih? Saat itu saya diisukan menjadi intel yang menyamar jadi ustadz), Isu itu semakin kabur. Jadi pak camat urung kerumah..ada-ada saja....
Puncak kegiatan Tim Dai Ramadhan di Lombok Utara ditandai dengan acara Festival Anak Sholeh I dengan Tema "Ayah bunda, Aku bisa!” Alhamdulillah, bulan Syawal datang juga. Berakhir pula tugas saya. Pamitan diwarnai dengan isak tangis mengharukan.
Mungkin para pembaca berkeinginan menjadi Dai di bulan Ramadhan tahun ini? Silakan di coba. [Edy Hudzaifah – Jogjakarta].

Sabtu, 05 Juni 2010

Kisah Relawan Indonesia Saat Penyerbuan Kapal Mavi Marmara.


addakwah.com - Beberapa relawan Indonesia yang telah bebas dari penahanan pihak Israel menceritakan detik-detik penyerbuan ke kapal bantuan kemanusiaan yang mereka tumpangi, Mavi Marmara oleh pasukan Komando Israel yang berlangsung pada Senin, 31 Mei 2010. Serbuan brutal oleh pasukan khusus terhadap relawan tidak bersenjata tersebut mengakibatkan 19 orang aktivis kemanusiaan pro-Palestina tewas dan puluhan lainnya luka-luka termasuk dua warga Indonesia.  Ada dari mereka sempat di ancam dengan todongan senjata api dan bahkan ada pula yang dianiaya karena mencoba melindungi hasil rekaman gambarnya yang akan di sita oleh tentara Israel untuk menghapus barang bukti kebrutalan mereka.

Dzikrullah Wisnu Pramudya dari Sahabat al-Aqsa menuturkan bahwa penyerbuan pasukan elit Israel bersenjata lengkap pertama dilakukan lewat boat kecil namun gagal. Setelah itu mereka menerjunkan pasukan komando dari helikopter.

"Saat itu kami hampir menyelesaikan sholat subuh berjamaah yang dilakukan di buritan (bagian belakang) kapal pesiar Mavi Marmara," ujar Wisnu yang dihubungi oleh Asyari Usman dari BBC melalui telefon, Rabu malam.

"Orang-orang yang belum selesai sholat pun berhamburan, dan saya sendiri tidak konsentrasi lagi."

Menurut Wisnu, para relawan spontan melemparkan apa saja yang mereka dapat ketika pasukan elit Israel mencoba menaiki kapal mereka. Begitu juga ketika mereka turun dengan tali dari helikopter, sebagian relawan merasa tentara Israel melakukan tindakan melawan hukum sehingga mereka melakukan perlawanan.

Walaupun terjadi perkelahian antara relawan dengan pasukan komando Israel, akhirnya kapal Mavi Marmara berhasil dikuasai setelah banyak korban berjatuhan, tewas atau luka-luka.
..penyerbuan pasukan elit Israel bersenjata lengkap pertama dilakukan lewat boat kecil namun gagal. Setelah itu mereka menerjunkan pasukan komando dari helikopter..
Wisnu mengatakan, tidak mungkin para relawan akan menimbulkan ancaman serius terhadap pasukan Israel karena perlawanan yang dilakukan hanya dengan senjata seadanya.

1,5 jam yang menegangkan

Wisnu menjelaskan, sejak pasukan Israel mendarat dari helikopter sampai mereka menguasai kapal Mavi Marmara hanya berlangsung sekitar 1,5 jam saja. "Satu setengah jam yang mengerikan, penuh dengan kebrutalan tentara Israel," kata Wisnu.

"Kami relawan yang tidak membawa apa-apa dihadapkan pada pembajak yang bersenjata lengkap.

"Masing-masing mereka membawa pistol, senjata dengan peluru tajam, senapan mesin, dan sebagainya," tambah Wisnu Pramudya.

Tindakan kekerasan yang dilakukan pasukan elit Israel itu, menurut Wisnu, menyebabkan banyak relawan yang luka-luka.

"Saya lihat sendiri orang yang luka-luka, ada yang di kepala, di tangan, ada yang tertembus peluru, dsb," kata Wisnu.

Ditambahkannya, semua relawan --termasuk anggota-anggota parlemen dari berbagai negara-- diborgol dan di suruh berjalan menuruni kapal sewaktu merapat di pelabuhan Ashdod.

Salah seorang relawan kemudian meminta tentara Israel agar berhenti menembak, dan mengatakan kepada seluruh penumpang kapal agar tidak melawan, kata mantan Pemred salah satu majalah terbitan Jakarta itu.

Isteri Wisnu, Santi Soekanto --putri penulis kawakan Soekanto-- mengatakan dia sempat ditodong dengan senapan mesin ketika tentara Israel itu memerintahkan para wanita untuk duduk di tempat tetapi masih melihat Santi melakukan gerakan.

Misi kemanusiaan

Ketua Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina (Kispa) Ferrry Noor yang juga berada di kapal saat penyerbuan terjadi menegaskan bahwa misi armada yang dipimpin Mavi Marmara murni untuk tujuan kemanusiaan.

Dia membantah tuduhan yang diungpakan berulangkali oleh Israel bahwa armada itu bermaksud untuk melakukan konfrontasi.

"Kita sudah berkomiten di Istanbul dan membuat pernyataan yang ditandatangai bahwa kita murni misi kemanusiaan dan kita tidak membawa senjata," kata Ferry.

Dianiaya tentara Israel

Sementara itu Muhammad Yasin, wartawan tvOne, dalam perbincangan di Apa Kabar Indonesia Pagi tvOne, Kamis 3 Juni 2010 mengatakan bahwa ia sempat menerima kekerasan dari tentara Israel saat penyerangan kapal Mavi Marmara berlangsung, Senin 31 Mei dini hari. Yasin dituding berbohong karena menyembunyikan kaset rekaman peristiwa penyerangan.

"Saya mencoba agar kaset rekaman ini bisa disaksikan seluruh warga Indonesia," kata M Yasin.
..Bila gambar-gambar itu bisa dilihat dunia, maka akan terbuka jelas apa yang sebenarnya terjadi," ungkap Yasin..
Saat kejadian, Yasin dan rekan jurnalis lainnya berada di ruang pers kapal itu. Tentara Israel sudah berkumpul di bagian luar.

Sebelum para wartawan menjalani pemeriksaan, Yasin memberikan kaset itu kepada Nur Fitri, koordinator Medical Emergency Rescue Committe (Mer-C) Indonesia. Berharap, kaset itu lolos dari pemeriksaan.

"Saat itu kamera saya dirampas dan diperiksa kasetnya. Saya bilang, kasetnya ada di dalam kamera," aku Yasin. Saat kaset itu diperiksa dan tidak ada gambar rekaman yang diharapkan, tentara Israel menjadi berang dan menganiaya Yasin.

"Itulah yang membuat saya diikat lebih kencang dan ditampar dengan tentara Israel. Saya mungkin dinilai paling nakal. Tangan saya diborgol selama dua jam dan saya dijemur di bawah terik matahari," kata dia.

Yasin mengatakan bahwa saat ini barang-barang yang berada di dalam kapal Mavi Marmara dan rencananya akan diamankan ke perwakilan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang ada di Turki. Tetapi belum ia belum bisa memastikan apakah kaset itu bisa lolos dari razia tentara Israel.

"Bila gambar-gambar itu bisa dilihat dunia, maka akan terbuka jelas apa yang sebenarnya terjadi," ungkap Yasin. (bbc,vivanews)

Senin, 31 Mei 2010

Lasiman: Misionaris Kondang Menjadi Dai

(addakwah.com). Islam, Lasiman, mantan misionaris yang juga tetangga dari Mbah Marijan, yang tinggal di dekat Gunung Merapi, Yogyakarta itu alkhirnya mengucapkan syahadat. Ia pun berusaha untuk mengembalikan mereka yang pernah dimurtadkannya.
Berikut kisahnya :
Aku dulu seorang penganut Katolik . Nama kecilku Lasiman. Aku lahir dari orang tua kejawen. Namun sejak kecil dididik secara formal di sekolah Katolik di samping Gereja di Sleman Yogyakarta. Aku pun mendapat pendidikan agama Katolik. Alhasil aku menjadi penganut Katolik. Aku diberi nama baptis Willibrordus. Kemudian diberi nama baptis kader penguatan Romanus. Selanjutnya aku belajar di sekolah guru milik yayasan Katolik yang didirikan tahun 1822.
Aku dididik menjadi guru misi, sehingga aktivitas yang ada selalu terkait dengan kegiatan misi Katolik seperti melatih teater untuk tampil di Natalan, Paskah, dan lainnya. Aku pun aktif di tim koor lagu-lagu Katolik, acara-acara Natal, Paskah, dalam rangka dakwah misi Katolik lainnya.
Guru-guru sekolah Katolik saat itu dapat pembinaan khusus sebagai guru misionaris. Kami dilatih dari Keuskupan Agung Semarang dan dari Gereja Pintaran di Yogya. Kami mendapat pelatihan terkait kurikulum pendidikan, dan bagaimana mengajar di sekolah-sekolah untuk mengaburkan keislaman para siswa melalui pendidikan sejarah. Kami diajarkan bahwa yang menyebarkan agama Islam di Indonesia itu bukan hanya 9 wali tapi 10 wali yang salah satunya itu Syekh Siti Jenar. Syeikh Siti Jenar itu mengenalkan istilah manunggaling kaulo gusti, menyatunya tuhan dan manusia. Diajarkan di dunia ini, bahwa yang menyatunya tuhan dan manusia yang paling hebat dan melebihi Syekh Siti Jenar adalah menyatunya Tuhan Allah dengan Yesus. Jadi diajarkan bahwaYesus itu wujudnya manusia tapi rohnya Allah.
Tugas seorang misionaris yang paling prinsip adalah mengubah orang Indonesia yang mayoritas Muslim ini menjadi orang-orang Nasrani. Salah satunya itu melalui lembaga pendidikan. Makanya wajar meski UU Sisdiknas ini sudah diundangkan tapi nyatanya belum dipraktekkan di Yayasan Katolik dan Kristen. Hal itu bisa dibaca di buku saya berjudul Kristenisasi Berkedok Islam.
Pada 1977 setelah dilatih di Keuskupan Semarang untuk menyebarkan Katolik di Jawa Barat, aku kemudian ditempatkan di Garut. Ketika di Garut lah aku bertemu dengan Profesor Dr Anwar Musyaddad, di Pondok Pesantren Musyaddadiyah. Beliau saat itu adalah Rektor IAIN Bandung. Kami berdialog tentang kebenaran yang ada. Kebetulan beliau juga paham tentang Kristologi dan perbandingan agama.
Kebiasaan dialog tentang kebenaran sebenarnya aku lakukan juga ketika aku sekolah di Kemaritiman dan Sospol UGM waktu itu. Dialog merupakan salah satu cara bagaimana untuk mengkristenkan mahasiswa.
Masuk Islam
Dialog juga aku lakukan dengan para pimpinan Katolik. Karena banyak hal yang ingin aku pertanyakan dan butuh jawaban yang memuaskan seperti perbedaan Katolik dan Protestan, dosa warisan dan lainnya. Ketika aku belajar Tafsir di Katolik kemudian belajar tafsir Al Kitab Kristen, banyak perbedaan di antara keduanya. Tafsir Al kitab di Katolik lebih rendah dibandingkan Protestan. Perbedaan antara Katolik dan Kristen itulah yang aku diskusikan dengan pimpinan-pimpinanku saat itu, namun itu tidak bisa terjawab.
Setelah berdialog lama dengan Profesor Anwar Musyaddah akhirnya aku pun masuk Islam. Aku secara resmi mengikrarkan syahadat di Kantor Depag Yogyakarta, 15 April 1980. Aku mememukan kebenaran di Islam. Dari hasil dialog dan penelitian itu aku memperoleh kesimpulan bahwa orang yang hidup itu pasti mati, mati itu harus membawa kebenaran, kebenaran itu ada di kitab suci dan kitab yang benar itu Alquran.
Setelah masuk Islam aku kemudian belajar di sebuah pesantren di Cirebon. Aku ingin mendalami Islam lebih dalam. Aku melihat begitu banyak orang yang mengaku Islam tapi mereka tidak mendalami Islam. Itu tantangan ketika aku hidup di lingkungan Islam. Aku ingin berislam secara ilmiah Karena memang aku sudah biasa dilatih seperti itu di sekolah misi Katolik. Aku pikir kalau berislam dengan tidak ilmiah itu omong kosong. Tapi setelah aku belajar di pesantren, aku rasa itu tidak cukup. Hingga akhirnya aku kuliah mengambil sarjana muda di IAIN Cirebon. Tapi di IAIN juga tidak cukup. Akhirnya aku pikir aku harus selalu mempelajari Islam.
Aku kemudian pulang ke Yogja dan melanjutkan kuliah di S1. Selanjutnya melanjutkan belajar di psikologi Islam di UMJ dengan tesis konversi agama yang diuji beberapa professor. Dalam tesis itu dibahas bagaimana orang Islam yang haji bisa masuk Kristen dan aktivis Kristen bisa tobat. Setelah aku paham Islam, dan tahu kewajiban dalam Islam itu berdakwah maka aku pun mendakwahkan kebenaran itu ke orang-orang.
Tantangan
Banyak tantangan kuhadapi setelah masuk Islam. Banyak teman-temanku yang tidak menyukai ketika tahu aku masuk Islam.. Ketidaksukaan mereka itu disampaikan baik secara lisan, fisik, sampaikan dengan hukuman. Termasuk itu datang dari keluarga.
Menurutku itu sudah biasa, sebab Rasulullah juga mengalaminya. Kalau Rasulullah dulu dikatakan orang kafir Quraisy sebagai majnun (gila), maka itu juga yang aku alami. Aku juga dikatakan majnun.
Aku pikir itu wajar. Itu sudah menjadi sunnatullah. Lihat saja dalam QS Al Baqarah ayat 155-156 dan 214. Jadi kalau berislam apalagi baru masuk Islam itu tidak ada tantangan, atau ketika menegakkan agama Rasulullah itu tidak ada tatangan itu justru tidak benar.
Aku tetap memegang teguh kebenaran Islam. Aku yakin akan firman Allah SWT: innamal yusri yusro. Untuk mencapai kesuksesan itu harus berani menerima tantangan dan penderitaan. Jika tak ada tantangan dan penderitaan itu maka tak akan ditemukan kebahagiaan.
Setelah masuk Islam, hatiku mantap dan merasakan ketenangan. Itu karena kebenaran yang kutemukan ini adalah kebenaran ilmiah yang bisa diterima dengan hati, akal dan pikiran. Tapi sayang, meski ajaran Islam ini benar tapi orang-orangnya banyak yang belum benar.
Ketika menjadi misionaris, banyak orang-orang Muslim yang berhasil kumurtadkan. Jumlahnya ribuan orang. Saat itu kami lakukan diantaranya dengan membagi-bagikan susu, pakaian dan lainnya. Semuanya itu dilakukan tidak sendirian, tapi secara terpadu.
Karena itu, setelah masuk Islam, aku ingin mengem-balikan yang murtad itu kepada Islam. Kami kemudian mendirikan lembagai Al Mantik 1991 di Jakarta bersama M Natsir. Kami pun mendekla-rasikan orang-orang masuk Islam se-ASEAN. (Olahan Wawancara, pendi/mediaumat)
 

Media Dakwah Copyright © 2010 LKart Theme is Designed by Lasantha