Tampilkan postingan dengan label Liputan-wawancara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Liputan-wawancara. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Juli 2010

FITRA: Mental DPR Pembolos Warisan Orde Baru

media dakwah
Jakarta (addakwah.com) - Sudah bukan rahasia umum kalau anggota DPR kerap mangkir dari rapat. Ternyata sikap itu bukan hal aneh. Sejak masa Orde Baru, anggota DPR memang kerap bolos dan itu hal biasa.

"Itu memang warisan Orde Baru. Sudah keturunan sejak dahulu," kata  Koordinator Advokasi dan Investigasi FITRA (Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran) Uchok Sky Khadafi.

Berikut petikan lengkap wawancara dengan Uchok, saat dihubungi detikcom melalui sambungan telepon, Selasa (20/7/2010).

Bagaimana Anda melihat anggota DPR yang kerap bolos saat rapat?


Ini membuktikan kepada kita, kalau DPR itu lebih senang kalau perjalanan dinas ke luar negeri, itu mereka datang semua. Tapi kalau rapat ya itu tadi lebih memilih tidak hadir. Jadi artinya mereka lebih senang jalan-jalan. Dan itu memang warisan Orde Baru. Sudah keturunan sejak dahulu.

Apa pengaruhnya dengan ketidakhadiran mereka dalam rapat dengan kinerja sebagai anggota Dewan?

Begini, karena tidak pernah hadir rapat, dan memilih jalan-jalan ke luar negeri, dari 70 RUU yang harus diselesaikan dalam 2010 ini, baru 6 saja yang sudah selesai. Padahal ini sudah pertengahan tahun lewat.

Apa yang harus dilakukan agar mereka mau hadir di rapat?

Tindakan moral yang mesti dilakukan, salah satunya dengan mengumumkan ke publik. Ingat, mereka itu digaji rakyat. Jadi Sekjen DPR harus berani mengungkap nama-nama mereka yang sering absen, tentunya melalui pimpinan DPR.

Selain ke luar negeri, menurut pantauan FITRA, apalagi aktivitas Dewan?

Mereka juga banyak melakukn job di luar. Jadi kalau rapat di DPR mereka tidak hadir, justru lebih banyak hadir dalam rapat di luar. Karena di luar tidak ada pemantauan, nah kita duga rapat di luar itu, yang biasanya dengan rekan kerja, rentan terjadi transaksi.

Apakah bolosnya anggota DPR ini juga termasuk menyia-nyiakan anggaran?

Begini, mereka itu dapat asuransi Rp 5,5 juta perbulan, mereka dapat mobil yang seolah-olah kredit, padahal punya mereka. Belum lagi membangun gedung bernilai mahal, tapi tetap saja sering bolos. Karena itu kita berencana mengajukan judicial review APBN 2010 ke MK, menggugat anggaran yang disia-siakan.

Bagaimana pimpinan DPR seharusnya bersikap?

Perlu dicatat, tindakan DPR yang bolos itu menciderai hati rakyat. Mestinya dengan kekuatan legislatif, mereka bisa memperjuangkan harga sembako yang murah, subsidi listrik dan lainnya.

Karena itu pimpinan DPR harus bersikap tegas. Tapi melihat kondisi yang ada, Ketua DPR itu juga bagian dari fraksi, jadi ya tidak bisa apa-apa. Kita harapkan ada perubahan.

(ndr/nrl) (sumber: detiknews)

Senin, 12 Juli 2010

Empat Kelompok Berkonspirasi Membubarkan FPI


Wawancara dengan Ketua Umum DPP Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Syihab

Sebagai salah satu kekuatan massa umat Islam Indonesia, Front Pembela Islam (FPI) yang beranggotakan 7 juta orang dianggap paling berbahaya bagi musuh-musuh Islam. Pasalnya, FPI dinilai paling keras dalam memberantas kemaksiyatan sebagai wujud dari pelaksanan amar makruf nahi mungkar di Indonesia. Maka tidaklah mengherankan jika mereka bersatu dan melakukan konspirasi dengan menghalalkan segala cara untuk membubarkan FPI.

Sejak tahun 2006, FPI berusaha diadu domba dan difitnah, agar pemerintah memiliki dalih untuk membubarkan FPI. FPI berusaha dibenturkan dengan Banser dan terakhir dengan Satgas PDIP. Namun perilaku jahat kelompok Liberalis itu selalu mengalami kegagalan. Terakhir pada peristiwa Banyuwangi (24/6) lalu, dimana FPI difitnah akan membubarkan sosialisasi kesehatan yang dilakukan tiga anggota DPR RI, namun nyatanya konsolidasi para eks tapol PKI.

Berikut ini wawancara dengan Ketua Umum DPP FPI, Habib Rizieq Syihab, seputar konspirasi jahat untuk membubarkan FPI. Jika sampai berhasil, maka akan menjadi langkah awal untuk membubarkan ormas-ormas Islam di Indonesia yang dinilai keras menentang kedholiman dan ketidakadilan.  

Apakah ada konspirasi untuk membubarkan Front Pembela Islam (FPI)  pasca peristiwa Banyuwangi atau sebelumnya ?

Sebetulnya konspirasi sejumlah pihak untuk pembubaran FPI sudah berlangsung sejak lama. Kita juga sudah mengidentifikasi pihak-pihak yang melakukan konspirasi untuk membubarkan FPI. 

Pertama, kelompok mafia,  yang memang selama ini FPI dianggap sebagai momok yang sangat menakutkan sekaligus menganggu bisnis haram mereka. Adapun yang saya maksud mafia disini, apakah mereka yang terlibat dalam sindikat narkoba, film-film porno, perjudian, pelacuran dan sebagainya. Ini semua sudah menjadi sindikat dan bukan kejahatan biasa, sementara FPI sejak lahir sangat concern dalam persoalan tersebut.  FPI banyak mengungkap, menguak bahkan memejahijaukan mereka sehingga sudah jelas mana kelompok mafia ini menjadikan FPI sebagai musuh. Mereka mempunyai kepentingan untuk membubarkan FPI.

Kedua, yang masuk dalam konspirasi adalah kelompok liberal. Karena mereka melihat FPI secara fulgar melakukan konfrontasi terhadap gerakan-gerakan kaum liberal. Artinya FPI tidak lagi sembunyi-sembunyi bahkan perang pemikiran maupun  perang di lapangan sekalipun. Karena kalau kita lihat peristiwa perjuangan RUU Pornografi dan Pornoaksi, bagaimana kelompok liberal memanfaatkan preman-preman untuk menyerang posko FPI di berbagai daerah. Jadi artinya mulai perang pemikiran sampai perang otot. Belakangan kita lihat banyak usaha kaum liberal yang kandas, apakah itu judicial review UU Pornografi, UU Penistaan Agama. Termasuk juga upaya mereka memanfaatkan Gus Dur untuk membatalkan TAP MPRS No XXV/MPRS/ 1966 soal PKI, tetapi kan usaha mereka kandas. Sebetulnya kandasnya mereka bukan hanya karena perjuangan FPI, tetapi semua ormas Islam. Cuma karena FPI dianggap terlalu fulgar, mungkin lebih meninjau atau mungkin konfrontasinya lebih terbuka, sehingga mereka melihat FPI sebagai musuh utama. Jadi kelompok liberal ini masuk dalam konspirasi tersebut.

Ketiga, kelompok Kristen radikal. Radikalisme ada di semua kelompok. Kelompok Kristen radikal mempunyai catatan tersendiri terhadap laskar-laskar Islam, mulai dari peristiwa Ambon hingga Poso. Dimana salah satu diantaranya adalah FPI. Ditambah lagi gerakan Kristen radikal ini yang mencoba mendirikan gereja-gereja liar di berbagai tempat. Jadi bukan geraja resmi yang mempunyai ijin resmi dan sesuai dengan peruntukannya, no problem. Markas FPI di Petamburan Jakarta Pusat ini sekitarnya ada 5 gereja, hubungannya dengan FPI saat ini baik-baik saja. Bahkan para pendetanya suka sowan kemari dan kita diskusi, no problem. Kenapa, karena gereja-gereja ini resmi punya ijin dan sesuai dengan peruntukannya. Sementara kalau ruko jadi gereja, kan lain cerita. Berarti peruntukannya untuk rumah tinggal dan toko, kok tiba-tiba berubah jadi gereja.

Sebetulnya penutupan gereja-gereja liar ini merupakan gerakan masyarakat, tetapi lagi-lagi FPI yang dituduh. Mungkin dalam gerakan tersebut ada warga FPI yang ikut bersama masyarakat. FPI kan sekarang dimana-mana ada, warganya juga dimana-mana ada. Tidak selalu perbuatan mereka mengatasnamakan organisasi FPI. Ada kalanya mereka bergerak atas nama organisasi tetapi ada kalanya atas nama masyarakat, jadi mereka tidak sendiri. Kalau mereka bersama masyarakat setempat, jangan salahkan FPI. Tetapi walau bagaimanapun juga, keterlibatan warga yang berafiliasi kepada FPI ini akhirnya membuat FPI terseret juga, Sehingga bagi kelompok Kristen radikal, FPI menjadi musuh utamanya. Jadi ada kelompok mafia yang merasa bisnis haramnya terganggu, ada kelompok liberal yang aqidah sesatnya juga terganggu dan ada kelompok Kristen radikal yang gerakan Kristenisasinya juga terganggu.

Keempat, adanya konspirasi politik. Kelompok-kelompok politik melihat banyak kepentingan politik mereka yang terganggu dengan gerakan-gerakan ormas Islam. Sekarang ada konspirasi, dimana kelompok politik ingin mengoalkan suatu UU, tiba-tiba UU ini berbenturan dengan Syariat Islam.  Secara otomatis akan berhadapan dengan gerakan Islam dan salah satunya adalah FPI. Mungkin dimata mereka FPI dilihat terlalu fulgar melakukan konfrontasi, sehingga dianggap menganggu agenda politik mereka. Jadi konspirasi antara kelompok mafia, liberal, Kristen radikal dan politik. Mereka bersatu untuk menjadikan FPI sebagai musuh bersama. 

Berarti mereka mencari momentum yang tepat untuk membubarkan FPI?

Akhirnya mereka mencoba mencari momentum untuk pembubaran FPI. Momentum apa saja yang mereka dapat, apakah momentum peristiwa Depok, dimana ada kontes waria yang dibubarkan warga yang didalamnya juga ada FPI. Bagaimana dengan peristiwa Bekasi, dimana ada patung yang dirubuhkan, walaupun sebetulnya yang merubuhkan patung adalah Walikota Bekasi, bukan FPI atas desakan masyarakat. Tetapi di media massa yang dituduh kan FPI.

Kenapa peristiwa Banyuwangi dianggap momentum, karena memang lebih dahsyat daripada Bekasi, Singkawang dan Depok. Persoalannya ada tiga anggota DPR RI yang katanya sedang melakuan kunjungan kerja.  Artinya, kalau melibatkan anggota DPR RI berarti bersingungan dengan lembaga tinggi negara. Ini berarti bisa dikatakan subversib kalau membubarkan acara negara. Meraka lihat ini momentum penting untuk dibenturkan dengan berita FPI telah membubarkan kunjungan kerja anggota DPR RI dan FPI mengusir anggota DPR RI.

Peristiwa Banyuwangi mereka jadikan momentum untuk membubarkan FPI. Cuma mereka kecelek, mereka salah fakta, karena ternyata di Banyuwangi, subhanallah nasrullah. Tepatnya pada 25 April 2010 lalu, DPW FPI Banyuwangi dibekukan karena ada konflik internal diantara mereka yang terkait Pilkada. Kemudian sikap politik dari para pengurus FPI berbeda, yang membuat mereka ada sedikit konflik. Kemudian kita tugaskan Sekjen FPI untuk menyelesaikannya dan  akhirnya disepakati supaya tidak ada fihak yang dimenangkan dan dikalahkan, maka dibekukan dulu. Berarti, kalau sudah dibekukan tidak boleh ada pergerakan apapun atas nama FPI. Tahu-tahu mereka mengkaitkannya dengan FPI, kan salah fakta dan mereka kecelek. Pada peristiwa ini kan tidak ada yang memakai seragam FPI. Jadi kesimpulannya, mereka salah fakta. Mereka sudah ramai-ramai ingin membubarkan FPI, ternyata salah fakta.

Begitu Munarman, Ustad Awit dan Ustad Khathath tampil di televisi, dengan debat terbuka dan kita ungkapkan fakta-faktanya, akhirnya mereka malu sendiri. Karena mereka malu, maka mereka lari ke berbagai peristiwa sebelumnya seperti insiden Monas. Sekarang semua film yang ditayangkan Metro TV, RCTI atau televisi swasta lainnya, itu peristiwa yang sudah diadili, sudah divonis dan pelakunya sudah dipenjara, artinya sudah inkracht dan  sudah selesai. Tidak ada satu persoalan hukum yang diadili sampai dua kali. Kalau persoalan hukumnya telah selesai, kok televisi mengadili lagi. Pengadilan saja tidak berhak untuk mengadili lagi, apalagi televise. Jadi kesimpulannya, mereka kecelek.

Mengapa selama ini media massa terutama televisi dan koran selalu memojokkan FPI, bagaimana tanggapan Habib ?

Kalau media massa memojokkan FPI, memang ada beberapa asumsi. Pertama, kelompok-kelompok yang memusuhi FPI adalah kelompok beruang seperti kelompok mafia, liberal, Kristen radikal dan kelompok politik. Meraka bisa dengan mudah untuk memberi siaran televisi. Jadi ini hanya persoalan duit, siapa yang bisa bayar itu yang mereka beritakan dengan senang hati.

Saya kasih contoh, pada saat Ustad Awit tampil di salah satu televisi dengan menyerahkan salah satu film ceramah  Ribka Tjiptaning di Banyuwangi, mereka kita tantang untuk berani setel ini karena isinya soal PKI, ternyata mereka tidak berani. Adapun yang disetel lagi ribut-ributnya.  Tetapi ceramah Ribka soal PKI di Banyuwangi selama 20 menit, kok tidak berani mereka setel. Apa karena FPI tidak bayar, kalau disuruh bayar nanti dulu. Tadi itu asumsi pertama, tetapi indikasinya kan kuat siapa punya duit bisa menguasai media massa.

Kedua, jangan lupa, hampir semua stasiun televisi tidak ada yang luput dari protes FPI. Hampir semua televisi pernah didemo oleh FPI. Biasalah, mungkin mereka tersinggung karena pernah didemo FPI. Jadi mereka enggan untuk menyiarkan berita-berita yang menurut mereka dapat mengangkat citra FPI. Jadi sepertinya ada sakit hati dan dendam kepada FPI yang pernah mendemo mereka. FPI tidak peduli kalau mereka salah kita demo. Metro TV, SCTV, RCTI dan Indosiar pernah kita demo, bahkan TVRI pernah kita demo.  Televisi mana yang tidak pernah kita demo. FPI tidak peduli  memdemo televisi, yang penting kalau salah ya kita protes. FPI tidak peduli apakah beritanya akan dimuat  atau tidak dimuat di televisi. Itu asumsi kedua, artinya indikasinya kan ada.

Ketiga, ini yang paling kuat. Sesuai dengan dokumen Rand Corporation, disitu ditulis donasi-donasi AS dan sekutunya memang berupaya dengan segala kekuatan finansialnya untuk membeli media massa. Paling tidak, kalau tidak beli ya mereka kuasai. Itu memang ada dalam Rand Corporation, itu artinya terperinci betul. Adapun yang menarik disitu juga disebutkan, kalau ada perbuatan-perbuatan yang menaikkan citra yang dilakukan kelompok Islam manapun tidak boleh dimuat. Bukan hanya FPI, tetapi kelompok Islam manapun. Sebaliknya, kalau ada perbuatan-perbuatan yang sekiranya dapat menurunkan citra kelompok Islam, maka harus dimuat dan harus diulang-ulang.

Makanya jangan kaget, kita bisa lihat acara di Metro TV dan SCTV, peristiwa penyerangan tempat biliar yang dijadikan ajang judi oleh laskar FPI tahun 2002 atau sudah 8 tahun lalu. Tetapi film itu selalu diulang, kadang-kadang kalau diulang seperti peristiwa Banyuwangi filmnya selalu diulang. Berarti apa yang dilakukan SCTV dan Metro TV serta beberapa televisi lain sesuai dengan dokumen Rand Corporation. Bukan saya mencoba mengkait-kaitkan, tetapi faktanya memang begitu.

Apa isi dokumen Rand Corporation ?

Dalam dokumen itu juga disebutkan, kalau kelompok-kelompok Islam yang mereka anggap sebagai musuh, kalau menyebutkan identitas cukup nama saja, tidak perlu disebut titelnya seperti Prof Dr dan sebagainya.  Kalau Kyai Haji  dan Habib jangan disebut KH dan Habibnya. Kalau Ustad jangan disebut ustadnya, pokoknya disebut namanya saja. Tetapi sebaliknya, kalau kelompok yang mendukung mereka harus disebut dengan lengkap titelnya, seperti Prof, Dr, PhD, MA, MSc dan sebagainya, itu tertulis dalam dokumen Rand Corporation. Jadi dengan demikian, ini memang grand design mereka. Jadi tidak perlu kaget dan ini tidak akan menjadi yang terakhir. Besok pasti mereka akan mencari lagi momentum untuk membubarkan FPI, dan  itu akan terus berlangsung sampai mereka berhasil membubarkan FPI. Kita harapkan sekarang gerakan Islam semakin merapatkan barisan dan memperkokoh ukhuwan Islamiyah, karena sebetulnya yang ditarget itu bukan hanya FPI saja tetapi semua gerakan Islam. Mungkin FPI dianggap sebagai pintu gerbangnya untuk dibobol terlebih dahulu.

Apa kerugian yang akan dialami bangsa Indonesia seandainya FPI sampai dibubarkan ?

Secara pribadi kalau FPI dibubarkan tidak ada masalah.  Kalau hari ini Front Pembela Islam dibubarkan, maka besok akan saya bikin Front Pecinta Islam. Dengan singkatan yang sama, pengurus yang sama, gerakan yang sama dan wajah yang sama pula, kan UU tidak melarang. Jadi saya tidak pernah pusing dengan pembubaran. Nanti kalau Front Pecinta Islam juga dibubarkan, maka akan saya bentuk Front Penyelamat Islam. Jadi mengapa pusing-pusing, saya tidak pernah pusing mengenai pembubaran ini, tidur saya tetap nyenyak.

Jadi saya bicara pribadi, artinya yang ingin saya tekankan, ada FPI atau tidak ada FPI amar makruf nahi mungkar tetap wajib dijalankan. Ada FPI atau tidak ada FPI, perjuangan para kader FPI yang ada dimana saja tetap berjalan. Artinya, saya dan kawan-kawan yang ada di FPI tidak pernah menjadikan FPI sebagai tujuan perjuangan. Kita selalu mengingatkan, FPI cuma kendaraan. Jadi kalau kendaraan ini rusak ditengah jalau atau dibakar orang atau dicuri orang atau kendaraan terbalik dan tidak bisa dipakai lagi, kita ganti kendaraan yang lain. Kenapa susah-susah amat karena FPI bukan  tujuan. Tujuan kita hanya mencari ridha Allah, tujuan kita liilai kalimatillah subhanahu wa taala. Jadi bukan tujuan kita mencitrakan FPI, membaguskan FPI, membesarkan FPI. Itu hanya proses perjuangan, tujuannya liilai kalimatillah subhanahu wa taala.

Itu yang secara pribadi saya melihat wacana pembubaran FPI, bahkan saya katakan bukan wacana lagi. Sebab ini sudah merupakan gerakan  sistimatis  yang dilakukan musuh-musuh Islam untuk membubarkan FPI. Tetapi memang kalau kita bicara secara umum buat masyarakat kasihan.  Kalau  ormas Islam bukan hanya FPI  yang concern terhadap amar makruf nahi mungkar terhadap penegakan keadilan melawan kedholiman. Kalau yang seperti ini sampai dibubarkan, kasihan umat Islam itu sendiri.  Artinya kekuatan mereka semakin lemah, kekuatan pembelaan mereka semakin surut. Bahkan kita khawatirkan  begitu ada ormas Islam semacam FPI yang dibubarkan, jangan-jangan nanti ada masyarakat yang takut untuk berjuang. Itu yang kita khawatirkan. Artinya mereka nanti akan menjadikan proyek percontohan. Jangan keras-keras, nanti nasibnya akan seperti FPI. Nanti kita jadi takut melawan kedholiman, kemungkaran, mafia, bajingan dan takut melawan okum pejabat yang bejat akhlaknya, ini berbahaya. Jadi kalau ada pembubaran suatu ormas Islam, ini kan melemahkan semangat juang umat Islam Indonesia. Walaupun secara pribadi kita tidak akan kendor, walaupun dibubarkan sepuluh kalipun kita tetap akan berjuang. Tetapi umat yang awam kan tidak begitu fikirannya.

Jadi kalau FPI dibubarkan, berarti akan mengulang sejarah ketika Soekarno meminta Masyumi membubarkan diri atau dibubarkan tahun 1960 lalu ?

Kalau kita kembali kepada sejarah Sukarno, ini kan sejarah yang sangat oronis. Tatkala Masyumi dituduh terlibat dalam PRRI,  ini kan tuduhan dan firtnah, Masyumi kemudian dibubarkan. Tetapi begitu PKI yang nyata-nyata berkhianat, Sukarno tidak membubarkannya. Ini fakta sejarah, ada apa ? Seharusnya Sukarno bersikap adil. Kalau Masyumi dibubarkan, PKI yang terlibat pemberontakan G30S seharusnya dibubarkan. Ini lebih berbahaya,  tetapi  nyatanya tidak dibubarkan Sukarno.

Sejak zaman kemerdekaan, terjadi pergulatan apakah itu ideologi, pertempuran fisik antara kelompok Islam dengan sekuler. Jadi kelompok sekuler ini memang selalu ingin menang sendiri. Jadi segala yang jelek dari sekuler mereka maklumi, tetapi apapun yang kelihatannya jelek dari kelompok Islam, kalaupun  tidak jelek mereka jelek-jelekkan. Itu akan dijadikan mereka alasan untuk penghancuran.

Sekarang kalau kita bicara soal pembubaran, kita lihat alasannya. Apa alasan  mereka ingin membubarkan FPI, karena FPI melakukan sejumlah kekerasan. Saya tidak ingin membela diri. Katakanlah benar FPI melakuan kekerasan, itupun kekerasan harus kita diskusikan dulu. Apa betul itu kekerasan, apa betul itu kekerasan struktural yang dilakukan secara organisatoris atau bagaimana. Itu masih perlu diskusi dan pembuktian dulu, andaikata FPI dituduh keras dan musti dibubarkan. Pertanyaan kita, bagaimana dengan berbagai kekerasan yang dilakukan partai politik. Berbagai pilkada di daerah sejak reformasi hingga sekarang ini selalu diwarnai kekerasan. Ada pembunuhan, pembakaran gedung pemerintana, pembakaran mobil, pembakaran pom bensin, luar biasa. Itu yang tidak pernah dilakukan FPI. FPI tidak pernah bakar gedung pemerintah, FPI tidak pernah membunuh Ketua DPRD, ini kan massa partai.

Kalau FPI dibubarkan, Parpol harus juga dibubarkan ?

Jadi kalau massa FPI melakukan kekerasan FPI nya harus dibubarkan, maka logikanya kalau massa partai melakuan kekerasan, maka partainya harus juga dibubarkan. Sekarang massa PDIP, PKB dan Demokrat melakukan kekerasan. Kalau begitu PDIP, PKB dan Demokrat harus dibubarkan. Ini kalau kita memakai logika pembubaran. Jadi tidaklah adil jika ada massa FPI melakukan kekerasan maka FPI dibubarkan. Tetapi kalau massa partai yang melakukan kekerasan, partainya tidak dibubarkan, enak betul ! Memang yang punya negara ini partai ! Kekerasan yang dilakukan massa partai lebih dahsyat, lebih keras bahkan biadab. Masak Ketua DPRD Sumatera Utara sampai dibunuh di dalam Gedung DPRD. Pembakaran gedung kabupaten seperti di Tuban dan pembakaran mobil di Mojokerto. Apa ada aksi FPI semacam itu. Apa ada massa FPI seperti itu. FPI paling-paling memakai pentungan. Adapun yang dirusak cuma kaca biliar dan tidak lebih dari itu. Ini kalau kita bicara fakta. Kalau pemerintah ingin membubarkan FPI, maka PDIP, PKB, Demokrat dan Golkar juga dibubarkan, jadi sama-sama bubar, termasuk negara ini juga bubar.

Selama ini kelompok liberal ingin membenturkan FPI dengan massa Gus Dur dan sekarang PDIP, tetapi usaha mereka selalu gagal ?


Kelompok liberal ini tidak mempunyai massa, tidak mempunyai grass-roots. Mereka antek Barat dan hanya mampu membuat LSM-LSM komprador. Mereka dibantu dengan bantuan asing, ini mereka sendiri yang mengakuinya.   Kalau kita ingin bicara jujur, FPI ingin dibubarkan karena  melangar UU No. 8 Tahun 1985 tentang Keormasan. Sekarang salah satu larangan dalam UU Keormasan adalah menerima bantua luar negeri atau asing. LSM yang dibuat kelompok liberal, semuanya menerima bantuan asing.  Bubarkan meraka dulu, FPI sudah siap untuk dibubarkan. Jadi kita bubar-bubaran, mereka ini tidak bercermin. Jadi kalau ada pepatah  mengatakan kuman disebarang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak.  Kesalahan FPI yang kecil jauh mereka lihat, tetapi kesalahan mereka yang besar dalam diri  mereka sendiri, tidak mereka lihat.

Kelompok liberal memang tidak punya massa. Masyarakat mana yang mau jadi antek asing. Serendah-rendahnya pendidikan, pemikiran, status sosial dan ekonomi  masyarakat Indonesia, secara umum mereka masih mempunyai ras cinta tanah air, cinta bangsa dan negara. Mereka tidak mau menjual negaranya untuk orang asing. Sehingga kelompok liberal tidak mendapatkan tempat di tengah masyarakat dan mereka tidak mempunyai kekuatan grass-roots. Adapun yang mempunyai kekuatan grass-roots di Indopnesia seperti NU dan Muhammadiyah. Kalau partai politik seperti PDIP yang mengakar ke bawah.

Kelompok liberal  melihat FPI sebagai ancaman dan FPI mempunyai kekuatan grass-roots kebawah. Bagaimana cara untuk menghadapi FPI, mereka berusaha untuk menunganggi NU tetapi tidka berhasil. Karena waktu itu Ketua PBNU KH Hasyim Muzadi, beliau dikenal orang baik, cerdas dan tidak bisa ditunggangi oleh Ulil dan kawan-kawan. Karena itu ketika tersiar kabar di beberapa daerah terjadi konflik antara massa FPI dengan NU, KH Hasyim Muzadi langsung klarifikasi.  Itu ternyata bukan NU, tetapi massa preman yang dibayar suatu kelompok dan dipakaikan baju NU. Akhirnya kebongkar semua dan mereka cuma ingin mengadu domba.

Dikabarkan ada  seorang tokoh yang kirim Banser palsu ke Pengadilan, tetapi ternyata itu preman yang diberi baju Banser. Padahala Banser sendiri tidak tahu menahu. Berbagai cara kotor seperti ini dilakukan kelompok liberal. Karena Gus Dur sudah meninggal dunia dan mereka menunganggi NU sudah tidak ada pintunya, maka sekarang mereka mencoba menunganggi PDIP. Kebetulan ada kasus Banyuwangi PDIP sedang marah, maka masuk Ulil ngipasin PDIP. Kebetulan Ulil pengurus Partai Demokrat. Maka kita sampaikan informasi itu ke PDIP, apa anda mau ditunganggi sama Partai Demokrat dan diadu dengan FPI, sehingga PDIP jadi mawas diri. (Abdul Halim)

Kamis, 08 Juli 2010

Kompolnas: Polisi yang Punya Rekening Besar Harus Jelaskan Sumber Dana

Jakarta (addakwah.com) ----Isu rekening jenderal Polri mencuat. Sejumlah nama jenderal ditengarai memiliki rekening fantastis. Polri diminta tidak apriori namun harus segera bersikap. Jenderal yang disebut harus buka mulut dan menjelaskan soal sumber dana tersebut.

"Memang yang penting penjelasan yang bersangkutan atas sumber dana itu," kata anggota Kompolnas Novel Ali saat dihubungi detikcom, Rabu (30/6/2010).

Berikut petikan lengkap wawancara detikcom dengan Novel Ali, yang juga ahli komunikasi dari Universitas Diponegoro, Semarang.

Bagaimana Kompolnas melihat kasus rekening jenderal polisi?

Kompolnas tidak memiliki kewenangan melakukan penyelidikan dan penyidikan, tidak ada norma hukum kami melakukan penyelidikan terhadap rekening jenderal polisi. Tapi karena sudah menjadi informasi publik, ini bisa mengganggu kinerja dan akuntabilitas Polri.

Bagaimana seharusnya Polri atau jenderal-jenderal yang namanya disebut bersikap?

Memang yang penting penjelasan yang bersangkutan atas sumber dana itu. Polisi kaya itu boleh, yang tidak boleh kaya dengan cara haram. Jadi perlu ada klarifikasi dari mana sumber dana.

Langkah klarifikasinya seperti apa?

Jadi diajukan oleh yang bersangkutan ke pimpinan, sehingga kemudian membantu pimpinan untuk menjelaskan ke masyarakat. Klarifikasi ini harus as soon as possible, sehingga tidak merusak pencitraan Polri.

Jadi Polri juga harus menjelaskan ke publik?


Klarifikasi ini bagian dari keterbukaan informasi publik. Ini menyangkut informasi publik yang menimbulkan ketidaknyamanan sosial. Harus ada penjelasan, karena bisa berulang. Kalau tidak benar informasinya jadi bisa diralat, kalau benar harus diselesaikan melalui jalur hukum.

Apa ada perwira Polri yang sempat menyampaikan soal kasus rekening itu ke Kompolnas?

Saya sampaikan kalau memang tidak benar pemberitaannya silakan gunakan hak jawab, yang penting melakukan klarifikasi

Bagaimana seharusnya Polri menyikapi isu rekening tersebut?

Ada stigma pejabat Polri takut intervensi opini publik. Kenapa harus takut? pertanggungjawabkan saja, sehingga publik tidak mudah menuduh. Anggota polri tidak perlu ketakutan, kalau tidak benar tegur saja jangan menyembunyikan diri. Polri juga terbuka, kemudian memberi akses kalau ada proses hukum, kalau tidak benar memberikan perlindungan hukum.

Apakah Anda menilai kasus rekening jenderal ini terkait pemilihan Kapolri?

Tidak, ini saya sudah dengar beberapa bulan lalu. Tidak ada kaitan, lagipula tidak semua nama masuk dalam nama calon.

Menurut Kompolnas bagaimana hubungan jenderal polisi dan pengusaha?

Boleh, yang tidak boleh menyalahgunakan kekuasaan, misalnya ikut bisnis, itu tidak ada aturannya.

Bagaimana tanggapan Kompolnas soal reserse yang dituding rentan penyimpangan?

94,5 persen keluhan yang masuk ke Kompolnas terkait reserse. Nah, saat ini Polri sedang mengumpulkan 7.800 reserse secara periodik di Sukabumi, mereka dilatih untuk reformasi Polri. Kita harus hargai upaya ini.
(ndr/fay) (sumber:detik.com)

Senin, 05 Juli 2010

Ketua NU: Pembubaran FPI Harus Sesuai Undang-undang

Jakarta (addakwah.com) --Sejumlah tokoh masyarakat lintas agama yang tergabung dalam Kaukus Pancasila mengusulkan kepada PBNU untuk menginisiasi pembubaran Front Pembela Islam (FPI) lewat class action. Wakil Ketua Umum PBNU As'ad Ali Said menilai pembubaran FPI harus sesuai undang-undang yang ada.

"Itu harus sesuai UU dan harus atas dasar penelitian hukum, apa benar itu oknum FPI atau bukan," katanya kepada wartawan, Jumat (2/7/2010).

Berikut wawancara wartawan dengan mantan Wakil Kepala BIN ini usai menghadiri pembukaan Kongres Fatayat NU di Asrama Haji Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat:

Apakah NU akan menegur FPI karena kasus kekerasan yang dilakukan organisasi itu?

NU anti kekerasan, kita tidak boleh menegur, tapi mengimbau bolehlah.  Tapi persoalan ini kan masalah hukum. Jadi harus dilihat, saya kira banyak juga orang FPI yang cinta damai.

Apa sikap pemerintah menghadapi FPI?
Dulu kan sudah pernah Habib Rizieq ditahan, itu kan usaha juga artinya sudah ada tindakan dari pemerintah.

Kalau usulan pembubaran FPI bagaimana?
Itu harus sesuai undang-undang dan harus atas dasar penelitian hukum apa benar itu oknum FPI atau tidak.

Apakah FPI kurang pembinanan atau dimanfaatan?
Kalau menurut saya ini transisi demokrasi, kita akan menuju yang lebih baik. Ini dijadikan pengalamanlah.

Bagaimaan agar FPI bisa bertindak sebagai ormas?
Harus diteliti kembali undang-undang mengenai ormas

Langkah NU bagaimana ?
Kita akan imbau, mendorong agar kekerasan tidak terjadi dan sebab-sebabnya diteliti juga kenapa terjadi seperti itu.

Mengenai UU ormas seperti apa?
Misalnya ormas kan tidak diverifikasi, untuk menjadi ormas begitu maju langsung disetujui saja akhirnya ya seperti itu. Jadi harus ada verifikasi organisasi seperti apa, parpol seperti apa, ormas seperti apa. Jangan ormas berubah seperti partai dan partai berubah seperti ormas.

(nal/nrl) (sumber: detik.com)

Industri Pornografi Efektif Hancurkan Indonesia

addakwah.com ---Maraknya pornografi, menandakan suburnya industri sex di negeri ini.  Pasalnya, payung besar sekaligus pintu masuk dari pornografi adalah industri sex. Logikanya, ketika konsumen pornografi memerlukan pelampiasan, mereka mencari prostitusi. Di sini, industri pornografi menyuburkan tumbuhnya prostitusi yang memerlukan banyak perempuan untuk menjadi pelayannya.
Ketika kebutuhan akan perempuan terus meningkat, muncullah human traficking. Jadi, industri sex, industri pornografi, prostitusi, dan human traficking, adalah satu lingkaran ‘bisnis setan’ yang memiliki perputaran uang sangat cepat. Karenanya, industri syahwat ini telah cukup lama berkembang di negeri ini.
Untuk mengetahui bisnis pornografi di negeri ini dan pengaruhnya bagi kehidupan bangsa, Wartawan Sabili Dwi Hardianto dan Daniel Handoko serta fotografer Arief Kamaluddin mewawancarai pegiat anti pornografi, Azimah Soebagijo S Sos. Wawancara yang dilakukan di rumahnya kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan ini, dilengkapi dengan diskusi cara mengatasi pengaruh pornografi pada keluarga, khususnya anak-anak dan remaja. Berikut petikannya:
Kenapa video porno artis begitu marak?
Meledaknya video porno artis karena mereka public figure, menjadi idola remaja, dan sedang berada di puncak ketenaran. Apalagi kasus ini diduga lebih dari dua video tapi 32 video dan foto, bahkan dengan wanita yang sudah menikah. Kasus serupa sebenarnya sudah terjadi sebelumnya, misalnya anggota DPR atau pejabat dengan artis, bupati atau PNS dengan pasangan selingkuhnya, tapi itu hanya satu video.
Ini merupakan implikasi dari sikap dan perilaku kita yang membiarkan masalah pornografi berlarut-larut tanpa penyelesaian. Contoh, untuk mendorong lahirnya UU Pornografi saja bertahun-tahun, sejak 1999 sampai disahkan pada 2008. Jadi, untuk memperjuangkan UU Pornografi publik harus berjuang selama 9 tahun. Karena kita tidak mengantisipasi sejak dini, akibatnya industri pornografi berkembang sangat pesat sampai ke pelosok negeri. Norma-norma masyarakat yang tadinya kuat, lama-lama terkikis oleh ideologi pornografi.
Jadi industri pornografi sudah lama berkembang di negeri ini?
Betul. Awalnya dari Barat dan AS. Kemudian berkembang ke kawasan Asia, termasuk Indonesia. Dari pantauan MTP, industri pornografi di Indonesia pertama berkembang sekitar tahun 1999. Pada tahun 2000 mulai muncul VCD/DVD porno lokal sebanyak tiga film/video. Pada 2001 berkembang menjadi 6 film/video. Tahun 2003 bertambah lagi menjadi 10 film/video. Tapi pada 2007 berkembang pesat menjadi 500 film/video yang semua dilakukan orang lokal. Dari pengamatan kami, film/video porno itu kebanyakan direkam secara iseng dengan HP atau kamera handycam, kemudian mereka saling menukar film/video itu di internet yang berbasis jejaring sosial, akhirnya tersebar secara luas di masyarakat. Tapi ada juga yang dibuat secara profesional sebagai hasil produksi sebuah industri pornografi.
Dari data Google Tren, selama enam tahun berturut-turut dari 2002–2007, Indonesia berada pada peringkat ketiga pengakses kata ‘sex’ dan ‘phone’. Sejak  2008 sampai saat ini, peringkatnya menurun menjadi keempat, tapi untuk kata ‘sex idol’ Indonesia menempati urutan pertama. Jadi, orang Indonesia yang mengakses materi pornografi, termasuk situs porno, di internet cukup tinggi. Yang memprihatinkan, ketika diteliti lebih dalam, ternyata pengakses materi pornografi terbesar berada di kota pelajar, seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Yogyakarta, Semarang, Solo, Malang, Medan, dan Makasar. Bahkan, peringkat kesembilan diduduki Kota Depok. Data lain yang menunjukkan pengakses terbanyak adalah pekerja kantoran dan eksektif. Pasalnya, dilihat dari traffic-nya akses pornografi di Indonesia terjadi jam 09.00–17.00. Mungkin, sambil bekerja di kantor, mereka juga mengakses materi pornografi.
Berarti, Indonesia tidak hanya menjadi pasar tapi juga produsen film/video porno? Ada data penelitian tentang ini?
Iya. Kami belum pernah melakukan penelitian tentang industri pornografi di Indonesia. Jika ada lembaga atau orang yang melakukannya, saya yakin tantangannya akan sangat berat, bahkan bisa mengancam jiwanya. Pasalnya, pelaku industri pornografi di Indonesia beroperasi secara ilegal, karena negara kita tidak mentolerir industri ini. Karenanya, NGO yang konsen pada masalah pornografi akhirnya mengalami kesulitan menggalih data dan melakukan tekanan. Yang nampak di tengah-tengah publik adalah munculnya media dewasa, yang keberadaannya juga diatur UU Pornografi. Jadi, karena pelaku industri pornografi di Indonesia bermain dalam pasar gelap, akhirnya sulit diberantas karena kita tidak mengetahui siapa sebenarnya mereka. Ini menjadi tanggungjawab kepolisian untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan.
Ke arah mana tren industri pornografi di Indonesia saat ini?
Dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan media cetak dewasa yang mengemas materi pornografi cenderung menurun. Saat ini, jumlah tabloid porno berkurang signifikan. Yang masih beredar hanya majalah dewasa yang harganya cukup mahal sehingga tak terjangkau masyarakat luas. Kalaupun materi-materi pornografi ini muncul di media cetak umum, biasanya menjadi bagian dari berita kriminal pada “koran-koran kuning”. Yang juga turun cukup tajam hingga 50% dalam beberapa tahun terakhir adalah jumlah situs porno di internet.
Tapi yang membuat miris, saat ini pelaku industri pornografi memindahkan materi pornogarfinya ke situs jejaring sosial yang sedang menjadi tren di dunia maya. Karenanya, materi pornografi di situs jejaring sosial naik 200%. Contohnya, ada situs jejaring sosial yang 24 jam membahas soal sex, bahkan mempertontonkan pertandingkan ML (Making Love) secara live dari berbagai negara termasuk Indonesia. Situs ini tak bisa di blok di Indonesia karena servernya di luar negeri. Yang juga menjadi tren saat ini adalah orang tidak suka lagi dengan film/video porno yang dikemas sebagai produk industri, tapi menyukai yang asli dan lokal.
Apakah industri pornografi terkait dengan human traficking?
Ya, karena industri ini payung besarnya adalah industri sex. Pintu masuk pornografi adalah industri sex. Logikanya, pornografi membawa ideologi desakralisasi sex. Ketika konsumen pornografi memerlukan pelampisan mereka  mencari prostitusi. Akhirnya, industri pornografi menyuburkan prostitusi karena banyaknya permintaan. Prostitusi memerlukan banyak perempuan yang jadi pelayannya. Muncullah human traficking. Jadi, industri sex, industri pornografi, prostitusi, dan human traficking, adalah satu lingkaran yang punya perputaran uang sangat cepat. Biasanya uang itu berasal dari sumber yang tidak jelas. Bahkan, ada juga yang menghubungkan dengan narkoba, karena kasus narkoba sekarang dilakukan secara kelompok di suatu tempat sampai teler, tak punya rasa malu, akhirnya free sex. Ditarik lebih jauh, ini adalah cara merusak generasi muda secara sistematis. Untuk menaklukkan Indonesia tak perlu dengan militer atau pengeboman, dengan industri sex, pornografi, dan narkoba lebih efektif.
Jadi secara bisnis, industri ini sangat menguntungkan?
Ya. Seringkali industri ini terkait dengan multinational corporate yang memiliki jaringan di seluruh dunia. Industri sex di Amerika keuntungannya delapan kali lebih besar dari keuntungan Coca Cola Company, bahkan setara dengan keuntungan Air Bus Group yang dijadikan satu. Di Indonesia, MTP pernah memperoleh data bahwa layanan party line omsetnya mencapai Rp 2 miliar per pekan. MTP juga pernah meneliti tabloid porno di Indonesia. Ternyata, gampang sekali membuatnya, cukup 3 orang saja. Satu membuat isinya, satu me-layout dan mendesain, satunya lagi yang menjual. Isinya tinggal download internet. Model lokal diambil dari PSK yang ingin dipromosikan gratis. Saat itu, oplahnya mencapai 13 ribu per pekan dengan harga jual Rp 1000 per eksemplar. Sedangkan di internet, seperti kasus ME–YZ tahun 2007, diunduh oleh 19,6 juta orang Indonesia dalam satu waktu. Bayangkan, jika dikalikan Rp 1000 saja, provider (perusahaan pengelola jasa) internet bisa meraup omset Rp 19,6 miliar dalam satu waktu. Karenanya, untuk kasus Ariel–Luna–Cut Tari, saya yakin omsetnya jauh lebih besar, apalagi sudah mendunia. Ini masuk dalam katagori easy money.
Apa mata rantai lebih lanjut dari industri pornografi ini?
Mata rantai dari pornografi adalah meningkatnya kejahatan seksual. Dulu, kejahatan seksual seperti pemerkosaan terjadi karena korbannya memakai pakaian minim dan mengundang, tapi sekarang tidak lagi. Banyak kasus yang menimpa remaja, mereka melakukan kejahatan seksual karena terangsang materi pornografi yang sering ditontonnya. Sehingga mereka membutuhkan pelampiasan. Tidak lagi karena melihat korbannya cantik, sexy, tua, atau muda, tapi korbannya bisa siapa saja. Bisa ibunya sendiri, anak-anak, bahkan binatang seperti kasus di Bali.
Karena itulah MTP membuat gerakan memerangi pornografi?
Betul. Pertama, pornografi sangat berbahaya karena membawa ideologi desakralisasi sex. Artinya, sex yang tadinya suci, yang hanya bisa dilakukan melalui lembaga pernikahan, didegradasi boleh dilakukan di mana dengan siapa dan kapan saja.
Kedua, pornografi akan merusak otak, psikis, dan kecanduan pada anak-anak. Karenanya, anak-anak adalah golongan yang paling besar terkena pengaruh. Tapi, orang dewasa juga bisa kecanduan pornografi. Jika sudah sampai pada tahap ini, ia akan terus mencari materi pornografi yang lebih hot dan puncaknya harus ada pelampiasan dengan siapa saja, kapan saja, dan di mana saja.
Ketiga, kami melihat pornografi justru dikembangkan menggunakan media ke ranah publik.
Jadi, Anda ingin menegaskan bahwa pelaku dan pembuat video porno, harus dijerat hukum?
Betul. Pasalnya, ada upaya dari beberapa orang yang mengatasnamakan pakar hukum, mengatakan bahwa menurut UU Pornografi, pelaku dan orang yang membuat video porno adalah korban. Ini adalah upaya memutarbalikkan fakta, padahal pelaku dan pembuatnya bisa dijerat hukum. Yang dimaksud Pasal 4 ayat 1 dalam UU Pornografi adalah larangan membuat materi pornografi tapi tidak termasuk untuk kepentingan pribadi dan diri sendiri selama berada di ruang private. Tapi ketika materi pornografi itu tersebar di masyarakat tetap ada sanksi hukumnya, karena tersebarnya itu bisa disebabkan oleh kelalaian atas tanggung jawab terhadap apa yang diperbuat di ruang private itu. Karenanya, ketika tersebar di masyarakat menjadi berbenturan dengan norma hukum, kesusilaan, dan agama. Apalagi, pelakunya bukan pasangan sah dalam pernikahan, bahkan dengan istri orang.
Bagaimana cara menjaga teknologi dari bahaya pornografi?
Ada dua cara, yakni orang tua melakukan pendampingan dan pendidikan media terhadap anak-anak, remaja serta orang tua. Orang tua harus lebih waspada dalam mengawasi teknologi yang digunakan anak-anak. Pemerintah juga harus lebih berperan dan aparat menindak pelanggaran dan kejahatan cyber. Pendidikan media akan memberikan ketrampilan pada orangtua dan anak tentang pentingnya melek media. Sehingga kita tidak hanya pintar mengakses media, tapi juga kritis terhadap apa yang terdapat di media dan bisa mengakses media secara sehat. Kritis terhadap media, artinya kita bisa memilih dan memilah hanya yang bermanfaat yang akan diakses dan menolak konten media yang buruk. Pendidikan media sedang kami dorong agar masuk ke dalam kurikulum pendidikan, sejak PAUD hingga pendidikan menengah. Karena saat ini tidak mungkin kita hidup tanpa media dan teknologi. Kita sudah terlambat, karena Amerika dan negara persemakmuran sejak 1978 sudah menerapkan pendidikan media. Inisiatif pendidikan media ini justru datang dari kalangan gereja.
Bagaimana dengan internet?
Pemerintah sebenarnya bisa memblok jika servernya ada di Indonesia dan alamatnya jelas. Tapi, pelakunya bisa saja membuat nama dan alamat lain. Untuk mengatasinya, kita bisa belajar dari Cina. Pemerintah Cina memberi reward pada masyarakat untuk ikut memantau materi buruk di internet, lalu melaporkannya pada pejabat yang berwenang. Di Cina terdapat 500 ribu polisi sipil yang khusus bertugas mengawasi materi internet. Singapura juga menerapkan sistem laporan dari masyarakat. Bedanya, di Singapura lebih mudah, karena providernya hanya 15 dan melalui proxymeter milik pemerintah. Sehingga, sebelum di sebar ke masyarakat pemerintah Singapura bisa mengontrolnya.
Di Indonesia, provider resmi mencapai 200 perusahaan, sedangkan yang ilegal justru lebih banyak lagi. Apalagi, di Indonesia tidak memakai sistem proxymeter. Karenanya, jika pemerintah akan menge-blok sebuah situs harus dilakukan satu per satu. Karenanya, untuk Indonesia yang bisa dilakukan adalah pendidikan media dan pendampingan terhadap anak-anak. Orang tua harus ketat menerapkan aturan pada anak-anak dalam berinternet. Jangan biarkan anak sendirian di ruang chatting. Letakan komputer yang terhubung dengan internet  di ruang keluarga. Berlakukan jam malam terhadap anak-anak untuk membatasi berinternet. Pasang software anti pornografi baik tulisan atau bersumber dari gambar (softaware nawala atau kinai, misalnya).
Untuk HP bagaimana?
Jangan memberikan HP terlalu canggih pada anak-anak. Jika kebutuhannya hanya untuk  berkomunikasi dengan orang tua, berikan HP yang fungsinya hanya untuk telepon dan SMS. Kecuali jika anak sudah melek media boleh saja diberikan HP canggih. Tapi tetap harus sering dikontrol, misalnya dengan memeriksa fiture history pada layanan internetnya secara berkala. (sumber: Sabili.com)

Sabtu, 26 Juni 2010

Ustadz Syuhada Bahri : Dari Da'i Pedalaman ke Pucuk Pimpinan Da'i se Indonesia

Ditengah kesibukannya sebagai Ketua Umum Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) masih menyempatkan diri menerima kedatangan tim VOA-ISLAM yang akan mewawancarainya. Kami diterima diruang kerjanya yang cukup nyaman dan besar. Diatas mejanya tersedia kue kering beraneka rasa dan minuman mineral. Kami disambut dengan ramah dan guyonan-guyonan yang meskipun serius tapi membuat suasana menjadi begitu akrab.

VOA-ISLAM : Kapan mulai berdakwah dan apa yang memotivasi ustadz untuk berdakwah ?

Syuhada : Sejak masih di PGA Pandeglang saya selalu minta tampil untuk pidato, motivasinya apa saya tidak tahu, pokoknya saya tampil. Selanjutnya saya sering diminta mengisi pengajian di kampung-kampung sekitar. Sewaktu berada di Bandung saya mulai aktif di organisasi dakwah Korps Muballigh Muda Muhammadiyah terus pindah ke Jakarta selama setahun saya menjadi guru berlanjut hingga akhirnya bergabung dengan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesa (DDII) Jakarta pada tahun 1976. Tugas pertama yang saya emban ketika bergabung dengan DDII adalah tukang nempelin foto-foto kegiatan dakwah di daerah. Yang menguntungkan saya adalah tugas ini dilakukan di kamar Bapak M. Natsir hingga lima tahun lamanya. Banyak pelajaran berharga yang saya dapatkan dari beliau. Setelah itu saya ditugaskan untuk menangani urusan dakwah di wilayah Indonesia bagian tengah yang meliputi Jawa dan Bali, dan seterusnya saya menangani seluruh wilayah di Indonesia. Sejak itu saya selalu ditugaskan ke daerah-daerah di seluruh Indonesia, tidak pernah di kota-kota besar. Hanya itu pengalaman dakwah saya.

VOA-ISLAM : Tadi ustadz katakan ada banyak pelajaran berharga yang didapat selama bersama pak Natsir, pelajaran apa yang paling berkesan ?

Syuhada : Saya pernah meminta beliau untuk mencabut tanda tangannya di Petisi 50 karena dampaknya terhadap gerakan dakwah di daerah sangat terasa. Semua da'i DDII di daerah mengalami tekanan oleh aparat pemerintah akibat keikut-sertaan beliau di Petisi 50. Namun beliau merespon permintaan saya itu dengan mengajak diskusi selama satu jam di dalam ruangan yang dikunci. Sampai akhirnya saya tidak bisa berargumentasi lagi setelah beliau menyatakan bahwa keputusannya menyertai Petisi 50 adalah hasil istikharah. Tidak mungkinlah saya membantah petunjuk Allah. Beliau senantiasa memohon petunjuk Allah dalam membuat suatu keputusan. Ini pelajaran pertama yang saya dapat dari beliau. Pelajaran kedua, ketika menghadapi masalah asas tunggal Pancasila, beliau mengakomodir semua pendapat yang muncul di kalangan keluarga besar DDII, sampai akhirnya beliau bersikap : "saya lebih memilih sikap Bilal bin Rabah tinimbang Ammar bin Yasir terhadap masalah asas tunggal Pancasila ini". Komitmen perjuangannya sangat jelas yakni tetap mengedepankan prinsip keyakinan terhadap kebenaran (Al Haq) meskipun harus menderita karenanya. Dua hal tersebut selalu menjadi tolok ukur buat diri saya apakah saya mampu bersikap seperti beliau. Pelajaran ketiga yang saya dapat dari beliau adalah tentang pola kaderisasi yang beliau jalankan. Beliau tidak ceramah panjang lebar untuk mengkader seseorang, tetapi melalui penugasan-penugasan. Kalau orang itu mampu menyelesaikan tugas dengan baik maka beliau akan memberikan tugas berikutnya. Kalau tidak mampu pada tugas yang satu, maka beliau akan memberikan tugas yang lain yang disesuaikan dengan kecenderungan orang tersebut. Beliau tahu betul kelemahan saya pada hal menulis surat karena suatu kali saya diminta beliau untuk menulis surat yang sebenarnya beliau diktekan tetapi saya tidak bisa menyelesaikannya. Tapi kalau soal mengumpulkan data atau informasi, saya adalah orang yang pertama beliau panggil untuk menjalankan tugas tersebut. Hal lainnya yang juga berkesan buat saya dan saya sangat sulit untuk mengikutinya yaitu setiap kali selesai sholat, maka akan terlihat wajah beliau cerah seperti tidak ada persoalan, padahal sebelum sholat wajah beliau kelihatan tegang kalau menghadapi persoalan yang serius. Maka ada anekdot di kalangan kawan-kawan kalau mau pinjam uang kepada beliau maka menyampaikannya setelah beliau selesai sholat. Beliau selalu memberi penghargaan yang luar biasa kepada anak-anak muda yang berhasil menjalankan tugas yang diberikannya meskipun tugas tersebut sangat sederhana. Satu hal lagi dari beliau adalah bahwa beliau sangat pandai dalam menempatkan dirinya ketika menghadapi tamu-tamunya.

VOA-ISLAM : Kalau ditugaskan ke daerah biasanya sampai berapa lama ?

Syuhada : Paling lama 10 hari, tapi sempat sampai 15 hari ketika ditugaskan ke Timor Leste. Kalau ke daerah itu artinya ke pedalaman,  pelosok-pelosok desa.

VOA-ISLAM : Biasanya tugas apa saja yang dilakukan di daerah-daerah yang dikunjungi ?

Syuhada : Biasanya 3 hal yang saya lakukan : pertama, memotivasi para da'i, kedua, memberikan pelatihan kepada para calon da'i yang selama ini dibina, ketiga, bersilaturahim dengan masyarakat setempat. Ketika mengadakan pelatihan di Sungai Lilin saat itu masa orde baru dimana militer di daerah-daerah begitu berkuasa sempat akan dibubarkan, tapi saya melawan dan tetap melaksanakan acara pelatihan itu meskipun diancam. Tapi saya minta pihak aparat untuk mengikuti secara langsung acara pelatihan tersebut.

VOA-ISLAM : Apakah ustadz aktif juga di organisasi lain ?

Syuhada : Ya ada juga tapi tidak terlalu aktif, hanya sebatas mengikuti pelatihan-pelatihan saja misalnya di HMI, PII, dan GPI. Tapi yang lebih lama saya aktif di Pemuda Muhammadiyah Bandung. Di Jakarta pun saya aktif di Muhammadiyah Tanah Abang III. Begitu saya gabung dengan DDII yang lainnya saya tinggalkan.

VOA-ISLAM :
Kapan mulai berkeluarga ?

Syuhada : Tahun 1985 saya menikah dan dikaruniai 12 anak, anak pertama dan kedua sudah selesai kuliah, yang paling kecil 2,5 tahun.

VOA-ISLAM :
Ada niat nambah lagi - anak maupun istri ? Sekarangkan lagi musim poligami...

Syuhada : Sebagai laki-laki keinginan untuk menikah lagi pasti ada, akan tetapi saya merasa belum mampu untuk berpoligami. Yang ada saja sudah cukup berat untuk ditangani.

VOA-ISLAM : Tentang Dewan Dakwah, mengapa Ustadz berani menerima peran pimpinan tertinggi dewan dakwah dimana masih ada orang tua yang juga punya pengalaman yang sama?

Syuhada : Sebenarnya kalau ditanya kepada saya sanggup atau tidak menerima tugas ini, saya akan jawab tidak sanggup. Dulu pak Natsir ketika mengkader saya tidak pernah tanya sanggup atau tidak menjalankan tugas tetapi langsung saja diberi tugas. Begitu pula saat pemilihan ketua umum DDII karena semua terutama para orang tua setuju kepada saya, maka saya menganggap ini adalah amanah tugas yang harus saya tunaikan dengan sebaik-baiknya. Terlebih saya mampu menjawab 200 pertanyaan yang dibuat oleh tim penguji, saya dianggap sangat tahu banyak soal DDII ini.

VOA-ISLAM :
Setelah terpilih sebagai Ketua Umum apakah ada masalah dengan para senior atau lainnya ?

Syuhada :
Sebenarnya sih tidak ada masalah bagi saya, tetapi mungkin jadi masalah buat orang lain. Mengapa ? karena DDII ini sejak tahun 1967 hingga 2007 pola kepemimpinannya adalah figur. Figur pak Natsir, pak Anwar Haryono, pak Ahmad Affandi, pak Cholil Badawi, bang Husin Umar,dan lain-lain adalah figur yang sangat dikenal baik ditingkat nasional maupun internasional. Mereka membangun sistem di organisasi ini, tetapi sistem ini kemudian ikut pergi bersama figur yang membuatnya karena kekuatannya pada figur tersebut. Saya menyadari betul kalau saya ini bukan figur seperti mereka. Dibilang Ketua Umum DDII saja saya miris. Menyadari hal ini maka saya mencoba untuk mengalihkan kekuatan figur kepada sistem, dan ini bukan pekerjaan mudah karena merubah sesuatu yang sudah tertanam selama 40 tahun. Saya ingin yang menggerakkan orang-orang yang terlibat di DDII ini adalah sistem bukan figur lagi. Sehingga dengan begitu setiap orang dipaksa untuk berkreasi, tidak lagi menunggu komando. Terlebih saya menyadari betul bahwa yang bersama saya saat ini adalah orang-orang yang seangkatan, yang dulu sama-sama dibina oleh pak Natsir. Saya merasa rikuh kalau teman-teman seangkatan harus saya komandoi. Jadi dengan sistem ini saya mengajak teman-teman untuk sama-sama bekerja tanpa menunggu perintah. Dulu kalau masuk atau pulang kantor tidak ada aturannya harus jam berapa karena tergantung pimpinan, tetapi kalau sekarang sistemlah yang mengatur setiap orang termasuk saya sebagai ketua umum. Kepemimpinan DDII sekarang ini adalah merupakan titik alih dari generasi tua ke generasi muda, kami adalah penyambung antara generasi binaan pak Natsir dan setelah kami adalah generasi yang tidak bersentuhan langsung dengan pak Natsir. Itulah sebabnya mengapa harus dibangun sistem supaya organisasi ini tetap berjalan terus sampai kapanpun. Dan dengan sistem ini kami mewariskan generasi berikut bukan DDII sebagai gerakan dakwah semata, tetapi sebagai gerakan ideologi yang sarat dengan nilai-nilai.

VOA-ISLAM : Apa bedanya gerakan dakwah dengan gerakan ideologi ?

Syuhada : DDII bukan semata gerakan dakwah dalam arti hanya mencetak da'i yang pinter ceramah saja, tetapi harus menjadi gerakan ideologi  dimana dakwah yang disampaikannya tidak semata-mata Islam sebagai pengetahuan tetapi juga Islam sebagai pandangan dan cara hidup. Suatu gerakan yang menanamkan kesadaran kepada ummat untuk memiliki komitmen terhadap syari'ah dalam kehidupannya. Bukan sebagai gerakan yang selalu mengikuti trend yang berlaku di masyarakat misalnya sebagai bentuk kerukunan ummat beragama maka kemudian mengadakan acara do'a bersama di Bunderan H.I dan lain sebagainya. Itu organisasi bukannya gerakan ideologi.

VOA-ISLAM :
Bagaimana mengartikan Da'wah Politik dan Politik Da'wah ?

Syuhada : Setiap muslim adalah da'i dan kalau dia mempunyai profesi maka dia bisa disebut da'i dokter, da'i insinyur, da'i politisi, dan seterusnya. Perannya sebagai da'i harus  menjadi pembimbing dirinya dalam menjalankan apapun profesinya. Tetapi kalau politisi da'i misalnya maka yang sering terjadi sang politisi sering sujud sahwi karena ke-da'iannya hilang/terlupakan ditelan oleh ke-politisiannya. 'Kan politik biasanya cenderung menghalalkan segala cara.

VOA-ISLAM :
Pada musim pemilu yang lalu DDII mengeluarkan instruksi untuk ikut pemilihan umum dengan memilih partai Islam. Dimana nilai ideologisnya ?

Syuhada : Instruksi itu dikeluarkan setelah mengikuti perkembangan dimana ada kecenderungan untuk golput begitu besar dari kalangan ummat Islam, sementara Kristen mewajibkan ummatnya untuk memilih partai mereka. Sehingga di DKI Jakarta PBB saja kalah sama PDS yang lebih muda. PDS punya 4 kursi sementara PBB 0. Kami menemukan di suatu kabupaten calon legislatif dari PDS 20 orang kesemuanya beragama Islam. Ada gerakan tersembunyi yang dilakukan oleh non Muslim untuk mendorong ummat Islam bersikap golput. Kalau ummat Islam golput maka dapat dipastikan ummat Islam tidak akan mempunyai wakil-wakil yang menyuarakan aspirasi mereka kelak. 

VOA-ISLAM :
Bukankah kemudian timbul masalah di internal DDII sendiri yakni yang pro dan kontra dengan instruksi tersebut ?

Syuhada : Ya memang akhirnya kita harus memilih untuk ikut pemilu atau tidak. Saya melihat kalau tidak ikut pemilu mudharatnya lebih besar buat ummat Islam secara keseluruhan, terlebih setelah diketahui kalau ada gerakan tersembunyi yang dilakukan oleh non Muslim yang menggiring ummat Islam untuk golput. Ada orang telepon kepada Ustadz Muzayyin untuk tidak membantu orang-orang Padang yang terkena gempa karena mereka itu diazab oleh Allah. Lalu Ustadz Muzayyin balik bertanya kalau kita tidak membantu mereka maka mereka akan dibantu oleh orang-orang Kristen dan akhirnya orang-orang Padang jadi Kristen semua, bagaimana ? Orang tersebut tidak bisa menjawab. Jadi memang dilematis tapi tetap harus memilih. Yang penting kita tidak saling menghujatlah. Silahkan saja kalau ada orang yang golput, kita akan hargai pendapat itu, tetapi tolong hargai juga pertimbangan orang yang tidak golput karena mereka melihat kemudharatan yang lebih besar. Bisa saja kita bilang sudahlah sekalian saja gak usah ikut pemilu biar kita jelas melihat siapa lawan kita. Padahal, pada kenyataannya jangankan semua posisi dikuasai mereka, satu posisi saja yang mereka kuasai sudah membuat kita tidak berdaya misalnya ketika Benny Murdani menjadi PANGAB, ummat Islam terus menerus tertindas dan kita tidak mampu melawan.

VOA-ISLAM :
Jadi, apakah orang yang golput itu salah?

Syuhada : Saya tidak bisa katakan itu salah, itukan hak dia untuk bersikap, tetapi jangan menuntut orang untuk memahami pendapatnya sementara dia tidak mau menghargai pendapat orang lain. Kalau itu yang terjadi maka akhirnya timbul saling vonis. Padahal boleh jadi itu masalah ijtihadi. Kalau itu ijtihad salahnya saja dapat satu pahala.

VOA-ISLAM : Apa tantangan dakwah hari ini ?

Syuhada : Persoalan yang paling mendesak saat ini adalah bagaimana kita mencerdaskan ummat kita ini agar mereka memahami Islam dengan benar. Kekalahan partai-partai Islam pada pemilu yang lalu mencerminkan seperti apa ummat Islam kita itu. Saya tidak bisa bayangkan apakah masih akan ada partai Islam tahun 2014 nanti. Maka oleh karena itu DDII sedang melakukan kaderisasi ulama ada yang formal dan ada yang non formal. Yang formal itu program S1, S2, dan S3, yang non formal melalui bangku pesantren saja. Syarat utama untuk non formal adalah harus hafal Qur-an dan nantinya menguasai kitab. Itu harus dilakukan secara serius karena kehancuran suatu bangsa disebabkan oleh kedzaliman penguasa dan kekufuran yang dilakukan oleh bangsa itu sendiri. Dalam surah Ibrahim : 18 dan An Nahl : 112 Allah menjelaskan kepada kita tentang hal tersebut diatas. Nah dzalimnya penguasa itu kembali kepada kualitas pemilihnya. Di kita ini ada yang lucu, memilih pemimpin haram tapi menta'ati pemimpin yang terpilih wajib hukumnya. Kalau program ini berjalan dengan baik, maka nanti kita tempatkan disetiap kabupaten ulama yang akan menjadi rujukan masyarakat kabupaten itu.

VOA-ISLAM :
Bukankah kualitas seseorang itu juga disebabkan oleh kemiskinan dan realitasnya kemiskinan di negeri ini semakin meningkat, lalu yang mana kita dahulukan mencerdaskan  atau mengatasi kemiskinannya ? Bukankah ada pernyataan Rasulullah "kemiskinan menyebabkan seseorang menjadi kufur"

Syuhada : Hadis yang tadi disebutkan itu adalah hadis dha'if. Kemudian saya sedang memikir kan kembali jangan-jangan dakwah bil haal yang dimaksudkan untuk memperbaiki kehidupan seseorang adalah upaya pembusukan terhadap dakwah itu sendiri. Kalau kita melihat pernyataan nabi Yusuf 'alaihissalam yang mengatakan "innii hafiidzun 'aliim" yang bisa diartikan "sesungguhnya saya ini amanah dan profesional". Amanah itu tidak ada sekolahannya, dia lahir dari kesadaran yang tinggi, tapi kalau profesional bisa dipelajari. Jadi kalau mau bicara perbaikan masyarakat miskin, ya perbaiki dulu kualitas orangnya, barulah setelah itu perbaikan ekonomi. Yang terjadi sekarang ini, upaya perbaikan yang dilakukan oleh LSM atau organisasi, atau lembaga apa saja yang dimulai dengan perbaikan ekonomi hasilnya iman tidak meningkat ekonomi juga tidak ada peningkatan. Kalaupun kaya tapi tidak berkah. Oleh karena itu, apapun pendekatan yang dilakukan melalui koperasi-kah, pertanian-kah, dan lain-lain, maka perbaikan aqidah harus menjadi prioritas.

VOA-ISLAM :
Tapi apa jawaban kita ketika kaum dhu'afa itu mengatakan : "kami ini lapar, anda bawa apa untuk kami makan?"

Syuhada : Ya dikombinasikanlah, kita bawa makanan dan membina rohani mereka. Kita bisa berikan contoh Bilal yang miskin tidak menjual aqidahnya walaupun lapar bahkan disiksa, dia tetap tegar dan teguh dengan keimanannya. Begitu pula Zaid bin Tsabit dengan kemiskinannya tetap beriman. Kita jangan sampai terpengaruh oleh harakatut tasykik yang sering membenturkan kita dengan realitas. Ketika DDII mengirim bantuan ke Aceh, para relawan saya nasihati supaya jangan ngajari mereka tentang Islam karena mereka sudah faham, tetapi tunjukkan saja kepada mereka amalan-amalan Islami, lama kelamaan mereka akan mengikuti juga. Misalnya ketika masuk waktu sholat azanlah lalu sholat kemudian baca Qur-an, ga' usah ajak-ajak mereka biarlah mereka sendiri yang sadar untuk melakukannya. Dua hari kemudian ada orang yang minta diajari baca Qur-an, kalau sudah ada keinginan itu, barulah dibina.

VOA-ISLAM :
Peta dakwah kita seperti apa saat ini ?

Syuhada : Peta dakwah kedepan semakin berat. Kalau zaman pak Natsir yang kita hadapi sangat jelas yaitu orang-orang Kristen, tetapi sekarang kita menghadapi orang-orang Islam yang merusak Islam. Realitas di lapangan, dakwahnya diberi kebebasan tapi diarahkan ke kanan menjadi sekuler yang oleh media dikatakan ini adalah Islam modern, kemudian ada yang digeserkan ke kiri transcedental yang menganggap semua urusan bisa selesai dengan zikir dan ini di ekspos oleh media sebagai dakwah yang sejuk. Sementara dakwah yang menanamkan ketaqwaan disebutnya teroris.

VOA-ISLAM :
Lalu bagaimana seharusnya kita berdakwah pada situasi seperti ini ?

Syuhada : Pertama, persoalan dakwah ini bukan lagi persoalan di seputar Indonesia, tapi harus kita lihat secara global. Berbagai isu yang bisa menghambat gerakan dakwah munculnya bukan dari dalam negeri, tetapi dari luar negeri dengan isu terorisme yang terus menerus dihembuskan oleh amerika. Isu ini bagai bola liar digelindingkan terus kemudian diikuti dengan stigmatisasi buruk terhadap segala hal yang berbau Islam, misalnya orang berjenggot, muslimah bercadar, aktifis rohis atau masjid, anak muda yang bercelana isbal, penjual habbatussauda, dan lain sebagainya disebut sebagai teroris atau cikal bakal teroris yang harus diwaspadai. Hal ini jelas berdampak kepada gerakan dakwah. Islam sebagai agama Rahmatan lil 'alamiin dicitrakan sebagai agama yang haus darah, menebar teror dan ketakutan ditengah masyarakat. Akhirnya da'i kesulitan menyampaikan konsep Islam yang sebenarnya karena akan di cap teroris. Terorisme yang terjadi saat ini adalah upaya musuh-musuh Islam yang ingin menjatuhkan citra Islam dan ummat Islam dan juga upaya memecah belah ummat Islam. Setidaknya itulah opini yang berkembang dikalangan ummat ISlam saat ini. Akibatnya bisa menimbulkan rasa frustasi dikalangan generasi muda ummat Islam terhadap kondisi ummat yang terus menerus terpojokkan. Semua persoalan itu akhirnya bermuara pada kebodohan ummat dalam memahami ajaran Islam. Oleh karena itu, kita harus berupaya mengajarkan Islam yang benar yang berdasarkan Al Qur-an dan As Sunnah. Mengapa demikian ? karena saat ini ada gerakan yang mengajarkan Islam berdasarkan perkembangan zaman. Gerakan ini begitu masif disuarakan melalui berbagai media utama negeri ini. Gerakan global menekan ummat Islam di seluruh dunia saat ini sangat fokus karena pelakunya tunggal. Kalau dulu ada dua kekuatan super power yang menguasai dunia saling berebut pengaruh, tapi kini cuma ada satu super power - amerika yang menguasai dunia ini, dan boleh jadi terpecahnya uni sovyet bukan karena dia kalah dalam pertarungan di pentas dunia, tetapi sengaja mengalah untuk merapatkan barisan dengan amerika dan kemudian fokus pada satu musuh yaitu ummat Islam. Oleh karena itu saya tetap fokus pada satu hal yaitu mencerdaskan ummat karena inilah pangkal segala masalah yang menyebabkan ummat selalu kalah, atau dipermainkan orang lain.

VOA-ISLAM :
Ada sebagian saudara-saudara kita yang lebih cenderung melakukan gerakan bersenjata untuk melawan amerika dan sekutunya karena mereka menganggap amerika dan sekutunya itu telah melakukan peperangan terhadap ummat Islam di seluruh dunia. Maka perlawanan terhadap mereka harus juga keseluruh dunia.

Syuhada : Boleh-boleh saja mereka berfaham seperti itu, tetapi jangan semuanya kesana, berbagi tugaslah. Yang penting tidak saling merobohkan bangunan yang sudah kita bangun. Kapan selesainya bangunan itu nanti. Kita hendaknya saling mengetahui peran kita masing-masing, dan mainkanlah peran itu dengan sebaik-baiknya, jangan saling menghina, mencaci, menuduh yang bukan-bukan terhadap saudaranya, dan sebagainya. Perang global terhadap amerika jangan sampai jadi pemicu perpecahan ummat. Kalau saya khawatir dan sekaligus curiga, amerika yang begitu canggih dalam segala hal, terlebih intelijennya mampu memainkan kondisi ummat Islam yang sudah dibacanya untuk melahirkan banyak militan muslim yang dikendalikan sesuai dengan skenarionya tanpa si muslim itu sendiri menyadarinya. Saya yakin kalau para militan itu punya niat tulus menegakkan kewibawaan Islam dan kalau mati dalam usahanya itu insya Allah dia syahid. Tapi dalam konteks perjuangan menyeluruh, apakah itu menguntungkan ummat Islam atau malah sebaliknya. Ini barangkali perlunya kita duduk dan diskusikan bersama.

VOA-ISLAM : Bukankah sudah ada forum ummat Islam tempat untuk kita bincangkan persoalan ummat ini bersama-sama, sejauh mana efektifitasnya ?

Syuhada : Yang ada itu 'kan forum bukan melaksanakan ukhuwah. Yang kita perlukan saat ini adalah bagaimana mempersaudarakan ummat Islam ini. Untuk ini kita memerlukan orang yang betul-betul disegani oleh semua fihak. Nah ini yang sekarang tidak ada. Betul dulu pak Natsir pernah punya forum ukhuwah Islamiyah, tapi sekarang figur seperti beliau yang bisa diterima semua kalangan sudah tidak ada lagi. Yang ada saat ini adalah figur-figur parsial, masing-masing sudah punya kerajaannya, dan kemudian masing-masing merasa paling bener. Oleh karena itu, bagi saya usaha yang harus kita lakukan adalah bagaimana kita memberikan pemahaman kepada ummat agar ber Islam sesuai dengan apa yang sudah diajarkan dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Saya kira sejarah sudah mengajarkan kepada kita bahwa Rasulullah ketika menghadapi dua Umar yang memusuhinya tidak pernah memaki atau melaknat mereka, malah beliau berdoa agar mereka diberikan hidayah oleh Allah.

VOA-ISLAM : Terakhir, ada pesan yang ingin disampaikan kepada ummat ?

Syuhada : Ya, saya hanya ingin mengingatkan dan mengajak kita semua agar jangan pernah lelah untuk mengajak ummat ini belajar dan belajar, lalu rapatkan barisan agar musuh tidak mampu memangsa meskipun hanya satu orang diantara ummat ini. Dan jangan lalai untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi tantangan dihadapan, baik secara fisik maupun mental.

Wawancara berakhir tepat ketika azan maghrib berkumandang dari masjid Al Furqan.

(Salim Abdullah, Abu Aiys')

Kamis, 17 Juni 2010

Kastorius: Jangan Khawatir, Polisi Pasti Masuk ke Wajib Pajak

Jakarta (addakwah.com)  --Komitmen Mabes Polri untuk mengungkap mafia pajak dipertanyakan berbagai pihak karena berjalan agak lambat. Namun itu dibantah tegas penasihat Kapolri Prof Dr Kastorius Sinaga.

Menurutnya, Polri akan menggunakan kasus yang membelit Gayus Tambunan sebagai pintu masuk membongkar kasus, termasuk menjerat Wajib Pajak yang "membayar pajak" ke Gayus dan bukan ke negara. "Sama sekali tidak main-main, ini sangat serius," katanya.

Berikut wawancara detikcom dengan Kastoris, Kamis (16/6/2010).

Banyak yang pesimistis dengan Polri terkait kasus Gayus Tambunan. Bagaimana tanggapannya?

Sama sekali ini bukan main-main, ini sangat serius.

Perkembangan sampai mana?

Polisi bergerak dari pemeriksaan Gayus, dari situ kita akan kembangkan bagaimana kinerjanya. Baru dari situ, nanti kita akan sampai dan masuk ke pemeriksaan Wajib Pajak.

Wajib Pajak yang terlibat tidak akan lolos?

Pasti, tidak ada diskriminatif. Kalau memang dia terlibat ya akan kita periksa.

Termasuk jika ternyata nantinya melibatkan polisi?

Tentu saja.

Apa bukti kalau Polri serius?

Lihat saja indikatornya. Yang terakhir soal Rp 74 miliar yang disita dari safe deposit box Gayus di Bank Mandiri. Kalau memang polisi nggak serius, kenapa itu dibuka ke publik. Kan bisa saja diem-diem terus uangnya diumpetin.

Untuk menjual citra dan cari sensasi?

Bukan, enggaklah. Dengan diumumkan hal itu, berarti kan polisi nggak bisa main-main. Dari barang bukti itu kan bisa dilihat, dari mana alirannya. Dari situ gampang untuk menjerat wajib pajak. Ini sudah terang benderang.

Satgas mengklaim informasi soal Rp 74 miliar itu sudah diungkap Gayus sejak di Singapura pada Maret lalu. Satgas juga sudah menyampaikan ke penyidik. Berarti bukan penyidik yang menemukan?

Ngapain kita berdebat soal begitu, yang penting barang bukti sudah disita dan bisa digunakan untuk mengungkap siapa yang mengalirkan dana itu ke Gayus.

Langkah polisi sudah benar, dan kita akan terus yakinkan ke masyarakat bahwa kita memang serius.

(ken/nrl) (sumber: detik.com)

Rabu, 16 Juni 2010

Sehari KAPOLRI Bohong Lima Kali

Komjen (Pol) Drs Susno Duadji SH MH MSc
(Mantan Kabareskrim Mabes Polri)
Dirumahnya yang tidak mewah di kawasan Cinere, pagi itu Kamis, pukul 07.50 wib. Tim Redaksi Tabloid Suara Islam tiba sepuluh menit lebih awal dari waktu yang disepakati. Tetapi ternyata tuan rumah telah siap menerima kehadiran kami di ruang tengah rumah yang cukup asri itu. Berikut ini wawancara eksklusif Abdul Halim, Muhammad Luthfie Hakim dan Muhammad Al Khaththath dari Tabloid Suara Islam, dengan Komjen (Pol) Susno Duadji di rumahnya Cinere, Depok, Jawa Barat, Kamis (25/3) lalu. Wawancara sejak dari kasus Bank Century hingga markus pajak Rp 24,6 miliar yang diduga kuat melibatkan sejumlah Jenderal di Mabes Polri.

Bagaimana tanggapan Anda atas penyesalan Ketua Tim 8 Adnan Buyung Nasution yang merekomendasikan pencopotan Anda dari Kabareskrim Mabes Polri akhir tahun lalu ?

Bang Buyung tidak perlu menyesal, tetapi yang penting follow up dari penyeslaan itu.  Faktanya pada waktu itu saya Kabareskirm, orang akan beranggapan bahwa penyidikan itu berada ditangan Kabareskrim. Ada dugaan rekayasa penyidikan Wakil Ketua KPK Bibit Samad Riyanto dan Chandra M Hamzah. Kalau ada dugaan rekayasa, maka alamat yang paling tepat tentunya Kabareskrim. Sebab tidak pernah diekspos bahwa yang menanggani kasus pimpinan KPK ini adalah suatu tim.

Pimpinan penyidiknya adalah Direktur III Brigjen Julianus Mahar. Itulah yang dinamakan dengan nama sandi Truno 3. Kalau saya di dalam jajaran Kepolisian adalah Tribrata 5 dan di lingkungan Bareskrim Guru l. Koordinatornya adalah Wakabareskrim yang bertanggungjawab kepada Kapolri.  Jadi susunannya Kapolri kemudian Wakabareskrim yang membawahi beberapa tim. Sebelumnya Irjen Hadiatmoko, tetapi karena dinilai tidak berhasil dan hanya dianggap berhasil menggolkan Antasari Azhar saja tetapi justru Bibit dan Chandra gagal, sehingga Hadiatmoko dicopot. Kemudian diganti Brigjen Dikdik dan dianggap berhasil menggolkan  Bibit dan Chandra,  menjadi  tersangka dan dia naik pangkat menjadi Irjen. Kemudian Julianus Mahar dianggap berhasil dan naik pangkat menjadi Brigjen.

Anggota tim berasal dari Bareskrim, Polda Metro, Polda Jatim, Babintak dan Ditbinkum. Saya tidak mengendalikan dan tidak boleh mengendalikan dan tidak boleh tahu hasilnya. Memang struktur militer dan polisi kuat sekali, kalau ada tim khusus maka yang boleh tahu kerjanya hanya tim itu saja, sehingga kalau saya tanya salah. Jadi yang benar adalah saya jangan bertanya. Mereka jangan melapor ke saya, sebab jadi tidak patuh pada asas.

Wajar kalau orang luar menuduh saya, tetapi saya diam dan tidak membantah. Seharusnya pimpinan yang menjelaskannya, tetapi pimpinan tidak pernah menjelaskannya bahkan Susno Duadji tidak dilibatkan disitu. Kalau bicara sendiri dan saya bukan kalau tiak terlibat, akhirnya saat ini orang akan menanyai siapa yang terlibat. Kalau bukan Susno, terus siapa ? nanti akan ke Kapolri dan diatasnya ke Presiden. Untuk itulah saya sebagai seorang perwira dan ksatria, disitu saya betul-betul menunjukkan kesetiaan dan keperwiraan saya. Manakala kepentingan lebih besar menghendaki, maka kepentingan pribadi dan kelompok harus dikalahkan, sehingga saya diam saja. Tetapi ingin tunjukkan saya tidak seperti itu. Saya menunjukkannya dengan bahasa isyarat. 

Seperti sewaktu Bang Buyung menyuruh saya mundur, saya tidak mau mundur. Tetapi akhirnya Bang Buyung mau mundur jika saya tidak mundur. Tetapi kemudian diberi permen manis oleh Kapolri dengan sebuah kebohongan. Di Istana Kapolri mengatakan Susno Duadji sedang membuat surat pengunduran diri, sehingga Bang Buyung tidak jadi mundur. Kemudian malamnya Kapolri rapat dengan Komisi III DPR, dengan terang terangan mengatakan bahwa surat pengunduran Susno Duadji sudah diterima. Itu jelas suatu kebohongan besar sekali. 

Sewaktu Tim 8 mengundang tim dari Polri hadir di Wantimpres untuk dimintai keterangan, yang berangkat Kapolri, Wakabareskrim, Direktur III dan beberapa pemeriksa. Saya tidak hadir, tetapi Bang Buyung tidak menanyakan ini. Seharusnya ditanya, mana Susno kok tidak datang dan anggota Tim 8 lainnya juga tidak tanya, punya ilmu apa itu ! akhirnya mereka pulang. Setelah itu mereka baru ingat dan besoknya saya datang sendiri ke Tim 8. 

Saya katakan, walaupun saya tidak bertanggungjawab dalam penyelidikan ini, saya datang atas sepengetahuan institusi dan saya siap memberikan keterangan sepanjang yang saya ketahui. Tetapi tidak pernah ada pertanyaan, kenapa kamu membantah walau tidak bertanggungjawab. Tidak ada pertanyaan seperti itu. Akhirnya kesimpulan Tim 8 adalah Susno merekayasa kasus untuk menghindari dari tanggungjawabnya, kan celaka benar ! Ya sudah, saya cepat didesak mundur oleh Presiden SBY. Bahkan Kapolri terdiam seusai pengunduran saya dimana prosesnya masih 15 hari setelah keluarnya rekomendasi Tim 8.  Akhirnya Kapolri datang ke beberapa pimpinan redaksi media massa untuk menenangkan media massa agar tidak mendesak mundur.

Tetapi waktu itu jawaban Kapolri berkelit, ketika ditanya apa benar Susno itu, apa Kapolri takut, kok demikian kuat Susno itu, tetapi jawaban Kapolri berkelit. Semestinya sebagai seorang Kapolri, sebagai seorang jenderal polisi dia katakan, jangan menuntut Susno mundur, dia tidak bertanggung jawab dalam menyidik kasus ini, kan selesai. Tetapi siapa yang bertanggungjawab, Kapolri harus menjawab saya, kan sebagai perwira  harus ksatria. 

Tetapi melihat dia tidak begitu, saya kecewa ! Saya berfikir buat apa bertahan? Maka saya harus mundur. Saya berunding dengan anak istri, saya katakan kita dihujat terus menerus dan tidak bisa diundurkan, kalau mau bertahan seratus tahun bisa. Tetapi hujatan ini terus menerus, sehingga saya katakan siap mundur. Saya bilang sama anak istri, meski nama kita sudah hancur tetapi kita tidak salah. Insya’ Allah, dengan keimanan kita maka kebenaran tidak akan bisa ditutupi. Kalau Allah ingin memulihkan nama kita, tidak akan sulit. Kun fayakun, selesai.

Akhirnya saya mundur, begitu mudur tidak ada masalah apa apa. Saya diam saja di rumah tidak ada niat apa-apa hampir selama  2,5 bulan. Kemudian saya berfikir bagaimana memperbaiki nama kita, harus  mulai dari mana. Tahu-tahu saya diundang bersaksi di Pengadilan kasus Antasari Azhar dan saya datang tanpa niat apapun juga. Karena kesaksian dibawah sumpah dan dibawah “UU dunia”, kalau saya bohong berarti saksi palsu. Kalaupun saya berbohong dan tidak ditangkap di dunia pasti akan ditangkap di akhirat. Saya akan mendapat laknat dari Allah.

Makanya sewaktu menyampaikan kesaksian, saya enak saja apa yang saya ketahui, tidak saya tambah dan tidak saya kurangi. Seperti pertanyaan pengacara, apa betul saya mengetahui ada tim yang dibentuk Kapolri yang  dinamakan Tim motifasi untuk menghendel kasus ini ? Saya jawab tidak  tahu dan tahu. Memang awalnya saya tidak tahu, tetapi akhirnya saya tahu.  Tidak tahu memang tidak diberi tahu, kemudian tahu karena saya mengetahui tim itu gagal. Karena gagal maka dicopotlah ketua tim.

Menurut Anda, siapa sebenarnya dalang yang merekayasa semua kasus ini ?

Tanpa saya beritahu yang merekayasa,  saya kira masyarakat sudah mengetahuinya. Siapa yang bertanggungjawab dalam penyelidikan ini. Tim penyidiknya Direktur III dan Koordinatornya Wakabareskrim serta penanggungjawabnya Kapolri yang langsung lapor pada Presiden. Lalu siapa penanggungjawabnya ? Saya kira dari struktur ini, silahkan dianalisis sendiri.

Anda pernah mengatakan Boediono terlibat dalam skandal Century. Namun setelah menjadi Wapres penyidikan dihentikan. Bagaimana kok bisa terjadi ?

Saya katakan bukan terlibat. Waktu menyidik Century, kasusnya saya bagi tiga. Kasus murni perbankan, duit nasabah diambil Robert Tantular dengan kasus Antaboga, dan kasus yang terkait dana LPS. Itulah yang berbeda. Kenapa saya tidak meneruskan, karena sudah masuk bulan September. Bulan Oktober sudah ada hasil penetapan Presiden dan Wakil Presiden dan sudah ada jadwal pelantikannya. Sebab kalau saya teruskan penyidikan, pasti ada yang bilang Susno telah dimanfaatkan kepentingan politik lain untuk menghancurkan nama Wapres, menggagalkan Pilpres dan Cawapres, sehingga besar sekali resikonya. 

Kita menyidik harus memakai strategi, mana kuat Susno sendirian disitu, Kapolri belum tentu setuju. Tetapi kalau sekarang kuat sekali backupnya jikalau polisi ingin menyidiknya dengan backup masyarakat. Waktu itu saya menyidik dengan kekuatan hukum. Tetapi hukum tanpa ditopang oleh kekuasaan maka tidak akan bisa jalan. Pasti kalau saya teruskan akan ketemu dengan Menkeu dan Wapres. Apa kuat Susno sendirian ? Tentunya dengan strategi, toh masyarakat dan KPK sudah minta diusut dan BPK sudah mulai mengangkat kasusnya sedikit demi sedikit, itu strateginya.

Mengapa anda berani membongkar kebobrokan Mabes Polri ?

Saya kira bukan karena keberanian, tetapi karena kepenakutan saya maka saya ungkap. Jadi kalau saya berani, justru saya hormat sekali kepada mereka yang berani merekayasa kasus itu. Kalau saya takut, karena takut akan hukuman Allah lebih berat yang akan saya terima.

Menurut Anda, seberapa parah kebobrokan di dalam Mabes Polri ?

Tergantung kehebohannya ! Masyarakat kan sudah tahu, yang saya angkat ini baru satu, tetapi hebohnya luar biasa, ini berarti parah. Makanya saya tidak mau angkat banyak-banyak, satu dulu saja. Ini hanya merupakan test case saja. Saya masih punya banyak peluru. Jadi masyarakat bisa membaca. Baru satu yang saya angkat, Mabes Polri sudah goyang. Itu menunjukkan bobrok, coba dia baik. Mestinya yang kena dua orang, biarkan dua orang itu menghadapi sendiri secara hukum, kenapa dua orang itu dibela mati-matian? Padahal tidak ada kewajiban membela dua orang itu. Seharusnya kewajiban polisi itu membela saya, sebab Undang-undang mengatakan pelapor tindak pidana korupsi wajib dilindungi. Kenapa dia sampai nekat melanggar UU ?

Banyaknya kebobrokan di tubuh Polri, apa perlu direformasi Kembali ?

Bukan perlu tetapi wajib atau fardhu ain untuk direformasi. Kalau perlu itu sunnah, sedangkan ini wajib. Kalau tidak direformasi, berarti kita memelihara penjahat bersenjata resmi dan terorganisir. Padahal kewenangan polisi besar sekali dengan kekuatannya mencapai 360 ribu orang bersenjata. Polisi boleh membunuh, jika penjahat lari boleh ditembak mati. Dengan kekuatan sedemikian besar, jika tidak direformasi dengan baik maka akan sangat berbahaya. Kalau tentara tidak boleh menembak rakyat, tetapi polisi boleh nembak rakyat yang melakukan kejahatan. Tentara tidak boleh nembak rakyat yang jahat sekalipun. Kalau tentara begitu senjatanya nembak itu untuk musuh dari luar, tetapi kalau polisi senjatanya diarahkan kedalam, itu bedanya.

Apa ini sebagai dampak penempatan Polri dibawah Presiden ?

Bukan ! Polisi mau dibawah siapapun. Presiden, Menteri Peranan Wanita atau siapapun tidak masalah. Kita sekarang sedang mengalami dekadensi moral. Seharusnya polisi wajib menjadi pelindung, tetapi malah menakut-nakuti rakyat supaya dapat duit. Polisi wajib memberantas kejahatan, tetapi malah menciptakan kejahatan. Lha ini jahiliyah, ini sudah masuk zaman jahiliyah.

Dengan penetapan anda sebagai terperiksa atau tersangka, apa anda merasa didholimi ?

Ya saya terima saja, mau silahkan orang menilainya, saya diperiksa saja belum. Yang katanya namanya harum, apa ya ? Yang melaporkan saya itu kan namanya yang harum itu, yang saya tuduh merekayasa kasus dan katanya tidak terbukti.  Lho bisa mengatakan tidak terbukti, kapan memeriksannya ? Kok cepat amat, mereka ngotot. Sebelum diperiksa, kesimpulannya saya jadi tersangka, ya sudah. Kalau kita ikut gila, namanya gila juga.

Mengapa Kapolri sekarang kelihatanya berbalik, mengakui ada ketidakberesan dalam kasus markus pajak yang melibatkan Gayus Tambunan?

Saya diam, tahu saya sudah malas mendengarnya. Karena, semua institusi resmi seperti polisi yang berkaitan dengan HAM, mestinya jika memberi keterangan itu sekali saja, sehingga antara satu keterangan dengan lainnya sama.  Jadi sekarang yang mau saya pegang keterangan siapa ? Kabareskirm lain, Kadiv Humas lain, Kapolri lain, Propam lain lagi  meski dalam persoalan yang sama. Itu baru dari segi orangnya. Sekarang dari segi waktu, pagi, siang dan malam lain lagi.

Kalau dicari-cari kesalahannya  seperti membolos kerja selama 78 hari, bagaimana komentar anda?

Bolos dari mana? kalau tidak pernah masuk kantor, kantornya mana ? Kantor adalah tempat suatu jabatan yang melaksanakan aktifitasnya sesuai dengan  standar operasional prosedural (SOP). Tempat mungkin ada, jabatannya apa?, tugasnya apa?, SOP nya apa? Kalau ada tempat, bukan kantor namanya. Saya masuk sana, bukan masuk kantor. Tapi sekarang mereka bilang saya bolos, terserah.

Jika dibandingkan dengan orang sama seperti pak Da’i Bachtiar, apakah pernah dia ngantor setelah jadi Pati ? Dia jadi Pati selama 10 bulan sebelum pensiun. Kemudian pak Chairuddin Ismail, apakah beliau ngantor, satu tahu lebih. Apakah dia diperiksa dan dipecat. Tidak ! Kenapa untuk hal yang sama, perlakuan terhadap saya berbeda. Jadi kalau begitu ini khusus untuk Susno Duadji saja. Tapi apapun juga saya tidak menolak, saya terima.

Soal markus pajak, apa uang Rp 24,6 miliar itu memang dibagi-bagikan oleh Gayus Tambunan kepada para pejabat di Mabes Polri ?

Saya tidak tahu ! Tetapi yang jelas uang itu sudah tidak ada. Itulah tugas penyidik, sama untuk markus ini. Polisi itu mengerti hukum, tetapi mereka mengatakan kalau berani buktikan. Lha dimana saya bisa membuktikan? Saya ingin polisi yang mempunyai kewenangan menyidik itulah yang membuktikan.

Mengenai kasus Century beberapa waktu lalu, bagaimana proses kehadiran anda di Komisi III DPR. Apakah anda tidak diajak pimpinan Polri seperti waktu di Tim 8 tetapi anda mendapat undangan khusus dari DPR ?

Waktu acara dengar pendapat dengan Komisi III terkait dengan  heboh cicak buaya dengan KPK, memang saya tidak diajak Kapolri, tetapi saya sudah antisipasi. Saya mempunyai teman-teman DPR agar diundang. Di meja memang tidak ada papan nama saya, tetapi saya mengatakan resmi diundang dengan tandatangan Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso. Justru yang tak diundang itu mereka semua itu, karena yang diundang resmi hanya Kapolri dan saya, sedangkan mereka itu hanya diajak Kapolri.

Apa reaksi Kapolri waktu itu ?

Kapolri hanya kelihatan pucat saja, yang jelas dia tidak bisa bicara bebas.

Waktu itu Kapolri mengatakan Susno siap mengundurkan diri ?

Bukan siap, tetapi Susno Duadji sudah mengajukan surat pengunduran diri,  katanya suratnya sudah diterima. Waktu itu saya mau berdiri, tetapi dicegah Wakapolri pak Makbul. Ketika itu dalam sehari Kapolri 5 kali berbohong secara resmi, tetapi yang tidak resmi saya tidak tahu. Waktu siangnya di Istana Kapolri mengatakan Susno sudah mengajukan surat pengunduran diri. Malamnya mengatakan surat pengunduran diri sudah diterima. Malam itu di tempat yang sama juga mengatakan tentang Nurkholish Madjid. Juga di tempat yang sama dia mengatakan tentang MS Ka’ban. Pada tempat yang sama dia juga mengatakan akan mundur jika tidak bisa dibuktikan di Pengadilan.

Mengapa di Komisi III DPR, anda sampai menangis. Apa yang menyebabkan anda terharu ?


Seumur hidup, saya tidak pernah menangis. Waktu Ibu saya meninggal dunia sekalipun, saya tidak menangis. Memang saya lebih dekat kepada Ibu meski Bapak dan Ibu sama. Karena dialah yang mengajarkan akhlak budi pekerti dan agama kepada saya. Karena sesuai dengan ajaran agama, jangan dibasahi dengan air mata ketika ditinggal wafat, maka saya hanya berdoa dan membaca Surat Yasin saja.

Tetapi malam itu di DPR saya menangis. Karena sudah hampir 4 bulan terus menerus ditekan. Sedangkan di rumah saya harus senyum, untuk menghibur istri dan anak, tetapi batin saya sedih sekali.  Anak saya perempuan sampai berhenti dari bekerja  karena malu bapaknya dihujat terus menerus. Akhirnya usaha sendiri dengan jual pakaian bekas di Citos dengan diobral padahal dia sarjana, tetapi yang penting halal. Alhamdulillah, ternyata penghasilannya tidak jauh berdeda dengan gajinya ketika masih kerja di kantor. Dia tidak malu, kadang kadang temannya ikut beli. Itulah yang membuat saya ketika teringat sampai menangis.

Jadi semuanya ini merupakan rekayasa dari Mabes Polri, padahal anda sama sekali tidak terlibat dalam tim penyidik. Sampai-sampai anda diminta mundur ?

Saya kan tidak mundur, tetapi minta mundur sementara. Saya diminta mundur supaya tekanan berkurang. Saya diminta mundur pak Makbul atas suruhan Kapolri. Pak Makbul waktu itu bersama pak Yusuf Manggabarani. Saya tanya mengapa Kapolri tidak langsung kepada saya, alasannya Kapolri tidak sampai hati karena saya tidak bersalah. Kemudian saya bilang oke, saya mundur, tetapi mundurnya kan bukan selamanya. Nanti setelah situasi tenang, nama saya seharusnya dipulihkan kembali. Tetapi ternyata tidak ada pemulihan sama sekali selama 2 bulan, tetapi saya diam dan tidak berontak. Selama itu saya juga masuk kantor, meski kantornya tidak ada yang dapat dimasuki. Saya datang ke teman-teman karena sudah tidak memiliki ruangan sendiri.

Selama 2,5 bulan saya tidak ada apa apa dan saya terima. Bahkan sudah akan membanting setir mencari usaha yang lain. Tetapi begitu bersaksi untuk Antasari Azhar, mereka mengancam akan memecat dan sebagainya. Sejak itulah saya merasa telah dikerjain mereka dan saya mulai bangkit. Saya katakan sama keluarga, dukung saya.

Apa reaksi anda ketika diumumkan diberhentian dari Kabareskrim ?

Saya marah sekali. Kalau mutasi seringkali tidak pernah diumumkan ke publik. Karena saat itu timingnya massa minta saya untuk mundur, sehingga seolah-olah inilah betul biang keroknya, saya tidak mau yang begitu. Saya tetap mau mundur tetapi jangan saya dikatakan bersalah. Waktu itu mungkin saya sudah kalah 80 persen.

Tetapi masyarakat kan perlu informasi yang berkaitan dengan anda ?


Itulah yang tidak pernah disampaikan oleh mereka. Karena Kapolri mengatakan tidak perlu berbicara dengan pers karena nanti semua dia yang mengatasi. Jadi saluran saya ke pers ditutup, tidak seperti sekarang ini. Saya Sholat Jum’at saja tidak boleh di Masjid, tetapi di ruang tahanan bersama para tahanan. Supaya tidak bertemu dengan wartawan di depan. Kantor saya dengan  ruangan Kapolri tidak lebih dari 20 meter, saya harus naik mobil dari belakang. Saya kira ini sudah pendzoliman yang luar biasa.

Jadi anda berusaha melepaskan diri dari belenggu tersebut ?

Ya, lama-lama saya minta berhenti. Akhirnya saya bersaksi di sidang Antasari Azhar. Banyak hal yang mengejutkan dan saya dikejar terus sama wartawan.  Saya sudah tidak mau tunduk lagi pada aturan-aturan polisi untuk membungkam saya. Meski tetap ada larangan berbicara sama wartawan, saya tidak takut, saya hantam saja.

Seperti apa marahnya Anda waktu diumumkan pemberhentian dari Kabareskrim ?

Langsung malam itu saya datangi rumah Kapolri, tetapi dia tidak mau menerima meski ada di dalam rumah. Dia ada di dalam kamar dan tahu saya datang karena diberitahu ajudan. Rumah Kapolri kan agak terbuka pintunya dan yang jaga banyak sekali. Jangankan maling, lalatpun tak akan bisa masuk walaupun pintunya terbuka. Saya bisa masuk karena dia tahu saya Kabareskrim. Kata ajudan bapak lagi tidur dan besoknya baru bisa bertemu Kapolri.

Akhirnya jam 4 sore keesokan hari saya baru bias bertemu Kapolri.  Kemudian ajudan memberitahu saya kalau Kapolri sudah datang. Saya ingin bicara empat mata, ajudan tak menjawab. Ternyata setelah saya masuk ruangannya, sudah ada lima jenderal yang mendampingi Kapolri. Jadi saya tidak sendirian bertemu Kapolri.

Saya katakan, saya mau berhenti karena memang sudah sepakat. Tetapi kenapa diumumkan ke public? Itu berarti sudah mempermalukan saya. Seolah-olah itu isyarat kepada publik bahwa betul Susno Duadji yang bersalah dalam kasus dengan KPK, buktinya sudah dimundurkan. Dengan diumumkan kepada seluruh masyarakat Indonesia melalui berbagai media massa pada malam itu, akhirnya besoknya media menulis, akibat dari perbuatan merekayasa sebagai pertanggungjawaban maka saya mundur. Jadi seolah-olah melegitimasi betul bahwa saya merekayasa kasus tersebut.

Apa reaksi Kapolri pada waktu itu ?

Dia hanya ketawa-ketawa saja dan merangkul saya. Hukuman itu kelihatannya kecil tapi maknanya besar bagi saya. Karena timingnya bertepatan dengan desakan masyarakat, maka saya mundur.

Apakah Kapolri meminta maaf kepada anda ?

Sama sekali tidak meminta maaf.

TNI dan Polri berlaku sistim komando, tetapi masyarakat sekarang melihat bintang satu berani dengan bintang tiga. Sepertinya tidak ada lagi sistim komando di Polri ?

Itu karena disuruh dan dibiarkan Kapolri. Apapun juga saya ini masih aktif sebagai polisi. Boleh benci sama Susno, tetapi dalam hierarkhi tidak boleh benci. Kalau tidak disuruh tidak bakal mereka berani. Tetapi perasaan dia ingin menjatuhkan martabat saya kan? Tetapi dia lupa martabat mereka sendiri justru yang jatuh.

Pada waktu itu ada pemeriksaan dari dua sayap, Intelijen dan Propam. Intelijen sudah clear dan Propam belum selesai, dimana Kapolri membatasi seminggu saja.

Satu minggu tak clear, dua minggu tak clear yang dilakukan Propam. Apa salah yang akan dituduhkan kepada saya? Kemudian intelijen lebih jernih berfikir seperti pak Saleh Saaf. Sebenarnya bukan Propamnya yang salah, tetapi kepemimpinan yang salah. Kalau pemimpin berwibawa, maka hirarkhi polisi akan bagus sekali. Jadi pemimpin kan harus tegas, jangan mengadu domba, ituu namanya kan mengadu domba. Saya yakin pak Saleh Saaf tersinggung berat itu. Propamnya masih ngotot sementara Kapolri tidak punya pendirian. Itu kan sama dengan menyuruh anak buah berantem.

Adanya kebobrokan dalam institusi Polri seperti markus, rekayasa perkara, intervensi politik akan membebani institusi Polri. Apa sebaiknya yang menjadi langkah Polri ?

Polri harus dirombak kepemimpinannya, terutama orang nomor satunya oleh orang yang memiliki integritas tinggi, punya keberanian dan tidak  munafik. Kalau bisa begitu ya sudah selesai. Perlu waktu berapa bulan, tidak perlu lama cukup  tiga bulan sudah baik karena sistim komando. Berbeda dengan Departemen dan Partai. Kalau polisi kan ada yang diatas dan bawah.

Kalau  itu sepertinya suatu yang utopis, mengingat kita tahu  pimpinan Polri memiliki penghasilan sampingan yang besar.

Tidak ! Polri itu gajinya kecil. Kalau memang perusahaan miliknya sendiri tidak apa-apa. Seperti gajinya kecil tetapi memiliki perusahaan silahkan saja, kan tidak dilarang  mendapat penghasilan yang halal. Kalau ngak kan mati karena gajinya tak cukup. Itulah yang saya katakan kalau seorang polisi tidak ditopang dengan usaha lainnya, apapun pangkatnya jenderal bintang 8 sekalipun di Jakarta ini, tidak mungkin bisa beli mobil kijang sekalipun second hand. Gaji saya kan hanya Rp 11,7 juta, untuk membayar listrik saja satu juta lebih, belum lainnya.

Apakah anda siap mengambilalih kepemimpinan Polri bila DPR menghendakinya ?

Soal siap atau tidak siap, rakyat yang tahu. Jadi Kabareskrim saja tidak dipakai dan dicopot, masak jadi Kapolri.  Itu impian terlalu tinggi. (Susno tertawa lepas)

Bagaimana perlunya fungsi moral di Kepolisian sekarang ?

Bukan hanya di polisi, tetapi di republik ini. Saya kira solusinya kita perbaiki moral melalui agama seluruh pimpinan negara ini. Sekarang ini kan orang tidak takut lagi sama Tuhan. Mereka tetap Sholat lima waktu tetapi korupsinya jalan terus. Kalau mereka ketemu daging babi muntah muntah, tetapi aspal dan pasir masuk perut. (*) (sumber: SuaraIslam)
 

Media Dakwah Copyright © 2010 LKart Theme is Designed by Lasantha