Tampilkan postingan dengan label medai dakwah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label medai dakwah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Juli 2011

Buat Al-Qur'an Braille Untuk Sesama, Kontribusi Seorang Tunanetra

Bayangkan, sekiranya setiap muslim dengan segala potensi yang dimiliki bahu membahu mengusung beban dakwah dan perjuangan Islam, niscaya perkembangan Islam akan semakin pesat dan mercusuarnya akan semakin tinggi. 
Untuk sampai pada idealisme ini, yang paling penting, setiap muslim hendaknya menyadari betapa dirinya begitu berharga di hadapan Allah SWT. Lihatlah, Rasulullah saw memasukan kategori iman diantaranya, menyingkirkan duri dari jalan. Setiap muslim bisa berkontribusi bukan?
Salah satu diantara makhluk Allah yang menyadari hal ini, adalah Anik Indrawati. Meski mengalami keterbatasan fisik, perempuan kelahiran Surabaya 1976 ini mampu berprestasi dengan keahliannya membuat al-Quran braille untuk sesama penyadang tuna netra. Anik, demikian sapaan akrabnya membuat al-Quran Braille di kediamannya di Simo Pomahan Baru, Gang 12 no 15, Surabaya. 
“Alhamdulillah, meski dengan kondisi seperti ini, tapi saya bisa bermanfaat bagi sesama penyandang cacat. Saya bisa membuat al Quran braille,” katanya kepada hidayatullah.com Rabu (20/07/2011). 
Saat ini, Anik sedang menggarap pesanan dari Kodam Surabaya dan rekanan suaminya, Soeharto dari Tuban. Cukup banyak jumlahnya. Dari Kodam saja ada 10 juz sedangkan dari Tuban Anik harus menggarap buku doa-doa, surat Yaasin dan tahlil. 
“Saya baru selesai buat 5 juz pesanan dari Kodam. Agak lama memang buatnya,” terangnya. Upah yang didapat Anik per lembar Rp 1000. Per hari, perempuan yang pandai mengaji dan hafal beberapa surat pendek di juz 30 ini sekitar sepuluh halaman. Setiap halaman berisi 27 kotak yang terdiri seperti titik-titik.
Dalam membuat al-Quran braille, Anik dibantu suaminya, Soeharto. Bila selesai dibuat, Soeharto akan mengoreksinya. Soeharto yang menikahinya 2004 lalu adalah sama-sama murid di Yayasan Pendidikan Tuna Netra Karunia (YAPTUNIK) Surabaya juga bisa membaca al Quran braille.
“Saya paham. Jadi kalau ada yang salah, saya betulkan,” ujar Soeharto yang sejak lahir telah menjadi tuna netra ini. 
Sepasang suami ini memang sengaja ingin mengabdikan dirinya lewat al-Quran braille.
Menurut Soeharto, di Surabaya, masih banyak penyandang tuna netra yang belum punya al-Quran braille, apalagi bisa membacanya. Karena itu, ia ingin mencetaknya sebanyak-banyaknya.
“Tapi belum banyak pihak yang tergerak hatinya untuk membantu penyadang tuna netra untuk bisa baca al Quran,” terangnya. 
Hal itu dilakukan Soeharto tidak lain agar penyandang tuna netra juga bisa baca al Quran dan spiritualnya terisi. Ia tidak mau, para tuna netra tidak kenal agama. “Jangan sampai matanya buta, tapi hatinya ikut buta,” harapnya. (hus/hdt)

Selasa, 06 Juli 2010

Gaza akan Wisuda 12 Ribu Penghafal Al-Qur’an

media dakwah
GAZA (addakwah.com) --Hampir 12 ribu penghafal alquran di Jalur Gaza, setelah mereka menyelesaikan tahap akhir pemantapan selama 60 hari berturut-turut. Mereka tersebar pada ratusan pusat penghafal tahfidz Al-Qur’an di Gaza. Termasuk kamp-kamp pengungsian yang dijadikan halaqah-halaqah hifdzil Qur’an.

Mereka menamakan halaqah-halaqah tersebut “Generasi Qur’ani Untuk Al-Aqsha” yang berada dibawah pembiayaan pemerintah Palestina pimpinan Ismael Haneya dan langsung dibawah pengawasan departemen waqaf dan urusan agama Palestina.

Halaqah-halaqah ini mendapat sambutan luar biasa dari warga. Mereka berlomba-lomba mendaftarkan anak-anaknya pada halaqah tersebut, hingga banyak diantara para perserta yang ditolak, karena tempatnya sudah tak menampung lagi.

Sukses Besar
Sementara itu, Dr. Thalib Abu Syaer, menteri waqaf dan urusan agama Palestina mengatakan, kami sedang berupaya mewisuda sejumlah penghafal Alqur’an, setelah sebelumnya sukses selama beberapa tahun terakhir dan tentu kami merasa bangga.

Dalam wawancaranya dengan pusat infopalestina, menteri waqaf mengatakan, jauh-jauh hari kami sudah merencanakan dan menyusun perangkat-perangkat yang diperlukan dalam program kamp qur’ani. Ia berharap programnya ini bisa sukses.

Ia menyebutkan, ada sekitar 870 penghafal Alqur’an yang tersebar di 272 pusat tahfidz Alqur’an di Jalur Gaza (Rafah, Khanyunis, Gaza Tengah, Gaza, Gaza Utara).

Ia mengisyaratkan, pihaknya sedang mempersiapkan perhelatan akbar dan spektakuler untuk memberkan penghargaan pada para penghafal Al-Qur’an. Ia mengungkapkan, bangga atas prestasi para penghafal tersebut. Ini adalah kebiasaan yang baik yang digalakan pemerintah Palestina melalui menteru waqaf dan urusan agama secara khusus.

Peningkatan kemampuan dalam membaca dan menghafal
Di sisi lain, Dr. Abdullah Abu Jarbu deputi departemen waqaf mengatakan, proyek hifdzil Alqur’an yang dilakukan departemen waqaf ini bertujuan secara langsung mencetak para penghafal Alqur’an, disamping meningkatkan bacaan dan mereka, melalui penghafalan Alqur’an.

Dr. Abu Jarbu’ menjelaskan, ada sejumlah mahasiswa yang mempunyai predikat al-hafidz. Pihaknya sangat memperhatikan masalah ini dengan memunculkan bakat dan kemampuan mereka dalam menghafal Alqur’an. Mereka dipersiapkan untuk mengikuti kamp musabaqah tilawatil alqur’an regional dan internasional yang dapat mengangkat derajat Palestina di dunia internasional.

Proyek Besar
Di pihak lain, Diyab Radhi, seorang warga Palestina di Gaza sangat menghargai langkah yang dilakukan departemen waqaf dan urusan agama. Ia mengucapkan terima kasih pada pemerintah dalam hal ini, yang telah mengadakan program kamp hifdzil Alqur’an.

Ia menambahkan, kami telah menunggu dengan shabar musim panas tiba untuk memulai proyek besar ini dan agar kita bisa membentuk anak-anak kita dan selanjutnya kita membantu mereka untuk menghafal alqur’an dalam waktu tertentu. (rpblk)
 

Media Dakwah Copyright © 2010 LKart Theme is Designed by Lasantha